KASIH, KASIH, KASIH !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Sabtu, 21 Juli 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Laurensius dr Brindisi, Imam Pujangga Gereja

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21) 

Bacaan Pertama: Mi 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 10:1-4,7-8,14 

Mengapa Yesus mendatangkan begitu banyak tentangan dan penolakan dari sejumlah Farisi (tidak semua Farisi, karena Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea juga orang Farisi)? Pada hari Sabat Yesus menyembuhkan seseorang di dekat sinagoga yang tangannya mati sebelah, dan untuk tindakan kebaikan itu dan akhirnya membuat rencana untuk membunuh Dia (bacalah keseluruhan Mat 12:9-13).

Kemudian Injil Matius menceritakan kepada kita, bahwa Yesus mengetahui niat jahat orang-orang Farisi itu, lalu Dia menyingkir dari sana  tanpa mampu disentuh sedikitpun oleh orang-orang jahat itu. Jadi, Yesus hanyalah berpindah ke suatu tempat yang lain, lalu melanjutkan segala perbuatan baik-Nya: menyembuhkan orang dari sakit-penyakit dengan segala mukjizat dan tanda heran yang mengiringinya. Semua itu dilakukan Yesus karena Dia sangat mengasihi umat-Nya. Yesus samasekali tidak memperkenankan ancaman-ancaman terhadap diri-Nya sampai melumpuhkan diri-Nya dengan rasa takut dan juga melumpuhkan karya pelayanan-Nya guna menyembuhkan, mengampuni, dan mengubah jiwa-jiwa yang terluka.

Yesus melakukan semua tindakan kebaikan itu bukanlah untuk pencitraan diri-Nya sebagai Mesias yang akan datang, tebar pesona dan sejenisnya. Khotbah-khotbah-Nya mengenai Kerajaan Allah bukanlah sekadar “pepesan kosong”. Dia hanya ingin setiap orang menjadi percaya kepada-Nya, dan melalui diri-Nya percaya kepada kasih Bapa surgawi kepada mereka. Sebaliknya, para lawan Yesus tidak sedikitpun berhasil memperoleh petunjuk tentang motif sejati di belakang segala mukjizat dan tanda heran lainnya yang diperbuat oleh Yesus. Nah, sekarang apakah sebenarnya motif Yesus itu? Sederhana saja: KASIH !!! Sebuah pesan yang sangat sederhana, namun sampai menggiring diri-Nya kepada sengsara dan wafat-Nya di atas kayu salib.

Agar supaya “Ia menjadikan hukum (keadilan) itu menang” (Mat 12:20), Yesus menunjukkan dengan jelas betapa dapat dipercaya Allah itu. Melalui teladan kehidupan-Nya sendiri, Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita menyerahkan diri kita kepada Bapa setiap hari. Ancaman apapun yang dihadapi-Nya, dan kelelahan badani bagaimana pun yang dialami-Nya – Yesus sepenuhnya menggantungkan diri-Nya kepada Bapa untuk menggendong-Nya.  Kita juga dapat mempunyai pengharapan dan kepercayaan kepada Allah kita, ‘seorang’ Allah yang sangat mengasihi kita.

Setelah selesai menghadiri kapitel nasional OFS di Muntilan, sepanjang perjalanan pulang dan ketika menemaninya di bandara Soekarno-Hatta pada hari Minggu tanggal 3 Juli 2011 lalu, saya merasakan mendapat berkat khusus karena diberi kesempatan untuk mendengarkan cerita-cerita (kata kerennya adalah “kesaksian”) seorang imam Fransiskan asal Croatia, P. Ivan Matic OFM; cerita-cerita yang sungguh menguatkan iman saya. Tidak sekali saja imam itu mengatakan, bahwa kita harus “membuka diri”, menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Bapa yang baik, sumber segala kebaikan itu. Dengan demikian, kita pun akan melihat “keajaiban-keajaiban” apa yang terjadi atas diri kita.

Yesus hanya mempunyai satu sasaran, yaitu mengajar kita untuk menaruh kepercayaan mendalam pada Allah, sehingga kita dapat hidup seturut sabda-Nya. Betapa pun mengagumkannya segala mukjizat Yesus, semua itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan perubahan diri yang kita alami sementara kita menyerahkan hati kita kepada-Nya.

Oleh karena itu marilah kita tidak memperkenankan sesuatu pun yang menghalangi kita dari tindakan penyerahan hidup kita kepada Yesus dan memperkenankan penebusan-Nya mengalahkan dosa-dosa dalam diri kita. Percayalah, Ia mampu mentransformasikan diri kita menjadi menurut gambar dan rupa-Nya (bdk. Kej 1:26,27)! Ini adalah alasan pokok mengapa Dia mati di kayu salib sekitar 2.000 tahun lalu. Sekarang, marilah kita memperkenankan pesan sederhana tentang kasih Allah ini untuk membimbing kita pada hari ini dan hari-hari selanjutnya, dalam berbagai situasi, termasuk situasi  yang paling sulit sekali pun.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu bagi kami masing-masing, pribadi lepas pribadi. Pandanglah dan perhatikanlah segala kebutuhan yang ada pada bangsa dan negara kami, dan tunjukkanlah kehadiran-Mu yang penuh keajaiban dan kuat-kuasa itu secara berkesinambungan. Buatlah keajaiban dan kesembuhan atas diri kami semua, ya Tuhan, agar banyak orang bangsa kami akan datang kepada kasih-Mu dan percaya kepada-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus, Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacan Injil hari ini (Mat 12:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “CIRI-CIRI PRIBADI SEORANG HAMBA TUHAN” (bacaan tanggal 21-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 18 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS