KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A, 24 September 2017) 

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapti orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Yes 55:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,8-9,17-18 Bacaan Kedua: Flp 1:20c-24,27a

Dalam liburan mereka, sebuah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan seorang anak laki-laki mereka yang masih duduk di kelas 3 SD mengunjungi sebuah kebun anggur. Karena dirasakan tepat setting-nya, maka sang ayah bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang para pekerja kebun anggur yang ada dalam bacaan Injil hari ini. Anaknya yang masih kecil itu berseru, “Sangat tidak adil!” Kalau kita jujur, kita dapat menerima kenyataan bahwa kita pun akan bereaksi serupa. Biar bagaimana pun, para pekerja yang datang paling akhir boleh dikatakan hampir belum bekerja sama sekali. Mengapa mereka diberi upah sama dengan para pekerja yang bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari?

Dalam perumpaman ini Yesus mengajarkan, bahwa sebenarnya tidak seorang pun pantas untuk masuk ke dalam surga. Kita semua telah berdosa dan kehilangan hak kita sebagai pewaris surga. Namun karena rahmat Allah yang berlimpah-limpah, maka pintu surga sekali lagi terbuka bagi kita semua. Semua orang yang datang dengan suatu iman-hidup kepada Yesus dapat ikut ambil bagian dalam belas kasih-Nya yang berkelimpahan – yang terakhir sama banyaknya dengan yang pertama.

Allah tidak menilai kita untuk apa yang kita lakukan bagi-Nya atau berapa banyak kita berkontribusi kepada masyarakat. Itu adalah cara/jalan kita, bukan cara/jalan-Nya. Dengan perumpamaan ini Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memandang dan menilai diri kita. Allah memandang dan menilai kita sebagai anak-anak-Nya sendiri – anggota-anggota Kristus yang dirajut menjadi sepotong permadani hiasan dinding yang sangat indah penuh warna-warni. Jika ada satu benang saja yang hilang, seluruh permadani tersebut kehilangan sesuatu dari nilainya. Kita masing-masing sama penting dan berharganya di mata Allah, sama bernilainya sampai Putera Allah sendiri rela mati untuk kita, masing-masing sedemikian berharga sehingga dapat menjadi tempat kediaman Roh Kudus.

Sekarang masalahnya adalah, apakah kita (anda dan saya) menyadari akan hal ini? Apakah kita mengawali dan mengakhiri setiap hari dengan pikiran ini? Apakah pengetahuan ini muncul ke permukaan setiap saat kita gagal dalam tugas-pekerjaan kita, memaki-maki pasangan hidup dan/atau anak-anak kita, atau tergelincir lagi ke dalam kedosaan? Dalam hal ini kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menerima kasih Kristus yang “sama bobot”-nya dengan yang diterima S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, Santa Bunda Teresa dari Kalkuta, atau orang-orang kudus yang kita dapat sebutkan namanya. Jika kita sungguh menyadari akan kebenaran ini, maka – seperti Yesus – kita pun dapat mengampuni orang-orang lain yang telah menyakiti hati atau mendzolimi kita. Kita pun akan mampu untuk melihat gambar dan rupa Allah dalam diri mereka. Oleh karena itu, marilah kita tidak memohon kepada Allah agar diperlakukan secara adil, melainkan memohon agar kepada kita diberikan hati yang dapat memperlakukan orang-orang lain sebagaimana Bapa surgawi memperlakukan kita. 

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahapengampun. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengampuni orang-orang yang telah menyakiti dan mendzolimi diriku. Transformasikanlah kami semua dengan kasih-Mu yang berlimpah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yag berjudul “YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG PERTAMA DAN YANG PERTAMA AKAN MENJADI YANG TERAKHIR” (bacaan tanggal 24-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  22 September 2017 [Peringatan S. Ignasius dr Santhi, Imam Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements