Archive for February 15th, 2018

HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH

HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu – 17 Februari 2018)

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemimpin cukai, yang  bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32) 

Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

Tak peduli dengan latar belakang kita masing-masing, kita semua memiliki kemampuan untuk memberikan diri kita sendiri secara total-lengkap kepada Allah. Bahkan seorang pendosa kelas berat pun dapat ditransformasikan oleh kasih dan kebaikan hati-Nya. Ini adalah pelajaran di belakang perjumpaan Yesus dengan Lewi dan semua teman-teman Lewi yang dicap sebagai orang-orang berdosa oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Setiap hari dalam kehidupan-Nya di dunia, Yesus sungguh mempraktekkan petuah nabi, yaitu menjauhkan diri dari “menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah” (Yes 58:9). Ia menolak untuk menuduh atau menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, Yesus menerima orang-orang berdosa dan berusaha untuk membawa rahmat pengampunan dan sentuhan penyembuhan dari Bapa surgawi ke dalam kehidupan para pendosa itu.

Kedosaan Lewi sebagai pemungut cukai tidak membuat Yesus menjauhinya. Keprihatinan utama Yesus adalah apakah si Lewi ini akan bertobat, meninggalkan dosa-dosanya dan menerima sebuah hati yang baru. Yesus memang tidak pernah menghindar dari orang-orang yang “tidak bersih” alias “para pendosa”. Yesus tidak pernah takut bahwa kemurnian diri-Nya akan terancam. Yesus juga tidak pernah berusaha untuk membuat diri-Nya kelihatan lebih baik dengan menuding-nuding orang lain atau menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. Sebaliknya, Yesus malah meruntuhkan tembok-tembok pemisah yang ada, agar dapat membawa kemurnian Injil kepada setiap orang yang dijumpainya.

Bagaimana dengan kita sendiri? Seringkali, apabila kita berhadapan dengan perilaku dosa dari orang lain, tanggapan kita malah berwujud menjauhkan diri daripadanya. Tidak jarang pula kita menjadi terlibat dalam gosip-gosipan tentang orang itu. Berapa banyak dari kita yang tidak mau mengundang ke rumah kita para kerabat atau teman yang perilaku tak bermoralnya sungguh mengganggu kita? Banyak dari kita juga tetap merasa marah dan menolak orang-orang yang telah bersalah terhadap diri kita. Sekarang saatnya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah sikap dan perilaku kita itu efektif dalam usaha membantu “para pendosa” itu menyesali dosa-dosa mereka dan melakukan pertobatan …… kembali ke jalan Allah?

Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana mendekati orang-orang lain. Walaupun Yesus tidak pernah berkompromi dengan kebenaran atau menyarankan agar orang mengabaikan hukum Allah, Ia memperlakukan setiap orang dengan rasa hormat dan belas kasihan, apa pun dosa mereka.

Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk pergi menemui dan mengasihi orang-orang seperti yang dilakukan Yesus. Janganlah kita menghakimi orang-orang yang berlabel “pendosa”. Yang penting adalah kita mengasihi mereka dengan kasih Kristus, dan kita boleh merasa yakin betapa besar dampak dari tindakan kita itu. Setiap orang dapat dipimpin kepada kebenaran hanya melalui kasih dan kesetiaan Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, buatlah hatiku menjadi seperti hati Yesus pada masa Prapaskah ini. Biarlah kasih yang kuat dan penuh bela rasa membimbingku selagi aku mendekati orang-orang lain, teristimewa mereka yang telah meninggalkan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:27-32), bacalah tulisan dengan judul “YESUS DATANG UNTUK MENGUBAH HATI PARA PENDOSA” (bacaan tanggal 17-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA

BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Jumat sesudah Rabu Abu – 16 Februari 2018)

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9:14-15) 

Bacaan Pertama: Yes 58:1-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19

Apa kesan anda tentang puasa? Apakah itu sebuah cara meratapi dosa-dosa kita? Apakah anda memandang puasa sebagai suatu kewajiban keagamaan – sekadar sesuatu yang harus dijalani oleh orang-orang Kristiani? Yesus menginginkan agar puasa bagi para murid-Nya itu berbeda dengan kesan-kesan seperti tadi. Pada kenyataannya, puasa Kristiani dapat menjadi suatu peristiwa yang mengandung sukacita besar dan penuh pengharapan, bukannya peristiwa penuh kemurungan.

Yesus mengatakan, apabila Dia – sang mempelai laki-laki – diambil, maka para tamu pesta nikah – para murid – akan berpuasa. Akan tetapi, Yesus sang mempelai laki-laki juga telah berjanji untuk senantiasa bersama kita (lihat Mat 28:20)! Ia bersama kita dalam banyak cara: dalam Roh Kudus-Nya, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi, dalam Gereja-Nya, dalam diri para imam tertahbis-Nya, dan di tengah-tengah umat yang berkumpul bersama di dalam nama-Nya. Dalam begitu banyak cara yang riil dan berwujud, sang mempelai laki-laki ada bersama kita. Dengan demikian orang-orang Kristiani tidak  boleh berpuasa sebagai suatu tanda dukacita.

Bagi anak-anak Allah – semua orang yang mengenal dan mengalami kehadiran Yesus Kristus dalam hati mereka, artinya yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat – maka puasa dimaksudkan untuk dihubungkan dengan doa. Apabila kita menyangkal diri kita sendiri dalam salah satu bentuk pengungkapannya, maka kita akan menemukan suatu vitalitas baru dalam doa-doa syafaat kita untuk kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain. Hati kita tidak mendua lagi dan lebih terbebaskan dari cengkeraman hal-hal duniawi, dan lebih dekat rasa haus dan lapar akan Yesus yang terdapat dalam setiap hati manusia. Apabila kita mengkombinasikannya dengan doa, maka puasa dapat menolong kita mengatasi kejahatan dan menjaga agar kita tetap fokus pada hal-hal yang sungguh berarti. Segala pelanturan dapat dibuang sehingga kita dapat mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas. Hal ini dapat membantu kita menghargai hal-hal yang telah kita miliki, sehingga kita dapat berdoa untuk mereka yang tidak memiliki seperti kita. Akhirnya, puasa dan doa dapat memimpin kita kepada pekerjaan untuk tercapainya keadilan, perdamaian, dan belas kasihan di dalam dunia ini.

Mungkinkah berpuasa dengan penuh sukacita? Ya, mungkin! Pada kenyataannya, berpuasa yang tidak bermuram-durja ini kelihatannya yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia memberikan “Khotbah di Bukit”: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:16-18). Pada masa Prapaskah ini, mengapa tidak mencoba untuk bereksperimen dengan “puasa yang penuh sukacita”? Pilihlah jenis puasa yang masuk akal dan mohonlah kepada Roh Kudus untuk membimbing anda dalam menentukan ujud-ujud doamu. Namun ingatlah selalu bahwa Yesus, sang mempelai laki-laki, selalu beserta anda!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat berpuasa dengan penuh sukacita dalam masa Prapaskah ini. Gunakanlah doaku dan puasaku untuk membawa kebaikan dalam dunia pada masa kini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Yes 58:1-9a), bacalah tulisan yang berjudul “PUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH” (bacaan tanggal 162-18)  dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS