Archive for September, 2017

BEKERJA DI KEBUN ANGGUR ALLAH

BEKERJA DI KEBUN ANGGUR ALLAH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun A] – 1 Oktober 2017)

 

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu menjawab: Baik, Bapa, tetapi ia tidak pergi. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang pertama.” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (Mat 21:28-32) 

Bacaan pertama: Yeh 18:25-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: Flp 2:1-11

Bacaan Injil pada hari Minggu lalu (Hari Minggu Biasa XXV) berupa sebuah perumpamaan yang mengambil TKP-nya di sebuah kebun anggur. Kejadian yang digambarkan dalam perumpamaan itu adalah tidak puasnya para pekerja yang bekerja lebih lama terhadap para pekerja yang datang belakangan, namun menerima upah yang sama. Ketidakpuasan tersebut juga dialamatkan kepada sang pemilik kebun anggur. Rahmat Allah yang berlimpah kepada semua orang tanpa diskriminasi, dilihat oleh mata manusia sebagai suatu ketidakadilan. Dalam bacaan Injil hari ini – juga sebuah perumpamaan – kita lihat seorang pemilik kebun anggur menemui anak laki-lakinya yang sulung dan memerintahkannya untuk bekerja di kebun anggur. Anak itu mengatakan “tidak mau”, namun kemudian ia pergi juga ke kebun anggur untuk bekerja. Bapak itu memerintahkan putera bungsunya untuk melakukan hal yang sama. Anaknya itu mengatakan “ya, Bapa”, namun ia tidak pergi ke kebun anggur.

Nah, apabila kita diminta oleh Allah untuk bekerja di kebun anggurnya, kita pun harus mau dan rela tangan-tangan kita menjadi kotor. Lain sekali sikap orang-orang Farisi yang pada umumnya munafik itu. Mereka takut tangan-tangan mereka menjadi kotor atau terkontaminasi. Sebagai “orang-orang yang terpisah”, orang-orang Farisi membuat hidup beragama yang tidak terkontaminasi oleh kesalahan-kesalahan orang-orang lain. Penjagaan-diri menjadi ideal mereka. Di mata mereka, para pendosa sungguh tidak mempunyai pengharapan. No hope! Inilah yang membuat Yesus menjadi marah. 

Panenan di kebun anggur atau ladang Allah sudah siap untuk dituai. Misi Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa ada banyak pendosa yang siap untuk memberi tanggapan terhadap orang-orang yang akan memberikan kesempatan kedua dalam hidup mereka. Yohanes Pembaptis menawarkan kepada mereka air, pembasuhan, pembaharuan, suatu halaman baru yang bersih dan menyegarkan.

Sebagaimana dikatakan Yohanes (Luk 3:16-17), Yesus datang dengan Roh Kudus dan api. Yesus melakukan “blusukan” ke mana-mana dan Ia berjumpa dengan orang-orang yang sakit, para pendosa, orang-orang yang tertindas dan tersisihkan, … wong cilik! Yesus membawa kesembuhan kepada mereka, Dia juga memberikan sebuah akhir dan sebuah awal baru dalam kehidupan mereka, air mata ungkapan kelegaan, bahkan makanan bagi mereka (Mat 14:13-21;15:32-39). Orang-orang Farisi tidak tahan menyaksikan sikap penuh bela rasa dan tindak-tanduk Yesus yang  penuh belas kasih. Yesus memang benar ketika mengajar dengan perumpamaan bahwa “anggur baru tidak dapat dimasukkan kedalam kantong kulit yang tua” (Mat 9:17). Di mata orang-orang Farisi, Yesus adalah sebuah skandal!

Untuk menjadi pengikut/murid Yesus Kristus, seseorang dipanggil untuk menjadi misioner dan apostolik: untuk bekerja di ladang-Nya dan tangan-tangan pun menjadi kotor juga. Para murid Yesus bukanlah mereka yang banyak berdoa hanya untuk kepentingan bisnis mereka sendiri, berdoa untuk keselamatan diri sendiri, tetapi tidak mau tangan mereka menjadi kotor dan tidak mau jadual kehidupan mereka yang nyaman dirusak.

Misi orang Kristiani dapat digambarkan dengan sederhana: cara terbaik untuk menjadi seorang sahabat Yesus adalah membawa seorang sahabat kepada Yesus!

Di ladang Allah pada hari ini ada banyak sekali panenan yang siap untuk dituai. Ada banyak sekali jiwa yang belum pernah disentuh oleh Kabar Baik tentang Yesus Kristus, mereka melangkah tanpa tujuan di atas jalan tanpa makna: mereka merasa bosan, marah dan agresif, mereka menjadi letih-lesu dan sakit karena sensualitas. Mereka hidup tanpa pengharapan. Jika orang-orang merasa down dan susah, hal terahir yang ingin mereka dengar adalah suatu khotbah yang menyalah-nyalahkan mereka. Yang mereka butuhkan adalah tangan-tangan terulur guna mengangkat diri mereka. 

Sebenarnya orang-orang zaman modern ini bukannya tidak/belum pernah mendengar tentang Yesus. Apa yang terjadi dengan banyak orang adalah sedikit pengalaman tentang agama yang mereka terima begitu negatif, sehingga efeknya hanya membuat mereka menjadi imun terhadap realitas sesungguhnya. Kuasa Roh Kudus dan api dari hati belum mencapai mereka. Mereka ditinggal tanpa pengharapan, energi, atau rasa percaya diri. Dan siapakah yang dapat membawa pengharapan kepada mereka? Marilah kita berdoa kepada Bapa surgawi untuk mengirimkan para pekerja untuk tuaian yang ada (lihat Luk 10:2; Mat 9:37-38). Namun, janganlah kita (anda dan saya) sekadar berdoa untuk orang-orang lain agar disentuh. Janganlah kita takut tangan-tangan kita menjadi kotor. Untuk membawa seorang sahabat kepada Allah, kita tidak dapat melakukannya dari jarak jauh. Kita juga diminta oleh Allah untuk menjadi saksi yang hidup dan efektif dari kasih Allah.  Ketika anda berdoa “jadikanlah aku pembawa damai-Mu”, bersiaplah untuk terlibat, untuk menerima kenyataan bahwa rutinitas kita yang sudah mapan dan nyaman menjadi terganggu. Jika dikatakan kita harus siap melihat tangan-tangan kita menjadi kotor, kita akan menyadari bahwa tanah di ladang Allah itu sesuatu yang kotor namun bersih.

Uraian di atas adalah adaptasi dari P. Silvester O’Flynn OFMCap., The Good News of Matthew’s Year, Dublin, Ireland: Cathedral Books/The Columba Press, 1989/1992 [second printing], hal. 235-238.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau senantiasa menerima pertobatan anak-anak-Mu, mencurahkan belas kasih-Mu kepada para pendosa yang bertobat dan menarik mereka semua untuk masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Ya Bapa, oleh Roh Kudus bentuklah aku menjadi murid Yesus yang setia, siap terlibat dan mengotori tangan-tanganku, untuk membawa para sahabatku kepada-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG DUA ORANG ANAK” (bacaan tanggal 1-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

UNTUK KEDUA KALINYA YESUS MENGUNGKAPKAN REALITAS SENTRAL DARI MISI-NYA

UNTUK KEDUA KALINYA YESUS MENGUNGKAPKAN REALITAS SENTRAL DARI MISI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Hieronimus, Imam Pujangga Gereja – Sabtu, 30 September 2017) 

Ketika semua orang itu masih heran karena segala sesuatu yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. (Luk 9:43b-45) 

Bacaan Pertama: Za 2:1-5,10-11a; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13 

Apa jadinya kalau ilmu kedokteran dan pengobatan berhasil mencapai puncaknya dan berhasil menghentikan semua sakit-penyakit? Tentunya hal seperti ini akan mendatangkan kegembiraan dan sukacita yang luarbiasa, namun tentunya – oleh iman – kita tahu bahwa hal itu tidak akan menjawab kebutuhan-kebutuhan spiritual kita. Sesungguhnya, hanya SALIB KRISTUS-lah yang dapat menjawab hasrat hati kita akan Allah. Lukas mengungkapkan pokok kebenaran ini dengan melakukan pensejajaran antara “cerita tentang mukjizat Yesus” dengan “pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus” (bacaan hari ini). Ketika Yesus mengusir roh jahat dan menyembuhkannya (lihat Luk 9:38-42), maka “takjublah semua orang itu pada kebesaran Allah” (Luk 9:43a). Namun sementara orang banyak itu terpesona dan terkagum-kagum pada segala kebaikan yang diperbuat-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke tangan manusia” (Luk 9:43b-44).

Sekali lagi, Yesus mengungkapkan realitas sentral dari misi-Nya kepada semua orang yang akan menjadi murid-murid-Nya. Salib Kristus adalah jalan penyelamatan dan kehidupan kekal. Kemuridan/pemuridan berarti kebersatuan dengan sang Guru, Yesus …… artinya kebersatuan dengan Allah, yang berarti kepenuhan hidup. Hal ini bukanlah sebuah hasil mukjizat-mukjizat atau pengajaran-pengajaran, melainkan didapat melalui ketaatan kepada panggilan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23).

Karena iman-kepercayaan mereka, para murid mampu untuk keluar “memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat” (Luk 9:6). Itu adalah buah dari panggilan mereka sebagai murid-murid Yesus, namun bukan hakekatnya. Kemuridan-penuh berarti memperkenankan salib Kristus untuk memisahkan kita dari kedosaan dan membuat kita lebih serupa lagi dengan gambar (imaji) sang Putera Allah.

Ini adalah untuk kedua kalinya Yesus membuat prediksi (kalau tidak mau dikatakan “nubuat”) kepada para murid-Nya tentang sengsara dan wafat-Nya, namun Injil mencatat: “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka sehingga mereka tidak dapat memahaminya” (Luk 9:45). Pada akhirnya, mereka harus mengalami kebangkitan Kristus dulu untuk dapat memahami benar apa arti sesungguhnya dari salib-Nya. Demikian pula kiranya dengan kita semua. Hanya oleh kuasa Roh Kudus-lah kita dapat mengalami arti kebebas-merdekaan dan pengharapan yang tersedia bagi kita semua, yaitu apabila kita memperkenankan salib Kristus untuk membinasakan segala jalan kedosaan di dalam diri kita. Dengan demikian, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membuka pikiran dan hati kita bagi kuasa yang dapat mengalir dari kebersatuan kita dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

DOA: Bapa kami yang ada di surga, Allah yang Mahabaik dan sumber segala kebaikan. Hanya Engkaulah yang baik. Bapa, tulislah pesan salib dalam hati kami masing-masing, agar kami dapat menjadi semakin matang dalam hidup kami dalam Roh, melalui kemenangan Putera-Mu terkasih atas dosa dan maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:43b-45), bacalah tulisan yang berjudul “DIPANGGIL UNTUK MENGHAYATI KEHIDUPAN TERSALIB” (bacaan tanggal 30-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 September 2017 [Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIGA PELAYAN DAN PESURUH ALLAH YANG AGUNG

TIGA PELAYAN DAN PESURUH ALLAH YANG AGUNG

(Bacaan Misa Kudus Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung – Jumat, 29 September 2017) 

Kemudian timbullah peperangan di surga. Mikael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di surga.  Naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai harus menghadapi maut. Karena itu, bersukacitalah, hai surga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu bahwa waktunya sudah singkat.” (Why 12:7-12) 

Bacaan Pertama alternatif: Dan 7:9-10,13-14;  Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-5; Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 

Yohanes (penulis Why) melaporkan sebuah peperangan di surga, antara Mikhael yang dibantu oleh para malaikat lainnya di satu pihak dengan Iblis yang dibantu oleh para malaikat pemberontak. Iblis dan para malaikat jahat akhirnya dikalahkan oleh darah Anak Domba (Why 12:7-11).

Hari ini kita merayakan “Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung”. Gereja selalu menegaskan keberadaan para malaikat. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan bahwa malaikat adalah makhluk rohani tanpa badan yang mempunyai akal budi dan kehendak. Malaikat adalah pelayan dan pesuruh Allah. Mereka adalah wujud pribadi dan tidak dapat mati. Mereka melampaui segala makhluk yang kelihatan dalam kesempurnaan (KGK 328-330). Pada hari yang khusus ini baiklah kita masing-masing merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut: Peranan apakah yang dimainkan para malaikat dalam rencana Allah bagi umat-Nya? Mengapa mereka penting? Apakah mereka mempunyai arti bagi kita dewasa ini? Bagaimana seharusnya kita memandang para malaikat itu dalam terang Yesus?

Injil Matius mencatat tiga peristiwa di mana Yesus berbicara mengenai para malaikat dan apa yang dilakukan mereka (Mat 4:11; 18:10; 26:53). Saya petik salah satu saja sabda Yesus: “Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10). Kata-kata Yesus ini menjadi latar-belakang dari kepercayaan banyak orang Kristiani bahwa sebagai “agen kasih Allah”, para malaikat memperhatikan setiap manusia di muka bumi ini. Semoga anda tidak melupakan ayat-ayat dalam mazmur yang kita selalu baca pada Ibadat Penutup setiap Minggu malam: “Sebab TUHAN (YHWH) ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu” (Mzm 91:9-12). 1]

Fungsi-fungsi ketiga malaikat agung ini sejalan dengan pelayanan Yesus, yaitu mewartakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit dan membebaskan orang-orang yang tertindas. Gabriel (= Allah berkuasa) adalah pesuruh utama Allah untuk membawa kabar baik kepada umat-Nya. Dia membawa kabar kepada Maria bahwa dirinya akan melahirkan sang Juruselamat. Rafael (= Allah menyembuhkan) diasosiasikan dengan pelayanan kesembuhan yang dilakukan Yesus (lihat Kitab Tobit). Mikael (= yang menyerupai Allah) membebaskan umat Allah dari penindasan dengan melakukan pertempuran melawan Iblis (Why 12:7). Iblis dan malaikat-malaikat jahat di surga memberontak terhadap Allah (Why 12:3-9) karena kedengkian si Iblis terhadap manusia (lihat KebSal 2:23-24) yang seturut kehendak-Nya menjadi “anak sulung di antara semua ciptaan-Nya” (Yak 1:18). Jadi, kalau kita mau melindungi diri kita sendiri, kita perlu mengingat bahwa “perang rohani” atau “perang roh” (spiritual warfare atau spiritual battle [pertempuran rohani]) yang kita hadapi itu adalah sungguh riil. Yesus memang telah mengalahkan Iblis dan para malaikat pemberontak, tetapi mereka masih bebas untuk menggoda dan mencobai kita sampai Yesus datang dalam kemuliaan-Nya kelak.

Pada saat kita melibatkan diri dalam “perang roh” dari hari ke hari, ingatlah akan peperangan yang dilakukan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Dengan memahami keseriusan peperangan atau pertempuran rohani dan bagaimana hal itu dapat membawa dampak pada kehidupan kita, maka kita dapat mempersenjatai diri kita dengan keyakinan, bahwa melalui Yesus kita “dimasukkan” ke dalam komunitas Tritunggal. Dalam Kristus, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan kita; kita bahkan dapat mengatasi setiap serangan. Para malaikat Allah selalu ada untuk membantu kita.  Kitab Suci mengatakan: “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan?” (Ibr 1:14).

Selagi kita merayakan Pesta ketiga malaikat agung hari ini, marilah kita menghadap Yesus dengan segala kerendahan hati. Marilah kita bersyukur dan berterima kasih kepada Yesus karena kasih-Nya yang  begitu besar kepada kita dan segala berkat yang dilimpah-limpahkan-Nya kepada kita. Kita mohon kepada Yesus agar Dia mengutus para malaikat-Nya untuk menolong kita dalam “perang roh” hari demi hari.

DOA: Bapa surgawi, aku bersyukur kepada-Mu untuk kemuliaan dan keagungan para malaikat-Mu, meskipun hanya ada tiga malaikat agung saja yang kuketahui namanya dari Kitab Suci. Perkenankanlah mereka menolong aku dalam ziarahku di dunia ini, yaitu dalam perjalanan pulangku kepada-Mu. Semoga selalu ada malaikat-Mu yang mendampingiku dalam “perang roh” yang harus aku jalani setiap hari. Dengan penuh rasa syukur dan hati yang terbuka-lebar aku menyambut kedatangan para malaikat-Mu ke dalam tugas pelayananku, keluargaku serta Gereja, dan kehadiran mereka dalam masyarakat luas guna menolong siapa saja yang berkehendak baik. Amin.

1] Teks diambil dari ALKITAB (TB) terbitan Lembaga Alkitab Indonesia yang mempunyai nuansa/ perbedaan-halus dengan teks  yang digunakan dalam buku Ibadat Harian. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama Alternatif hari ini (Dan 7:9-10,13-14), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA PELAYAN ALLAH YANG GAGAH PERKASA” (bacaan tanggal 29-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG TIDAK PERNAH DAPAT MEMBENDUNG PEWARTAAN KABAR BAIK

ORANG TIDAK PERNAH DAPAT MEMBENDUNG PEWARTAAN KABAR BAIK

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Kamis, 28 September 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam Biarawan 

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Luk 9:7-9) 

Bacaan Pertama: Hag 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9b 

Yohanes Pembaptis telah dipenggal kepalanya atas perintah raja Herodes Antipas, antara lain untuk “membebaskan” diri Herodes dari pesan “pertobatan dan rekonsiliasi dengan Allah” yang disampaikan oleh Yohanes. Yohanes berbicara mengenai sabda Allah dengan begitu jelasnya sehingga Herodes merasakan dirinya begitu bersalah, begitu berdosa, teristimewa hubungan “perkawinan haramnya” (baca: perselingkuhannya) dengan ipar perempuannya sendiri (lihat Luk 3:19-20). Bukannya melakukan pertobatan dan kembali ke jalan Allah setelah mendengar pemberitaan Yohanes, Herodes malah menyuruh para algojo membunuh Yohanes, dengan harapan pesannya terkubur bersama sang bentara pesan pertobatan itu.

Karena rasa bersalahnya yang tak kunjung hilang dan rasa takut yang melanda dirinya, kemudian datang lagi berita bertubi-tubi tentang para murid Yesus yang berkarya memberitakan Kerajaan Allah sambil melakukan penyembuhan orang-orang sakit, maka  Herodes semakin dikuasai oleh “rasa takut yang melumpuhkan” terhadap Yesus dan para murid-Nya. Apabila membunuh sang bentara tidak berhasil menghapus pesan yang disampaikan, bagaimana dia dapat melarikan diri? Herodes merasa bingung karena tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat mencegah pesan keselamatan Allah itu diwartakan. Di bagian belakang Injil Lukas ini kita membaca bahwa Herodus sekali lagi menghadapi dua alternatif pilihan, yaitu (1) mendengarkan sang bentara yang membawa pesan, ataukah (2) menghukumnya sampai mati agar pesannya juga dibuat bungkam (lihat Luk 23:7-12). Bukannya belajar dari pengalamannya dalam kasus Yohanes Pembaptis, Herodes malah memilih untuk menjadi bagian dalam penyaliban Yesus.

Dalam kedua kasus itu Herodes melihat apa yang terjadi apabila kuasa Allah mengubah secara dahsyat kematian menjadi kehidupan. Kuasa Allah-lah yang memampukan Yohanes Pembaptis untuk tetap setia kepada panggilannya, bahkan sampai kematiannya. Kuasa ilahi yang sama pulalah yang memampukan Yesus untuk mengampuni orang-orang yang menghukumnya dan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan-Nya di sebelah kanan Bapa surgawi. Ini adalah kuasa ilahi yang dicurahkan ke atas para murid pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Kuasa ini memampukan para murid untuk mewartakan Injil dengan berani dan penuh keyakinan. Abad berganti abad, Allah telah bertindak dengan penuh kuasa, membangun kerajaan-Nya melalui para pelayan-Nya. Dari zaman ke zaman juga ada kekuatan-kekuatan yang ingin membungkam penyebaran pemberitaan pesan penyelamatan Allah ini dengan membungkam para bentara-Nya (para pelayan sabda-Nya), tetapi selalu saja tidak berhasil.

Kedua belas murid berkeliling (bukan untuk tebar pesona) untuk melakukan pekerjaan yang sama seperti pekerjaan yang telah dibuat Yesus. Nah, kita pun dapat menjadi seperti Guru kita, Yesus.  Tidak peduli betapa besarnya pun oposisi yang kita hadapi, apabila kita sudah berketetapan hati, seperti Yesus, untuk mengasihi setiap orang dan mengampuni setiap orang yang mendzolomi kita, maka kita akan mampu ikut memajukan kerajaan-Nya di muka bumi ini. Baiklah kita mohon kepada Roh Kudus agar membuat kita lebih serupa lagi dengan Yesus Kristus, mewartakan Kabar Baik keselamatan kemana saja kita pergi.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin memuliakan Engkau dalam segala yang kami ucapkan dan kami buat. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah kami agar sungguh dapat menjauhkan diri dari dosa dan merangkul kehidupan-Mu sepenuhnya, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa lagi dengan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ITU SIAPA SEBENARNYA?” (bacaan tanggal 28-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SETIAP ORANG HARUS MEMBUAT PILIHAN

SETIAP ORANG HARUS MEMBUAT PILIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Visensius a Paulo, Imam – Rabu, 27 September 2017) 

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6) 

Bacaan Pertama: Ezr 9:5-9; Mazmur Tanggapan: Tb 13:2-5,8

Bacaan Injil hari ini adalah tentang misi yang harus diemban oleh kedua belas murid Yesus. Yesus mengutus mereka ke tengah dunia untuk membuat orang-orang menghadapi kehidupan mereka, membuat keputusan-keputusan tentang diri mereka sendiri dan dunia di mana mereka hidup, dan untuk membuat mereka dapat melihat nilai-nilai kehidupan yang mereka anut selama itu.

Para Rasul Kristus – yang hidup dalam semangat kemiskinan – “tidak membawa apa-apa dalam perjalanan mereka” – memberikan mereka lebih banyak otoritas untuk berbicara, dimaksudkan untuk sedikit mendorong orang-orang, untuk mengkonfrontir mereka, untuk meminta mereka membuat pilihan-pilihan yang sejalan dengan Injil Yesus Kristus. Para Rasul itu diberi tugas untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Pertobatan berarti tidak hanya rasa sesal-sedih karena dosa, melainkan “membereskan” kembali seluruh kehidupan seseorang. Artinya, ada pembalikan 180 derajat, dari jalan-dosa ke jalan Allah. Dengan demikian kita harus bertanya kepada diri sendiri dan menjawabnya: Hidup macam apakah yang sesungguhnya saya inginkan? Keputusan-keputusan hidup mendasar apa saja yang harus saya buat berkaitan dengan karir saya, pekerjaan saya, relasi saya dengan anggota keluarga saya, bagaimana dengan cara membesarkan anak-anak saya?

Yesus seringkali meminta orang-orang agar mereka membuat pilihan-pilihan seperti itu. Yesus bersabda a.l.: “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku”  (Luk 11:23). “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23). Jadi, setiap orang harus membuat pilihan!

Dalam artian yang praktis, hal ini berarti menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini: Bagaimana kiranya saya akan menerima berita bahwa saya (atau seseorang yang saya kasihi) terkena penyakit kanker? Apakah saya akan jatuh dalam depresi  tanpa kesudahan? Apakah saya akan membuat diri saya pusat perhatian keluarga saya sehingga menyusahkan mereka semua? Atau, apakah saya akan mengambil kesempatan untuk menggunakan waktu saya yang tersisa dengan baik, memberikan contoh kegembiraan dan penerimaan yang rendah hati dan ikhlas terhadap kehendak Allah atas diri saya?

Bagaimana saya dapat menerima kenyataan bahwa saya di-PHK oleh perusahaan saya? Kemarahan dan penolakan? Iri hatikah saya? Atau saya dengan pemahaman yang dipenuhi kasih dan keberanian mengevaluasi masalahnya dan kemudian menerima suatu masa depan yang baru dengan penuh keyakinan akan kemampuan saya yang dianugerahkan Allah bagi diri saya? Percayakah saya pada penyelenggaran ilahi?

Semua itu adalah masalah nilai-nilai. Apakah yang sesungguhnya saya inginkan dari hidup saya ini? Kedua belas Rasul diutus untuk mengkonfrontir orang banyak dengan keputusan-keputusan sedemikian. Bacaan Injil hari ini dan para pelayan sabda yang bertugas untuk mewartakan Injil masih mengkonfrontir kita pada hari ini. Apakah tanggapan kita?

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa “apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal 6:7). Tolonglah kami agar supaya kami hanya menabur benih-benih Injil selama masa hidup kami di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PUN DIUTUS OLEHNYA PADA HARI INI” (bacaan tanggal 27-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN ALLAH

PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Selasa, 26 September 2017)

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Elzear dan Delfina 

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21) 

Bacaan Pertama: Ams 21:1-6,10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,27,30,34-35,44 

“Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21)

Ada seorang bapak kepala keluarga (namanya rahasia, ya!) yang tidak dapat secara langsung mengenali suara anak perempuannya yang mana yang sedang menelpon dia. Anak-anak perempuannya itu membuat sang ayah tersudut juga. “Ayah, kami kan anak-anakmu?! Ayah seharusnya mengenal suara kami masing-masing!” Untunglah Bapa kita di surga tidak mempunyai masalah seperti ayah itu dengan kedua anak perempuannya. Bapa surgawi mengenal suara kita masing-masing secara intim. Akan tetapi, sampai seberapa baik kita dapat mengenali suara-Nya?

Tahukah anda, bahwa kemampuan untuk mendengar suara Allah adalah bagian dari warisan kita sebagai orang-orang Kristiani terbaptis? Kita masing-masing adalah seorang anak Allah! Yesus ingin berbicara kepada kita masing-masing sama jelasnya sebagaimana Dia berbicara dengan Maria, Yosef dan keluarga besar-Nya. Selagi  kita “bereksperimen” mendengarkan suara Allah dalam doa dan kehidupan sehari-hari kita, kita akan menemukan bahwa Yesus sebenarnya berbicara kepada kita sepanjang waktu. Yesus sebenarnya senang sekali untuk bersama kita masing-masing!

Santo Ignatius dari Loyola [1491-1556], sang pendiri Serikat Yesus, mengajar bahwa jalan utama untuk mendengar suara Allah adalah melalui akal budi alamiah kita yang diangkat oleh rahmat ilahi. Apabila kita menerapkan prinsip ini ke dalam pembacaan Kitab Suci, Ignatius mengajar orang-orang untuk menggunakan imajinasi mereka. Misalnya, orang kudus ini mengatakan, cobalah untuk membayangkan diri kita berada di tengah-tengah kumpulan orang banyak yang sedang mendengarkan “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7). Atau bayangkanlah Yesus mengajak anda untuk berbicara secara pribadi setelah Ia membangkitkan Lazarus dari kuburnya (Yoh 11:1-44), atau setelah mengubah air menjadi air anggur pada pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Bayangkan diri anda memberitahukan kepada-Nya segala keprihatinan anda, dan dengarkanlah Dia dengan penuh perhatian apa yang akan dikatakan-Nya kepada anda. Anda dapat memelihara sebuah “buku catatan doa” (semacam jurnal) untuk mencatat apa saja yang anda dapatkan. Mungkin yang anda catat itu tidak selalu benar, namun apabila anda bertekun dalam hal itu, maka Yesus akan membuka telinga anda lebih lebar lagi, sehingga yang anda “dengar” itu benar tepat.

Adalah sebuah kenyataan bahwa rahmat Allah disalurkan lewat kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa. Maka, selalu ada kemungkinan bahwa apa yang kita “dengar” tidak cukup tepat. Namun dengan Kitab Suci dan Gereja yang senantiasa membimbing kita, maka kita perlu sampai melenceng terlalu jauh. Kita juga senantiasa dapat mengandalkan diri pada bantuan “Roh Kebenaran” yang diutus Yesus untuk berbicara kepada hati kita dan membimbing kita “ke dalam semua kebenaran” (Yoh 16:13).

DOA: Roh Kudus Allah, walaupun aku tidak pantas, aku tahu bahwa Engkau berbicara kepadaku lebih sering dan dalam cara yang jauh lebih bervariasi daripada yang kusadari selama ini. Tolonglah diriku agar dapat bertindak-tanduk sebagai seorang anak Allah yang sejati dengan mendengarkan firman-Mu dan mewujudkannya dalam tindakan nyata yang kulakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH” (bacaan tanggal 26-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG PELITA YANG MENYALA

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG PELITA YANG MENYALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 25 September 2017) 

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18) 

Bacaan Pertama: Ezr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

Kita semua mengetahui bahwa bagaimana caranya kita “mendengar” (lihat Luk 8:18) merupakan suatu faktor signifikan dalam hal “berjalan bersama” kita dengan Allah dan kemampuan kita menghasilkan buah untuk kerajaan-Nya. Akan tetapi kita juga mengetahui bahwa kita hidup dalam sebuah dunia yang hingar-bingar, yang dipenuhi dengan kata-kata, pandangan-pandangan, pendapat-pendapat. Radio, Televisi, jaringan internet terus terbuka sepanjang hari/malam. Jumlah majalah, tulisan berupa artikel, buku dan koran/harian begitu banyaknya, belum lagi billboards dan berbagai spanduk sepanjang jalan, bendera-bendera berbagai partai politik dll. Semua dapat menjadi pelanturan yang akan mengganggu konsentrasi dalam “proses mendengarkan” kita. Di tengah-tengah berbagai macam “distraksi” atau pelanturan ini, bagaimana caranya kita dapat mendengar suara Allah yang lemah lembut?

Apakah anda pernah mencoba melakukan percakapan dengan seseorang dalam sebuah ruangan yang berisik dan penuh sesak? Agar dapat mendengar dengan cukup baik, anda harus membuat perubahan-perbuatan dalam arti adjustments, dalam cara anda mendengarkan suara pihak lawan bicara anda. Misalnya, anda dapat mencondongkan telingamu kepadanya sehingga anda dapat memusatkan perhatian/fokus hanya pada suaranya. Atau anda dapat menarik dia ke tempat yang lebih sepi.  Demikian pula halnya kita dalam hal mendengarkan suara Allah yang lemah-lembut itu. Kadang-kadang atau malah seringkali kita harus mencondongkan telinga-hati kita kepada-Nya atau pergi ke sebuah tempat yang hening untuk berdoa.

Percayakah anda bahwa Allah dapat berbicara dengan anda? Apakah anda rindu untuk membaca Kitab Suci sedemikian rupa sehingga kelihatan bahwa nas-nas kelihatan seakan melompat keluar dari lembaran-lembaran Kitab Suci itu dan berbicara kepada anda secara langsung? Agar mampu mendengar suara Allah dengan cara-cara seperti ini, anda harus “meninggalkan” dunia dan segala pengaruhnya untuk beberapa saat lamanya. Bebaskanlah diri anda dari segala rasa susah, gelisah-khawatir dan pelanturan yang membuat kusut pikiranmu selama ini. Tanyakanlah kepada dirimu sendiri apakah anda fokus pada Allah dan mendengarkan Dia penuh perhatian tentang apa yang dikatakan-Nya?

Marilah kita membuka diri kita bagi Yesus pada saat-saat dan tempat-tempat tertentu yang khusus disediakan bagi-Nya saja. Apabila kita melakukannya dengan setia-teratur, maka banyak “kekayaan surgawi” yang tak terbayangkan akan terwujud. Doa dari hati kita yang terdalam seakan sebuah tungku-perapian untuk transformasi, tempat pertobatan. Di sinilah, pada saat yang penuh keheningan dengan Allah kita dapat berjumpa dengan Yesus, Guru kita, dan kita pun dapat menerima perwahyuan dari Roh Kudus. Marilah kita mengheningkan pikiran kita dan mencondongkan telinga kita kepada Yesus selagi Dia berbicara dengan kita.

DOA: Berbicaralah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan. Ya Allahku, berikanlah kepadaku sebuah hati yang terbuka. Bukalah pikiranku sehingga aku dapat mendengar dan menanggapi apa yang Kausabdakan kepadaku pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR” (bacaan tanggal 25-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 September 2017 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS