Archive for September, 2018

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan Pujangga Gereja, Pelindung Misi – Sabtu, 1 Oktober 2018)

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  (Mat 18:1-5) 

Bacaan Pertama: Ayb 1:6-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-7 

ATAU: Bacaan Pertama: Yes 66:10-14b, atau 1Kor 12:31-13:13; Bacaan Injil: Luk 9:46-50 

“Siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” (Mat 18:4) 

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocence masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan “seorang”  Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Renungkanlah sebuah doa yang disampaikan oleh seorang Teresia Martin yang baru berusia 7 (tujuh) tahun kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya, namun belum boleh disambutnya: “Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah aku menjadi mainan-Mu! Anggap saja aku ini bola-Mu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di sudut kamar karena bosan, boleh saja. Aku akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau bola-Mu ini hendak Kautusuk. … O Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendak-Mu!”  Ini adalah sebuah doa anak kecil yang sejati, yang keluar dari innocense masa kanak-kanak!

Innocence ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis kalau berbicara mengenai kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup, ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup, manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat saja mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu “nasib” kita: tidak ada seorang pun dapat menolong diri kita kecuali kita sendiri! Berkaitan dengan hal ini ingatlah sebuah “pepatah” dalam bahasa Inggris: “God only helps those (people) who help themselves!” Sungguh merupakan ungkapan kesombongan manusia!

itheres001p1

Yesus ingin memerdekakan kita dari isolasi bikinan kita sendiri atau kemandirian keliru yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocence sejati dan orijinal yang pernah kita miliki/alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya.

Inilah pengalaman rohani yang telah terbukti benar dalam kehidupan Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus atau Santa Teresia dari Lisieux, orang kudus yang dikenal sebagai “Santa Teresia Kecil” [1873-1897], yang kita rayakan pestanya pada hari ini. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus dalam Bacaan Injil hari ini.

Walaupun sudah dewasa dalam usia, kita tidak akan mampu bertahan satu hari saja jika terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Adalah Allah sendiri yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Oleh karena itu – seperti halnya Santa Teresia Kecil – marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa kecilnya pun urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting di mata manusia. Santa Teresia Kecil adalah seorang pribadi yang mampu melihat kuat-kuasa dari kasih Allah yang dapat mengubah segalanya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan Kerajaan-Mu kepada orang-orang yang bertobat dan menjadi seperti anak-anak kecil. Berikanlah rahmat-Mu kepada kami agar dapat berjalan dengan penuh keyakinan seturut teladan hidup Santa Teresia Kecil, dengan demikian memampukan kami melihat kemuliaan-Mu yang kekal. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “SYARAT UNTUK MASUK KE DALAM SURGA” (bacaan tanggal 1-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 September 2018 [Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

TOLERANSI KRISTIANI

TOLERANSI KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [TAHUN B] – 30 September 2018)

Kata Yohanes kepada Yesus, “Guru, kami melihat seseorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah dia, karena dia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus, “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.” 

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan. Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka. Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan. (Mrk 9:38-43,45,47-48) 

Bacaan Pertama: Bil 11:25-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8,10,12-14; Bacaan Kedua: Yak 5:1-6

Dalam bacaan Injil hari ini diceritakan bahwa para murid Yesus menolak mengakui kuat-kuasa yang dimiliki seorang pengusir setan yang tidak merupakan anggota kelompok Yesus. Yohanes berkata kepada Yesus: “Guru, kami melihat seseorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah dia, karena dia bukan pengikut kita” (Mrk 9:38). Kiranya orang tersebut telah berhasil dalam pelayanan usir-mengusir roh jahat ini, dan suksesnya jelas telah mengkhawatirkan Yohanes dan para muridNya yang lain. Mengapa sampai begitu?

Sebelum itu, pada bab yang sama dalam Injil Markus, diceritakan ada seorang laki-laki yang mohon kepada Yesus untuk membebaskan anak laki-lakinya dari roh jahat yang telah membisukan anaknya itu. Orang itu berkata kepada Yesus: “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. …… Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat” (Mrk 9:17-18). Para murid Yesus yang tidak berhasil mengusir roh jahat, sekarang melihat “seorang luar” justru berhasil melakukan pengusiran-pengusiran roh jahat dalam nama Yesus. Para murid kiranya tidak mau/sudi melihat orang itu berfungsi sebagai seorang pengusir setan. Mereka berharap Yesus akan menolak untuk mengakui orang itu. Kelihatannya para murid merasa terancam oleh keberhasilan “seorang luar”. Apakah para murid merasa khawatir akan digantikan oleh orang-orang lain? Apakah mereka melihat pelayanan kepada sesama sebagai ajang persaingan? Apakah melihat keberhasilan “seorang luar” membuat para murid merasa ciut, sebagai murid yang kurang berarti? Kelihatannya self-esteem mereka akan dipulihkan jika “orang luar” itu ditolak. Namun Yesus menolak permintaan para murid yang diwakilkan oleh Yohanes itu.

Apa yang dilakukan Yesus? Ia mengundang para murid-Nya yang tidak banyak itu kepada suatu visi yang lebih luas akan kebaikan Allah. Ia memerintahkan para pengikut-Nya membiarkan “orang luar” itu sendiri tanpa diganggu, dan  berada dalam kedamaian: “Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk 9:40). Jadi Yesus mengakui dan memberi konfirmasi atas keberadaan si “pengusir setan” tersebut. Ia juga mengatakan kepada para murid-Nya bahwa siapa saja yang menyambut mereka karena mereka adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya (Mrk 9:41).

Yang harus diingat adalah kenyataan bahwa para murid juga adalah “orang-orang luar” dalam masyarakat mereka. Dalam sebuah dunia di mana mereka berharap agar dapat diakui dan diterima dalam nama Yesus, Yesus meminta kepada mereka juga untuk bersikap dan melakukan hal yang sama kepada orang-orang lain. Mengapa para murid harus mengharapkan toleransi dan hospitalitas sementara mereka sendiri bersikap dan berperilaku intoleran terhadap “orang-orang luar” kelompok/komunitas mereka.

Yesus tidak terancam oleh kebaikan orang  yang berasal dari luar kelompok pilihan-Nya sendiri. Apabila hidup-Nya adalah demi kebaikan orang-orang lain, demikian pula kiranya yang diharapkan dari hidup para pengikut-Nya. Dalam artian ini Yesus tidak membeda-bedakan orang apabila menyangkut kebaikan.

Pada hakekatnya ini adalah pelajaran mengenai toleransi, suatu pelajaran yang dibutuhkan oleh hampir semua orang. Umat Kristiani dituntut untuk senantiasa menunjukkan sikap yang terbuka dan toleran kepada sesama, bukan terbatas pada mereka yang seiman saja. Dalam Mrk 9:33-37, Yesus mengajar agar masing-masing murid-Nya tidak menjadi angkuh secara pribadi, sedangkan pada bacaan Injil hari ini Yesus mengajar tentang betapa salahnya juga keangkuhan secara berkelompok.

Segala hal harus dibuktikan oleh kehidupan kita yang nyata. Tidak ada seorang pun dari kita yang dapat menyalahkan kepercayaan-kepercayaan yang membuat seorang insan manusia menjadi pribadi yang baik. Kalau begitu halnya, maka kita pun menjadi kurang bersikap intoleran terhadap mereka yang “lain”. Kita boleh saja tidak sependapat dengan kepercayaan yang dianut oleh seorang lain, tetapi dengan demikian tidak serta-merta kita boleh membenci orang yang bersangkutan dan melakukan kekerasan atas dirinya dan merusak harta miliknya.

Intoleransi terhadap iman-kepercayaan yang berbeda dengan kita mencerminkan “kesombongan rohani” dalam diri kita. Kalau begitu halnya, maka kita pun tidak lebih baik dari orang Farisi dan pemuka agama pada zaman Yesus. Pentinglah untuk kita ingat, bahwa kebenaran itu selalu lebih besar daripada apa yang dapat dipahami oleh seseorang. Dasar dari toleransi bukanlah bahwa kita menerima segalanya karena kita malas. Toleransi berarti menghormati segala kemungkinan kebenaran yang mengambil berbagai bentuk pengungkapan. Toleransi berarti menghormati secara jujur kebebasan hati nurani dalam menghadapi berbagai pola kehidupan yang bersifat mekanistis, kebiasaan-kebiasaan yang resmi diterima, dan kekuatan-kekuatan sosial yang bertentangan. Bukankah ini menunjukkan kasih yang lebih besar daripada iman atau pengharapan? Intoleransi adalah suatu  tanda keangkuhan dan ketidakpedulian, karena ini adalah tanda bahwa seseorang sesungguhnya percaya bahwa tidak ada kebenaran di luar kebenaran yang diketahui dan dikenalnya sendiri. Tidak ada seorang pun yang memakai nama Yesus dengan serius (dan penuh hormat) yang boleh kita hina dan asingkan. Demikian pula tidak ada satu pun tindakan kebaikan dalam nama Yesus yang dapat dilarang oleh para pengikut-Nya sendiri.

Yesus memanggil para murid (termasuk anda dan saya) untuk menjadi orang-orang yang penuh toleransi. Toleransi Kristiani berarti menghargai kebenaran yang senantiasa lebih besar daripada diri kita sendiri, juga berarti pengakuan akan cintakasih yang bertumbuh melampaui batasan-batasan diri kita, suatu respek mendalam terhadap kebebasan Allah untuk bergerak seturut kehendak-Nya sendiri. Toleransi Kristiani adalah juga kerendahan hati di hadapan kebesaran/keagungan Allah.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Jauhkanlah kami dari sikap intoleransi dan angkuh terhadap pihak mana pun yang tidak seiman dengan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:38-48), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 30-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

Cilandak, 27 September 2018 [Peringatan S. Vincentius a Paolo, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIGA MALAIKAT ALLAH YANG GAGAH PERKASA

TIGA PELAYAN ALLAH YANG GAGAH PERKASA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung – Jumat, 29 September 2018)

 

Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-Kitab.

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah. (Dan 7:9-10,13-14) 

Bacaan Pertama alternatif: Why 12:7-12;  Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-5; Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung, para pelayan Allah gagah-perkasa, yang memainkan peranan penting dalam rencana-penyelamatan-Nya. Saudari-saudara Kristiani yang bukan Katolik tentu hanya mengenal dua nama saja. Nama Rafael muncul dalam Kitab Tobit yang tidak ada dalam Alkitab mereka. Menurut tradisi Yahudi ada tujuh Malaikat Agung, yaitu Uriel, Rafael, Raguel, Mikael, Sariel, Gabriel dan Remiel (kalau ada waktu, silahkan membaca tentang hal itu di Encyclopaedia Britannica). Rafael memperkenalkan dirinya kepada Tobit dengan berkata: Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaikat di hadapan Tuhan yang mulia” (Tob 12:15).

Dalam zaman modern di mana kita manusia cenderung untuk mempertimbangkan hampir segalanya (kalau tidak mau dikatakan ‘segala-galanya’) dari  suatu perspektif duniawi, maka pesta seperti ini mengingatkan kita akan keberadaan malaikat dan/atau berbagai makhluk surgawi yang disebut “singgasana, kerajaan, pemerintah dan penguasa” (lihat Kol 1:16), juga tentang “roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan” (Ibr 1:14).

Sampai berapa seringkah kita berpikir tentang para malaikat, yang dikatakan oleh sejumlah orang kudus mempunyai tingkatan-tingkatan itu? Mungkin karena pengaruh film-film horor, rasanya lebih mudahlah untuk menerima realitas Iblis dan roh-roh jahatnya (sesungguhnya adalah para mantan malaikat yang  berontak) daripada makhluk-makhluk surgawi ini yang setia kepada Allah. Akan tetapi, sementara kita merayakan pesta para malaikat agung pada hari ini, baiklah kita mempertimbangkan peranan yang mereka mainkan seperti yang dikemukakan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK): “Bahwa ada makhluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan ‘malaikat’, adalah suatu kebenaran iman. …… Sampai Kristus datang kembali, pertolongan para malaikat yang penuh rahasia dan kuasa itu sangat berguna bagi seluruh kehidupan Gereja” (KGK 328, 334).

Malaikat adalah pelayan dan pesuruh Allah, yang selalu memandang wajah Bapa di surga (Mat 18:10), sehingga sang pemazmur menulis: “Pujilah TUHAN (YHWH), hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya” (Mzm 103:20; lihat KGK 329). Sebagai makhluk rohani murni mereka mempunyai akal budi dan kehendak mereka adalah wujud pribadi dan tidak dapat mati. Mereka melampaui segala makhluk yang kelihatan dalam kesempurnaan (KGK 330). Karena para malaikat dipanggil untuk membantu memajukan kerajaan Allah, maka tidak salah kalau kita berkesimpulan bahwa mereka mempunyai peranan juga dalam kehidupan umat Allah – anda dan saya.

Pada kenyataannya, apakah kita menyadarinya atau tidak, kehidupan kita dikelilingi oleh para malaikat, apakah melalui bisikan nurani kita atau saat-saat berkat yang tidak kita sangka-sangka dan harap-harap atau perlindungan. “Sejak masa anak-anak sampai pada kematiannya malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan dan doa permohonan (doa syafaat)” (KGK 336).

Apabila kita mempertimbangkan bagaimana para malaikat memandang wajah Allah (lihat Mat 18:10), maka kita; akan melihat doa kita dari terang yang berbeda. Bayangkanlah, setiap kali and berdoa dan sujud menyembah Allah, para malaikat ada di sana, berdoa bersama anda. Sebagaimana para gembala melihat sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah berkaitan dengan kelahiran Yesus Kristus (Luk 2:8-14), kita pun bergabung menyanyikan lagu penyembahan bersama mereka setiap kali kita merayakan Ekaristi Kudus (KGK 335). Banyak sekali malaikat menggabungkan diri dengan suara kita dalam paduan suara surgawi setiap kali kita dalam Misa kita bernyanyi: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu. Terpujilah Engkau di surga. Terberkatilah yang datang atas nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga!” (lihat Yes 6:3; bdk. Why 4:8).

Para malaikat dapat menjadi mata rantai yang menghubungkan kita dengan surga, maka pandanglah ke atas! Doa-doa anda mempunyai nilai yang besar. Anda dapat menggabungkan diri dengan sejumlah besar malaikat yang sujud menyembah Allah, apakah dalam Misa Kudus atau pada saat anda berdoa secara pribadi, dan doa anda itu dapat membawa “hujan berkat” dari Allah ke atas bumi.

DOA: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah semesta alam. Dengan penuh ketakjuban dan hormat, kami semua sujud menyembah Engkau dalam kemuliaan-Mu. Perkenankanlah suara kami bergabung dengan paduan suara surgawi para malaikat dalam memuji-muji kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:47-51), bacalah tulisan yang berjudul “MIKAEL, GABRIEL DAN RAFAEL” (bacaan tanggal 29-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 September 2018 [Peringatan S. Elzear & Delfina, OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPAKAH YESUS BAGIKU?

SIAPAKAH YESUS BAGIKU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Jumat, 28 September 2018)

OFMCap.: Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22) 

Bacaan Pertama: Pkh 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4 

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Luk 9:20)

Siapakah Yesus? Seorang nabikah? Seorang guru moralkah? Pendiri sebuah agama barukah? Jawabannya bervariasi, baik pada zaman Yesus maupun pada zaman modern ini. Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Barangkali pertanyaan tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut: “Bagaimana anda tahu bahwa Yesus adalah Dia yang anda katakan sebagai Dia?” 

Petrus berkata kepada Yesus, “Mesias dari Allah” (Luk 9:20). Tetapi bagaimana Petrus mengetahui tentang hal ini? Oleh perwahyuan Allah. Dalam Injil Matius ada catatan bahwa Yesus kemudian berkata kepada Petrus, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 16:17). Dalam kasus Yesus, memang manusia dan cara biasa untuk memahami hal-hal tidaklah cukup. Rahmat perwahyuan diperlukan, yang berasal dari Bapa surgawi.

Perwahyuan ilahi dan supernatural bukanlah sesuatu yang diberikan Allah secara sedikit-sedikit, atau hanya sepotong-potong. Allah sangat senang untuk mewahyukan /menyatakan Yesus kepada kita. Bayangkanlah bagaimana para orangtua baru tidak pernah lelah bercerita tentang anak-anak mereka. Sebagai Bapa, Allah tidak banyak berbeda dengan kita. Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya pada kita sehingga dengan demikian hasrat kita akan perwahyuan/pernyataan tentang Yesus akan bertumbuh, sampai titik di mana kita akan sungguh mengharapkan dapat melihat tindakan-tindakan Yesus dan mendengar suara-Nya dari hari ke hari. Bahkan jika kita telah mengalami momen-momen perwahyuan di masa lampau, Allah ingin memberikan kepada kita lebih lagi: “pengertian tentang rahasia Kristus” (Ef 3:4), dan keyakinan untuk berjalan dalam kehadiran-Nya sepanjang hari.

Kita semua tidak menjadi putus asa ketika mengetahui bahwa walaupun mengalami momen perwahyuan, sikap dan perilaku Petrus masih saja agak “ngawur” – bahkan tidak sekali saja! Lebih menyemangati kita lagi adalah ketika kita menyadari bahwa kesalahan-kesalahan Petrus membuat dirinya menjadi haus dan lapar akan perwahyuan yang lebih lagi. Seperti Petrus, walaupun ketika kita dengan rasa pedih menyadari akan kelemahan-kelemahan kita, kita tetap dapat memohon lebih lagi perwahyuan tentang Yesus dari Bapa di surga. Kita tidak akan sampai kepada kepenuhan kontemplasi wajah Kristus jika kita mengandalkan upaya kita sendiri. Kita harus memperkenankan rahmat Allah untuk bekerja dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, nyatakanlah Putera-Mu, Yesus, kepadaku secara lebih lagi. Dengan demikian aku akan lebih mengenal Dia lebih dalam lagi dan mengalami kuasa kehadiran-Nya, dan kemudian dapat mensyeringkan kasih-Nya kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH AKU INI?” (bacaan tanggal 24-9-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 26 September 2018 [Peringatan S. Elzear & Delfina, OFS]

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ITU SIAPA SEBENARNYA?

YESUS ITU SIAPA SEBENARNYA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vincentius a Paulo – Kamis, 27 September 2018)

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Luk 9:7-9) 

Bacaan Pertama: Pkh 1:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6,12-14,17 

“Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” (Luk 9:9)

Herodes mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat baik, walaupun ia telah mengeraskan hatinya terhadap jawaban atas pertanyaan itu. Sekarang, apakah yang kita sendiri ketahui tentang Yesus? Allah mempunyai niat agar kita menjalin suatu hubungan yang akrab dan mempribadi dengan Putera-Nya, bahkan sebelum Ia menciptakan kita-manusia, dan Ia tidak pernah membatalkan niatnya ini. Allah sangat senang dalam menyatakan kasih-Nya, rencana-Nya, keberadaan-Nya kepada mereka yang duduk dalam keheningan di hadapan hadirat-Nya dan mohon kepada-Nya untuk mengajar mereka.

Bagaimana kita dapat merenungkan Allah yang tidak kelihatan? Tanda-tanda ada di sekeliling kita, hanya apabila kita mencoba mencarinya. Misalnya, Santo Paulus menulis: “Sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (Rm 1:20). Sang pemazmur juga mendeklarasikan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:1). Apabila kita menyaksikan pemandangan indah matahari yang sedang terbit atau terbenam, atau memandang bintang-bintang di langit pada malam hari dan banyak lagi hal lain yang menyangkut alam ciptaan, maka semua itu akan banyak menyingkapkan kebaikan dan kasih Allah.

Pada abad ke-17/18 ada seorang imam di Perancis yang bernama P. François Fénelon. Imam ini dilahirkan pada tahun 1651. Ia mengabdikan dirinya untuk merenungkan kebenaran-kebenaran Allah dan mengajar orang-orang lain bagaimana melakukan hal yang sama. Dia membagi waktunya antara memperhatikan serta merawat orang-orang miskin serta mereka yang menderita sakit-penyakit, dan membesarkan cucu laki-laki dari Raja Ludovikus XIV (Louis XIV) dalam rangka mempersiapkan cucu raja itu menjadi raja pada suatu hari kelak.  Baik ketika dia berada di tengah-tengah orang-orang dalam istana raja maupun ketika dia sedang berada di tengah-tengah para fakir miskin dan wong cilik pada umumnya, P. Fénelon menggunakan pengaruhnya untuk mengajar orang-orang tentang nilai penting untuk memberikan setiap waktu yang tersedia bagi Allah.

Fénelon sangat menyadari adanya tekanan-tekanan atas kehidupan sehari-hari, akan tetapi dia tetap mengajar, “Anda tidak boleh menanti sampai datangnya waktu senggang; ketika anda dapat menutup pintumu dan dan tidak melihat seorang pun ….. langsung arahkan hatimu kepada Allah, dengan sederhana, dengan akrab, dan dengan penuh kepercayaan.” Ia juga mengajar, “Kemana saja Allah akan memimpin anda, di situ engkau akan menemukan-Nya, dalam urusan yang paling mengganggu seperti juga dalam doa yang paling hening.” Sebagaimana Fénelon, kita juga dapat belajar bagaimana menyaring berbagai distraksi/pelanturan yang datang “mengganggu” kita setiap hari, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah yang menyelidik tentang Diri-Nya. Dan seperti Fénelon, kita juga dapat menemukan kuasa yang mengubah-kehidupan dengan mengenal Yesus semakin dalam dan dalam lagi dari hari ke hari.

DOA: Bapa surgawi, seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allahku. Curahkanlah rahmat dan kasih-Mu kepadaku. Tanpa Engkau diriku hampa belaka. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 27-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA PADA HARI INI

KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA PADA HARI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Rabu, 26 September 2018)

Ordo Fransiskan Sekular [OFS]: Peringatan S. Elzear & Delfina, OFS

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6) 

Bacaan Pertama: Ams 30:5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,72,89,101,104,163 

Selagi Yesus mulai bergerak menuju Yerusalem, Ia mengakhiri misi di Galilea dengan mengutus kedua belas murid-Nya untuk mewartakan Injil dan menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita dan juga untuk menguasai roh-roh jahat. Apakah para murid sudah sepenuhnya siap dan memenuhi syarat (qualified) untuk itu?

Menarik bagi kita untuk mencatat bahwa bahkan dalam cerita pengutusan para murid ini, Yesus tetap berada di pusat. Yesus-lah yang memanggil kedua belas murid-Nya (Luk 9:1), seperti Ia pada awalnya telah memanggil masing-masing murid itu untuk datang dan mengikut-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus telah menyatakan diri-Nya dan mensyeringkan hidup-Nya dengan mereka. Mereka ini bukanlah rasul-rasul yang mengangkat diri mereka sendiri, dan mereka pun bukanlah pribadi-pribadi yang memiliki kharisma dan kemampuan secara alamiah. Satu-satunya hal yang membedakan diri mereka dengan orang-orang lain adalah relasi mereka dengan Yesus.

Sebelum Ia mengutus mereka, Yesus memberikan kepada kedua belas murid-Nya itu kekuasaan dan otoritas atas semua roh jahat dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit (Luk 9:1). Semuanya datang dari dari Yesus. Para murid-Nya tidak pernah pergi ke sekolah teologi dan mereka pun belum mempunyai banyak pengalaman dalam melakukan penyembuhan penyakit dan pengusiran roh-roh jahat. Malah mereka kelihatannya mudah merasa takut dan tidak mempunyai iman yang diperlukan. Namun Yesus memberikan kekuasaan dan otoritas atas realitas-realitas fisik maupun spiritual! Dalam menggambarkan pengutusan Yesus ini, Lukas menggunakan kata Yunani apostello bagi para rasul itu, yang berarti “seorang yang diutus oleh orang lain” (Inggris: apostle). Para rasul tidak menawarkan diri mereka secara sukarela untuk misi yang dipercayakan kepada mereka. Inisiatif ada pada Yesus! Mereka sekadar diutus untuk memberi kesaksian siapa Yesus itu, dan untuk memberikan kesaksian tentang kuasa Allah melalui tindakan-tindakan mereka.

Ternyata tidak ada bedanya pada hari ini. Yesus yang sama, yang memanggil kedua belas murid-Nya sekitar 2.000 tahun lalu, pada hari ini juga memanggil kita masing-masing secara pribadi. Yesus yang sama ini memberikan kepada kita otoritas atas roh-roh jahat dan sakit-penyakit hari ini. Yesus yang sama ini mengutus kita untuk pergi mewartakan Injil Kerajaan Allah secara sederhana, menyembuhkan orang-orang yang sakit, baik fisik maupun spiritual, dan mengasihi tanpa syarat siapa saja yang dijumpai sebagaimana Yesus mengasihi. Kita tidak melangkah maju berdasarkan kemampuan, kesempurnaan kita, atau kuat-kuasa yang kita miliki, melainkan sekadar dalam nama dan kuasa Yesus Kristus. Sang Guru dan Tuhan kita itu telah memilih kita dan memperlengkapi kita agar dapat melakukan kehendak-Nya oleh kuasa Roh Kudus yang hidup di dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat mengenali panggilan-Mu, menerima kuat-kuasa dan otoritas-Mu, dan setia dalam mewartakan Kerajaan Allah seturut kehendak-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, perkenankanlah kami meneruskan anugerah kesembuhan dari-Mu kepada semua orang yang membutuhkannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “KUASA ATAS ROH-ROH JAHAT” (bacaan tanggal 26-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-9-17 salam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 September 2018 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH

MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Selasa, 25 September 2018)

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21) 

Bacaan Pertama: Ams 21:1-6,10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,27,30,34-35,44

Dalam bagian Injil Lukas ini tercatat pengajaran Yesus tentang kemuridan/pemuridan. Mengikuti Yesus berarti mendengar sabda Allah dan berbuah (Luk 8:4-15). Murid Yesus yang sejati harus memiliki terang yang bercahaya dan tidak boleh tersembunyi (Luk 8:16). Para murid Yesus dapat mempunyai iman kepada Yesus dan tidak perlu takut terhadap angin ribut dalam kehidupan mereka (Luk 8:22-25). Sekali lagi, Yesus mengusir roh jahat dari seorang laki-laki di Gerasa dan atas dasar perintah Yesus sendiri, orang itu pun dengan penuh sukacita pergi ke seluruh kota dan memberitahukan segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya (Luk 8:39).

Sekarang, marilah kita membayangkan sejenak apa yang terjadi seturut bacaan Injil hari ini. Banyak orang berkumpul di sekeliling Yesus untuk mendengar apa yang akan/sedang dikatakan oleh rabi dari Nazaret ini, walaupun mereka tidak selalu memahami perumpamaan-perumpamaan-Nya. Kemudian, muncullah Ibu Maria dan saudara-saudara Yesus, dan karena padatnya orang-orang yang berkumpul di situ, mereka tidak dapat mendekati  Yesus. Jadi, tidak mengherankanlah apabila ada orang yang memberitahukan kepada Yesus: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau” (Luk 8:20). Jawab Yesus: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21).

Apakah kiranya yang dimaksudkan Yesus dengan jawaban-Nya itu? Apakah ini berarti bahwa Yesus tidak merasa peduli pada ibu dan keluarga-Nya? Tentu saja tidak! Siapa yang lebih baik dalam memahami kata-kata Yesus itu selain Maria, yang memiliki hasrat tetap untuk melakukan kehendak Bapa surgawi (Luk 1:38)? Lukas tidak mencatat apa yang dilakukan oleh Yesus selanjutnya, namun akal sehat kita mengatakan bahwa tentulah Dia menyambut ibu dan saudara-saudara-Nya, kalau pun tidak langsung ketika mengajar orang banyak itu. Bagi Yesus, menempatkan orang-orang lain sebagai lebih penting daripada keluarga-Nya sendiri sebenarnya bertentangan dengan yang kita ketahui sebagai benar tentang Allah dan juga melawan seluruh ajaran tentang keluarga yang terdapat dalam Kitab Suci (bacalah “Sepuluh Perintah Allah”, khususnya Kel 20:12).

Dalam tanggapan-Nya, Yesus menyatakan bahwa “mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” akan menjadi dekat dengan Yesus seperti para anggota keluarga-Nya sendiri. Ini adalah sebuah janji pengharapan dan sukacita. Kita sendiri dapat mempunyai keintiman yang sama dengan Yesus, kedekatan yang sama, dan relasi kasih yang sama seperti yang dimiliki-Nya dengan ibu dan semua anggota keluarga-Nya. Kita bukan hanya akan menjadi dekat dengan Yesus, melainkan juga – seperti halnya dengan setiap keluarga – kita pun mulai kelihatan seperti Dia. Kita akan mengambil oper karakter-Nya dan mulai berpikir dan bertindak seperti Yesus. Ini adalah janji bagi kita yang berdiam dalam sabda Allah dan senantiasa berupaya untuk mewujudkan sabda-Nya menjadi tindakan nyata.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau menjanjikan kepada kami suatu relasi yang intim dan penuh kasih dengan diri-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengalami kasih-Mu selagi kami menjalani hari-hari kehidupan kami untuk melakukan kehendak Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA” (bacaan tanggal 25-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 September 2018 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS