ROH KUDUS YANG SAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH, 7 April 2018)

 

Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus  dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15 

“Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” (Kis 4:20)

Pada hari Pentakosta, Bapa surgawi mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas mereka yang percaya kepada Yesus, dan mereka pun diubah. Para murid Yesus “orang-orang biasa yang tak terpelajar”, namun setelah Roh Kudus dicurahkan atas diri mereka, mereka pun dengan berani mulai berbicara mengenai Guru dan Tuhan mereka sehingga para pemuka/pemimpin agama Yahudi tidak dapat berkata-kata apapun untuk membantahnya (lihat Kis 4:13). Bahkan ancaman hukuman fisik pun tidak membuat para murid menjadi takut dan gentar untuk terus melakukan misi penyebaran Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 4:19-20).

Roh Kudus yang sama, yang memberikan keberanian dan ketetapan-hati kepada Petrus dan Yohanes dalam melayani Kerajaan Allah, juga tersedia bagi umat Kristiani sejak saat itu. Dalam setiap generasi, kita dapat melihat pribadi-pribadi yang menanggapi dengan sepenuh hati gerakan Roh Kudus dalam diri mereka masing-masing. Pada awal hidup pertobatannya, S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mendengar suara Yesus yang tersalib di gereja kecil San Damiano berkata, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku”. Fransiskus begitu bersemangat untuk melaksanakan perintah Tuhan itu secara harfiah, sehingga tidak lama kemudian ia mulai memperbaiki gereja yang memang sudah mulai rusak dan reyot itu. Setelah sekian lama, Fransiskus menyadari bahwa Allah mempunyai suatu rencana yang lebih luas. Fransiskus adalah pendiri dari keluarga rohani terbesar dalam Gereja Katolik dan spiritualitasnya dihayati juga oleh umat Kristiani non-katolik dari sejumlah denominasi yang memilih hidup membiara, misalnya dalam gereja Anglikan, Lutheran dan lainnya. Keluarga rohani ini telah mempersembahkan banyak martir Kristus selama beberapa abad sejak didirikan.

Karena cintakasihnya kepada Allah dan keyakinannya pada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, S. Ignatius dari Loyola [1491-1556] mempengaruhi banyak laki-laki untuk mengabdikan diri mereka kepada Yesus. Inilah para imam dan bruder Serikat Yesus (Yesuit) yang sangat berjasa sebagai misionaris ke seluruh bumi (lihat Mrk 16:15), termasuk Indonesia. Dalam zaman modern kita mengenal nama-nama seperti Dietrich Bonhoeffer (Teolog Protestan yang dihormati oleh para teolog Katolik), S. Edith Stein (biarawati Karmelites turunan Yahudi), S. Maximilian Kolbe (imam Fransiskan Conventual dari Polandia) dan banyak sekali lainnya yang menjadi saksi Kristus di bawah kekejaman rezim Nazi Jerman. Di India ada S. Bunda Teresa dari Kalkuta dan para biarawati-biarawan pengikutnya. Amerika Serikat mempunyai Dorothy Day. Di Kanada ada Catherine Doherty, pendiri Madonna House di Ontario. Mereka semua dengan penuh semangat melayani orang-orang miskin dan terbuang di banyak tempat di dunia.  Tidak sulitlah bagi kita untuk mengenali adanya cintakasih berkobar-kobar yang dinyalakan oleh Roh Kudus, dan kemampuan untuk menjadi saksi Kristus dalam situasi yang bagaimana pun berbahayanya bagi jiwa mereka. Masih jelas dalam ingatan kita tentunya bagaimana almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang seorang santo) berdiri tegak di atas panggung dunia sebagai seorang pribadi yang sungguh dipenuhi dengan Roh Kudus dan senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus itu. Saya pribadi masih suka membayangkan bagaimana seorang pemimpin Gereja Katolik mau dengan rendah-hati mohon ampun atas berbagai kesalahan Gereja di masa lampau, termasuk perlakuan Gereja terhadap orang-orang Yahudi. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi apabila tidak ada Roh-Nya yang membimbing Bapa Suci? Walaupun sudah tua, menderita kelemahan fisik, menghadapi hujatan dari kiri dan kanan, Paus ini tetap melangkah maju dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Pesan yang diinginkan semua orang ini untuk kita “dengar” lewat kesaksian hidup mereka adalah, bahwa kita masing-masing yang dibawa ke dalam persatuan dengan Kristus melalui baptisan telah menjadi sebuah bejana Roh Kudus. Kita semua diberdayakan oleh Roh Kudus untuk turut memajukan Kerajaan Allah dalam status/keadaan kita masing-masing, dengan cara kita masing-masing yang unik. Kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus lewat apa yang kita katakan dan hayati dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang telah Kauberikan kepada kami melalui baptisan. Roh Kudus, lanjutkanlah karya-Mu dalam diri kami. Pakailah kami untuk tujuan-tujuan-Mu dan kemuliaan-Mu kapan saja dan di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:9-15), bacalah tulisan dengan judul “MEMBERITAKAN KABAR BAIK KEBANGKITAN YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 27-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements