BEKERJA DI KEBUN ANGGUR ALLAH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun A] – 1 Oktober 2017)

 

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu menjawab: Baik, Bapa, tetapi ia tidak pergi. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang pertama.” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (Mat 21:28-32) 

Bacaan pertama: Yeh 18:25-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: Flp 2:1-11

Bacaan Injil pada hari Minggu lalu (Hari Minggu Biasa XXV) berupa sebuah perumpamaan yang mengambil TKP-nya di sebuah kebun anggur. Kejadian yang digambarkan dalam perumpamaan itu adalah tidak puasnya para pekerja yang bekerja lebih lama terhadap para pekerja yang datang belakangan, namun menerima upah yang sama. Ketidakpuasan tersebut juga dialamatkan kepada sang pemilik kebun anggur. Rahmat Allah yang berlimpah kepada semua orang tanpa diskriminasi, dilihat oleh mata manusia sebagai suatu ketidakadilan. Dalam bacaan Injil hari ini – juga sebuah perumpamaan – kita lihat seorang pemilik kebun anggur menemui anak laki-lakinya yang sulung dan memerintahkannya untuk bekerja di kebun anggur. Anak itu mengatakan “tidak mau”, namun kemudian ia pergi juga ke kebun anggur untuk bekerja. Bapak itu memerintahkan putera bungsunya untuk melakukan hal yang sama. Anaknya itu mengatakan “ya, Bapa”, namun ia tidak pergi ke kebun anggur.

Nah, apabila kita diminta oleh Allah untuk bekerja di kebun anggurnya, kita pun harus mau dan rela tangan-tangan kita menjadi kotor. Lain sekali sikap orang-orang Farisi yang pada umumnya munafik itu. Mereka takut tangan-tangan mereka menjadi kotor atau terkontaminasi. Sebagai “orang-orang yang terpisah”, orang-orang Farisi membuat hidup beragama yang tidak terkontaminasi oleh kesalahan-kesalahan orang-orang lain. Penjagaan-diri menjadi ideal mereka. Di mata mereka, para pendosa sungguh tidak mempunyai pengharapan. No hope! Inilah yang membuat Yesus menjadi marah. 

Panenan di kebun anggur atau ladang Allah sudah siap untuk dituai. Misi Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa ada banyak pendosa yang siap untuk memberi tanggapan terhadap orang-orang yang akan memberikan kesempatan kedua dalam hidup mereka. Yohanes Pembaptis menawarkan kepada mereka air, pembasuhan, pembaharuan, suatu halaman baru yang bersih dan menyegarkan.

Sebagaimana dikatakan Yohanes (Luk 3:16-17), Yesus datang dengan Roh Kudus dan api. Yesus melakukan “blusukan” ke mana-mana dan Ia berjumpa dengan orang-orang yang sakit, para pendosa, orang-orang yang tertindas dan tersisihkan, … wong cilik! Yesus membawa kesembuhan kepada mereka, Dia juga memberikan sebuah akhir dan sebuah awal baru dalam kehidupan mereka, air mata ungkapan kelegaan, bahkan makanan bagi mereka (Mat 14:13-21;15:32-39). Orang-orang Farisi tidak tahan menyaksikan sikap penuh bela rasa dan tindak-tanduk Yesus yang  penuh belas kasih. Yesus memang benar ketika mengajar dengan perumpamaan bahwa “anggur baru tidak dapat dimasukkan kedalam kantong kulit yang tua” (Mat 9:17). Di mata orang-orang Farisi, Yesus adalah sebuah skandal!

Untuk menjadi pengikut/murid Yesus Kristus, seseorang dipanggil untuk menjadi misioner dan apostolik: untuk bekerja di ladang-Nya dan tangan-tangan pun menjadi kotor juga. Para murid Yesus bukanlah mereka yang banyak berdoa hanya untuk kepentingan bisnis mereka sendiri, berdoa untuk keselamatan diri sendiri, tetapi tidak mau tangan mereka menjadi kotor dan tidak mau jadual kehidupan mereka yang nyaman dirusak.

Misi orang Kristiani dapat digambarkan dengan sederhana: cara terbaik untuk menjadi seorang sahabat Yesus adalah membawa seorang sahabat kepada Yesus!

Di ladang Allah pada hari ini ada banyak sekali panenan yang siap untuk dituai. Ada banyak sekali jiwa yang belum pernah disentuh oleh Kabar Baik tentang Yesus Kristus, mereka melangkah tanpa tujuan di atas jalan tanpa makna: mereka merasa bosan, marah dan agresif, mereka menjadi letih-lesu dan sakit karena sensualitas. Mereka hidup tanpa pengharapan. Jika orang-orang merasa down dan susah, hal terahir yang ingin mereka dengar adalah suatu khotbah yang menyalah-nyalahkan mereka. Yang mereka butuhkan adalah tangan-tangan terulur guna mengangkat diri mereka. 

Sebenarnya orang-orang zaman modern ini bukannya tidak/belum pernah mendengar tentang Yesus. Apa yang terjadi dengan banyak orang adalah sedikit pengalaman tentang agama yang mereka terima begitu negatif, sehingga efeknya hanya membuat mereka menjadi imun terhadap realitas sesungguhnya. Kuasa Roh Kudus dan api dari hati belum mencapai mereka. Mereka ditinggal tanpa pengharapan, energi, atau rasa percaya diri. Dan siapakah yang dapat membawa pengharapan kepada mereka? Marilah kita berdoa kepada Bapa surgawi untuk mengirimkan para pekerja untuk tuaian yang ada (lihat Luk 10:2; Mat 9:37-38). Namun, janganlah kita (anda dan saya) sekadar berdoa untuk orang-orang lain agar disentuh. Janganlah kita takut tangan-tangan kita menjadi kotor. Untuk membawa seorang sahabat kepada Allah, kita tidak dapat melakukannya dari jarak jauh. Kita juga diminta oleh Allah untuk menjadi saksi yang hidup dan efektif dari kasih Allah.  Ketika anda berdoa “jadikanlah aku pembawa damai-Mu”, bersiaplah untuk terlibat, untuk menerima kenyataan bahwa rutinitas kita yang sudah mapan dan nyaman menjadi terganggu. Jika dikatakan kita harus siap melihat tangan-tangan kita menjadi kotor, kita akan menyadari bahwa tanah di ladang Allah itu sesuatu yang kotor namun bersih.

Uraian di atas adalah adaptasi dari P. Silvester O’Flynn OFMCap., The Good News of Matthew’s Year, Dublin, Ireland: Cathedral Books/The Columba Press, 1989/1992 [second printing], hal. 235-238.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau senantiasa menerima pertobatan anak-anak-Mu, mencurahkan belas kasih-Mu kepada para pendosa yang bertobat dan menarik mereka semua untuk masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Ya Bapa, oleh Roh Kudus bentuklah aku menjadi murid Yesus yang setia, siap terlibat dan mengotori tangan-tanganku, untuk membawa para sahabatku kepada-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG DUA ORANG ANAK” (bacaan tanggal 1-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements