Archive for October, 2017

BERBAGAI CARA/JALAN UNTUK MENUNJU KEKUDUSAN

BERBAGAI CARA/JALAN UNTUK MENUJU KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus pada HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS – Rabu, 1 November 2017

 

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah, karena akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas-kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga. (Mat 5:1-12a)  

Bacaan Pertama: Why 7:2-34, 9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-3 

Puji Tuhan! Bersukacitalah kita semua dalam Yesus Kristus! Dalam hikmatnya, Gereja telah menetapkan berbagai hari raya, pesta dan peringatan yang memperkenankan kita datang berkumpul bersama-sama sebagai keluarga dan merayakan siapa kita ini sebagai umat Allah. HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS yang kita rayakan pada tanggal 1 November setiap tahun ini adalah salah satu hari di kala mana kita mengenang mereka yang telah mendahului kita dalam iman.

Para kudus yang kita rayakan pada hari ini tidaklah terbatas pada mereka yang secara resmi telah dikanonisasikan oleh Gereja sebagai para martir dan orang-orang yang sangat suci lainnya. Pada hari ini kita merayakan “orang-orang kudus” yang digambarkan dalam Perjanjian Baru sebagai mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan mengikuti jejak-Nya. Misalnya Santo Paulus menyebut orang-orang Kristiani di Korintus sebagai “mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus” (1Kor 1:2). Demikian pula, dia (Paulus) menamakan umat Kristiani di Efesus sebagai “orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus” (Ef 1:1). Dengan perkataan lain, kita (anda dan saya) merayakan panggilan agung bagi kita semua! Kita semua sesungguhnya diundang oleh-Nya untuk menjadi salah seorang dari 144.000 orang yang disebut dalam Kitab Wahyu (Why 7:4). Tetapi jangan salah, angka 144.000 ini adalah lambang kepenuhan dari semua orang yang dikumpulkan ke dalam kerajaan Allah, jadi bukan angka untuk membatasi.

Dalam sejarahnya yang sudah 2.000 tahun lamanya, Gereja telah menunjukkan bukti-bukti ada begitu banyak umat-Nya yang hidup dalam kasih sejati: sebagai pelayan sesama, sebagai pendoa syafaat dsb. Orang-orang yang tak terbilang banyaknya itu bisa saja seorang Santo Fransiskus dari Assisi, seorang Santa Klara dari Assisi, seorang Santo Antonius dari Padua, seorang Ignatius dari Loyola, seorang Petrus Kanisius, seorang Santa Teresa dari Lisieux, seorang Santa Teresa dari Kalkuta dst., namun bisa juga seorang perempuan tua warga lingkungan kita yang selalu mendoakan orang-orang lain selama berjam-jam setiap harinya. Bisa juga dia adalah seorang “katekis” (tanpa ijazah akademis yang resmi) yang bekerja tanpa bayaran dan tentunya tanpa pamrih serta penuh pengabdian mendidik para katekumen di parokinya. Bisa juga dia adalah seorang biarawati dari sebuah kongregasi  religius yang relatif kecil, yang memberikan diri sepenuhnya bagi orang-orang kusta. Terlalu banyak contohnya untuk disebutkan satu persatu.

Pada “Khotbah di Bukit”, Yesus mengajarkan berbagai cara/jalan untuk menuju kekudusan, yaitu menaruh kepercayaan penuh kepada Allah, memiliki kelemah-lembutan, memiliki rasa lapar dan haus akan kehendak Allah, berbelaskasihan, memiliki hati yang suci,  dan membawa damai. Kita dapat mengalami kehidupan surgawi di atas bumi ini, sementara kita mengikuti jejak Yesus Kristus dari hari ke hari. Mengikuti jejak Kristus seringkali terasa berat dan tidak mudah karena hal itu berarti mengesampingkan hasrat-hasrat pribadi kita sendiri. Namun demikian, manakala Yesus memanggil kita agar mati  terhadap kepentingan diri sendiri, Dia juga memberikan kepada kita kuasa-Nya dan memimpin kita kepada kemenangan-Nya. Percayalah bahwa kita masing-masing juga dapat menjadi orang-orang kudus, karena dia memanggil kita kepada kesucian (baca: Lumen Gentium, Bab V: 39-42).

DOA: Tuhan Yesus. Pada waktu kami dibaptis, Engkau memenuhi diri kami dengan Roh Kudus. Oleh Roh Kudus-Mu ini, ya Tuhan, tolonglah kami agar mau dan mampu mengabdikan hidup kami bagi suatu kehidupan yang menghayati sepenuhnya “Ucapan Bahagia” (Sabda Bahagia) yang kami baca dan renungkan pada hari ini. Kami memuji Engkau, ya Tuhan Yesus. Dengan penuh syukur kami memuliakan nama-Mu senantiasa, karena Engkau telah memanggil kami untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PARA KUDUS YANG DIRAYAKAN GEREJA PADA HARI INI” (bacaan tanggal 1-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

DENGAN APAKAH AKU AKAN MENGUMPAMAKAN KERAJAAN ALLAH?

DENGAN APAKAH AKU AKAN MENGUMPAMAKAN KERAJAAN ALLAH?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Selasa, 31 Oktober 2017) 

Lalu kata Yesus, “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya.”  Ia berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.” (Luk 13:18-21) 

Bacaan Pertama: Rm 8:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

Apabila digunakan oleh seorang guru yang baik, maka perumpamaan-perumpamaan dapat menjadi sarana yang berguna untuk menghasilkan pemikiran dan refleksi.  Melalui gambaran yang kaya namun sederhana, sebuah perumpamaan menantang para pendengarnya untuk memahami sebuah pokok-masalah pada tingkat yang berbeda-beda. Yesus seringkali menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk memperluas pemahaman para murid-Nya tentang kerajaan Allah.

Setelah dalam beberapa bab/fasal Injilnya menggambarkan kerajaan Allah dan arti dari jalan Kristiani, Lukas merangkum pokok-pokok ini dengan “perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi”. Perumpamaan singkat ini mengikuti beberapa contoh meningkatnya perlawanan terhadap Yesus, termasuk penolakan orang-orang Samaria (Luk 9:51-53) dan permusuhan kaum Farisi yang semakin meningkat (Luk 11:53). Karena perlawanan ini, Yesus mengundang para murid-Nya untuk memandang kerajaan Allah dari suatu perspektif global: “Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya” (Luk 13:18-21).

Gambaran ini mengingatkan kita kepada cara sederhana ketika mulai diumumkannya kerajaan Allah oleh seorang tukang kayu dari Nazaret yang tak dikenal, kepada sekelompok orang yang terdiri dari para nelayan dan orang-orang yang “biasa-biasa saja”, malah ada juga anggota gerakan ‘zeloti’ Galilea yang dikenal bergaris-keras. Namun demikian, dari awal yang sederhana-tak-berarti ini, pemerintahan Allah yang bersifat kekal-abadi masuk ke dalam dunia kita yang dibatasi ruang dan waktu. Kerajaan Allah akan berlanjut di dalam dunia ini sampai Yesus Kristus datang kembali dalam kemuliaan-Nya.

Yesus juga meminta agar para murid-Nya menerapkan perumpamaan itu pada suatu tingkat personal. Kalau kita memandang dengan cara seperti ini, maka kita akan melihat bahwa hal-hal paling kecil sekalipun yang kita lakukan untuk membuat diri kita hadir bagi Allah dapat membuat dampak yang besar. Siapa yang pernah menyangka bahwa Santa Frances Xavier Cabrini yang sakit-sakitan, bersama-sama beberapa temannya, akan mendirikan sebuah kongregasi para biarawati (Missionary Sisters of the Sacred Heart) pada tahun 1880, yang kemudian bertumbuh menjadi besar dan banyak sekali menolong orang-orang miskin di rumah-rumah sakit serta panti-panti asuhan mereka di Amerika Serikat dan di seluruh dunia? Santa Fransiska Cabrini ini adalah warga negara Amerika pertama yang dikanonisasikan sebagai orang kudus (1946), hanya beberapa tahun setelah kematiannya di Chicago pada tahun 1917. Dia dilahirkan di Sant’Angelo di Lodi, Lombardy pada tahun 1850 dan dia adalah seorang anggota Ordo Ketiga sekular Santo Fransiskus, sebelum mendirikan kongregasi suster-suster tersebut di atas. Biara pertama mereka pun adalah bekas biara para Saudara Dina. Fransiska Cabrini berimigrasi ke Amerika Serikat dalam usianya yang masih muda. Allah menggunakan iman “biji sesawi” dan “ragi” perempuan sakit-sakitan ini untuk mencapai karya kasih yang begitu besar, indah dan agung. Yesus mengajarkan bahwa kerajaan Allah mulai secara kecil-kecilan dalam hati kita, namun dapat bertumbuh menjadi sesuatu yang dapat mentransformasikan dunia.

DOA: Ya Tuhan dan Allahku, engkau tidak menetapkan batasan-batasan bagaimana kerajaan-Mu akan bertumbuh-kembang. Melalui ketaatanku, semoga datanglah kerajaan-Mu dalam kehidupanku dan dalam diri mereka yang ada di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:18-25), bacalah tulisan yang berjudul “PENGHARAPAN UMAT BERIMAN SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 31-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Oktober 2017 

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG PEREMPUAN BUNGKUK PADA HARI SABAT

YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG PEREMPUAN BUNGKUK PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Senin, 30 Oktober 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Angelus dr Acri, Imam 

Pada suatu kali Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri tegak lagi. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak. “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.”  Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Perempuan ini keturunan Abraham dan sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis; bukankah ia harus dilepaskan dari ikatannya itu?”  Waktu ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perbuatan mulia yang telah dilakukan-Nya. (Luk 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Rm 8:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2,6-7,20-21 

Dalam penyembuhan perempuan yang bungkuk karena dirasuki roh jahat dan perumpamaan yang menyusulnya, Yesus Kristus mengungkapkan beberapa karakteristik kerajaan-Nya. Yang pertama dan utama, Yesus menunjukkan bahwa kerajaan Allah itu terbuka bagi semua orang tanpa batas. Dalam masyarakat Yahudi pada zaman itu, para perempuan seringkali diperlakukan sebagai warga kelas dua. Namun demikian, lihatlah bagaimana Yesus memperlakukan perempuan bungkuk itu. Yesus menyebutnya sebagai “puteri keturunan Abraham” (Luk 13:16), artinya Yesus menekankan atau menggaris-bawahi nilai/harga perempuan itu sebagai salah seorang umat pilihan Allah.

Dalam Injil Lukas, Yesus ditampilkan sebagai seseorang yang dengan tangan terbuka menyambut baik orang-orang yang telah ditolak oleh masyarakat – pendosa, orang sakit, orang miskin dan lain sebagainya. Kasih dan kerahiman ilahi-Nya (yang telah ditunjukkan dalam penyembuhan perempuan bungkuk itu) tersedia bagi semua orang. Tidak ada pembatasan-pembatasan di mana Dia dapat bekerja, siapa yang dapat disentuh atau dijamah-Nya, dan/atau apa yang dapat dilakukan-Nya.

Sang kepala sinagoga menantang otoritas Kristus untuk menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Menurut hukum Yahudi (Kel 20:8-10) hari Sabat harus dipegang kesuciannya, dan bekerja tidak diperkenankan. Di sinilah Yesus menunjuk pada buah pikiran orang Farisi yang keliru itu. Yesus mengatakan, kalau mengurusi hewan peliharaan itu dinilai tidak melanggar hukum hari Sabat, apalagi mengurusi seorang manusia yang sangat membutuhkan pertolongan. Yesus menantang kesempitan pandangan kaum Farisi yang begitu memegang teguh huruf-huruf hukum (artinya yang tersurat), namun luput melihat apa yang tersirat dalam huruf-huruf hukum itu, yaitu “jantung” hukum Taurat itu sendiri, artinya kasih kepada Allah dan sesama. Dengan menyembuhkan perempuan bungkuk itu, Yesus justru menegakkan jantung dari hukum: KASIH.

Satu lagi atribut kerajaan Allah adalah kebebasan dari ikatan dosa dan kejahatan (si jahat). Pada awal karya pelayanan-Nya di depan umum, Yesus mengumumkan: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19). Dengan menyembuhkan perempuan bungkuk itu, Yesus sebenarnya memberikan konfirmasi bahwa Roh Kudus ada pada-Nya dan Ia memang sedang melakukan karya Allah.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang mengasihi dan penuh kerahiman. Engkau ingin membawa semua orang kepada keselamatan. Luaskanlah daya penglihatanku terhadap kerajaan-Mu dan mampukanlah aku untuk berbagi dengan orang-orang lain kasih dan keprihatinan-Mu yang bersifat universal. Tolonglah aku membuat komitmen atas hidupku untuk berbagi pesan Injil Yesus Kristus dengan mereka yang ada di sekelilingku, dengan demikian turut memajukan kerajaan-Mu di atas bumi ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:121-17), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBIARKAN DIRI KITA DIPIMPIN OLEH ROH ALLAH” (bacaan tanggal 30-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Oktober 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX [TAHUN A], 29 Oktober 2017)

 

Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Kel 22:21-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51; Bacaan Kedua 1Tes 1:5-10

Kata-kata Yesus memiliki kemampuan untuk langsung menyayat hati kita, karena kata-kata-Nya itu menyatakan niat-niat Allah yang bersifat kekal-abadi. Kita diciptakan oleh “seorang” Allah yang penuh kasih, yang ingin memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan memberikan kepada kita kepenuhan hidup. Ia menciptakan kita-manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej 1:26,27) sehingga dengan demikian kita akan mampu menerima kasih-Nya dan memperkenankan kasih ini untuk menghasilkan buah dalam diri kita. Tidak ada ciptaan Allah lain yang memiliki kemampuan indah untuk membuka dirinya sendiri bagi Allah berdasarkan kehendak bebas dan kemudian dipenuhi dengan hidup-Nya.

Tidak ada kuasa yang lebih besar daripada kasih ilahi. Pada awalnya, Allah menetapkan kasih-Nya sebagai kekuasaan yang mengatur Kerajaan-Nya, Ia mengatur segenap ciptaan sebagai akibat dari hati-Nya yang penuh kasih dan bela rasa. Dia memanggil kita – baik secara individual maupun sebagai umat – untuk menempatkan kasih kepada-Nya dan sesama di atas setiap unsur lainnya dalam kehidupan kita. Bersatu dalam kasih, kita dipanggil untuk menguasai ciptaan sebagai pengurus-pengurus (stewards) Allah, dengan mempraktekkan keadilan-Nya di atas bumi.

Ketika dosa masuk ke dalam dunia, perintah Allah ini serta privilese kasih-Nya dikompromikan. Orang-orang mulai menggunakan kata “kasih” secara berbeda, yang mencerminkan niat-niat si Jahat yang mencari kepuasan diri dan pandangan sempit. Hanya dalam wahyu Allah sepanjang sejarah Perjanjian Lama dan yang memuncak pada kedatangan Yesus Kristus, maka kasih dipulihkan kembali kepada martabatnya semula. Hanya melalui karya Roh Kudus dalam hati kita, maka kita dimurnikan dari konsep-konsep kasih yang telah didistorsikan. Hanya oleh kuasa Roh Kudus kita dapat belajar untuk menerima kasih Allah, yang ditawarkan secara bebas oleh-Nya dan tanpa syarat. Dan, hanya oleh kuasa Roh itu kita dapat belajar bagaimana memberikan kasih yang sama kepada orang-orang lain.

Kasih Allah itu aktif dan dinamis. Kasih Allah mempunyai kuat-kuasa untuk mentransformasikan kehidupan, merobek-robek rasa takut dan akar kepahitan yang sudah lama mengendap dalam diri seseorang. Selagi Roh Kudus mencurahkan kasih ini ke dalam hati kita, maka kasih itu mengalir ke luar dari diri kita, memampukan kita untuk mengasihi orang-orang lain dan memberikan kepada kita keyakinan yang lebih besar dalam relasi kita dengan Bapa surgawi.

Manakala kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, kita sesungguhnya merayakan pemberian kasih Allah yang paling agung – kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Oleh kuasa salib-Nya, semua dosa dikalahkan; kasih Allah dicurahkan. Selagi kita ikut  ambil bagian dalam perjamuan tubuh dan darah Tuhan Yesus, marilah kita memberikan kepada Allah pemerintahan –Nya yang lebih bebas bekerja dalam diri kita, menghasilkan sebuah hati yang mengasihi dengan kasih-Nya yang ilahi dan tanpa syarat.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah hatiku hari ini. Aku ingin mengasihi Engkau dengan segalanya yang ada di dalam diriku, dan mengasihi sesamaku, namun aku membutuhkan kasih-Mu untuk dapat mengasihi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:34-40), bacalah tulisan yang berjudul “GURU, PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?” (bacaan tanggal 29-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Oktober 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS

CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul – Sabtu,  28 Oktober 2017)

 

Pada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu.  (Luk 6: 12-19)  

Bacaan Pertama: Ef 2:19-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hari ini kita merayakan Pesta dua orang  rasul yang kurang dikenal, yaitu Santo Simon orang Zelot dan Santo Yudas. Kita tidak dapat belajar banyak tentang mereka dalam keempat Injil. Kita tahu bahwa Simon dilahirkan di Kana dan dipanggil sebagai “orang Zelot” (lihat Mat 10:4; Luk 6:15). Kemungkinan besar dia mempunyai pandangan-pandangan politik sebuah kelompok radikal yang percaya bahwa semua cara (termasuk kekerasan) dapat dibenarkan guna mencapai kemerdekaan bangsa Yahudi. “Orang Zelot” pada umumnya berarti seorang anggota gerakan melawan pendudukan Roma di tanah Palestina yang dimulai pada tahun 63 SM.

Yudas adalah rasul yang pada waktu perjamuan terakhir bertanya kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh 14:22). Dalam “Surat Yudas”, Yudas menyandang predikat “hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus” (Yud 1:1) dan diidentifikasikan sebagai penulis “Surat Yudas” itu sendiri.  Namun banyak ahli mempunyai pandangan bahwa penulis surat tersebut menggunakan “nama samaran”. Para ahli ini bersepakat bahwa Yudas penulis surat (epistola) ini bukanlah anak Yakobus (Yudas bin Yakobus), seperti diidentifikasikan dalam Luk 6:16 dan Kis 1:13 sebagai salah seorang rasul. Dalam Mat 10:2-4 dan Mrk 3:16-19, yang muncul adalah nama “Tadeus”. Secara tradisional, Yudas diidentifikasikan dengan Yudas, salah seorang “saudara Tuhan” (Mat 13:55; Mrk 6:3; bdk. Kis 1:14; 1Kor 9:5). Identifikasinya dengan rasul Yudas dalam Yoh 14:22 masih dapat dipertanyakan.

Kendati Santo Simon dan Santo Yudas praktis telah “hilang” dalam sejarah yang serba tidak jelas, kita tahu dan yakin sekali bahwa Allah telah melakukan karya-rahmat dalam diri kedua orang rasul ini. Tentunya mereka – seperti para rasul lainnya – mempunyai banyak kesempatan untuk bersama sang Guru – melakukan tanya-jawab dengan-Nya serta menyadari dalam hati mereka masing-masing bahwa Guru dan Tuhan mereka sangat mengasihi mereka seperti juga halnya dengan para rasul/murid lainnya. Setelah menerima “Amanat Agung” dari Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga (Mat 28:19-20)dan mengalami pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis 2:1 dsj.), maka dapat dipastikan bahwa mereka pun dengan aktif mewartakan kabar baik keselamatan kepada dunia.

Baik Santo Simon maupun Santo Yudas menanggapi dengan benar rahmat yang telah dicurahkan Allah kepada mereka masing-masing. Oleh rahmat itu, mereka diberdayakan untuk percaya kepada Yesus dan melaksanakan misi-pelayanan yang telah disiapkan Allah bagi mereka masing-masing. Yesus juga mengharapkan tanggapan yang sama dari kita semua. Iblis tentunya selalu ingin meyakinkan kita bahwa rahmat Allah berada di luar jangkauan kita. Dalam hal ini kita harus yakin akan sebuah kebenaran yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, yaitu bahwa rahmat dan segala kebaikan Allah kepada kita bukanlah disebabkan oleh kerja keras kita sendiri. Rahmat Allah dianugerahkan kepada kita secara bebas, secara gratis setiap saat dan setiap hari (Latin: gratia; gratis). Peran kita hanyalah untuk membuka hati dan menerima rahmat yang diberikan Allah itu.

Orang-orang yang dibaptis dalam nama Allah Tritunggal dan menghayati iman-kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka memperoleh privilese untuk mengalami rahmat Allah dalam hidup mereka. Namun sayangnya, kita kadang-kadang memperkenankan adanya berbagai rintangan yang menghalangi kita untuk memperoleh rahmat itu. Bisa saja hati kita sudah terpaku pada rencana-rencana lain yang mungkin bertentangan dengan rencana-rencana Yesus bagi kita. Barangkali juga kita terlalu memperkenankan (bahkan menikmati) pelanturan-pelanturan yang terjadi pada waktu kita berdoa dan kurang peka terhadap kehadiran Tuhan. Sementara kita membuang rencana-rencana kita dan menerima apa yang dikehendaki Allah dari kehidupan kita, maka kita pun akan menjadi pelaksana yang lebih efektif dari rahmat-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah memilih diriku untuk menjadi milik-Mu sendiri. Ampunilah dosa-dosaku karena tidak jarang aku membiarkan rahmat-Mu terhalang untuk masuk ke dalam hatiku. Aku terlalu sibuk berupaya lewat berbagai cara – namun dengan mengandalkan kekuatanku sendiri – untuk membuat diriku pantas menerima rahmat-Mu. Di lain pihak, aku juga sering terpengaruh oleh berbagai bentuk pelanturan pada waktu aku berdoa, aku bahkan menikmati pelanturan-pelanturan tersebut. Tuhan Yesus, seperti halnya Santo Simon dan Santo Yudas, perkenankanlah Roh Kudus-Mu untuk membuat aku memiliki sikap reseptif terhadap rancangan-rancangan-Mu dan berani membuang rancangan-rancanganku sendiri. Hari ini, ya Tuhan Yesus Kristus, datanglah kerajaan-Mu, baik dalam kehidupanku sendiri maupun dalam kehidupan orang-orang yang kutemui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 2:19-22), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 28-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak,  24 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANDA-TANDA TERSEBUT TIDAK BERHENTI PADA PERJANJIAN BARU

TANDA-TANDA TERSEBUT TIDAK BERHENTI PADA PERJANJIAN BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 27 Oktober 2017) 

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

 Bacaan Pertama: Rm 7:18-25a; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66,68,76-77,93-94

Allah membuat banyak “tanda-tanda heran” bagi umat-Nya selagi Dia memimpin mereka menuju “tanah terjanji”. Dia membelah Laut Teberau (Kel 14:15-31), membimbing perjalanan mereka di padang gurun dengan tiang api dan awan (Kel 13:21), bahkan Ia memberi makan mereka secara ajaib dengan manna dan buruh puyuh (baca: Kel 16). Dengan jalan serupa, Yesus juga membuat banyak mukjizat dan tanda heran, semuanya merupakan indikator bahwa Kerajaan Allah sudah ada di tengah mereka.

Terpujilah Allah, karena tanda-tanda tersebut tidak berhenti pada Perjanjian Baru. Dalam setiap zaman, Allah bekerja, dengan penuh kuasa membentangkan rencana penyelamatan-Nya. Sebagaimana orang-orang pada zaman Yesus, kita pun dipanggil untuk membaca tanda-tanda dari tindakan Allah dan kedatangan Kerajaan-Nya di tengah-tengah kita.

Banyak tanda-tanda hari ini menunjuk pada hasrat Allah akan persatuan, tidak hanya dengan umat Kristiani yang terpecah-pecah sejak berabad-abad lalu, melainkan juga dengan kemanusiaan yang terpecah-pecah. Kita dapat melihat, misalnya, beberapa hal yang telah dilakukan oleh almarhum Santo Paus Yohanes Paulus II beberapa tahun menjelang tahun 2000. Beliau memberi persetujuan atas “Deklarasi Bersama tentang Doktrin Pembenaran” (Joint Declaration on the Doctrine of Justification) yang ditandatangani oleh Vatikan dan Federasi Gereja Lutheran Dunia (the World Lutheran Federation) pada bulan Oktober 1999. Sri Paus juga memimpin suatu kebaktian doa ekumenis untuk persatuan umat Kristiani dengan para pemimpin Kristiani di Basilika Santo Paulus Di luar tembok pada bulan Januari 2000. Dalam bulan Februari 2000, beliau melakukan perjalanan ziarah ke Gunung Sinai untuk berdoa bagi umat manusia agar merangkul hukum moral dan kebenaran Allah. Pada bulan Maret tahun yang sama, beliau mendoakan sebuah doa pengakuan dosa di mana beliau memohon pengampunan atas dosa-dosa para warga Gereja di masa lampau dan sekarang. Akhirnya di Yerusalem, Sri Paus menghimbau terwujudnya kerja sama antara umat Yahudi, Kristiani dan Muslim. Semua tindakan Sri Paus ini dan juga banyak lagi tindakan serupa sebenarnya merupakan ungkapan kenabian, tanda-tanda bagi semua umat yang percaya berkaitan dengan hasrat mendalam dari Bapa surgawi untuk terciptanya persatuan umat manusia.

Tanda-tanda ini memang ada dan terjadi di sekeliling kita – bahkan di dalam hati kita masing-masing. Kita sekarang hidup pada masa pencurahan rahmat secara istimewa dari surga. Oleh karena itu, marilah kita dengan tekun melanjutkan berdoa untuk tercapainya persatuan Kristiani, bagi orang-orang Yahudi, dan untuk semua orang yang belum mengenal Allah, semoga mereka mencari Dia dengan segenap hati dan akhirnya menemukan-Nya.  Marilah kita senantiasa membuka mata kita terbuka bagi tanda-tanda dan menyambut gerakan-gerakan Yesus melalui Roh-Nya di dalam dunia.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mata kami agar mampu melihat apa yang Engkau sedang lakukan di tengah-tengah kami. Berikanlah kepada kami visi yang segar, pengharapan yang segar dan sukacita yang segar dalam membawa Kabar Baik kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI ATAS MUKA BUMI” (bacaan tanggal 27-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BUKAN DAMAI, MELAINKAN PERTENTANGAN

BUKAN DAMAI, MELAINKAN PERTENTANGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Kamis, 26 Oktober 2017) 

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”  (Luk 12:49-53) 

Bacaan Pertama: Rm 6:19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 1-4,6 

Sadar atau tidak sadar, kita manusia adalah makhluk-makhluk yang terikat pada adat-kebiasaan. Kita menyukai rutinitas yang sudah familiar dan seringkali mencari keamanan dari hal-hal yang kita dapat kendalikan. Misalnya refren yang biasa kita dengar: “Pokoknya, damai tenteram!” Akan tetapi Yesus mengatakan: “Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk 12:51). Kadang-kadang kata-kata Yesus memang sulit untuk dipahami. Injil-Nya bukanlah sekadar suatu pesan damai dan sukacita, melainkan pesan mengenai perpecahan dan perjuangan juga. Dia datang ke tengah umat manusia untuk memisahkan kegelapan dari terang, namun kecenderungan pribadi kita untuk berdosa menolak pemisahan sedemikian.

Sifat dari salib Kristus-lah yang akan membuat kita mampu untuk memisahkan daging dan roh. Semakin penuh kita menyerahkan diri kepada kerja Kristus membersihkan kita – walaupun terasa sulit – semakin besar pula warisan yang kita terima daripada-Nya pada akhir zaman. Dengan demikian, semakin besar pula sukacita dan damai sejahtera kita dalam kehidupan ini.

Yesus Kristus, sang Raja Damai, ingin agar kita memahami bahwa damai-sejahtera-Nya akan memenuhi diri kita apabila kita memilih diri-Nya dan jalan-Nya, bukannya jalan-jalan atau cara-cara dunia yang ujung-ujungnya berakibat negatif bagi keselamatan jiwa kita. Kemuridan/pemuridan Kristiani mengandung biaya yang tidak sedikit, karena dapat mengakibatkan perpecahan dalam keluarga. Akan tetapi, meski dalam situasi yang paling sulit dan penuh pencobaan pun, Yesus memerintahkan kita – seperti juga ketika Dia memberdayakan kita – untuk mengasihi musuh-musuh kita dan mendoakan mereka yang menganiaya kita (Mat 5:44). Ini adalah pilihan yang dapat kita buat di tengah-tengah konflik-konflik keluarga. Sebagai akibatnya, berkat-berkat ilahi akan mengalir dengan deras ketika kita mengingat belas kasih Allah atas diri kita masing-masing dan menempatkan iman kita dalam kehadiran Roh-Nya di dalam diri kita.

Yesus mengutus Roh Kudus – api cintakasih Allah – untuk memurnikan kita dan mencerahkan pikiran kita bagi kebenaran-kebenaran Kerajaan-Nya. Sementara kita terus setia dalam doa-doa harian kita dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan selagi kita dengan setia pula berpartisipasi dalam liturgi-liturgi (terutama dalam perayaan Ekaristi) dan karya-karya pelayanan Gereja, maka Roh Kudus-Nya akan senantiasa bersama kita: Dia membimbing, menuntun dan memberdayakan kita dengan tak henti-hentinya. Roh Kudus ini akan memperkuat dan membimbing kita melalui setiap konflik dan perjuangan kita. Yesus meyakinkan kita: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tuhan, berikanlah kepadaku sebuah hati seperti hati-Mu, yang senantiasa bersedia melakukan kehendak Bapa. Penuhilah pikiran dan hatiku dengan kebenaran-Mu sehingga dengan demikian aku akan mengetahui bilamana diriku dimurnikan oleh api cintakasih-Mu. Engkau memang pantas untuk dikasihi, dipuji disembah dan dimuliakan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI” (bacaan tanggal 26-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Oktober 2017 [HARI MINGGU BIASA XXIX – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS