HENDAK SEMPURNA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas & Pujangga Gereja – Senin, 20 Agustus 2018)

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Yeh 24:14-24; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Selagi Yesus dan rombongan-Nya berada dalam perjalanan menuju Yerusalem, seorang muda mendatangi Yesus dengan pertanyaan yang tentunya ada dalam hati kita semua: “Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat 19:16). Jawaban Yesus cukup sederhana: Kita harus mengenal Dia, satu-satunya yang baik (yakni Allah sendiri), dan kita harus mematuhi segala perintah-Nya, termasuk perintah untuk mengasihi sesama kita. Otoritas perintah-perintah Allah itu jelas – siapa saja yang ingin masuk Kerajaan-Nya wajib untuk mematuhi perintah-perintah-Nya.

Dalam hatinya yang terdalam anak muda ini merasa sangat lapar. Walaupun dia kaya raya dan dengan tulus telah menepati perintah-perintah Allah (hal ini tidak mudah untuk dilakukan oleh siapa saja), tetap saja dia merasakan kekosongan dalam kehidupannya. Hal ini sungguh merupakan suatu blessing in disguise, bahwa boleh menikmati kekayaan dunia atau menghayati suatu kehidupan moral yang baik samasekali tidaklah memuaskan rasa rindu yang ada dalam hati kita. Kita memang diciptakan untuk hal yang jauh lebih besar! Kita diciptakan untuk mengenal dan menikmati suatu persatuan yang erat dengan Allah.  Santo Augustinus mengatakan: “Kaubuat kami mengarah kepadamu. Hati kami tak kunjung tenang sampai tenang di dalam diri-Mu” (Pengakuan-Pengakuan, terjemahan Indonesia terbitan BPK/Kanisius, I.1). Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia menaruh dalam diri kita suatu rasa lapar akan kesempurnaan ini.

Yesus berkata kepada anak muda itu: “Jikalau  engkau hendak sempurna” (Mat 19:21). Hal ini harus kita pahami sebagai undangan Allah kepada semua orang. Melebihi upaya yang tulus dalam menepati perintah-perintah Allah, Yesus mengundang kita masing-masing kepada suatu pemuridan yang intim/akrab. Hanya persekutuan yang erat dengan Kristus seperti inilah yang dapat memuaskan rasa lapar yang ada dalam hati kita. Kita masing-masing dapat menjadi seorang murid Yesus, dapat mengikuti jalan kesempurnaan; undangan-Nya adalah untuk kita semua. Marilah kita menjawab dengan berani: “Ya, aku ingin menjadi sempurna,” dan memperkenankan Yesus mengajar kita untuk mengikuti jejak-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Episode ini terjadi pada waktu Yesus dengan penuh keyakinan sedang berada dalam perjalanan-Nya menuju sengsara dan kematian-Nya di Yerusalem. Kita semua juga sebenarnya sedang berada dalam suatu perjalanan: suatu perjalanan kemuridan/ pemuridan (a journey of discipleship). Setiap hari kita dapat mendekatkan diri kepada Yesus dalam doa, melalui pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan melalui keikutsertaan kita dalam liturgi, teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Selagi kita melakukan semua itu, kita akan belajar mengikuti-Nya secara dekat. Baiklah kita kesampingkan banyak-banyak hal – apakah yang bernilai atau tidak – yang memenuhi hati dan pikiran kita secara tidak semestinya, dan memusatkan hasrat dan perhatian kita sepenuhnya pada Yesus. Dia adalah sang Guru. Oleh karena itu, marilah kita mendengarkan Dia!

DOA: Roh Kudus Allah, tunjukkanlah kepada kami sukacita yang sempurna dan damai sejahtera yang sejati karena mengikuti jejak Yesus Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG  UTAMA” (bacaan tanggal 20-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  18 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements