MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Selasa, 7 November 2017)

Kongregasi FMM: Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara 

Mendengar itu berkatalah salah seorang yang sedang makan itu kepada Yesus, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka semua, satu demi satu, mulai meminta  maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan harus pergi melihatnya, aku minta maaf. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya; aku minta maaf. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Lalu kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Tuan rumah itu pun murka dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke semua jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lorong dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, supaya rumahku terisi penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk 14:15-24) 

Bacaan Pertama: Rm 12:5-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 

Yesus mengakhiri pengajaran-Nya pada perjamuan makan di rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi dengan sebuah perumpamaan yang merupakan ringkasan-kesimpulan dari apa saja yang telah dikatakan-Nya dalam perjamuan tersebut. Yesus menggunakan imaji tradisional dari perjamuan makan yang terdengar akrab di telinga para pendengar-Nya sebagai suatu gambaran Perjanjian Lama yang menandakan inaugurasi dari zaman mesianis.

Perjamuan makan akan dipersiapkan oleh Allah sendiri, dan yang akan diundang menghadiri perjamuan makan tersebut adalah orang-orang yang masuk kategori umat beriman. Pesta perjamuan ini sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa” (Yes 25:6,8).

Ini merupakan gambaran penuh sukacita dan penghiburan dari “seorang” Allah yang dengan penuh kemurahan hati mengundang semua orang untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan-Nya, di mana akan dihidangkan makanan-minuman lezat dan di mana Allah sendiri akan menjamin bahwa tidak akan ada lagi cucuran air mata, dan rasa malu pun akan hilang dari negeri.

Salah seorang dari para hadirin yang sedang makan bersama Yesus berkata kepada-Nya: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Luk 14:15). Jika orang yang bertanya itu membayangkan dirinya sama baiknya dengan orang yang akan dijamu itu, maka dia akan kecewa. Yesus membuat jelas bahwa imaji tentang perjamuan bukanlah suatu gambaran yang dapat diaplikasikan hanya pada akhir zaman; imaji tentang perjamuan berbicara mengenai waktu sekarang. Undangan-undangan telah disampaikan, dan sekarang para hamba memanggil orang-orang yang menerima undangan itu untuk mulai datang dan mengambil tempat mereka masing-masing dalam perjamuan tersebut. Jika mereka sekarang menolak undangan untuk datang ke pesta, maka orang-orang lainlah yang akan mengambil tempat mereka. Undangan tersebut tidak dapat ditunda-tunda; harus dijawab sekarang juga.

Dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus ini, seseorang menyelenggarakan pesta perjamuan besar yang diperuntukkan bagi banyak orang. Ini adalah adat kebiasaan timur bagi orang-orang “kelas tinggi” untuk mengirim dua undangan: yang pertama adalah untuk mengumumkan akan diselenggarakannya pesta perjamuan, dan undangan kedua adalah untuk mengabarkan kepada mereka yang telah menerima undangan bahwa perjamuan telah siap diselenggarakan. Menerima undangan pertama dan menolak undangan kedua merupakan suatu tindakan yang tidak sopan (dan kurang ajar), dan hal tersebut tidak dapat diterima karena merupakan penghinaan terhadap orang yang mengundang. Tiga orang yang disebutkan dalam perumpamaan Yesus mengatakan kepada hamba dari orang yang mengundang bahwa mereka tidak dapat menerima undangan kedua karena mereka terlalu sibuk, jadi tidak dapat datang. Ketiga orang tersebut memandang urusan mereka sendiri lebih penting daripada menghormat orang yang mengundang diri mereka.

Hamba tersebut kembali ke tuannya dengan kabar yang mengecewakan itu dan sang tuan menjadi marah. Namun ia tidak mau pestanya sepi dari pengunjung. Oleh karena itu dia memerintahkan hambanya untuk pergi dan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong kota dan membawa orang-orang miskin, buta, dan lumpuh ke rumahnya. Setelah hal ini dilakukan, masih ada ruang yang tersedia untuk sejumlah orang lagi. Untuk mengisi ruang yang tersedia tersebut, orang yang mengundang itu memerintahkan hambanya untuk “memaksa” orang-orang di jalan-jalan dan lorong-lorong yang masih ada untuk datang ke perjamuannya. “Memaksa” di sini tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Si hamba harus membujuk dengan lemah lembut orang-orang yang tinggal di bawah jembatan dlsb. itu untuk ikut dengan dia karena mereka pun tentunya merasa curiga terhadap undangan ke sebuah perjamuan yang datang dengan mendadak, apalagi dari seseorang yang tak dikenal. Orang yang mengundang tersebut membuat jelas bahwa mereka yang menolak undangannya tidak akan mencicipi jamuannya; mereka menjauhkan diri mereka sendiri dari pesta perjamuan yang sangat berarti itu.

Tanpa banyak kesulitan, di sini kita dapat melihat suatu kesejajaran historis antara orang-orang yang pertama-tama diundang dengan umat Israel, antara orang-orang miskin (dan lumpuh serta buta) dengan orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Namun pokok utama dari perumpamaan Yesus ini bukanlah penolakan dari orang-orang yang pertama kali diundang dan bukan juga orang macam apa yang akhirnya duduk pada meja perjamuan. Fokus atau pusat perhatian dari perumpamaan ini adalah kemurahan hati orang yang mengundang. Imaji yang disajikan oleh Yesus adalah “seorang” Allah yang murah hati yang sangat senang menyelenggarakan pesta guna menjamu orang-orang. Ia adalah “seorang” Allah yang ingin bersekutu dengan orang-orang dan Ia tidak terpengaruh jika orang-orang yang diundang-Nya tidak mau datang dan menikmati jamuan-Nya. Ini adalah imaji dari “seorang” Allah sangat rindu untuk makan bersama, “seorang” Allah yang tidak mau duduk pada meja perjamuan dan memulai pesta perjamuan sampai semua tempat diisi oleh para tamu.

Allah yang kita sembah, bukanlah seperti orang kaya dalam perumpamaan “Orang kaya dan Lazarus yang miskin” (Luk 16:19-31), maka tuan rumah yang mengundang orang-orang dalam perumpamaan Yesus hari ini bukanlah seseorang yang senang berpesta-pora dengan mengabaikan orang seperti Lazarus … pokoknya orang kaya itu tidak peduli terhadap nasib “wong cilik”. Allah tidak mau makan enak sendiri saja; Dia memiliki keprihatinan terhadap persekutuan dalam perjamuan bersama dengan orang-orang, jadi tidak mengherankanlah apabila Dia sangat bermurah hati dalam mengundang orang-orang.

Allah mengundang orang-orang miskin, bahkan mereka yang secara fisik dipandang “tidak bersih”, atau katakanlah mereka yang “najis” karena keadaan fisik mereka, dll. Allah tidak mau sendiri dalam Kerajaan-Nya dan Ia mau makan bersama dalam suatu perjamuan dengan manusia ciptaan-Nya. Dia rela menunda pesta perjamuan-Nya sampai semua tempat diisi, …… “seorang” Allah yang lembah lembut.

Kabar baiknya adalah bahwa tidak seorang pun yang harus menunggu sampai akhir zaman sebelum dapat berelasi dengan Allah sebagai Tuan Rumah yang penuh keprihatinan dan kemurahan-hati.  Yesus meminta setiap orang untuk berelasi dengan Allah dengan imaji seperti di atas, bukan Allah yang kejam dan suka membalas dendam dst. Kita harus menerima undangan Allah, jika kita diundang-Nya untuk ikut serta dalam perjamuan-Nya. Sekarang juga!

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena dalam doa kami Engkau telah mengundang kami ke dalam relasi persahabatan dengan diri-Mu. Berbicaralah, ya Tuhan. Kami ada di sini untuk mendengarkan Engkau. Buatlah kami utuh dengan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:15-24), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PERJAMUAN BESAR” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  5 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXI – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements