MENJADI BERBELAS KASIH SEPERTI YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Senin, 13 November 2017)

OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan 

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6) 

Bacaan Pertama: Keb 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-10 

Ketika seorang eksekutif perusahaan – katakanlah namanya Franky – mendengar bahwa rekan kerjanya yang bernama Brutus baru saja terserang penyakit kanker serius, ia merasakan bahwa barangkali Tuhan menginginkan dirinya mengunjungi Brutus di rumah sakit dan menghiburnya. Akan tetapi kemudian muncul dalam ingatannya bahwa Pak Brutus ini beberapa tahun yang lampau pernah berbicara buruk tentang dirinya (di belakang punggungnya) sehingga Franky kehilangan kesempatan untuk sebuah promosi guna menduduki jabatan sangat penting dalam perusahaan. Sebenarnya Franky telah melupakan peristiwa atau insiden itu, namun berita tentang jatuh sakitnya Pak Brutus ini mendatangkan kembali penolakan yang selama ini telah ditekannya. Pada saat itu Franky menyadari bahwa sekali lagi dia harus mematuhi perintah Allah untuk mengampuni Pak Brutus – tujuh puluh kali setiap hari – kalau memang diperlukan.

Memang tidak mudah bagi kita untuk mengampuni orang-orang lain, teristimewa mereka yang menyakiti hati kita secara mendalam, telah memperlakukan kita dengan tidak adil, telah mendzolimi kita. Akan tetapi, kita harus selalu mengingat tiga alasan besar mengapa kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita itu. Pertama-tama, Yesus sendiri memerintahkan kita untuk mengampuni. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus dengan jelas menyatakan bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, bahkan mengampuni mereka lagi dan lagi (bdk. Mat 18:22). Akan tetapi seperti halnya Franky, kita pun dapat menilai  bahwa “dosa/kesalahan” orang lain itu kepada kita begitu besarnya – dan luka-luka yang diakibatkan oleh orang lain itu begitu sakitnya – untuk dapat kita ampuni. Pada tingkatan ini, ingatlah bahwa Yesus tidak akan meminta kita melakukan sesuatu yang kita tidak dapat lakukan. Sederhana saja: Kita harus belajar bagaimana mengampuni.

Kedua, adalah baik bagi kita untuk mengampuni. Dengan mengampuni orang lain, kita membuat diri kita terbebaskan dari kepahitan yang merusak, yang menggerogoti hati kita, bahkan yang dapat menjadi sedemikian kuat sehingga membawa dampak buruk atas kesehatan kita. Dengan mengampuni, kita membiarkan pergi segala beban penolakan yang sedemikian. Jangan pula kita melupakan salah satu Sabda Bahagia dari Yesus: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7).

Ketiga, belas kasih dan pengampunan kita dapat juga mengubah hati orang-orang lain. Apabila kita memperlakukan seseorang dengan respek dan penuh martabat – walaupun orang itu telah menyakiti hati kita – maka kita dapat membantu melunakkan hatinya. Siapa tahu? Mungkin saja pengampunan kita akan menggerakkan orang itu menjadi berbelas kasihan juta, menyebabkan terjadinya reaksi-berantai yang melibatkan lebih banyak orang lain lagi!

Jadi, apa kiranya pendapat Saudari dan Saudara? Mungkinkah bagi kita (anda dan saya) untuk mengambil satu langkah lebih dekat lagi dengan panggilan Yesus untuk menjadi berbelaskasih seperti diri-Nya? Dapatkah kita memohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita bela rasa sedikit lebih lagi? Tidak perlulah untuk segalanya diperoleh sekaligus, tetapi dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit namun mantap.

DOA: Tuhan Yesus, hati-Mu penuh berlimpah dengan belas kasih yang tanpa batas. Tolonglah aku agar dapat menjadi seperti diri-Mu, yaitu dalam hal mempraktekkan belas kasih dan pengampunan kepada semua orang yang bersalah kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI PANGGILAN YESUS UNTUK MENGAMPUNI” (bacaan tanggal 13-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 November 2017 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements