Archive for April, 2019

DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS YANG MEMBERDAYAKAN

DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS YANG MEMBERDAYAKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Rabu, 1 Mei 2019)

Lalu mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang dari aliran Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati. Mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara umum. Tetapi pada malam hari seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka ke luar, katanya, “Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.”

Setelah mendengar pesan itu, menjelang pagi masuklah mereka ke dalam Bait Allah, lalu mulai mengajar di situ. Sementara itu Imam Besar dan pengikut-pengikutnya menyuruh Mahkamah Agama berkumpul, yaitu seluruh majelis tua-tua bangsa Israel, dan mereka menyuruh mengambil rasul-rasul itu dari penjara. Tetapi ketika pejabat-pejabat itu datang ke penjara, mereka tidak menemukan rasul-rasul itu di situ. Lalu mereka kembali dan memberitahukan, katanya, “Kami mendapati penjara terkunci rapat-rapat dan semua pengawal ada di tempatnya di depan pintu, tetapi setelah kami membukanya, tidak seorang pun kami temukan di dalamnya.”  Ketika kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala mendengar laporan itu, mereka bingung tentang rasul-rasul itu dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Tetapi datanglah seseorang mendapatkan mereka dengan kabar, “Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak.” Kemudian pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil rasul-rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka dengan batu. (Kis 5:17-26)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Yoh 3:16-21 

Berbagai peristiwa dramatis setelah Pentakosta yang terjadi dalam Gereja yang masih sangat muda itu menarik perhatian setiap orang, baik tua maupun muda, baik kaya maupun miskin, baik orang terkenal maupun orang biasa-biasa saja. Seperti kita dapat menduga sebelumnya, orang-orang yang berbeda-beda bereaksi dengan cara yang berbeda-beda pula.

Laporan-laporan tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan serta suasana penuh sukacita yang mencirikan orang-orang Kristiani menimbulkan rasa iri hati Imam Besar  dan para pengikutnya (orang-orang Saduki; lihat Kis 5:17). Mereka mencoba untuk menghalangi semakin luasnya penyebaran “kehebohan” di tengah-tengah rakyat sehubungan dengan mukjizat-mukjizat penyembuhan lewat pelayanan para rasul. Bagaimana? Dengan cara memenjarakan rasul-rasul itu. Mengapa? Karena para pemuka agama itu terperangkap oleh logika mereka sendiri, maka mereka tidak mampu melihat realitas mendasar bahwa semua kuat-kuasa sebenarnya datang dari Allah. Apabila Allah berdiam dalam diri seseorang, maka kuat-kuasa Allah juga berdiam dalam dirinya. Kekuatan manusiawi semata yang ada dalam diri si Imam Besar (yang di mata dunia dipandang sangat berkuasa) tidak mampu apa-apa dalam menghadapi kuat-kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri para rasul, yang kali ini lagi-lagi tanpa rasa takut sedikit pun mewartakan firman hidup di Bait Allah setelah mukjizat pembebasan mereka dari penjara umum.

Bagaimana episode dalam Gereja yang masih sangat muda ini berbicara kepada hidup kita sendiri hari ini? Hari ini, seperti pada setiap zaman dalam sejarah Gereja, umat beriman mengalami pencobaan dan penderitaan karena iman-kepercayaan mereka. Suriah, Sudan, Nigeria, India, Pakistan, Malaysia dan negara tercinta kita sendiri adalah segelintir bukti sejarah modern, bahwa “pengejaran” terhadap para pengikut Kristus masih terus terjadi, meskipun diejawantahkan dalam wajah, skala dan kedalaman yang berbeda-beda. Patut kita camkan juga, bahwa bukanlah maksud Allah untuk sekadar menyelamatkan kita dari kesusahan/penderitaan yang sedang kita alami. Allah juga memperkenankan hal-hal seperti itu terjadi guna menciptakan karakter-Nya sendiri dalam diri kita masing-masing. Seperti telah dicontohkan oleh negara-negara Eropa Timur pada waktu Uni Soviet sangat berkuasa, ada saat-saat di mana tekanan-tekanan atas Gereja justru menyediakan jalan yang paling pasti menuju kekudusan. Selagi kita mengalami kekuatan, arahan dan damai-sejahtera pemberian Roh Kudus yang hadir dalam diri kita, kita pun dapat bergabung dengan para rasul guna memberi kesaksian tentang kebenaran, bahwa Roh yang ada di dalam diri kita, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (lihat 1Yoh 4:4). Seperti ditulis oleh Santo Paulus: “… yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia” (1Kor 1:25).

Corrie ten Boom dan Santo Maximillian Kolbe OFMConv. adalah dua orang pahlawan kamp konsentrasi Nazi Jerman pada Perang Dunia ke-II. Apabila kita amati kehidupan kedua orang ini, seorang perempuan Belanda dan seorang imam Fransiskan Conventual Polandia,  maka kita melihat bahwa kekuatan dan keberanian mereka bersumber pada pemahaman mereka akan Injil dan penghayatan hidup Injili, juga cinta mereka yang mendalam kepada Allah serta pengandalan diri semata-mata kepada-Nya. Di tengah-tengah penderitaan mereka sendiri, masih saja mereka mampu untuk menjadi perpanjangan tangan-kasih Allah bagi teman-teman dalam kamp konsentrasi, memanifestasikan iman yang memberi kehidupan dan kemenangan kepada siapa saja yang percaya. Inilah iman yang kita telah warisi, dan iman ini dapat memberdayakan orang-orang yang paling rendah sekali pun dengan kekuatan, pengharapan dan sukacita yang lebih besar.

DOA: Yesus, Tuhanku dan Allahku. Datanglah dan penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu, agar dalam kelemahanku aku menjadi kuat. Berikanlah kepadaku sukacita dan kemenangan yang menanti-nantikan mereka yang mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), bacalah tulisan yang  berjudul “KARENA ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA INI” (bacaan tanggal 1-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 April 2019 [Peringatan S. Katarina dr Siena, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

DEMIKIANLAH HALNYA DENGAN TIAP-TIAP ORANG YANG LAHIR DARI ROH

DEMIKIANLAH HALNYA DENGAN TIAP-TIAP ORANG YANG LAHIR DARI ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 30 April 2019)

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15) 

Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5 

Apa yang dimaksudkan dengan “lahir dari Roh” (Yoh 3:8)? Barangkali cara terbaik untuk memahami arti ungkapan itu adalah dengan melihat orang-orang yang lahir dari Roh.

Sebelum Yesus naik ke surga, Ia bersabda kepada para rasul/murid, “Kamu akan menerima kuasa-Nya bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku” (Kis 1:8). Para murid kepada siapa Yesus membuat janji yang indah ini adalah sekelompok orang-orang yang lemah dan sedang dihinggapi rasa takut. Kelihatannya mereka tidak melakukan pelayanan apa pun sementara mereka menanti-nantikan dipenuhinya janji di atas, di ruang atas di Yerusalem. Akan tetapi, pada waktu Roh Kudus datang ke atas mereka pada hari Pentakosta, mereka pun ditransformasikan menjadi saksi-saksi Kristus yang berani. Akhirnya mereka mewartakan Injil ke seluruh dunia, bahkan dengan risiko dibunuh sebagai martir-martir.

Demikian pula, Saulus dari Tarsus mengejar dan menganiaya umat Kristiani sampai saat Kristus yang bangkit menampakkan diri kepadanya dan seorang Kristiani yang bernama Ananias berdoa baginya “agar dipenuhi dengan Roh Kudus” (Kis 9:17). Hal ini mengubah arah kehidupan Saulus. Berganti nama menjadi Paulus, ia menjadi seorang saksi Kristus yang berani, menderita dan pada akhirnya mati demi iman-kepercayaannya.

Sepanjang sejarah Gereja kita melihat begitu banyak umat (baik orang-orang kudus yang resmi maupun umat biasa) telah ditransformasikan oleh Roh Kudus. Sebagaimana halnya dengan murid-murid Yesus yang awal, kita seringkali merasa tak berdaya apabila berhadapan dengan situasi di mana kita harus mensyeringkan/mewartakan Injil Yesus Kristus. Barangkali hal ini disebabkan karena kita menggantungkan diri pada kekuatan kita sendiri, bukannya mengandalkan diri pada kuasa Roh Kudus.

Berita baiknya adalah, bahwa Roh Kudus yang sekitar 2.000 tahun lalu turun atas para rasul pada hari Pentakosta, dan yang turun atas umat Kristiani pada segala zaman juga tersedia bagi kita masing-masing, hari ini dan di sini juga. Roh Kudus ini ingin memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus setiap hari agar memenuhi diri kita dan membuat kita menjadi pewarta-pewarta yang berani dari Kabar Baik Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, aku mengakui kelemahanku apabila terpisah dari-Mu. Aku membutuhkan Roh Kudus-Mu untuk memampukan diriku untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan-Mu. Aku ingin dipenuhi lagi dengan Roh Kudus-Mu. Aku ingin diberdayakan oleh Roh-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi lebih serupa dengan Putera-Mu dan menjadi saksi-Nya yang berani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS INILAH YANG AKAN MENYATAKAN SIAPA YESUS SEBENARNYA” (bacaan tanggal 30-4-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 April 2019 [Peringatan S. Katarina dr Siena]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH

DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Katarina dr Siena, Perawan Pujangga Gereja – Senin, 29 April 2019)

Ada seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan secara jasmani bersifat jasmani dan apa yang dilahirkan dari Roh bersifat rohani. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (Yoh 3:1-8) 

Bacaan Pertama: Kis 4:23-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:1-9

Nikodemus, seorang Farisi dan anggota Sanhedrin, datang menemui Yesus di malam hari. Orang Yahudi yang “saleh” ini menyadari bahwa Yesus adalah “seorang guru (rabi) yang diutus Allah” (Yoh 3:2), namun ia datang untuk lebih mengenal Yesus secara lebih mendalam lagi. Yesus menggiring percakapan langsung ke inti masalahnya ketika Dia berkata kepada Nikodemus, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah” (Yoh 3:3). Ketika Nikodemus bertanya bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua; dapatkah ia masuk ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi, maka Yesus menjawab bahwa jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:4-5).

Gereja telah sampai kepada pemahaman atas kata-kata Yesus di atas ini sebagai sebuah refleksi atas baptisan dan iman. Hidup Allah diberikan kepada kita pada waktu baptisan, namun kita tetap perlu memberi tanggapan kepada Allah dalam iman agar supaya kehidupan ini bertumbuh. Yang kita terima sebagai sebutir benih dalam baptisan perlu diberi asupan-bergizi dengan suatu “hidup-iman” sehingga benih itu dapat bertunas, bertumbuh dan berbuah. Tanggapan kita terhadap Allah perlu mencakup upaya-upaya kita untuk menempatkan diri kita dalam suatu posisi yang siap menerima kehidupan yang dianugerahkan Allah sendiri – seperti keiikut-sertaan aktif dan seringkali dalam liturgi dan sakramen-sakramen, doa pribadi dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci. Kalau tidak demikian halnya, maka iman kita tidak akan bertumbuh menjadi matang.

Yesus menekankan sifat radikal dari transformasi yang terjadi dalam diri kita sementara hidup-Nya bertumbuh dalam diri kita dengan mengkontraskan antara “jasmani” (“daging”) dan “roh” (Yoh 3:6; 6:63).  Hasrat-hasrat kedosaan dari kedagingan kita dan bujukan memikat dunia ini harus disingkirkan agar hidup Allah dapat bertumbuh dalam diri kita (lihat Rm 6:3-11). Hal ini tidaklah berarti sekadar membuktikan kekuatan kehendak kita untuk melawan dosa, melainkan merangkul Kristus yang ditinggikan di atas kayu salib untuk mengalahkan dosa dan maut (baca Yoh 3:14-15).

Nikodemus mengakui Yesus sebagai seorang guru yang diutus Allah, namun ia tidak dapat memahami kedalaman karya Allah dalam diri Yesus (Yoh 3:2-4). Akan tetapi mereka yang “dilahirkan dari atas” membuka diri mereka bagi karya Allah melalui Roh Kudus yang menyatakan kebenaran Allah. Orang-orang seperti itu memperkenankan karya Allah mulai pada saat baptisan sampai mencapai kematangan sehingga mereka menajdi rohani (spiritual) dan lebih mampu dalam mengenal gerakan Roh dalam rangka mengetahui kehendak Allah. Roh Kudus yang kita terima pada waktu baptisan dan krisma (penguatan) menyatakan pikiran Allah bagi kita dan menolong kita untuk hidup sebagai umat-Nya (1Kor 2:12-16).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk senantiasa bersyukur atas rahmat baptisan kami. Ajarlah kami untuk menanggapi Engkau dalam iman sehingga hidup baru yang Kauberikan dapat bertumbuh mencapai kepenuhannya dalam diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 4:23-31), bacalah tulisan dengan judul “KITA PATUT MENELADANI PRAKTEK DOA MEREKA” (bacaan tanggal 29-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERCAYA, WALAUPUN TIDAK MELIHAT

PERCAYA, WALAUPUN TIDAK MELIHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH II [Tahun B] – 28 April 2019)

MINGGU KERAHIMAN ILAHI

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!”  Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Memang masih banyak tanda mujizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:19-31) 

Bacaan Pertama: Kis 5:12-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:2-4,22-27a; Bacaan Kedua: Why 11:9-11a, 12-13,17-19

Para rasul/murid Yesus untuk sekian lama berkumpul dalam ruang tertutup pada bagian atas sebuah bangunan di Yerusalem. Mereka diliputi rasa khawatir apakah sebentar lagi tiba giliran mereka untuk ditangkap dan diadili serta dijatuhi hukuman. Ditengah-tengah kekhawatiran dan kegalauan mereka muncullah Yesus. Kehadiran Yesus ini membuat mereka bersukacita dan penuh damai. Hanya seorang rasul yang tidak hadir, yaitu Tomas. Pengkhianatan dan penyaliban atas diri Yesus membuat Tomas patah hati, dan kelihatannya dalam kesedihannya dia memilih isolasi-diri, bukannya suatu persekutuan yang memberi penghiburan dari para rasul/murid yang lain.

Bayangkanlah betapa terkejutnya Tomas ketika Yesus secara tiba-tiba muncul lagi satu pekan kemudian. Dikelilingi oleh para saudari dan saudara seiman, Tomas akhirnya melihat Tuhan yang telah bangkit, dan keragu-raguannya semula berganti menjadi keyakinan iman yang kokoh dan ia juga mengalami sukacita yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tomas tidak hanya melangkah dari “ketidakpercayaan kepada kepercayaan”, dia juga melangkah dari “isolasi” kepada “komunitas”. Ungkapan iman Tomas singkat saja namun tak meragukan sedikitpun: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Jawaban Yesus kepada Tomas dalam menanggapi pernyataan imannya adalah “pegangan-abadi” bagi kita semua: “Karena engkau telah melihat aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29).

Tentang karya kerasulan Tomas sesudah itu, Kitab Suci tidak menyebutkan apa-apa lagi. Juga tidak ada surat (epistola) peninggalan Tomas yang sampai kepada kita. Menurut tradisi, Tomas menyebarkan Kabar Baik Yesus Kristus ke arah timur dengan mengikuti jalan para pedagang, yaitu ke Siria, Armenia, Persia dan India. Orang kudus ini mengalami kematian sebagai seorang martir sejati. Sisa potongan tombak yang dipakai untuk membunuhnya ditemukan kembali sewaktu makamnya di Mailapur dekat kota Malabar, India dibuka kembali pada tahun 1523.

Paus Santo Gregorius Agung [540-601] pernah menulis, bahwa Allah “mentakdirkan murid yang tak percaya itu, ketika dia menyentuh luka-luka Gurunya, menyembuhkan luka-luka ketidakpercayaan dalam diri kita”. Orang kudus ini lebih lanjut mengatakan, bahwa keragu-raguan Tomas dapat menolong kita untuk lebih percaya ketimbang iman para murid yang percaya. Mengapa? Karena kita tahu bahwa kita tidak sendiri. Ada Tomas, seorang dari 12 rasul yang dipilih oleh Yesus sendiri – juga seperti kita …… tidak sempurna!

Apakah anda sekarang mengenal seseorang yang sedang mengalami kegoncangan dalam imannya atau merasa ditinggalkan oleh Allah? Baiklah anda berdoa agar Tuhan Yesus “muncul” di depan orang itu dan meyakinkan dirinya, menghiburnya, menyemangatinya, serta menguatkannya dengan kehadiran-Nya. Barangkali kita (anda dan saya) juga merasakan adanya “jarak” yang mengganggu antara diri kita dengan Tuhan, atau kita merasa galau, bingung karena kita telah melakukan sesuatu yang menurut kita tidak akan dapat diampuni oleh-Nya. Dalam hal ini patutlah kita ingat, bahwa keberadaan Yesus senantiasa disertai belas-kasih-Nya dan rahmat-Nya.

Dalam Misa Kudus hari ini, selagi kita sujud menyembah bersama saudari-saudara kita lainnya, Tuhan Yesus ingin menunjukkan betapa mendalam Ia mengasihi kita masing-masing. Ia selalu siap untuk berbicara kepada kita, bahkan pada saat-saat kita merasa sangat tertekan oleh berbagai masalah/kesulitan kehidupan ini; ketika kita merasa ditinggalkan oleh para sahabat yang kita kasihi dan percayai; atau ketika kita berada di tengah-tengah godaan serius. Marilah kita membuka hati kita dan memperkenankan Dia memperkuat iman kita seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri Tomas.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa kemenangan-Mu atas dosa dan maut dapat membebaskan setiap orang dari ketidakpercayaannya. Anugerahilah karunia iman kepada orang-orang yang hampir putus-asa dan tanpa harapan sebagai pengikut-Mu, sehingga dengan demikian setiap orang dapat menemukan kehidupan, kedamaian dan sukacita karena kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “TOMAS MENJAWAB DIA: YA TUHANKU DAN ALLAHKU!” (bacaan tanggal 28-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS YANG SAMA

ROH KUDUS YANG SAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH, 7 April 2018)

 

Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus  dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15 

“Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” (Kis 4:20)

Pada hari Pentakosta, Bapa surgawi mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas mereka yang percaya kepada Yesus, dan mereka pun diubah. Para murid Yesus “orang-orang biasa yang tak terpelajar”, namun setelah Roh Kudus dicurahkan atas diri mereka, mereka pun dengan berani mulai berbicara mengenai Guru dan Tuhan mereka sehingga para pemuka/pemimpin agama Yahudi tidak dapat berkata-kata apapun untuk membantahnya (lihat Kis 4:13). Bahkan ancaman hukuman fisik pun tidak membuat para murid menjadi takut dan gentar untuk terus melakukan misi penyebaran Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 4:19-20).

Roh Kudus yang sama, yang memberikan keberanian dan ketetapan-hati kepada Petrus dan Yohanes dalam melayani Kerajaan Allah, juga tersedia bagi umat Kristiani sejak saat itu. Dalam setiap generasi, kita dapat melihat pribadi-pribadi yang menanggapi dengan sepenuh hati gerakan Roh Kudus dalam diri mereka masing-masing. Pada awal hidup pertobatannya, S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mendengar suara Yesus yang tersalib di gereja kecil San Damiano berkata, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku”. Fransiskus begitu bersemangat untuk melaksanakan perintah Tuhan itu secara harfiah, sehingga tidak lama kemudian ia mulai memperbaiki gereja yang memang sudah mulai rusak dan reyot itu. Setelah sekian lama, Fransiskus menyadari bahwa Allah mempunyai suatu rencana yang lebih luas. Fransiskus adalah pendiri dari keluarga rohani terbesar dalam Gereja Katolik dan spiritualitasnya dihayati juga oleh umat Kristiani non-katolik dari sejumlah denominasi yang memilih hidup membiara, misalnya dalam gereja Anglikan, Lutheran dan lainnya. Keluarga rohani ini telah mempersembahkan banyak martir Kristus selama beberapa abad sejak didirikan.

Karena cintakasihnya kepada Allah dan keyakinannya pada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, S. Ignatius dari Loyola [1491-1556] mempengaruhi banyak laki-laki untuk mengabdikan diri mereka kepada Yesus. Inilah para imam dan bruder Serikat Yesus (Yesuit) yang sangat berjasa sebagai misionaris ke seluruh bumi (lihat Mrk 16:15), termasuk Indonesia. Dalam zaman modern kita mengenal nama-nama seperti Dietrich Bonhoeffer (Teolog Protestan yang dihormati oleh para teolog Katolik), S. Edith Stein (biarawati Karmelites turunan Yahudi), S. Maximilian Kolbe (imam Fransiskan Conventual dari Polandia) dan banyak sekali lainnya yang menjadi saksi Kristus di bawah kekejaman rezim Nazi Jerman. Di India ada S. Bunda Teresa dari Kalkuta dan para biarawati-biarawan pengikutnya. Amerika Serikat mempunyai Dorothy Day. Di Kanada ada Catherine Doherty, pendiri Madonna House di Ontario. Mereka semua dengan penuh semangat melayani orang-orang miskin dan terbuang di banyak tempat di dunia.  Tidak sulitlah bagi kita untuk mengenali adanya cintakasih berkobar-kobar yang dinyalakan oleh Roh Kudus, dan kemampuan untuk menjadi saksi Kristus dalam situasi yang bagaimana pun berbahayanya bagi jiwa mereka. Masih jelas dalam ingatan kita tentunya bagaimana almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang seorang santo) berdiri tegak di atas panggung dunia sebagai seorang pribadi yang sungguh dipenuhi dengan Roh Kudus dan senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus itu. Saya pribadi masih suka membayangkan bagaimana seorang pemimpin Gereja Katolik mau dengan rendah-hati mohon ampun atas berbagai kesalahan Gereja di masa lampau, termasuk perlakuan Gereja terhadap orang-orang Yahudi. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi apabila tidak ada Roh-Nya yang membimbing Bapa Suci? Walaupun sudah tua, menderita kelemahan fisik, menghadapi hujatan dari kiri dan kanan, Paus ini tetap melangkah maju dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Pesan yang diinginkan semua orang ini untuk kita “dengar” lewat kesaksian hidup mereka adalah, bahwa kita masing-masing yang dibawa ke dalam persatuan dengan Kristus melalui baptisan telah menjadi sebuah bejana Roh Kudus. Kita semua diberdayakan oleh Roh Kudus untuk turut memajukan Kerajaan Allah dalam status/keadaan kita masing-masing, dengan cara kita masing-masing yang unik. Kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus lewat apa yang kita katakan dan hayati dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang telah Kauberikan kepada kami melalui baptisan. Roh Kudus, lanjutkanlah karya-Mu dalam diri kami. Pakailah kami untuk tujuan-tujuan-Mu dan kemuliaan-Mu kapan saja dan di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:9-15), bacalah tulisan dengan judul “MEMBERITAKAN KABAR BAIK KEBANGKITAN YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 27-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN DATANG KEPADA KITA DAN MENOLONG KITA

YESUS INGIN DATANG KEPADA KITA DAN MENOLONG KITA  

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH, 26 April 2019)

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.”  Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja dan mereka menarik jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: Seratus limapuluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati. (Yoh 21:1-14) 

Bacaan Pertama: Kis 4:1-12; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27 

Yesus dapat datang atau hadir pada saat-saat yang tidak diharap-harapkan. Para murid yang dipimpin oleh Petrus mengalami kegalauan, stres, depresi dan/atau yang sejenisnya. Mereka telah kembali kepada cara hidup lama, yaitu bekerja sebagai nelayan, dan tokh tidak mampu menangkap ikan barang seekor pun. Pada saat yang mengecewakan seperti inilah Yesus menyatakan diri-Nya kembali kepada mereka. Mereka mendengarkan dan melaksanakan “instruksi” Yesus yang berdiri di pantai, hasilnya adalah “panen ikan” yang berlimpah. Lagi-lagi sebuah mukjizat!  Sesampainya di darat para murid dijamu dengan ikan dan roti oleh Yesus. Sekali lagi Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa Dia telah bangkit dan hidup para murid berada di bawah perhatian-Nya yang penuh kasih. Kita dapat membayangkan bagaimana para murid merasa dikuatkan oleh pertemuan mereka dengan Yesus itu.

Yesus juga menginginkan kita memiliki iman kuat dalam hasrat-Nya memberikan kepada kita segala kebutuhan kita. Kita dapat merasa sangat tertekan oleh beban-beban kehidupan: beratnya untuk bertahan hidup, mencari nafkah untuk keluarga dan tanggung jawab kita dalam beberapa hal lainnya. Seperti Petrus dan para murid lainnya, kita dapat merasa bingung mau ke mana hidup kita dibawa. Namun, terpujilah Allah! Karena Yesus sering datang kepada kita dengan cara-cara yang tidak kita harap-harapkan dan Ia membuat mukjizat yang kita butuhkan. Ia senantiasa melakukan intervensi dan mengingatkan kita dengan penuh kekuatan akan kasih-Nya yang mendalam kepada kita. Sebagai Tuhan yang bangkit, Ia penuh dengan kuasa dan hidup, dan Ia menginginkan kita untuk mengalami kuasa dan hidup tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagian kita adalah untuk menanggapi Yesus dengan iman. Satu cara kita dapat bertumbuh dalam iman kita adalah dengan berpaling kepada Tuhan setiap hari dan mohon kepada-Nya untuk bertindak dalam kehidupan kita. Misalnya kita dapat mendoakan secara teratur doa sederhana berikut: “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku orang yang berdosa ini!”; bahkan pada saat-saat kita bekerja.

Keadaan macam apapun yang kita hadapi, apakah di rumah, di tempat kerja, atau di gereja, Yesus ingin datang kepada kita dan menolong kita. Selagi kita berdoa setiap hari, baiklah kita mengharapkan Tuhan datang kepada kita dan orang-orang yang kita kasihi dengan kuasa dan rahmat-Nya. Kita akan melihat Dia melakukan intervensi dalam kehidupan kita (kadang-kadang dengan cara-cara yang mengejutkan dan di luar ekspektasi kita) dan menguatkan iman-kepercayaan kita. Kita pun akan bertumbuh dalam keyakinan bahwa Penebus kita yang penuh kasih sungguh menyelamatkan kita dari setiap kejahatan – bahkan dari kejahatan kematian kekal.

DOA: Tuhan Yesus, tambahlah imanku kepada-Mu dan kuasa-Mu untuk melakukan intervensi dalam kehidupanku. Datanglah dengan kuat-kuasa-Mu, ya Tuhan, untuk mengatasi masalah-masalah yang sedang kuhadapi sekarang. Ubahlah masalah-masalah itu menjadi berkat, ya Tuhan. Ubahlah juga diriku agar semakin dekat pada-Mu, agar menjadi murid-Mu yang sejati! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:1-14), bacalah tulisan yang berjudul  “DENGAN RENDAH HATI MEMATUHI SABDA YESUS” (bacaan tanggal 26-4-19) dalam situs/blog SANG SABDDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  23 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TOTALITAS KEMANUSIAAN KITA DICIPTAKAN KEMBALI DAN DITRANSFORMASIKAN DALAM KRISTUS YANG BANGKIT

TOTALITAS KEMANUSIAAN KITA DICIPTAKAN KEMBALI DAN DITRANSFORMASIKAN DALAM KRISTUS YANG BANGKIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH – 25 April 2019) 

Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi, Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka, “Apakah kamu punya makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka, “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kita nabi-nabi dan kitab Mazmur.”  Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamulah saksi-saksi dari semuanya ini. (Luk 24:35-48) 

Bacaan Pertama: Kis 3:11-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9

Para rasul/murid berpikir mereka melihat hantu. Tanggapan Yesus dapat dipahami: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku. …… Apakah kamu penya makanan di sini?” (Luk 24:38-39,41). Bukankah hati tidak makan dan minum, hanya manusia dengan tubuh dapat makan?

Mengapa Yesus (dan Lukas tentunya) menekankan sifat fisik dan materi dari tubuh-Nya yang sudah bangkit? Bukankah kebangkitan semestinya merupakan sesuatu yang “spiritual”, sesuatu yang “bukan dari dunia ini”? Bukankah  surga adalah tempat untuk roh-roh? Sebenarnya pemikiran seperti ini tidaklah alkitabiah. Allah menciptakan kita, baik tubuh maupun jiwa. Menjadi manusia berarti menjadi menjadi manusia secara materiil sekaligus spiritual. Keseluruhan diri kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, demikian pula benda yang diciptakan.

Dosa merusak totalitas kemanusiaan kita – spiritual dan fisik. Karena dosa, secara fisik kita harus mengalami kematian; tubuh kita akan menjadi tanpa kehidupan. Dalam dosa (dan teristimewa dalam kematian), kita tidak lagi dalam gambar dan rupa Allah. Kita telah kehilangan sesuatu yang hakiki dari martabat kita sebagai manusia, sebagai citra Allah – tubuh kita yang fisik. Untuk menebus kita, Allah perlu memulihkan kita secara fisik dan spiritual sehingga kita – keseluruhan diri kita – sekali lagi dapat diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya.

Inilah yang dicapai oleh Yesus dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Di atas kayu salib Yesus mematikan kemanusiaan berdosa kita yang lama; dengan demikian Ia menghancurkan maut yang memperbudaknya. Dia bangkit sebagai seorang pribadi yang dimuliakan – tubuh, jiwa dan roh. Ia adalah Adam yang baru – Manusia yang baru dan lengkap. Dosa telah dikalahkan; maut tidak lagi mempunyai otoritas atas diri-Nya. Itulah sebabnya Yesus menekankan sifat fisik  dari kebangkitan-Nya; Dia menebus totalitas kemanusiaan kita, yang diciptakan kembali dan ditransformasikan dalam Kristus yang bangkit. Melalui Roh Kudus kita telah dipersatukan dengan diri-Nya. Jadi, maut tidak lagi memerintah dalam diri kita. Walaupun kita mati, kita akan bangkit – tubuh dan jiwa.

DOA: Tuhan Yesus yang sudah bangkit dari alam maut. Kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah menjadi seperti kami, manusia dan mati untuk dosa-dosa kami agar maut dapat dihancurkan. Engkau adalah pengharapan kami. Dalam Engkau kami akan bangkit – tubuh dan jiwa – dari kematian untuk ikut ambil bagian sepenuhnya dalam kemuliaan kebangkitan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:33-48, bacalah tulisan dengan judul “TIMBULNYA KERAGU-RAGUAN DI DALAM HATI KITA” (bacaan tanggal 25-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS