TIDAK DIHARGAI DI KAMPUNG HALAMAN SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIV [Tahun B] – 8 Juli 2018)

Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan banyak orang takjub mendengar-Nya dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukjizat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada di sini bersama kita?”  Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya. Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya di atas mereka. Ia merasa heran karena mereka tidak percaya.  

Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar. (Mrk 6:1-6) 

Bacaan Pertama: Yeh 2:2-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 123:1-4; Bacaan Kedua: 2Kor 12:7-10

Yesus dan para murid-Nya mengunjungi Nazaret, kampung halaman-Nya. Seperti biasanya, pada hari Sabat Ia pergi ke sebuah sinagoga untuk mengajar (bdk. Mrk 1:21). Ketika orang-orang Nazaret mendengar pengajaran-Nya, banyak dari mereka menjadi takjub. Mereka sungguh heran akan hikmat yang keluar dari mulut-Nya (bdk. Mrk 1:27a). Di sisi lain timbullah pertanyaan-pertanyaan yang mengusik: Bagaimana mungkin hikmat yang luar biasa itu keluar dari mulut-Nya? Bagaimana mungkin Ia dapat mengerjakan mukjizat-mukjizat yang sedemikian spektakular? Mereka kenal betul latar belakang Yesus. Kesibukan sehari-harinya adalah berurusan dengan perkayuan. Mereka kenal ibunda-Nya dan para anggota keluarga-Nya. Tidak ada siapapun dari keluarga Yusuf-Maria yang melebihi mereka. Bagaimana mungkin pengajaran-Nya dapat begitu penuh kuat-kuasa, begitu berwibawa? Lalu mereka menolak Dia. Mereka tidak mau percaya kepada-Nya. Mereka mendengarkan, tetapi tidak mengerti. Asal-usul hikmat Yesus tetap merupakan suatu misteri bagi mereka.

Bagaimana tanggapan Yesus sendiri? Bagi-Nya ini bukanlah suatu pengalaman baru dalam sejarah. Setiap nabi selalu dilawan dan ditolak, khususnya di kampung halamannya sendiri, bahkan “di antara kaum keluarganya dan di rumahnya”. Siapa yang mau menerima seorang nabi dalam rumahnya? Bukankah rumah itu juga akan ditolak? Yesus bersabda: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya” (Mrk 6:3). Lalu mereka menolak Dia. Kitab Suci tidak melihat para nabi dihormati di mana-mana. Mereka selalu ditolak. Dengan kata-kata  “dihormati di mana-mana” mungkin Yesus mau memperlihakan dan mengecam ketegaran hati para pendengarnya di sinagoga Nazaret. Akibat dari ketidakpercayaan orang-orang Nazaret ini, Yesus tidak dapat membuat mukjizat di tempat asal-Nya. Hanya beberapa orang sakit disembuhkan. (Mrk 6:5). Yesus merasa heran karena orang-orang Nazaret itu tidak percaya (lihat Mrk 6:6a).

Cerita tentang penolakan terhadap Yesus di kampung halamannya sendiri oleh orang-orang sekampung-Nya mungkin sangat mengejutkan banyak dari kita. Alasannya juga tidak kalah mengejutkan. Orang-orang Nazaret boleh dikatakan adalah orang-orang sederhana seperti Yesus juga. Bagaimana mereka bisa-bisanya tidak menerima hikmat yang ada pada Yesus? Karena iri hati, bahkan persaingan di antara wong cilik? Kerajaan Allah sungguh sudah dekat mereka karena direpresentasikan oleh Yesus sendiri, tetapi Kerajaan Allah itu dapat ditolak karena alasan yang sangat manusiawi. Hanya kerendahan hati yang dapat mengalahkan semua itu.

Cerita ini menunjukkan bahwa Yesus – Putera Allah – yang merendahkan diri menjadi manusia dapat ditolak, bahkan oleh orang-orang yang paling sederhana sekali pun. Iman kepada Yesus tetaplah suatu anugerah. Bahkan Yesus sendiri pun merasa heran karena orang Nazaret tidak percaya kepada-Nya. Apakah kita juga merasa heran bahwa banyak orang tidak percaya kepada Yesus? Kita seharusnya berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena kita diberi anugerah untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Memang Ia adalah seorang manusia seperti kita, tetapi hikmat ajaran-Nya tidak berasal dari manusia. Kita tidak boleh menolak Dia karena kemanusiaan-Nya karena Dia memang berasal dari Allah.

Bacaan Injil hari ini juga adalah suatu peringatan bagi kita manakala kita menghadapi ketidakpercayaan manusia yang menolak kesaksian kita tentang Yesus. Menerima Yesus adalah suatu rahmat dan kita harus belajar hidup dari misteri penolakan ini dalam sikap iman dan syukur serta dalam doa yang tekun agar anugerah iman itu juga diberikan kepada orang-orang lain.

Bacaan Injil ini juga dapat mengingatkan kita akan orang-orang yang tidak diterima dan tidak dipandang dalam masyarakat hanya karena latar pendidikan, latar belakang sosial mereka dlsb. Banyak orang menderita karena merasa tidak diterima. Kita sendiri mungkin termasuk kelompok orang-orang yang menolak orang karena alasan semacam itu. Kita hanya menerima Yesus di gereja, tetapi menolak Dia dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya ini harus mendorong kita untuk melakukan pertobatan dan memohon belas kasih Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Maharahim, Khalik langit dan bumi, kuduslah nama-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Yesus Kristus, Putera Bapa. Kami percaya bahwa menerima Yesus adalah suatu rahmat dari-Mu. Dalam kesempatan ini kami berdoa bagi orang-orang dalam masyarakat yang menjadi korban diskriminasi dalam salah satu bentuknya, a.l. yang berasal dari kami sendiri terhadap mereka. Ampunilah kemunafikan kami, ya Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 8-7-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018 

Cilandak, 5 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements