MENANGGAPI PANGGILAN YESUS UNTUK MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup Martir – Senin, 12 November 2018)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6) 

Bacaan Pertama: Tit 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Menurut standar-standar yang digunakan para rabi Yahudi, apabila seseorang akan mengampuni seorang pribadi sebanyak tiga kali, maka dia akan dipandang sebagai seorang pribadi manusia yang sempurna. Sekarang ada Yesus yang mengajar para murid-Nya bahwa mereka harus mengampuni bukan hanya satu kali, tidak hanya tiga kali, melainkan tujuh kali – yang dapat diartikan senantiasa mengampuni! Di tempat lain, malah Yesus menanggapi pertanyaan Petrus tentang pengampunan: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Memang kelihatan tidak mungkin, namun bukankah Yesus telah menunjukkan kepada mereka melalui berbagai mukjizat dan pengajaran-Nya bahwa apa yang kelihatan tidak mungkin bagi manusia sebenarnya mungkin dengan Allah?

Setelah mendengar bahwa mereka harus bertanggung jawab karena tidak mengampuni, para murid pun berseru: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5). Seperti para murid Yesus yang awal tersebut, kita pun tahu betapa berat untuk mengatasi rasa sakit hati dan ketidakadilan yang ditimpakan atas diri kita oleh orang lain.

Kadang-kadang memang kelihatan tidak mungkin, namun di kedalaman hati kita, kita tahu betapa luasnya dampak dari kuat-kuasa pengampunan yang ditunjukkan oleh Yesus. Dan, seperti para murid-Nya dahulu, penambahan imanlah yang kita butuhkan. Panggilan untuk mengampuni mungkin kelihatan sama tidak mungkinnya dengan memindahkan sebatang pohon ara hanya dengan satu-dua patah kata. Namun Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dengan iman yang paling kecil pun kita dapat mewujudkan hal-hal besar.

Kita dapat minta kepada Yesus untuk menambahkan iman kita dengan membuka mata kita agar dapat memusatkan pandangan kita pada kuat-kuasa-Nya dan kehadiran-Nya dalam diri kita. Semakin kita menginternalisasi kepercayaan kita bahwa diri kita tidak kurang daripada bait-bait Roh Kudus, maka semakin yakinlah kita bahwa menanggapi panggilan-Nya untuk mengampuni merupakan suatu kemungkinan yang memang riil.

Apakah ada sebuah luka lama dlsb. yang menyebabkan kita belum mampu untuk mengampuni seseorang yang mendzolomi diri kita? Kalau begitu halnya, baiklah kita berkata kepada Yesus, “Ini tidak mungkin bagiku! Namun bagi-Mu, Yesus, semua hal adalah mungkin. Kuserahkan isu ini kepada-Mu dan aku mohon Kauberikan rahmat dan kuat-kuasa untuk mengampuni.” Bisa saja pada tahapan awal kita hanya dapat memohon kepada Allah untuk membuat diri kita bersedia untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Yesus akan menolong kita dalam mengambil langkah selanjutnya dalam perjalanan menuju pengampunan yang lengkap.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk belas-kasih-Mu yang begitu besar kepada umat manusia dengan mengutus Putera-Mu yang tunggal. Melalui pengorbanan-Nya yang besar di atas kayu salib, Ia telah mengampuni dan membersihkan diriku secara lengkap. Sekarang, ya Bapa yang baik, aku memohon agar Engkau sudi menolong diriku untuk mengampuni orang-orang lain sepenuh Engkau telah mengampuni diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “SEMANGAT PERSAUDARAAN DALAM HATI KITA” (bacaan tanggal 12-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 November 2017 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements