TIDAK ADA YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV  – Jumat, 22 September 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Ignatius dr Shanti, Imam Biarawan 

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3) 

Bacaan Pertama:  1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: 49:6-10,17-20 

Pikiran dan rancangan Allah memang tidak pernah dapat ditebak oleh akal-budi manusia yang sungguh terbatas. Dengan Allah, hal-hal yang diharapkan tidak terjadi dan hal-hal yang tidak diharapkan dan tidak dibayangkan justru dialami: “Sebab, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN [YHWH]” (Yes 55:8).

Pada waktu Yesus menjadi seorang manusia dan tinggal di tengah-tengah kita, Dia memperlebar batasan-batasan dari apa yang diharapkan orang dari seorang Mesias. Ia berjalan ke banyak tempat “memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Injil atau Kabar Baik yang diberitakan-Nya sungguh mengejutkan sekaligus menggembirakan: Allah menginginkan keselamatan bagi setiap orang – tidak hanya yang “pantas”, yang saleh dalam praktek keagamaan, melainkan setiap orang yang ada.

Hal seperti ini sungguh sukar dicerna oleh orang-orang Yahudi, umat pilihan Allah. Gagasan bahwa Allah harus menebus bangsa-bangsa – bahkan yang tak bermoral, kafir – sungguh tidak terpikirkan oleh mereka. Akan tetapi, kenyataannya hal ini memang benar, sampai hari ini. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari kasih Allah atau hasrat-Nya untuk syering hidup-Nya secara pribadi dan akrab. Tidak ada seorang pun yang hidup dalam dunia ini berada diluar jangkauan kasih Allah atau begitu “terbenam” dalam kedosaan yang tidak mampu ditebut oleh kuasa-Nya.

Kedua belas rasul dan beberapa orang perempuan yang ikut dalam misi Yesus (Luk 8:2) bukanlah yang diharap-harapkan orang dari sebuah rombongan seorang Raja-Mesias. Beberapa orang ex-nelayan, seorang ex-pemungut cukai, seorang ex-Zeloti, sejumlah perempuan dengan berbagai macam latar belakang dst. – kebanyakan mereka miskin, tersisihkan secara sosial, bukan “orang-orang sekolah dalam hal agama” – semua ini sungguh bertolak-belakang dengan adat-istiadat dan nilai-nilai yang dianut bangsa Yahudi, namun pada saat yang sama merupakan suatu testimoni tentang hikmat-kebijaksanaan dan jalan Allah yang tak terbayangkan. Hikmat kebijaksanaan  Allah memporak-porandakan batasan-batasan akal-budi kita, dan dalam Yesus, Ia mendamaikan orang-orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi (kafir), yang kaya dan miskin, yang sehat maupun yang kurang/tidak sehat, yang  benar dan berdosa, seringkali dengan cara-cara yang tak terbayangkan.

Dalam Yesus, Kerajaan Allah terbuka untuk siapa saja: wong cilik dan yang termarginalisasi, yang ternama dan berpengaruh. Ada suatu sukacita yang datang dari pelebaran batasan-batasan manusiawi kita: Kegembiraan yang meluap-luap dalam kasih Allah selagi hal itu memancarkan cahaya lewat kegelapan harapan-harapan kita yang terbatas.

Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita akan mengajar kita kebenaran tentang Yesus. Kebenaran ini – realitas-realitas dan pemikiran-pemikiran Allah Yang Mahakuasa – bukanlah sesuatu yang dapat ketahui dan pahami berdasarkan kekuatan kita sendiri. Hal tersebut secara lengkap-total berada di luar jangkauan akal-budi kita, dengan demikian kita sungguh membutuhkan Roh Kudus untuk membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13). Oleh karena itu, baiklah kita setiap hari berpaling kepada-Nya agar dapat memperoleh hikmat-kebijaksanaan dan pengetahuan yang datang dari Allah saja.

DOA: Tuhan Yesus, hancurkanlah segala pemikiran yang penuh dengan praduga dan bias-bias yang ada dalam diriku, sehingga dengan demikian aku dapat berpikir seperti Engkau berpikir, mengasihi seperti Engkau mengasihi, dan memilih cara-cara dan rencana-rencana yang Engkau telah tentukan sejak kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA MENGIKUTI-NYA” (bacaan tanggal 22-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-16 dalam situsblog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements