MELEBIHI TANDA NABI YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Teresia dr Yesus, Perawan & Pujangga Gereja – Senin, 15 Oktober 2018)

 Suster Fransiskanes S. Lusia (KSFL): Pesta Hari Jadi Persaudaraan KSFL

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Gal 4:22-24,26-27,31 – 5:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-7 

Pernahkan Saudari-Saudara berpikir tentang bagaimana pentingnya tanda-tanda bagi hidup kita? Rambu-rambu lalu-lintas memperlihatkan kepada kita berapa km/jam kita dapat berkendara mobil dan kapan kita harus berhenti dst. Kata-kata yang kita ucapkan adalah tanda-tanda dari realitas-realitas yang lebih mendalam yang sedang kita coba ungkapkan. Cara kita berjalan, atau ekspresi wajah kita, dapat memberi sinyal apa yang kita sedang rasakan. Kita memang membutuhkan tanda-tanda dan simbol-simbol. Itulah cara Allah menciptakan kita.

Dengan cara serupa, tanda-tanda yang diinspirasikan menceritakan kepada kita tentang kehadiran Allah dan mengungkapkan kebenaran-Nya. Dalam Kitab Suci, Yunus merupakan suatu tanda pertobatan dan belas kasih (Luk 11:30; Yun 3). Paulus memahami bahwa dua orang perempuan yang melahirkan dua orang anak Abraham sebagai tanda-tanda dari perjanjian lama dan perjanjian baru (Gal 4:22-27). Bahkan Yesus adalah tanda yang paling besar (Luk 2:34).

Apakah anda percaya, bahwa karena Roh yang hidup dalam dirimu, hidupmu dapat menjadi sebuah tanda yang menunjuk pada kemenangan salib? Sebuah tanda yang memimpin orang-orang lain untuk mencari Tuhan dalam doa? Sebuah tanda bahwa Kerajaan Allah adalah di sini? Lagi, apakah anda percaya bahwa cinta kita satu sama lain – dalam keluarga-keluarga dan gereja-gereja – dapat menjadi satu dari tanda-tanda kehadiran Yesus yang paling besar (Yoh 13:34-35)? Dan apabila satu badan lokal umat Kristiani merupakan sebuah tanda, bagaimana dengan gereja universal? Potensinya sangat besar! Apabila kita semua bergabung bersama, lalu mendedikasikan hati kita sepenuhnya bagi Yesus, dan berdoa syafaat bagi dunia, maka kuasa yang bersifat monumental dapat dilepaskan untuk menghancurkan ketidakpercayaan, kebencian yang sudah turun temurun dan prasangka yang sudah lama terpendam.

Pada Minggu pertama masa Prapaskah tahun 2.000, Almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang sudah Santo) bersama tujuh orang kardinal dan uskup agung, mendoakan “doa mohon pengampunan”. Mereka mengakui tujuh area dosa – seperti dosa-dosa terhadap kesatuan tubuh Kristus, terhadap orang-orang Yahudi, dan terhadap kaum perempuan – atas nama anak-anak Gereja. Bayangkan kuasa yang dilepaskan oleh pertobatan ini, dan makna tanda ini bagi seluruh dunia. Sekarang, bayangkan apa yang dapat terjadi apabila seluruh Gereja secara harian berdoa dengan cara begini. Perpecahan yang ada di antara umat Kristiani dapat disembuhkan, permusuhan antara bangsa-bangsa dapat menjadi surut atau mereda, dan orang-orang yang tidak percaya dapat berbalik menjadi percaya kepada Allah!

DOA: Bapa surgawi, banyak anak-anak-Mu yang tertindih oleh penderitaan hidup. Ampunilah semua prasangka dan persatukanlah umat beriman yang masih terpecah-belah, agar dengan demikian kasih kami satu sama lain dapat menjadi sebuah tanda bagi dunia tentang kuasa dan kasih-Mu. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 15-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Oktober 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements