Archive for November, 2018

NASIHAT YESUS UNTUK SENANTIASA BERJAGA-JAGA SAMBIL BERDOA

NASIHAT YESUS UNTUK SENANTIASA BERJAGA-JAGA SAMBIL BERDOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan-Martir Indonesia – Sabtu, 1 Desember 2018)

Hari Sabtu Imam

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36) 

Bacaan Pertama: Why 22:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-7 

Hari ini adalah hari terakhir dari tahun liturgi (Tahun B/II). Apa lagi yang lebih cocok bagi kita daripada membaca dan merenungkan nasihat Yesus untuk berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa, supaya kita beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (lihat Luk 21:36).

Kita sekarang sudah berada pada tahun kedelapan dekade kedua dari milenium ketiga. Bagaimana kita dapat lebih menyerupai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9) yang dikatakan Kitab Suci kepada kita tentang jati diri kita yang sesungguhnya dan seharusnya? Masih jauhkah posisi kita dari apa yang digambarkan dalam surat Santo Petrus itu?

Barangkali yang muncul pertama dalam pikiran kita adalah untuk melakukan latihan rohani yang akan menjamin pertumbuhan spiritual kita. Sesungguhnya, Allah dapat memimpin kita untuk mengambil beberapa langkah praktis. Akan tetapi, janganlah sampai kita melupakan tujuan dari latihan rohani sedemikian, yaitu agar melalui latihan-latihan tersebut kita akan memperkenankan kasih Allah untuk meresapi kegelapan hati kita dan kegelapan dunia ini. Di atas segalanya, Dia ingin mengutus Roh Kudus-Nya untuk mengajar kita dan membentuk kita agar semakin seturut gambar dan rupa Kristus.

Setiap hari, Roh Kudus ingin membimbing kita satu langkah lebih dekat lagi kepada kekudusan. Setiap hari, sesuatu hal lain akan terjadi – apakah dalam hati kita, atau dalam keadaan-keadaan hari itu – itu adalah sebuah undangan lain lagi dari Roh Kudus agar kita menerima rahmat Allah. Selagi kita memperkenankan Yesus membebas-merdekakan kita dari dorongan-dorongan yang berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, sementara kita menyambut Roh Kudus masuk ke dalam kehidupan kita melalui doa-doa dan ketaatan, maka sedikit demi sedikit kita pun akan ditransformasikan. Pada akhirnya kita dapat mempersiapkan diri kita untuk hari di mana kita akhirnya akan “berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36).

Marilah sekarang kita bergegas menghadap Yesus dan menaruh hidup kita di hadapan-Nya. Hanya melalui bimbingan Roh Kudus kita dapat sungguh membuat diri kita siap bagi pencurahan rahmat ilahi. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita. Semoga kita semua akan berdiri di hadapan Putera Allah dan mempermaklumkan dengan penuh iman bahwa “Yesus adalah Tuhan!”

DOA: Tuhan Yesus, kerajaan-Mu dipenuhi dengan segala kekayaan surgawi – jauh lebih daripada yang dapat kubayangkan. Buatlah hatiku terbakar berkobar-kobar dengan realitas kasih dan kuasa-Mu! Biarlah kasih-Mu mengalir masuk ke dalam diriku. Siapkanlah aku untuk semua hal yang Engkau inginkan untuk kulakukan dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan berjudul “NASIHAT YESUS UNTUK BERJAGA-JADA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 1-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 November 2018 [Pesta S. Andreas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ANDREAS: SALAH SEORANG MURID YESUS YANG PERTAMA

ANDREAS: SALAH SEORANG MURID YESUS YANG PERTAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Andreas, Rasul – Jumat, 30 November 2018)

Jika engkau mengaku dengan dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata, “Siapa saja yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Tuhan yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang dan murah hati kepada semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, “siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.”

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata, “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Tetapi aku bertanya: Apakah mereka tidak mendengarnya? Justru mereka telah mendengarnya, “Suara mereka sampai ke seluruh dunia dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.” (Rm 10:9-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5; Bacaan Injil: Mat 4:18-22 

Pada hari ini kita merayakan Pesta Santo Andreas, Rasul dan saudara  dari Santo Petrus. Ia adalah salah seorang dari kedua belas rasul Kristus. Bahkan selagi masih bekerja sebagai seorang nelayan, Andreas sudah mempunyai kerinduan akan Allah. Dia bergabung sebagai salah seorang murid Yohanes Pembaptis, kemudian gurunya itu mengarahkan Andreas untuk bergabung dengan sang Guru, yaitu Yesus. Andreas menjadi dua orang murid pertama dari Yesus. Kisah bagaimana Andreas mengikuti Yesus yang dipaparkan oleh Yohanes sungguh indah (lihat Yoh 1:35-42). Bersama seorang murid lain, Andreas hanya tinggal satu hari saja dengan Yesus, namun hatinya langsung merasa mantap dan dia pun yakin bahwa Yesus adalah Kristus. Langsung saja dia menemui Simon Petrus, saudaranya, dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)”. Ia pun membawa Simon Petrus kepada Yesus (lihat Yoh 1:42).

Dari Injil Yohanes itu kita melihat, bahwa Andreas menanggapi panggilan Allah dengan penuh semangat. Dengan cepat dia syering kabar baik yang sudah diterimanya kepada orang-orang lain, dimulai dengan saudara laki-lakinya sendiri, Simon Petrus. Pertemuan Andreas dengan Yesus baru saja terjadi dan untuk waktu yang cukup singkat, namun kita melihat bahwa dia sudah dipenuhi dengan semangat apostolik. Hal ini terbukti setelah hari Pentakosta Kristiani yang pertama: Andreas mengabdikan hidupnya untuk mewartakan Injil kepada orang-orang yang belum pernah mendengar tentang Injil itu.

Andreas menyaksikan Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, mengalahkan roh-roh jahat dengan kata-kata-Nya yang penuh kuasa, dan Dia juga mengampuni dosa-dosa. Dia melihat Yesus melakukan mukjizat penggandaan roti dan ikan, membangkitan Lazarus yang sudah mati beberapa hari, dan banyak lagi mukjizat dan tanda heran yang dibuat oleh-Nya. Akhirnya Andreas bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit dari alam maut, berdiri di hadapannya – hidup oleh kuasa Roh Kudus. Roh Kudus inilah – yang setelah hari Pentakosta Kristiani yang pertama – yang membuat hatinya berkobar-kobar sehingga tidak dapat ditahan lagi. Didorong sangat oleh Roh Kudus itu, Andreas melakukan perjalanan misinya ke tempat-tempat yang jauh untuk mewartakan bahwa “Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat semua orang”. Dia melakukan pewartaan Injil di Rusia bagian selatan dan sepanjang pantai Laut Hitam dan di Byzantium (Istambul sekarang). Seturut “Amanat Agung” (Great Commission) dari Yesus sendiri (lihat Mat 28:19-20), Santo Andreas yakin sekali bahwa apa yang telah dilakukan Yesus di Galilia, Yerusalem dan tempat-tempat lain di Israel semasa hidup-Nya, harus juga dilakukan oleh para rasul/murid-Nya di/ke seluruh dunia oleh kuasa Roh Kudus.

Andreas tahu bahwa evangelisasi bukanlah sekadar meyakinkan orang-orang tentang kebenaran berbagai proposisi teologis, melainkan juga menyatakan kemuliaan Kristus lewat tindakan penyembuhan atas orang-orang sakit, pelepasan orang-orang yang dirasuki/dipengaruhi roh-roh jahat, mengampuni musuh-musuh kita, mengasihi setiap orang dengan kasih Kristus sendiri, dlsb. Oleh karena itu marilah kita menanggapi panggilan Allah bagi kita masing-masing, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Andreas dalam hidupnya, dan marilah kita memberitakan sabda Allah kepada dunia di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, manifestasikanlah kemuliaan-Mu dalam hidupku. Aku percaya bahwa kebangkitan-Mu adalah suatu kenyataan dan Engkau pun telah memberi amanat kepadaku untuk menjadi seorang bentara Injil-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah aku sebagaimana Engkau telah memberdayakan Santo Andreas, untuk mewartakan kepada orang-orang yang kujumpai tentang kemerdekaan sejati sebagai anak-anak Bapa surgawi yang sungguh mereka butuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “ANDREAS: SEORANG MURID YOHANES PEMBAPTIS YANG MENJADI SALAH SATU MURID YESUS YANG PERTAMA” (bacaan tanggal 30-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 November 2017 [Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAAN-NYA

ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 29 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Why 18:1-2,21-23;19:1-3,9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5  

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:28)

The remains of destroyed houses at sunset. Apocalyptic landscape; Shutterstock ID 343138097

Bagaimana Yesus dapat mengharapkan kita untuk memberi tanggapan terhadap pergolakan di akhir zaman dengan penuh keyakinan dan pengharapan? Dalam menghadapi penderitaan, peperangan, dan berbagai bencana alam yang digambarkan oleh Yesus, penarikan/pengunduran diri dengan penuh yang diliputi ketakutan kelihatannya merupakan suatu reaksi yang lebih cocok! Bagaimana pun juga, di manakah adanya pengharapan dalam segala kesusahan yang dinubuatkan oleh-Nya?

Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita dapat mempunyai pengharapan pada waktu kita melihat tanda-tanda akhir ini karena tanda-tanda tersebut juga merupakan tanda-tanda dari penebusan yang telah lama kita nanti-nantikan. Kita akan melihat “Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27)! Kita dapat yakin dan mempunyai pengharapan, karena kita tahu kita aman dalam Kristus. Darah-Nya adalah perlindungan kita terhadap si Jahat, dan Roh Kudus-Nya adalah down payment kita untuk tempat kita di surga kelak.

Kita harus mengetahui kebenaran ini sedalam-dalamnya sehingga hidup kita tidak dapat digoncangkan oleh berbagai gejolak yang berlangsung pada akhir zaman. Setiap hari Allah memberikan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk “bereksperimen” dengan iman kita, situasi-situasi di mana kita dapat memegang sabda Allah seperti apa adanya dan memperhatikan Dia mengerjakan keajaiban-keajaiban bagi kita. Misalnya iman kita mengatakan, bahwa baptisan kita ke dalam Kristus telah membebaskan kita dari keterikatan pada dosa. Ketika godaan-godaan datang, kepada kita diberi kesempatan untuk datang ke kaki salib Yesus di Kalvari dan mempersatukan diri kita dengan Sang Tersalib sambil berkata “tidak” terhadap godaan-godaan tersebut. Apabila kita tidak tahu bagaimana seharusnya bereaksi dalam suatu situasi tertentu, kita dapat mencoba untuk memandang hal-hal yang kita hadapi dari perspektif surgawi dan memperkenankan Roh Kudus memberikan bimbingan serta hikmat-Nya kepada kita. Semakin sering kita melakukan praktek-praktek seperti ini, semakin yakin dan berpengharapan pula kita jadinya, apa pun situasi yang kita hadapi.

Pada saat Yesus datang kembali kelak, setiap hal akan diserahkan kepada-Nya sebagai Tuhan. Dalam doa-doa kita pada hari ini, marilah kita merenungkan karunia keselamatan yang telah kita terima dalam Kristus. Kita dapat memohon kepada Roh Kudus agar Ia meningkatkan kerinduan kita masing-masing untuk memandang Yesus muka-ketemu-muka. Semakin “aman” kita dalam rangkulan belas kasihan Allah, semakin keras pula kita akan berseru, “Datanglah, Tuhan Yesus!” (Why 22:20).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabesar, Khalik langit dan bumi! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk karunia keselamatan yang Kauanugerahkan kepadaku. Apa yang tidak dapat kulakukan sendiri bagi diriku, telah dilakukan oleh Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Buanglah segala rasa takut dan kekhawatiran yang masih ada dalam diriku. Tidak ada keyakinan dan pengharapan lebih besar yang kumiliki daripada fakta bahwa aku tersalib bersama Yesus dan akan bangkit bersama Dia pula. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan berjudul “PENDERITAAN UMAT KRISTIANI SEBELUM KEDATANGAN-NYA KEMBALI” (bacaan tanggal 29-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 November 2018 [Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PANGGILAN KEPADA KEKUDUSAN

PANGGILAN KEPADA KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 28 November 2018]

OFM/OFMConv.: Pesta S. Yakobus dr Marka, Imam 

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19) 

Bacaan Pertama: Why 15:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-3,7-9

Masih ingatkah Saudari dan Saudara betapa ramainya nubuatan-nubuatan tentang akhir zaman pada saat-saat menjelang tahun 2000? Prediksi-prediksi tentang perubahan besar yang akan terjadi menimbulkan reaksi-reaksi yang beraneka ragam, dari excitement, rasa takut, bahkan sampai tidak peduli sama sekali, … Don’t worry. Be happy! 

Orang-orang di Yerusalem yang mendengar nubuatan-nubuatan Yesus tentang akhir zaman, penghancuran kota Yerusalem, dan pengejaran serta penganiayaan yang akan menimpa para murid-Nya barangkali bereaksi lebih-lebih dengan rasa takut daripada excitement. Memang tidak salahlah begitu! Pada tahun 70, pemberontakan orang-orang Yahudi yang gagal melawan pemerintahan Roma mengakibatkan kematian beribu-ribu orang yang tidak bersalah, kelaparan yang berskala luas, dan penghancuran Bait Suci. Hanya setelah Ia menggambarkan segala kesengsaraan yang akan menimpa, Yesus mengingatkan para pengikut-Nya bahwa bahkan sebelum peristiwa-peristiwa mengerikan itu terjadi, mereka akan menderita karena pengejaran dan penganiayaan.

Jadi, di manakah “kabar baiknya” kalau di sana-sini yang ada hanyalah bencana, kesedihan, penganiayaan dlsb.? Di sinilah pentingnya sabda Yesus: Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan” (Luk 21:19). Yang dapat dilakukan oleh manusia – bertekun – akan membawa berkat yang jauh lebih melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi kita: keselamatan penuh dan hidup kekal di hadapan hadirat Allah Yang Mahakuasa.

Sebagaimana orang-orang Yahudi pada abad pertama, kita – umat Kristiani yang hidup dalam milenium ketiga – tidak dijanjikan suatu kehidupan yang nyaman-menyenangkan. Sebaliknya, Yesus menawarkan kepada kita sesuatu yang lebih besar. Ia berjanji untuk membawa mereka yang tetap setia kepada-Nya kembali pulang dengan aman ke Kerajaan-Nya yang tidak dapat dihancurkan oleh kekuatan jahat manapun. Namun untuk itu kita dituntut untuk bertekun. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan: “Jadi jelaslah bagi semua, bahwa semua orang Kristiani, dari status atau jajaran apa pun dipanggil kepada kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cintakasih” (Lumen Gentium 40). Semua orang dipanggil kepada kekudusan: Karena itu haruslah kamu sempurna, seperti Bapa-Mu yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48). “Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikaruniakan oleh Kristus, supaya …… mereka melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus” (Lumen Gentium 40) (KGK, 2013).

Panggilan Allah kepada kekudusan sungguh bukan hal yang main-main. Untuk itu kita akan melangkah di jalan yang benar dengan tetap menaruh kepercayaan kepada Dia yang begitu mengasihi kita sehingga rela mati untuk kita semua. Marilah kita dengan penuh perhatian mendengarkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh Roh Kudus dan melatih mata kita agar mampu melihat “hadiah” berupa Yerusalem surgawi yang sedang menantikan kita.

DOA: Tuhan Yesus, melalui badai-badai yang mengamuk di dalam kehidupan ini, aku ingin berpegang teguh pada janji-janji-Mu tentang kehidupan kekal, Dengan pertolongan Roh Kudus-Mu, aku berjanji untuk mengikuti-Mu ke mana saja Engkau memimpin aku. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA MENYANYIKAN NYANYIAN MUSA DAN NYANYIAN ANAK DOMBA” (bacaan tanggal 28-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 November 2018 [HARI RAYA  TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SESUNGGUHNYA KITA TIDAK PERNAH TAHU PERIHAL KEDATANGAN HARI ISTIMEWA ITU

SESUNGGUHNYA KITA TIDAK PERNAH TAHU PERIHAL KEDATANGAN HARI ISTIMEWA ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 27 November 2018)

OFMConv.: Peringatan S. Fransiskus Fransiskus Fasani, Imam

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. (Luk 21:5-11)

Bacaan Pertama: Why 14:14-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13 

Sampai berapa sering kita memikirkan tentang akhir zaman? Seringkalikah? Yang penting untuk kita imani sebagai orang Kristiani adalah, bahwa  kita sesungguhnya tidak pernah tahu kapan datangnya hari “istimewa” itu. Mengapa istimewa? Bagi kita akhir zaman adalah kedatangan Yesus ke dalam dunia untuk kedua kalinya, tetapi kali ini dalam kemuliaan dan keagungan. Jadi, tidak ada yang perlu ditakuti, kalau kita tetap setia dalam iman Kristiani kita.

Pertanyaan yang perlu kita jawab adalah: Apakah kita memiliki hasrat sejati untuk menyambut kedatangan kembali Yesus ini dan percaya bahwa kedatangan-Nya ini berarti penyelesaian rencana Bapa surgawi? Memang mudah bagi kita untuk luput melihat gambar yang lebih besar, yaitu puncak rencana Allah itu sendiri. Kita bisa saja terjebak dalam rutinitas sehari-hari kita, di lingkungan kerja kita,  lingkungan keluarga kita, segala kesukaran serta kesulitan kita, dan kemudian lupa bahwa pada suatu hari Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Oleh karena itu marilah kita setiap hari menanti-nantikan kedatangan-Nya dengan penuh harapan dan kesetiaan.

Prediksi tentang akhir zaman yang dikemukakan oleh Yesus dalam bacaan hari ini memiliki dua tingkatan pemahaman. Pada tingkatan yang pertama, Yesus bernubuat tentang penghancuran Yerusalem dan Bait Allah di sana oleh pasukan Romawi pada tahun 70. Hal ini serupa dengan nubuatan nabi Yeremia yang menyatakan bahwa Bait Salomo akan dihancurkan karena ketidaksetiaan umat kepada Allah (Yer 7). Ini terjadi pada tahun 586 SM, ketika orang-orang Babel memporak-porandakan Yerusalem. Pada tingkatan yang kedua, Yesus berbicara mengenai akhir dunia: “Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera” (Luk 21:9).

Yesus tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para murid-Nya tentang kapan akhir zaman itu akan terjadi. Ia hanya mengatakan, bahwa peperangan dan berbagai bencana akan terjadi lebih dahulu sebelum hari H itu. Kita sendiri tidak mengetahui kapan akhir zaman itu, harinya maupun jamnya. Kita pun tidak dapat mencegah terjadinya berbagai peristiwa yang harus terjadi sebelumnya, karena semua merupakan bagian dari rencana Allah, bukan rencana manusia yang mana pun.

Yang kita dapat lakukan hanyalah satu, yaitu untuk tetap setia kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kalau kita tetap kokoh dalam iman kita, maka kata-kata yang diucapkan Yesus dalam bacaan hari ini merupakan kata-kata yang memberi pengharapan bagi kita semua. Hal ini disebabkan karena kedatangan kembali Yesus dan peristiwa-peristiwa yang harus mendahuluinya adalah bagian dari rencana-kekal Allah sendiri. Mereka yang tetap setia kepada Yesus dan percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati akan mengalami kehidupan kekal bilamana Dia datang, sebuah kehidupan penuh sukacita yang jauh melampaui apa yang kita ketahui sepanjang keberadaan kita di dunia ini. Akan tetapi …… bagi mereka yang tidak percaya, kata-kata Yesus adalah sesuatu yang menyedihkan, bahkan menakutkan. Marilah kita berdoa agar kita akan tetap setia kepada Yesus sementara kita menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Amin, datanglah, Tuhan Yesus! (Why 22:20).

DOA: Bapa surgawi, kami menaruh kepercayaan pada rencana-Mu, bahwa Yesus Kristus akan kembali dalam kemuliaan-Nya. Tolonglah kami agar tetap setia kepada-Nya, tanpa dipengaruhi secara negatif oleh apa saja yang terjadi dengan diri kami dan di sekeliling kami. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam dunia sehingga semua orang akan siap juga untuk menyambut kedatangan Yesus pada waktu kedatangan-Nya kembali kelak. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan berjudul “TANGGAPAN KITA TERHADAP BERBAGAI NUBUATAN TENTANG AKHIR ZAMAN” (bacaan untuk tanggal 27-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 November 2018 [HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Senin, 26 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.” (Luk 21:1-4) 

Bacaan Pertama: Why 14:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Kemurahan hati janda miskin itu dibuktikan tidak dalam jumlah nominal uang yang dipersembahkannya – yang memang sangat kecil -, melainkan berapa banyak yang tetap dipegangnya bagi dirinya sendiri – tidak ada samasekali! Janda miskin itu memberikan segala yang dimilikinya. Orang-orang karya mampu memberi persembahan yang jauh lebih besar untuk perbendaharaan Bait Allah, akan tetapi persembahan mereka itu berasal dari kelimpahan harta kekayaan mereka. Mereka memberikan apa yang mereka tidak butuhkan! Mereka memiliki lebih dari cukup untuk dibagikan, sementara sang janda miskin memiliki kurang dari yang dibutuhkan untuk menyambung hidup, namun ia siap mempersembahkan segala yang dimilikinya.

Memang terasa ironis jikalau orang-orang miskinlah yang sering sangat bermurah-hati. Dalam kemiskinan yang mereka derita, mereka belajar dari “tangan pertama” betapa Tuhan itu sungguh mahapemurah dalam penyelenggaraan-Nya. Hal ini membebaskan mereka dari rasa prihatin berlebihan sehubungan dengan kemiskinan mereka. Dengan rasa percaya yang dipenuhi iman bahwa Allah akan memperhatikan dan memelihara mereka, maka mereka bermurah hati terhadap orang-orang di sekeliling mereka, berbela rasa  dan ringan tangan dalam memberi.

Santa Bunda Teresa dari Kalkuta suka bercerita tentang sebuah keluarga miskin yang dikunjunginya. Pasutri dalam keluarga itu mempunyai delapan orang anak, dan mereka ternyata belum makan selama beberapa hari. Bunda Teresa dapat melihat rasa lapar yang sangat pada wajah-wajah anggota keluarga itu ketika dia datang dengan sejumlah makanan. Ketika dia memberikan makanan kepada ibu rumah, perempuan itu membagi makanan itu menjadi dua  bagian dan pergi keluar sambil membawa satu bagian. Ketika dia kembali, Bunda Teresa bertanya ke mana si ibu pergi tadi? Si ibu menjawab, “Ke tetanggaku – mereka juga lapar.”

Hal yang serupa saya saksikan sendiri pada tahun 1999 ketika saya – sebagai anggota Badan Pengurus LAI – ditugaskan menemani Pendeta Sembiring mengunjungi para pengungsi Timtim di Timor Barat. Ketika baru saja tiba di salah satu pusat penampungan mereka yang serba minim itu, seorang Ibu Pendeta yang menemani para pengungsi memberi kata sambutannya dengan panjang lebar. Kebetulan sekali saya membawa sebungkus kecil biskuit yang dimaksudkan untuk camilan sepanjang perjalanan jauh dalam truk dengan beberapa orang mahasiswa dari kota Kupang. Di tengah kata sambutan (khotbah?) Ibu Pendeta, pandangan mata saya terhenti pada seorang ibu yang sedang menyusui bayinya. Hati saya tergerak untuk jalan perlahan mendekatinya dan memberikan “sisa” biskuit saya kepadanya dan perlahan-lahan saya pun kembali ke tempat saya semula.

Adegan selanjutnya membuat saya tidak fokus lagi pada pidato sang Ibu Pendeta dan sungguh menjadi terharu. Ibu yang sedang menyusui anaknya itu membuka bungkusan yang sudah tidak utuh itu, mengambil biskuitnya yang pertama, membelahnya dan memberikannya kepada seorang ibu yang berdiri di sampingnya, yang membelahnya lagi untuk diberikan kepada seorang ibu lainnya. Biskuit kedua, biskuit ketiga dst. juga diperlakukan secara sama, sehingga banyak ibu di tempat itu menikmati secuil biskuit, di tengah-tengah berlangsungnya pidato sambutan sang Ibu Pendeta. Terlintas dalam pikiran dan hatiku, apakah hal yang seperti inilah yang disebut “pesta agape”? Tak sadar air mata saya berlinang di wajahku.

Beberapa hari sebelumnya saya memberikan semacam pengarahan tentang makna “persaudaraan sejati” dalam kapitel OFS regio Jawa, yang mengambil tempat di Klaten, Jawa Tengah. Ternyata “persaudaraan sejati” justru hadir nyata di tengah keadaan yang serba berkekurangan, serba miskin dan bersahaja. Bukankah ini yang dikehendaki Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, yaitu suatu persaudaraan yang sejati? Bukankah ada tertulis dalam Kitab Suci: “Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya” (1Yoh 4:21)? Saya berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena Roh Kudus memberikan konfirmasi-Nya secara tepat-waktu kepada saya. Pengalaman singkat-padat-mengharukan ini tidak berlangsung lama. Belakangan saya menceritakan pengalaman saya ini kepada Pak Pendeta Sembiring. Beliau pun memasukkan sharing singkat saya dalam sebuah tulisan di majalah LAI.

Orang-orang miskin memahami ketergantungan mereka kepada Tuhan Allah, demikian pula mereka yang “miskin dalam roh” (istilah ini menurut saya lebih tepat daripada “miskin di hadapan Allah”; lihat Mat 5:3). Yesus memberkati mereka yang mengetahui dan menyadari betapa mereka sangat membutuhkan-Nya, mereka yang menyadari bahwa tanpa Allah, mereka menjadi tanpa pengharapan dan tanpa pegangan. Menyadari kehampaan diri mereka dan kemurahan-hati Yesus, mereka pun penuh gairah untuk menyeringkan Injil dengan orang-orang lain, menawarkan kepada mereka kasih yang sama dan kenyamanan yang telah mereka terima dari Tuhan Yesus.

Yesus sangat mengasihi orang-orang yang mempunyai hati seperti hati-Nya sendiri dan berbelas kasihan kepada orang-orang miskin, baik secara materiil maupun spiritual. Semoga mata (hati) kita masing-masing terbuka pada hari ini sehingga kita dapat melihat betapa miskin kita sebenarnya! Selagi kita melakukannya, kita akan keluar juga dan dengan kemurahan hati menjangkau orang-orang yang membutuhkan, mengenal dan mengalami berkat yang dialami oleh sang janda miskin dalam bacaan Injil hari ini.

DOA: Tuhan Yesus, dengan bela rasa-Mu yang begitu mendalam curahkanlah kasih-Mu kepada para saudari-saudara kami yang miskin-papa dan diabaikan. Buatlah hatiku seperti hati-Mu yang kudus agar mampu menghibur mereka yang tak diperhatikan. Perkenankanlah aku menjadi perpanjangan tangan-tanganMu selagi aku berupaya menjangkau saudari-saudaraku yang membutuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:1-4), bacalah tulisan berjudul “BERKAT DARI KEMISKINAN” (bacaan untuk tanggal 26-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabbda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 November 2017 [Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk.Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKAN RAJA DUNIA

BUKAN RAJA DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA [TAHUN B] – Minggu, 25 November 2018)

 

Pilatus masuk kembali ke dalam istana gubernur, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Jawab Yesus, “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang aku?” Kata Pilatus, “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Lalu kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi engkau adalah raja?” Jawab Yesus, “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” (Yoh 18:33-37) 

Bacaan Pertama: Dan 7:13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5; Bacaan Kedua: Why 1:5-8

Pada hari ini kita merayakan HARI KRISTUS RAJA. Kita memproklamasikan Yesus sebagai Raja, namun kita mengakui-Nya sebagai Raja dengan suatu perbedaan. Yesus bukanlah Raja dunia.

Bacaan pertama yang diambil dari Kitab Daniel berbicara mengenai penglihatan Daniel tentang seorang tokoh eskatologis – anak manusia – yang datang kepada Yang Lanjut Usianya. Kepada anak manusia ini diberikan kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suka bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah (Dan 7:13-14). Mazmur Tanggapan hari ini menjelaskannya dengan baik: “TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, …” (Mzm 93:1).

Dalam bacaan kedua yang diambil dari Kitab Wahyu, tema “Raja” ini terus berlanjut. Namun tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang dimaksudkan sebagai “Raja segala raja” adalah Yesus Kristus. Ia adalah “yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini” (Why 1:5). Martabat Yesus Kristus sebagai raja mencakup seluruh dunia, dan semua bentuk otoritas tunduk pada pemerintahan-Nya.

Sekarang, kita mulai bertemu dengan aspek-aspek yang lebih menyusahkan hati berkaitan dengan Kristus sebagai Raja. Dalam Kitab Wahyu kita membaca bahwa Yesus Raja kita “telah melepaskan/menebus kita dari dosa kita oleh darah-Nya” (Why 1:5). Walaupun Yesus akan datang kembali dengan penuh kuasa, kita membaca: “juga mereka yang telah menikam Dia. Semua bangsa di bumi akan meratapi Dia” (Why 1:7). Jadi, walaupun dalam kemuliaan-Nya, Yesus terus mengenakan bekas-bekas luka karena penyaliban diri-Nya.

Mengapa ada paradoks seperti ini? Karena penulis Kitab Wahyu menginginkan agar kita menyadari bahwa pemuliaan dan kemuliaan tidak datang begitu saja. Kemuliaan dan rekonsiliasi dimungkinkan karena Yesus mencurahkan darah-Nya sendiri bagi kita. Di atas kayu salib, Yesus menyatakan apa artinya kasih itu dan siapa Allah itu sebenarnya. Dia adalah Allah yang menderita bagi kita dan kasih-Nya tak kenal lelah. Alfa dan Omega, Yang Mahakuasa dinyatakan di atas kayu salib sebagai KASIH. Kasih di sini bukanlah suatu perasaan nyaman atau suatu cinta yang asyik-nyaman selalu. Kasih adalah komitmen dan kesetiaan di hadapan dosa, perpecahan dan kebencian. Luka-luka karena penderitaan Yesus tidak boleh dibuang atau digeser ke tempat lain. Luka-luka Kristus tidak dapat dilepaskan dari takhta dan mahkota-Nya. Pemuliaan dan kemuliaan Yesus Kristus (dan kita juga) tumbuh dari pengalaman dina akan kematian dan kebangkitan.

Pertanyaan Pilatus dalam bacaan Injil hari ini adalah pertanyaan kita juga: “Apakah Engkau seorang Raja?” Pilatus tidak dapat menangani realitas kuat-kuasa kasih. Ia hanya mengenal cinta kekuasaan. Yesus adalah seorang Raja yang tidak memiliki pasukan darat, laut maupun udara. Kekuasaan Yesus adalah kuat-kuasa kasih yang mentransformasikan hati manusia dan bekerja sepanjang sejarah. Ini adalah kasih dari seorang Raja yang berdiam dan memerintah dari awan-awan di langit sana karena memerintah juga dari Salib. Mampukan kita “berurusan” dengan Raja seperti ini?

Pada hari ini kita merayakan Yesus Kristus sebagai Raja. Akan tetapi, kita dapat bertanya kepada diri kita masing-masing apakah Dia sungguh hadir dalam kehidupan kita? Apakah Dia memerintah dalam hati kita? Kita dapat saja membayangkan diri kita berada di takhta dan menghakimi dua belas suku Israel. Namun kita pun harus mengingat bahwa Dia yang berkuasa dan penuh kemuliaan itu juga membawa bekas-bekas luka di bagian-bagian tubuh-Nya. Kita tidak dapat memiliki mahkota tanpa salib. Sebagai umat Kristiani, kita dipanggil untuk membawa Yesus Kristus bersama kita, salib-Nya, … semuanya yang berkaitan dengan diri-Nya. Dalam dunia yang penuh dengan berbagai macam klaim, baik dari raja-raja palsu, raja-raja kecil ataupun raja-raja uang yang penuh kuasa, kita harus berani memproklamasikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja kita, dan kepada Dia sajalah kita akan mengabdikan diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyembah Engkau sebagai Rajaku! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu bahwa Engkau sungguh melindungiku, memperhatikanku, dan mendengar seruanku kepada-Mu. Berikanlah kepadaku kebaikan-Mu dan belas kasih-Mu setiap hari sepanjang hidupku. Semoga aku dapat berdiam bersama-Mu dalam Kerajaan-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 18:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN DARI DUNIA INI” (bacaan tanggal 25-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018] 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 November 2018 [Peringatan S. Sesilia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS