KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN A], 12 November 2017) 

Selanjutnya kami tidak mau, Saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa dengan perantaraan Yesus, Allah akan mengumpulkan bersama-sama dengan Dia mereka yang telah meninggal. Hal ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: Kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu aba-aba diberi pada waktu pemimpin malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. (1Tes 4:13-17) 

Bacaan Pertama: Keb 6:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-8;  Bacaan Injil: Mat 25:1-13 

Tiga hari Minggu terakhir “Masa Biasa” dalam penanggalan liturgi Gereja memusatkan perhatian pada kedatangan kembali Tuhan Yesus pada akhir zaman, jadi berhubungan erat dengan hari-hari pertama Masa Adven yang gagasan utama pada awalnya juga kedatangan eskatologis dari Kristus pada saat Parousia-Nya. Pada hari ini kepada kita akan diingatkan: “Jagalah agar pelitamu tetap bernyala pada saat Tuhan datang” (lihat Injil hari ini) Ini adalah kebijaksanaan yang sejati. Kebijaksanaan yang sejati ditemukan oleh mereka yang mencarinya (lihat Bacaan Pertama). Pada saat Parousia, orang-orang yang telah meninggal dunia tidak akan memiliki disadvantage ketimbang mereka yang masih hidup. Yang telah meninggal dunia dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, baru setelah itu mereka yang masih hidup; dan bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus (Bacaan Kedua).

Para raja dan penguasa lainnya dinasihati untuk senantiasa mencari kebijaksanaan (lihat Keb 6:8-11). Kebijaksanaan ini dengan mudah dapat ditemukan oleh mereka yang mencintainya. Sejak pagi hari Tuan Puteri Kebijaksanaan sudah menunggu di depan pintu kita, dengan demikian dapat ditemukan oleh mereka yang mencarinya (Keb 6:12-14). Kebijaksanaan mencari mereka yang menghasratinya (Keb 6:16). Kebijaksanaan akan bertemu dengan orang yang memikirkannya (Keb 6:15).

Paulus telah memberitakan tentang Parousia Kristus. Umat Kristiani perdana memiliki pengharapan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dalam waktu yang singkat. “Maran atha, datanglah Tuhan Yesus!” adalah doa mereka yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Saat itu adalah klimaks dari sejarah Gereja. Namun demikian, ada sejumlah umat Kristiani di Tesalonika yang telah meninggal dunia. Apakah mereka akan mengalami Parousia juga? Dalam bacaan kedua inilah Paulus memberikan jawaban atas pertanyaan tadi: Umat Kristiani yang masih hidup ketika Tuhan Yesus datang kembali tidak memiliki advantage  ketimbang mereka yang telah meninggal dunia. Bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus dan akan hidup bersama dengan Dia selama-lamanya.

Bacaan Injil hari ini adalah “‘Perumpamaan tentang Sepuluh Gadis”. Yesus mulai mengajarkan perumpamaan ini dengan berkata: “Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki” (Mat 25:1). Para pengiring/pendamping mempelai laki-laki ini dapat dan harus mengetahui dari pengalaman bahwa mempelai laki-laki seringkali datang pada larut malam. Dengan demikian mereka harus selalu siap ketika mempelai laki-laki itu datang. Apabila mereka tidak mempunyai cukup minyak, maka mereka tidak akan mampu untuk ikut mengiringi mempelai ke pesta perjamuan. Tidak ada gunanya mencari minyak belakangan. Dengan minyak yang diperoleh terlambat, mereka tidak dapat menerangi jalannya prosesi mempelai dan rombongannya. Terlambatlah sudah! Mereka pun akan kehilangan kesempatan turut serta bergembira dalam pesta perjamuan. Mereka akan tersingkir!

Kita akan melihat bahwa perumpamaan Yesus ini tidak sedikit pun berbicara secara mendetil tentang mempelai laki-laki atau mempelai perempuan. Yang disoroti adalah sepuluh gadis pendamping mempelai. Kita diibaratkan sebagai sepuluh gadis-gadis itu. Kristus diibaratkan sebagai pengantin laki-laki. Surga diibaratkan sebagai pesta perjamuan perkawinan Kristus. Kita akan diterima masuk ke dalam perjamuan kekal apabila pelita-pelita kita menyala pada saat Yesus datang kembali, artinya apabila kita siap mengiringi-Nya ketika Dia datang.

Gadis-gadis yang bijaksana menolak memberikan sebagian dari minyak mereka kepada gadis-gadis yang bodoh (Mat 25:8-9). Hal ini mereka lakukan bukan karena mereka tidak berbelas kasih dan memiliki hati yang telah mengeras seperti batu, melainkan karena itulah satu-satunya sikap dan tindakan yang masuk akal: mereka pun tidak akan mempunyai cukup minyak untuk menerangi prosesi mempelai secara lengkap, jikalau mereka memberikan sebagian dari minyak mereka. Demikian pula, ketika mempelai laki-laki menolak lima orang gadis bodohtersebut untuk memasuki ruangan pesta, hal itu bukanlah berarti bahwa dia menyangkal lima gadis itu telah berbuat sesuatu bagi dirinya, melainkan karena mereka telah gagal dalam tugas mereka yang hakiki: untuk memberi penerangan bagi prosesi mempelai.

Perumpamaan ini ini adalah mengenai titik akhir. Pada saat titik akhir itu datang, entah pada saat kematian individu-individu, atau pada hari penghakiman umat manusia, maka tidak ada waktu lagi. Waktu telah berakhir. Hanya ada dua kondisi yang menentukan “nasib” seseorang: dia siap dengan cukup perlengkapan atau tidak siap. Apa yang telah dilalaikan oleh seseorang, tidak lagi dapat diperbaikinya. Tidak ada waktu lagi untuk membuat kompensasi atas kekurangan seseorang.

Pelajaran yang dapat kita tarik: Siaplah selalu, karena kita dapat terlambat apabila Hari Tuhan tiba! Ada hal-hal tertentu dalam kehidupan yang kita hanya dapat lakukan sekali. Dan dalam artian tertentu kita hanya dapat melakukan segala sesuatu sekali saja. Apa saja yang kita lakukan di mata Allah merupakan pekerjaan kita yang pertama, bahkan semacam sebuah gladi-resik. Gladi yang kedua untuk pekerjaan final yang sama di mata Allah merupakan suatu tindakan baru. Jadi, setiap pekerjaan kita dapat lakukan hanya sekali saja.

Tidak cukuplah apabila kita sekadar melakukan sesuatu, bahkan tidak cukup hanya bekerja keras. Kita harus melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepada kita dengan baik. Lima gadis yang bodoh itu sangat tidak dapat mengatakan kepada sang mempelai laki-laki bahwa mereka telah menanti-nantikan dia sepanjang malam, bahwa mereka berminat untuk menghadiri pesta perkawinan, bahwa hanya karena faktor kebetulan sajalah mereka tidak berpikir untuk membawa minyak dalam jumlah cukup. Tugas pekerjaan mereka yang utama adalah mengiringi mempelai dengan pelita/obor yang menyala. Datang terlambat berarti merusak tujuan utama pekerjaan mereka, karena pelayanan mereka tidak lagi dibutuhkan.

Apabila pekerjaan kita adalah sebagai guru tetapi melakukan pekerjaan kita dengan buruk, maka kita tidak dapat menghibur diri kita bahwa kita telah berhasil mendidik murid-murid kita dengan baik. Demikian pula, apabila kita mengklaim diri kita sebagai pendidik namun tak mampu memelihara disiplin, maka kita sebenarnya telah gagal dalam tugas pekerjaan kita yang hakiki, dst.

Tidak cukup apabila kita sekadar mempunyai niat-niat baik, bermaksud baik. Kita harus menghadirkan fakta-fakta yang diperlukan. Kita semua tahu apa artinya apabila seseorang mengecewakan kita. Bayangkanlah betapa kecewanya sang mempelai laki-laki ketika mendapatkah hanya separuh saja dari gadis-gadis pengiring yang muncul menyambutnya. Reliability (sifat dapat diandalkan/dipercaya) adalah satu dari kualitas-kualitas dalam kehidupan manusia yang indah.

Peringatan untuk senantiasa bersiap-siaga berlaku juga bagi umat manusia secara keseluruhan, tidak hanya bagi orang sebagai individu-individu. Umat Kristiani perdana memandang ke depan dengan penuh kerinduan dan pengharapan akan kedatangan kembali (Parousia) Kristus, diiringi doa setiap hari: “Maran atha!” , “O Tuhan, datanglah” (1Kor 16:22; Why 22:20)! Bagi mereka kedatangan Yesus untuk kedua kali ini adalah klimaks dari sejarah Gereja. Sikap ini memampukan mereka untuk menggunakan waktu mereka secara paling baik, yaitu untuk bersiap-siaga setiap saat.

Pada zaman modern ini kita barangkali tidak banyak berpikir tentang kedatangan kembali Yesus ke dunia dalam waktu yang relatif dekat. Hampir tidak ada umat yang memikirkan secara serius tentang akhir zaman, padahal adalah kenyataan bahwa kehancuran dunia dapat begitu mudah terjadi kalau ada orang – di mana saja di dunia ini – yang mulai menekan tombol senjata nuklir. Kedatangan Yesus untuk kedua kalinya sudah menjadi sesuatu yang terasa asing bagi telinga mayoritas umat Kristiani pada zaman ini.

Memang tidak seorang pun dapat berjaga sepanjang waktu, tanpa sekali-kali jatuh tertidur. Bahkan gadis-gadis yang bijaksana sekali pun jatuh tertidur juga. Mereka juga melakukan antisipasi untuk beristirahat agar dapat memulihkan kekuatan fisik mereka untuk malam yang masih sangat panjang. Demikian pula, kita juga tidak dapat berdoa sepanjang waktu agar menjadi siap-siaga apabila Tuhan datang. Namun kita dapat melakukan tugas kita sepanjang waktu dan dengan demikian kita pun akan siap, kapan pun Kristus datang. Kita akan mati seturut cara hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, jagalah agar diri kami senantiasa siap-siaga dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk kedua kalinya. Dengan demikian kami pun dengan penuh sukacita dapat berdoa “Datanglah, Tuhan Yesus”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG GADIS-GADIS BIJAKSANA DAN GADIS-GADIS YANG BODOH” (bacaan untuk tanggal 12-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements