YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Jumat, 12 Oktober 2018)

Kel. Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Serafinus dari Montegranaro, Biarawan

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Gal 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6

Dalam Injilnya, Santo Lukas melukiskan gambaran-gambaran jelas tentang realitas dan kuasa Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, namun dia juga dengan cepat menunjukkan bahwa mereka bergetar ketakutan di hadapan hadirat Yesus, bermohon-mohon untuk dikasihani. Dengan kata lain, sejago-jagonya Iblis, jauh lebih hebat dan penuh kuasalah Yesus kita.

Seperti yang telah dilakukannya ketika pertama kali memberontak melawan Allah (lihat Why 12:7 dsj.), Iblis dan begundal-begundalnya terus saja ber-adventure (melakukan “petualangan”) di atas muka bumi ini, dengan mencoba merampas dari Allah sebanyak mungkin anak-anak-Nya. Kalau saya mengatakan anak-anak-Nya, hal ini berarti termasuk juga para rohaniwan, biarawan dan biarawati, karena secara jujur tidak ada yang kebal terhadap serangan dari si “pangeran kegelapan” dan pasukannya. Jubah religius warna apa pun yang dipakai sungguh tidak akan menjamin. Dengan berbagai cara, halus maupun kasar, Iblis dan roh-roh jahat pendukungnya akan mengganggu serta menggoda agar kita ragu-ragu atau berpikiran lain atas berbagai  butir kebenaran yang selama ini kita telah terima dari Kitab Suci dan Gereja. Rasa percaya kita pada cintakasih Bapa surgawi serta pemeliharaan-Nya atas diri kita semua, terus saja digerogoti dengan berbagai macam cara oleh si Jahat dan kawan-kawannya.

Yesus sendiri telah mengalami cobaan dan godaan agar Ia tidak percaya pada kuasa Bapa-Nya, menaruh hasrat pada kekuasaan, mengejar hal-hal duniawi dan mempunyai ambisi untuk kepentingan diri-sendiri (lihat Luk 4:1-13). Namun karena kasih-setia-Nya kepada Allah, Yesus memenangkan “pertempuran”-Nya dengan Iblis pada waktu itu. Oleh nama, darah dan salib-Nya, Yesus menyediakan pembebasan dan kemerdekaan bagi kita semua, hanya kalau kita mau dan mampu belajar terus untuk menggantungkan diri kepada-Nya. Yesus tentu sangat senang untuk membebaskan kita dari yang jahat (ingat: Doa Bapa Kami). Ia sangat senang untuk membuat kita semua menjadi orang-orang merdeka dalam arti kata sesungguhnya. Namun bagi Yesus pembebasan dari yang jahat – meski penuh kuasa sekali pun – hanyalah sekadar sebuah pintu masuk kepada suatu rahmat yang lebih besar. Yesus ingin membebaskan diri kita, sehingga Dia dapat mengisi hidup kita dengan hidup-Nya sendiri. Dia ingin memerdekakan kita dari keterikatan pada dosa, sehingga kita akan menjadi lebih terbuka bagi kehidupan, cintakasih dan kuasa Allah Tritunggal.

Hari ini tanyakanlah pada diri anda sendiri, “Bagaimana aku memandang kehidupanku? Apakah aku memandang diriku sebagai seorang pendosa yang masih berjuang terus untuk sungguh mengasihi Allah? Apakah aku seorang pencinta Allah yang masih memerlukan pembebasan dari dosa-dosaku yang serius? Apakah aku masih memiliki harapan di masa depan?  Apakah aku melihat potensi kekudusan dan pelayanan yang telah ditaruh Allah dalam diriku? Apakah ada harapan bagiku untuk menyelusup ke dalam surga kelak? Dalam doa-doa kita mohonlah agar Yesus membuka mata kita lebih lebar lagi. Biarlah Dia meyakinkan kita masing-masing tentang kemenangan-mutlak-Nya atas Iblis dan roh-roh jahat, agar kita dengan penuh percaya-diri menerima semua berkat yang telah dimenangkan sang Juruselamat bagi kita semua.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima-kasih kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Yesus untuk menghancurkan kuasa Iblis. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan penuhilah setiap sudut kehidupanku. Aku ingin menjadi pemenang bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA BERSAMA YESUS DAN MENGUMPULKAN BERSAMA DIA” (bacaan tanggal 12-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Oktober 2018 [Peringatan S. Daniel dkk., Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements