TANGGAPAN KITA TERHADAP BERBAGAI NUBUATAN TENTANG AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 28 November 2017)

Keluarga OFM/OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. (Luk 21:5-11)

Bacaan Pertama: Dan 2:31-45; Mazmur Tanggapan: Dan 3:57-61 

“Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.(Luk 21:5-10)

Bagaimana kita memberi tanggapan terhadap peringatan-peringatan profetis tentang akhir zaman? Apakah peringatan-peringatan itu menimbulkan rasa takut, kecemasan, atau pengharapan dalam diri kita? Orang-orang dalam setiap zaman sedikit-banyak memiliki semacam perasaan yang terkadang “mengganggu”, apakah achir zaman akan terjadi pada masa hidupnya, khususnya pada saat-saat mereka mengalami peristiwa seperti bencana alam yang sangat mengerikan.

Wabah “Maut Hitam” yang telah membunuh sepertiga penduduk benua Eropa di abad ke-14 dan gempa bumi dahsyat di California yang terjadi di awal abad ke-20 adalah beberapa contoh. Seorang suster Amerika turunan Vietnam yang pada tahun 2011 menginap di rumah kami menceritakan betapa dahsyat bencana yang dialaminya di New Orleans ketika badai Katharina mengamuk di sana. Rumah-rumah dalam sekejab saja dihanyutkan dst. Amerika Serikat yang sangat canggih dalam teknologi dan manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana alam seakan tak berdaya menghadapi dahsyatnya alam.

Berbagai peperangan dan skala besar maupun kecil masih berlangsung sampai hari ini.

Saudaraku dan kawan sekamarku, seorang Fransiskan sekular dari Rwandha, pada waktu kapitel umum OFS di Brazil pada tahun 2011, bercerita bagaimana saling bunuh antara suku Hutu dan Tutsi berlangsung beberapa tahun silam di negerinya, dan ia adalah “basteran” antara ayah Hutu dan ibu Tutsi. Orang-orang seperti dia harus lari ke sana ke mari bersama keluarganya karena tidak diterima oleh dua suku yang sedang bertarung itu. Genosida yang terjadi di negara kecil itu memakan korban lebih dari satu juta jiwa orang. Dan menurut dia, ceritanya belum selesai sampai pada malam hari kami berdiskusi di Brazil itu. Hal-hal seperti ini menambah rasa takut dan kekhawatiran kita, apalagi ditambah oleh adanya berbagai ancaman terorisme yang berlatar belakang agama dan ancaman perang nuklir yang menghancurkan.

Sebagai umat Kristiani, kita tidak boleh sampai membiarkan rasa takut menguasai diri kita. Rasa takut dan kekhawatiran berlebihan hanya akan mengakibatkan iman mandul. Mereka yang mengenal kasih Bapa surgawi mengetahui dengan pasti bahwa Dia menginginkan semua orang diselamatkan – sehingga karena kasih-Nya itu Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal – Yesus Kristus – untuk menyelamatkan dunia (lihat Yoh 3:16). Oleh karena itu kita harus memandang segala bencana alam, bencana yang disebabkan oleh peperangan dlsb. sebagai kesempatan-kesempatan untuk membangunkan kita agar menjadi sadar, keluar dari comfort zone kita masing-masing dan turut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan dunia di sekeliling kita, kebutuhan akan makan-minum, kebutuhan untuk didengarkan, kebutuhan akan damai-sejahtera dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

Marilah kita memperkenankan “tanda-tanda zaman” mendorong kita kepada hidup pertobatan dan doa pengantaraan (syafaat) bagi orang-orang lain. “Kita harus senantiasa siap-siaga menantikan kedatangan kembali Yesus.” Apakah akhir zaman itu terjadi pada esok hari atau seribu tahun yang akan datang, disposisi hati kita selalu harus sama. Pada suatu hari, ketika Santo Fransiskus dari Assisi sedang bekerja merawat kebunnya, ada orang yang bertanya kepadanya apakah yang akan dilakukannya apabila hari akhir itu tiba. Orang kudus ini begitu yakin akan persiapan yang selama ini dikerjakannya dan dia juga sangat yakin akan kerahiman Allah. Maka, dengan sederhana dia menjawab bahwa dia akan melanjutkan pekerjaannya memotong rumput di kebunnya. Keyakinan seperti itu juga dapat menjadi keyakinan kita!

Yesus pasti akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Kita memang tidak akan mengetahui kapan Ia akan datang kembali, namun kita mengetahui dari Kitab Suci bahwa pengadilan-Nya yang terakhir akan sangat keras atas orang-orang yang tidak mau bertobat dan pada saat yang sama penuh belas kasihan atas orang-orang yang telah bertobat. Melalui Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi, baiklah kita memperkenankan darah Yesus membersihkan diri kita, mendoakan keluarga kita, teman-teman kita, kota tempat kita tinggal dan bahkan seluruh dunia. Kita tidak usah merasa takut! Sementara kita semakin dekat dengan Yesus – teristimewa pada masa-masa sulit – kita dapat menjadi duta-duta-Nya ke tengah dunia, memperkenalkan dan menawarkan keyakinan sama yang mengisi hati kita.

DOA: Bapa surgawi, aku menyesal, bertobat dan mohon ampun atas dosa-dosaku dan dosa-dosa orang-orang di sekelilingku. Dalam nama Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, datangkanlah kesembuhan, bimbingan dan pengarahan bagi kehidupan kami, sehingga kami semua dapat sungguh siap-siaga dalam menyambut kedatangan-Nya kembali kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan berjudul “SESUNGGUHNYA KITA TIDAK PERNAH TAHU PERIHAL KEDATANGAN HARI ISTIMEWA ITU” (bacaan untuk tanggal 28-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 27 November 2017 [Peringatan S. Fransiskus Antonius Pasani, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements