YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Para Malaikat Pelindung – Selasa, 2 Oktober 2018)

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu; Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” (Mat 18:1-5,10) 

Bacaan Pertama: Kel 23:20-23a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-6,10-11

Seorang anak kecil menaruh kepercayaan penuh pada  perlindungan orangtuanya, dia tidak takut kepada siapa pun atau apa pun manakala berada di bawah perlindungan orangtuanya. Gambaran seperti ini menjadi indah sekali kalau diterapkan pada kita – semua anak-anak Allah – yang dengan penuh sukacita dan penuh kepercayaan menempatkan diri ke dalam perlindungan dan penyelenggaraan Ilahi, penyelenggaran oleh-Nya, Allah yang baik, satu-satunya yang baik.

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocense masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan seorang Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Namun hal ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis perihal kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu “nasib” kita: tidak ada seorang pun dapat menolong kita kecuali diri kita sendiri. Saya mempunyai seorang teman baik yang sejak muda-usia mempunyai motto: “God only helps those who help themselves.” Dia sudah sampai kepada suatu kesimpulan sangat berbahaya, yaitu bahwa Yesus bukanlah Tuhan dan Allah seperti kita imani, tetapi sekadar manusia biasa yang baik. Dia begitu berbangga akan kemahirannya dalam bisnis yang ditekuninya, yang menurutnya merupakan pangkal kesuksesannya. Biarpun begitu, masih suka keluar dari mulutnya kata-kata yang mengatakan bahwa Tuhan Allah itu baik, yang memberikan kepadanya talenta dan berbagai peluang positif. Dia banyak berbuat baik, hal mana tidak dapat disangkal. Diiringi doa-doa dari istrinya dan teman-temannya, tentu kawan saya ini pun akan mengalami moment of truth dalam hidupnya, untuk menjadi seorang anak kecil lagi di hadapan Bapa surgawi.

Yesus ingin memerdekakan kita dari isolasi ciptaan kita sendiri atau kemandirian yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocense sejati dan orijinal yang pernah kita alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya. Meskipun sudah dewasa dalam usia, kita tidak mampu bertahan satu hari saja kalau terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Adalah Allah yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa pun kecilnya urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting – dan percaya bahwa para malaikat-Nya, teristimewa malaikat pelindung kita masing-masing, juga mengawasi, membimbing dan melindungi kita. 

DOA: Ya Allah Roh Kudus, bebaskanlah aku dari kemandirianku yang palsu. Tolonglah aku agar dapat menjadi seperti seorang anak kecil selagi aku memanjatkan permohonan kepada Allah untuk kekuatan dan kebutuhan-kebutuhanku. Bukalah hatiku untuk menaruh kepercayaan kepada penyelenggaraan Ilahi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), bacalah tulisan yang berjudul “ADA MALAIKAT MEREKA DI SURGA” (bacaan tanggal 2-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018.

 (Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 September 2018 [Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements