PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Selasa, 26 September 2017)

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Elzear dan Delfina 

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21) 

Bacaan Pertama: Ams 21:1-6,10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,27,30,34-35,44 

“Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21)

Ada seorang bapak kepala keluarga (namanya rahasia, ya!) yang tidak dapat secara langsung mengenali suara anak perempuannya yang mana yang sedang menelpon dia. Anak-anak perempuannya itu membuat sang ayah tersudut juga. “Ayah, kami kan anak-anakmu?! Ayah seharusnya mengenal suara kami masing-masing!” Untunglah Bapa kita di surga tidak mempunyai masalah seperti ayah itu dengan kedua anak perempuannya. Bapa surgawi mengenal suara kita masing-masing secara intim. Akan tetapi, sampai seberapa baik kita dapat mengenali suara-Nya?

Tahukah anda, bahwa kemampuan untuk mendengar suara Allah adalah bagian dari warisan kita sebagai orang-orang Kristiani terbaptis? Kita masing-masing adalah seorang anak Allah! Yesus ingin berbicara kepada kita masing-masing sama jelasnya sebagaimana Dia berbicara dengan Maria, Yosef dan keluarga besar-Nya. Selagi  kita “bereksperimen” mendengarkan suara Allah dalam doa dan kehidupan sehari-hari kita, kita akan menemukan bahwa Yesus sebenarnya berbicara kepada kita sepanjang waktu. Yesus sebenarnya senang sekali untuk bersama kita masing-masing!

Santo Ignatius dari Loyola [1491-1556], sang pendiri Serikat Yesus, mengajar bahwa jalan utama untuk mendengar suara Allah adalah melalui akal budi alamiah kita yang diangkat oleh rahmat ilahi. Apabila kita menerapkan prinsip ini ke dalam pembacaan Kitab Suci, Ignatius mengajar orang-orang untuk menggunakan imajinasi mereka. Misalnya, orang kudus ini mengatakan, cobalah untuk membayangkan diri kita berada di tengah-tengah kumpulan orang banyak yang sedang mendengarkan “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7). Atau bayangkanlah Yesus mengajak anda untuk berbicara secara pribadi setelah Ia membangkitkan Lazarus dari kuburnya (Yoh 11:1-44), atau setelah mengubah air menjadi air anggur pada pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Bayangkan diri anda memberitahukan kepada-Nya segala keprihatinan anda, dan dengarkanlah Dia dengan penuh perhatian apa yang akan dikatakan-Nya kepada anda. Anda dapat memelihara sebuah “buku catatan doa” (semacam jurnal) untuk mencatat apa saja yang anda dapatkan. Mungkin yang anda catat itu tidak selalu benar, namun apabila anda bertekun dalam hal itu, maka Yesus akan membuka telinga anda lebih lebar lagi, sehingga yang anda “dengar” itu benar tepat.

Adalah sebuah kenyataan bahwa rahmat Allah disalurkan lewat kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa. Maka, selalu ada kemungkinan bahwa apa yang kita “dengar” tidak cukup tepat. Namun dengan Kitab Suci dan Gereja yang senantiasa membimbing kita, maka kita perlu sampai melenceng terlalu jauh. Kita juga senantiasa dapat mengandalkan diri pada bantuan “Roh Kebenaran” yang diutus Yesus untuk berbicara kepada hati kita dan membimbing kita “ke dalam semua kebenaran” (Yoh 16:13).

DOA: Roh Kudus Allah, walaupun aku tidak pantas, aku tahu bahwa Engkau berbicara kepadaku lebih sering dan dalam cara yang jauh lebih bervariasi daripada yang kusadari selama ini. Tolonglah diriku agar dapat bertindak-tanduk sebagai seorang anak Allah yang sejati dengan mendengarkan firman-Mu dan mewujudkannya dalam tindakan nyata yang kulakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH” (bacaan tanggal 26-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements