Archive for July, 2018

DI MATA BAPA SURGAWI KITA ADALAH ANAK-ANAK-NYA YANG SANGAT DIKASIHI-NYA

DI MATA BAPA SURGAWI KITA ADALAH ANAK-ANAK-NYA YANG SANGAT DIKASIHI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori – Rabu, 1 Agustus 2018)

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46) 

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5a,10-11,17-18

Adalah suatu praktek umum dalam dunia kuno bagi orang-orang untuk menyembunyikan barang-barang berharga milik mereka di dalam tanah. Teristimewa dalam masa-masa peperangan, keluarga-keluarga seringkali “menanam” barang-barang berharga mereka sebelum mereka meninggalkan tempat mereka untuk melarikan diri (mengungsi) ke tempat lain, dengan harapan dapat kembali ke tempat tinggal mereka  dan mengambil kembali harta mereka yang ditanam itu, apabila keadaan sudah pulih kembali. Yesus tahu bahwa para pendengar-Nya familiar dengan praktek-praktek yang disebutkan di atas. Dengan demikian Ia mengetahui bahwa para pendengar-Nya itu akan memahami sukacita besar dan excitement yang dirasakan seseorang yang menemukan harta-benda yang telah lama terpendam itu.

Lagi-lagi, dalam menggunakan ilustrasi “mutiara”, Yesus yakin bahwa para pendengar-Nya mengetahui bahwa mutiara dinilai sebagai benda yang sangat berharga dan relatif mahal. Di samping nilainya secara moneter, orang-orang juga melihat keindahannya. Dalam menggunakan contoh-contoh ini, Yesus mengilustrasikan nilai dan keindahan Kerajaan Allah yang luarbiasa tingginya, di samping itu juga Dia mengilustrasikan sukacita besar yang dialami seseorang karena mengenal dan mengalami kasih Allah.

Sekarang, baiklah kita (anda dan saya) membayangkan diri kita sebagai harta kekayaan atau mutiara yang tak ternilai harganya itu. Bayangkan Allah sangat menghargai kita karena Dia tahu sekali nilai kita yang sebenarnya dan Ia ingin memiliki diri kita. Bagi banyak dari kita, hal ini dapat menjadi sulit. Kita dapat memandang diri kita sebagai barang “BS” …… damaged goods …… “nggak mulus lagi” …… karena dosa-dosa dan segala kesalahan dan kegagalan dalam mematuhi perintah-perintah-Nya. Kita dapat merasa bahwa kita telah melakukan sesuatu yang menjadikan diri kita tidak pantas, bahkan tak dapat diampuni lagi, pokoknya …… penuh noda!

Tetapi kebenarannya adalah bahwa Yesus sudah sedemikian lama mencari-cari kita; Dia ingin berjumpa dengan kita. Dia telah memberikan segalanya, diri-Nya sendiri, bahkan sampai mati kayu salib, agar kita dapat menjadi anak-anak Bapa-Nya dan bersama-sama dengan-Nya menjadi pewaris-pewaris harta kekayaan Kerajaan Allah. O, kita sungguh mempunyai “seorang” Allah luarbiasa. “Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi. Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut ……” (Santo Fransiskus dari Assisi, Anggaran Dasar Tanpa Bulla, XXIII:9). Di mata-Nya kita adalah anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya, sangat berharga, bahkan bisa jadi jauh lebih berharga daripada “harta” dan “mutiara” dalam dua perumpamaan di atas.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita membuat diri kita agar dapat dijumpai oleh Yesus pada hari ini. Janganlah kita menyembunyikan dosa-dosa kita, termasuk kesombongan kita. Janganlah kita mencoba-coba untuk membuat diri kita kelihatan baik di mata-Nya. Dia telah memanggil kita masing-masing sebagai harta-kekayaan-Nya sendiri. Dia rindu untuk datang masuk ke dalam hati kita dan membuat kita masing-masing ikut ambil bagian dalam kehidupan-Nya – suatu kehidupan sukacita, penuh damai-sejahtera dan pelayanan bagi orang-orang lain. Marilah kita menyambut Dia dalam doa kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu, agar dengan demikian aku menjadi harta kesayangan-Mu. Aku adalah milik-Mu sepenuhnya! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan dengan judul “PENEMUAN HARTA TERPENDAM DAN MUTIARA” (bacaan tanggal 1-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Jakarta, 31 Juli 2018 [Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Loyola – Selasa, 31 Juli 2018)

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Yer 14:17-22; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Dalam pelayanan-Nya di tengah masyarakat, Yesus menyerang ekslusivitas yang ditemukan-Nya dalam masyarakat Yahudi, dipromosikan teristimewa oleh orang-orang Farisi, namun dipraktekkan juga oleh kelompok-kelompok lainnya.

Yesus membentuk komunitas-Nya yang terdiri dari para pemungut cukai/pajak, para pendosa, dan juga orang-orang terhormat dalam masyarakat. Praktek ini pada gilirannya berlaku dalam Gereja setelah kebangkitan Kristus, yang sekarang merupakan campuran tidak hanya antara orang-orang yang berbeda-beda kelas sosial melainkan juga antara para kudus dan para pendosa, antara mereka yang terus mencoba untuk hidup seturut ekspektasi Yesus yang tinggi dan orang-orang tidak/kurang peduli terhadap ekspektasi Yesus. Kecenderungan dari orang-orang yang disebutkan belakangan adalah santai dan ikut-angin, sementara orang-orang yang disebutkan duluan dapat menjadi tidak sabar dan ingin melakukan upaya bersih-bersih secepatnya.

Perumpamaan ini seperti sebatang pedang yang bermata dua. Bagi mereka yang santai-malas ada penghakiman yang tidak dapat ditawar-tawar. Bagi mereka yang tergesa-gesa ingin berbenah, perumpamaan ini menganjurkan adanya kesabaran, karena waktu itu sendiri adalah rahmat, dan apa yang dinilai sebagai ilalang pada saat itu dapat saja pada akhirnya sebenarnya adalah gandum, atau sebaliknya.

Seandainya Augustinus dari Hippo dan Charles de Foucauld dihakimi atas dasar peri kehidupan mereka semasa muda, maka mereka tidak pernah akan menjadi orang-orang kudus Gereja. Hal ini bukan berarti bahwa sebuah komunitas tidak berhak untuk menetapkan standar-standar keanggotaan tertentu. Namun memang ada suatu semangat yang tidak sabar untuk mencapai kesempurnaan, hal mana kurang serasi dengan belas kasih dan kesabaran yang ditunjukkan Bapa surgawi (lihat “Perumpamaan tentang anak yang hilang” [Luk 15:11-32]).

Penjelasan atas perumpamaan di atas terdapat dalam Mat 13:36-43, bacaan Injil dalam Misa Kudus hari ini. Di dalam penjelasan ini dilakukan alegori dari unsur-unsurnya dan memperluas ajarannya. Ladang bukan Gereja, melainkan dunia. Pemisahan antara orang-orang yang diselamatkan dan tidak bukanlah antara anggota Jemaat/Gereja dan mereka yang berada di luar Gereja, karena ada orang yang berada di luar Gereja yang akan diselamatkan dan ada yang sekarang berada di dalam Gereja namun tidak diselamatkan. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21; lihat juga 7:22).

(Adaptasi dari George T. Montague, SM, COMPANION GOD – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, hal. 157-158)

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami, dan Engkau adalah Guru Agung kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu pada hari ini, teristimewa untuk penjelasan yang Kauberikan atas “Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum”. Karena belas kasih dan kesabaran-Mu, banyak dari kami yang sebenarnya masih termasuk kategori “lalang” diberi kesempatan untuk pada akhirnya menjadi gandum. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 31-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

Jakarta, 30 Juli 2018 [Hari Raya Pemberkatan Katedral Semarang] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN SEBESAR BIJI SESAWI DIBERIKAN KEPADA KITA PADA SAAT KITA DIBAPTIS

IMAN SEBESAR BIJI SESAWI DIBERIKAN KEPADA KITA PADA SAAT KITA DIBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Senin, 30 Juli 2018)

Peringatan: S. Petrus Krisologus, Uskup Pujangga Gereja

Keuskupan Agung Semarang: Hari Raya Pemberkatan Katedral Semarang 

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Yer 13:1-11; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21 

Yesus seringkali mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau dari alam sekitar. Hal ini dimaksudkan agar dapat menangkap perhatian para pendengar-Nya dan memicu mereka untuk mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan tentang pesan Injil dan hidup yang ingin disampaikan-Nya. Untuk memenuhi Mzm 78:2, Yesus berkata, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mat 13:35). Yesus mengatakan ini karena Dia tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dibutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar pemahaman intelektual. Perwahyuan ilahi juga dibutuhkan.

Penggunaan perumpamaan-perumpamaan oleh Yesus menerangi kebenaran-kebenaran mendalam tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang yang mencari kebenaran-kebenaran tersebut. Perumpamaan-perumpamaan Yesus mengundang mereka untuk merenungkan realitas Kerajaan itu  dan relasi dengan sang Raja itu sendiri. Cerita-cerita Yesus bukan sekadar merupakan penjelasan-penjelasan sederhana bagi mereka yang sederhana juga, orang-orang biasa saja yang tidak belajar ilmu agama untuk memahami kebenaran ilahi. Lewat perumpamaan-perumpamaan-Nya, Yesus menarik para pendengar-Nya agar mencari Allah, sehingga kedalaman dan kekayaan keselamatan dapat dinyatakan melalui permenungan-permenungan yang dilakukan dalam suasana doa.

Yesus rindu untuk menyatakan diri-Nya kepada semua orang yang mencari-Nya. Kita dapat memperdalam relasi kita dengan Allah dan pemahaman kita tentang Kerajaaan-Nya selagi kita merenungkan cerita-cerita dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Jika kita datang menghadap Yesus dalam doa dengan hati yang terbuka, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang diri-Nya dan tentang hidup kita sendiri, kita membuka diri kita sehingga Dia dapat memperluas pemahaman kita tentang kehendak-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus mentransformasikan diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan diri-Nya. Dengan lemah lembut namun secara mendesak Yesus mengkonfrontir cara-cara atau jalan-jalan kita yang mementingkan diri sendiri dan menyatakan perspektif-Nya sendiri yang penuh kasih dan bersifat ilahi.

Kepada kita masing-masing telah diberikan iman sebesar “biji sesawi” pada saat kita dibaptis. Apa yang akan kita lakukan dengan benih yang kecil ini? Apabila kita membuka hati kita kepada Allah dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, apabila kita berdoa, dan datang kepada-Nya dalam Ekaristi, maka secara cukup mengejutkan Dia dapat memperbesar benih iman kita yang kecil itu menjadi suatu pemahaman yang mendalam tentang Kerajaan-Nya. Marilah kita berbalik kepada Yesus sehingga Dia dapat membalikkan hati kita menjadi “tanah yang baik”, yang dibutuhkan oleh iman kita untuk berakar dan bertumbuh. Yesus ingin mengajar kita. Marilah kita tingkatkan hasrat kita untuk sungguh menjadikan diri kita murid-murid-Nya yang baik.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Selagi kami datang menghadap Engkau dalam doa dan permenungan, ajarlah kami dan inspirasikanlah kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah iman kami menjadi iman yang hidup, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA ” (bacaan tanggal 30-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH PRIBADI SATU-SATUNYA YANG KITA BUTUHKAN

YESUS ADALAH PRIBADI SATU-SATUNYA YANG KITA BUTUHKAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII [TAHUN B] – 29 Juli 2018)

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: 2Raj 4:42-44; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-11,15-18; Bacaan Kedua: Ef 4:1-6 

Sementara Hari Raya Paskah sudah semakin dekat, Yesus membawa para murid-Nya ke kawasan perbukitan di Galilea. Ketika Dia melihat orang banyak yang mendatangi rombongan-Nya, keprihatinan utama Yesus adalah sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan orang banyak itu, teristimewa rasa lapar mereka. Jadi tidak mengherankanlah apabila Yesus memutuskan untuk memberi makan orang banyak itu dengan membuat mukjizat pergandaan roti dan ikan.

Dari narasi-narasi yang menyangkut peristiwa ini dalam berbagai kitab Injil, hanya Injil Yohanes-lah yang menyebut hari raya Paskah yang sudah dekat (Yoh 6:4). Hari raya Paskah ini adalah pesta besar orang Yahudi untuk mengenang bagaimana Allah menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan di tanah Mesir dan memberi makan mereka dengan manna yang turun dari surga di padang gurun. YHWH-Allah menurunkan roti dari surga sebagai makanan sehari-hari umat-Nya guna menopang hidup mereka selama perjalanan menuju tanah terjanji. Bahkan ketika umat-Nya yang tidak tahu diri itu menggerutu, manna tetap dicurahkan dari atas sana. “Tiada hari tanpa manna!”. Walaupun umat Yahudi memberontak, Allah tetap setia dalam komitmen-Nya untuk mengajar umat-Nya tersebut untuk sepenuhnya bergantung pada-Nya untuk pemenuhan berbagai kebutuhan mereka.

Dengan cara yang serupa, Yesus merasa prihatin atas diri Filipus dan Andreas dan juga beribu-ribu orang yang telah datang untuk mendengarkan Dia berkhotbah tentang Kerajaan Allah. Apakah artinya bagi kedua murid Yesus itu dan juga orang banyak untuk menggantungkan diri sepenuhnya kepada diri-Nya? Andreas dan Filipus telah bersama Yesus dalam perjalanan missioner-Nya, dan telah menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat oleh sang Rabi. Akan tetapi, ketika Yesus menguji mereka dengan pertanyaan tentang di mana kiranya mereka dapat membeli roti, Filipus (kelihatannya dia adalah seorang ahli cost accounting) tidak sanggup memahami bahwa kehadiran Yesus sendiri di dekat atau di tengah mereka adalah satu-satunya yang mereka butuhkan. Andreas mengakui bahwa Yesus mampu untuk membuat mukjizat, namun masih merasa ragu atas kuat-kuasa Yesus yang tanpa batas itu: “Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak itu?” (Yoh 6:8-9).

Saudari dan Saudaraku, Yesus sangat mengetahui bahwa Dia dapat menyediakan makanan dengan berlimpah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan spiritual dari semua orang yang datang kepada-Nya. Bahkan pada hari ini pun Yesus masih merupakan satu-satunya Pribadi yang dibutuhkan untuk memberikan kepenuhan hidup bagi mereka yang datang kepada-Nya. Allah masih bekerja dalam setiap situasi kehidupan kita agar kita menjadi semakin dekat dengan Putera-Nya. Yesus masih tetap mengajar kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya; Dia meminta kita untuk taat kepada-Nya dan mempercayakan kebutuhan-kebutuhan kita ke dalam tangan-tangan kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah roti kehidupan yang turun dari surga, dan Engkau tidak pernah mengecewakan kami. Kami menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk memimpin kami menuju kehidupan kekal. Ajarlah kami, ya Yesus, agar tetap tenang dalam menggantungkan diri kami sepenuhnya kepada-Mu guna menopang setiap aspek kehidupan kami melalui iman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS TIDAK PERNAH MENGECEWAKAAN KITA” (bacaan tanggal 29-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda..wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juli 2018 [Peringatan S. Yoakim dan Ana, Orantua SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM

KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 28 Juli 2018)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Yer 7:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” ini, Yesus tidak hanya berbicara mengenai “orang baik” dan “orang jahat” di dalam dunia ini, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ada di dalam Gereja kita. Suatu pandangan realistis tentang Kristianitas harus menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi begitu akrab dengan irama dosa, keduniawian dan si Jahat sehingga mereka sungguh merupakan ancaman atas kehidupan orang-orang Kristiani lainnya.

Contohnya, antara lain adalah kasus-kasus skandal perilaku seks yang menjijikkan serta memalukan, ulah sejumlah imam gereja Katolik di Amerika Serikat dan juga di Eropa, yang terus menerus dibongkar sejak beberapa tahun lalu. Tuntutan-tuntutan pengadilan dalam uang yang besar jumlahnya sempat membuat keuskupan-keuskupan tertentu di Amerika Serikat menjadi berada di ambang kebangkrutan keuangan. Belum lagi luka-luka batin dan akar kepahitan yang bertumbuh untuk waktu lama dalam diri para korban pelecehan seksual termaksud. Sangat terpujilah kenyataan, bahwa Sri Paus telah minta maaf atas perilaku tak senonoh para imamnya, namun kita semua juga tahu bahwa perkara hukum akan berjalan terus, apalagi kalau yang muncul di atas permukaan dan dihebohkan itu baru puncak dari sebuah gunung es. Seorang imam Indonesia, guru dan teman yang saya hormati, sekian tahun lalu pernah mengirim e-mail kepada saya dengan nada sedih. Beliau menulis a.l. begini: “Saya melihat, kecuali persoalan kelainan seksual, ada soal ketidakadilan yang dibuat oleh para imam yang sakit yang tidak peka itu. Ada suatu kecenderungan bahwa Gereja hancur dari dalam, karena ulah gembala yang memangsa dombanya. Saya yakin, kalau para gembala kehilangan sense of justice dalam pelayanan mereka dan dalam relasi-relasi mereka, risiko yang sama bisa terjadi pula di Indonesia, dalam bentuk yang lain. … Anyway, saya tetap mencintai Gereja Kristus ini dalam segala keterbatasannya.” Sebuah catatan yang mengharukan, yang perlu ditanggapi oleh kita umat awam dalam doa-doa syafaat untuk para imam kita secara konstan.

Yesus mengingatkan para murid-Nya – sampai hari ini pun Ia masih terus mengingatkan – tentang kebutuhan dalam Gereja. Para Bapak Konsili Vatikan II dengan jujur mengakui: “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Akan tetapi, …… di sinilah justru kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mengindentifikasikan lalang-lalang yang ada dalam paroki, atau dalam keuskupan dst. dan lalu mencoba menangani perkara ini sendiri. Menghakimi orang secara semena-mena barangkali juga merupakan suatu bentuk lalang yang sangat merusak dan satu tanda yang paling jelas dari pekerjaan si Jahat, “pendakwa saudara-saudara  seiman kita” (Why 12:10). Yesus mengetahui sekali betapa cepat kita menghakimi orang-orang lain. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk selalu “mengeluarkan dahulu balok dari mata kita, agar kita dapat melihat dengan jelas serpihan kayu dari saudara kita” (lihat Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya, kita sesungguhnya tidak ingin “mencabut orang-orang yang tidak baik” – karena kita sendiri pun sebenarnya tidak pantas untuk Kerajaan Surga. Kita menyimpan “benih-benih buruk” dalam hati kita masing-masing. Cara terbaik untuk menjamin adanya perlindungan atas Gereja adalah untuk mohon kepada Roh Kudus agar menolong kita memeriksa batin kita sendiri dan membebaskan diri kita dari dosa. Beginilah firman YHWH semesta alam: “Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu” (Yer 7:3).

Allah tidak menginginkan kita menghakimi diri kita sendiri dan orang-orang lain tanpa belas kasih. Ia menginginkan kita mendoakan diri kita sendiri dan juga untuk Gereja. Dengan cara ini, secara bertahap kita pun akan menjadi para peniru Yesus, yang selalu berdoa syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Allah Bapa, karena Yesus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara kita (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari yang jahat dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah khalik langit dan bumi. Selagi Engkau mengamati hati umat-Mu, tentunya Engkau melihat lalang yang tumbuh dalam diri kami semua. Namun Engkau juga melihat bahwa Putera-Mu terkasih juga berdiam dalam diri kami masing-masing. Tolonglah kami untuk menyerahkan diri kami seratus persen kepada Yesus, sehingga Gereja-Mu dapat menjadi terang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 7:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG-ORANG ISRAEL TELAH MEMBUAT SESUATU YANG SUNGGUH KUDUS MENJADI BERHALA” (bacaan tanggal 28-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Juli 2018 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI TANAH MACAM APA HATI KITA ITU?

SEPERTI TANAH MACAM APA HATI KITA ITU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI –  Jumat, 27 Juli 2012)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Perawan (Ordo II)

Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di  tanah yang berbatu-batu ialah orang yang  mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang ini pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat 13:18-23)

Bacaan Pertama: Yer 3:14-17; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

Perbandingan antara tindakan menaburkan benih di kondisi yang berbeda-beda dan firman Allah yang bertumbuh di dalam hati kita adalah satu dari metode-metode pengajaran paling penting yang pernah digunakan oleh Yesus. Macam “tanah”  yang berbeda-beda dengan  hati kita dapat dibandingkan, akhirnya mengerucut pada titik apakah kita terbuka terhadap kebenaran-kebenaran Kerajaan Surga dan apakah kita rindu untuk mengetahui kehidupan Kristus. Hati yang terbuka, seperti juga tanah yang baik, siap untuk ditanami dengan firman/sabda Allah. Hati yang terbuka memperkenankan Roh Kudus “melahirkan” buah yang besar untuk Kerajaan Surga.

Benih – sabda Allah – itu dipenuhi dengan potensi luarbiasa. Perbedaan satu-satunya adalah tanah, yaitu hati kita masing-masing. Namun demikian, kalau pun hati kita tidak sempurna, kita tidak pernah boleh berputus-asa. Roh Kudus selalu siap untuk memberi perwahyuan, untuk menghibur, untuk mengajar dan untuk memberdayakan kita. Dia rindu untuk mengangkat bagi kita gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Nya; yang akan menggembalakan kita  “dengan pengetahuan dan pengertian” (lihat Yer 3:15). Yang diminta oleh Allah adalah agar kita datang kepada-Nya dengan hati terbuka, mencari sabda-Nya. YHWH Allah berseru memanggil kita: “Aku akan mengambil kamu, …… dan akan membawa kamu ke Sion” (Yer 3:14). Sejarah membuktikan bahwa Tuhan itu adalah seorang Pribadi yang setia!

Seperti tanah macam apa hati kita itu? Apakah kita secara “mati-matian” mencari kebenaran-kebenaran dari Kerajaan Surga? Apakah kita sungguh merindukan hidup Kristus sendiri bergerak dan aktif dalam diri kita? Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini kepada diri kita sendiri, maka kita dapat menguji “tanah” macam apa sebenarnya hati kita ini? Apakah kita sangat berkeinginan untuk mendengar tentang kebenaran-kebenaran Kerajaan Allah? Apakah kehidupan kita dapat menjadi seperti “taman yang diairi dengan baik-baik, sehingga tidak akan kembali merana?” (lihat Yer 31:12).

Kebanyakan dari kita masih memiliki hati seperti tanah yang berbatu-batu dan/atau semak berduri. Selagi kita mencari Tuhan dalam doa-doa kita, dalam Ekaristi, dan dalam pembacaan serta permenungan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci, maka Roh Kudus dapat menyiapkan hati kita agar mampu menerima benih sabda-Nya secara lebih penuh. Dengan membuka diri kita bagi-Nya, kita memperkenankan Roh Kudus untuk memperbaiki kondisi hati kita, sehingga Yesus dapat bekerja dalam hati kita dan menolong kita untuk menghasilkan buah tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, bahkan seratus kali lipat untuk kerajaan-Nya (Mat 13:23). Marilah kita pergi menghadap Yesus dalam doa. Hanya Dialah yang dapat membuat kita siap menghasilkan panen yang berlimpah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat memusatkan perhatian pada kehendak-Mu. Hembuskanlah nafas kehidupan-Mu ke dalam nas-nas Kitab Suci yang kubaca agar aku dapat memahami sabda-Mu dan disembuhkan. Aku mempercayakan seluruh hatiku kepada-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah hatiku itu agar dapat menghasilkan buah-buah berlimpah demi kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:18-23), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBANDINGKAN ORANG-ORANG DENGAN EMPAT MACAM TANAH” (bacaan tanggal 27-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 25 Juli 2018 [Pesta S. Yakobus, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDUA ORANGTUA SP MARIA

KEDUA ORANGTUA SP MARIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Kamis, 26 Juli 2018)

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetapi tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17 

Pada hari ini, tanggal 26 Juli, Gereja memperingati Yoakim dan Anna, orangtua dari SP Maria. Memang tidak ada catatan mendetil, baik historis maupun alkitabiah, yang diketahui tentang kehidupan dua orang kudus ini, namun banyak umat beriman dalam suasana doa melakukan permenungan atas kehidupan mereka dan bagaimana mereka sebagai orangtua membesarkan anak mereka yang satu hari kelak dipilih untuk menjadi Ibunda Putera Allah. Hal ini disebutkan dalam tulisan-tulisan di awal abad kedua dan telah banyak digambarkan dalam karya seni abad pertengahan. Gereja memilih bacaan pertama hari ini dari Kitab Yesus bin Sirakh guna menyampaikan pujian dan hormat yang memang pantas diberikan kepada kedua orangtua saleh seperti Yoakim dan Anna yang kita sedang peringati.

Kedua orangtua Maria ini memiliki rasa tanggungjawab yang mendalam untuk melakukan karya suci mendidik dan melatih anak perempuan mereka. Kita dapat mengandaikan bahwa mereka melakukan tugas panggilan mereka setelah didahului dengan banyak doa, yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah – yang telah memanggil mereka menjadi orangtua – , bahwa Dia akan memberikan segala hikmat-kebijaksanaan dan kekuatan yang mereka perlukan. Buah dari ketaatan mereka kepada Allah terlihat jelas dalam tanggapan Maria ketika dia diberitahukan oleh malaikat Gabriel bahwa Roh Kudus akan turun atas dirinya dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi dirinya; sebab itu anak yang akan dilahirkannya itu disebut kudus, Anak Allah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:35,38).

Kehidupan orangtua harus dikuduskan bagi Allah dan pelayanan kepada-Nya. Dikuduskan berarti dipisahkan secara khusus, untuk mengabdikan diri kepada Allah. Orangtua yang dikuduskan adalah seorang pribadi saleh yang memenuhi perannya dalam kehidupan dengan mind set melakukan apa yang menyenangkan Allah, bukan dunia. Komitmen ini menciptakan atmosfir spiritual di mana seorang anak akan subur dan bertumbuh dalam kasih dan pelayanan bagi Allah. Orangtua yang dikuduskan bagi Allah mengajar anak-anak mereka melalui kata-kata dan contoh, bahwa mereka harus percaya dan diselamatkan dan bahwa mereka juga dipanggil untuk melayani.

Para orangtua yang dikuduskan dan saleh akan memperoleh pujian (lihat Sir 44:1); keturunan mereka akan mewarisi kebenaran mereka dan tetap setia kepada Allah karena teladan baik mereka (Sir 44:11); dan keturunan mereka akan tetapi tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus  (Sir 44:13) dan gereja di atas bumi akan menghormati mereka (Sir 44:14).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orangtua agar supaya mereka dapat terbuka bagi rahmat yang Kauberikan untuk mengurus keluarga mereka bagi-Mu. Berikanlah kepada kami segala rahmat untuk menguduskan diri kami bagi-Mu dalam peranan apapun yang Kauberikan kepada kami dalam kehidupan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA MENGAMBIL TEMPAT YANG LAYAK DALAM SEJARAH KESELAMATAN”  (bacaan tanggal 26-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juli 2018 [Peringatan B. Luisa dr Savoyen, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS