KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Selasa, 8 Agustus 2017

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Ordo Pengkhotbah (OP): Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata, “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Tahukah engkau bahwa perkataan-Mu itu telah membuat orang-orang Farisi sakit hati?” Jawab Yesus, “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.” (Mat 15:1-2,10-14) 

Bacaan Pertama: Bil 12:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13

Tidak berkelebihanlah apabila dikatakan dalam kesempatan ini, bahwa betapa pun sulit dan tidak jelas bacaan Mat 15:1-20 kelihatannya bagi kita, pada kenyataannya inilah salah satu dari bacaan paling penting dalam Injil. Mengapa? Karena bacaan ini menunjukkan konflik terbuka atau clash yang berkelanjutan antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi yang ortodoks. Dua ayat pertama di atas jelas menggambarkan bahwa orang-orang Farisi dan ahli Taurat jauh-jauh datang dari Yerusalem ke Galilea untuk mengajukan pertanyaan di atas kepada Yesus. Membasuh tangan sebelum makan merupakan suatu tindakan yang melambangkan pembersihan/pemurnian yang menyangkut ritus keagamaan, jadi bukan pertama-tama demi alasan higienis (Donald Senior CP, Gospel of St. Matthew, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, hal. 52).

Seseorang  dikatakan tahir/bersih dalam arti dirinya berada dalam keadaan di mana dia dapat melakukan ibadat kepada Allah. Dalam keadaan tidak tahir dia dikatakan najis, artinya tidak dapat melakukan ibadatnya guna menyembah Allah. Orang dapat menjadi najis karena melakukan kontak (misalnya menyentuh) dengan perempuan yang menderita sakit pendarahan, walaupun pendarahan untuk jangka waktu tertentu seperti menstruasi, perempuan yang baru melahirkan anak untuk jangka waktu tertentu (Im 12:1-8), para penderita penyakit kusta (Im 13) demikian pula orang kafir (non Yahudi), dsb. Kenajisan ini juga menular dari orang yang satu kepada orang lain karena bersentuhan. (Patut dicatat bahwa hal serupa bukan monopoli agama Yahudi.)

Jadi, kalau kita berbicara mengenai konflik terbuka atau clash di sini, maka ini bukanlah sekadar clash pribadi antara Yesus dan mereka, melainkan jauh melampaui, karena ini merupakan bertabrakannya dua pandangan agama dan tentunya dua pandangan tentang apa yang dituntut oleh Allah yang disembah umat-Nya. Dalam hal ini tidak ada ruang atau kemungkinan untuk suatu kompromi, atau persetujuan-kerja bersama antara dua pandangan agama. Jadi dalam hal ini mau tidak mau pandangan yang satu harus menghancurkan pandangan lainnya (William Barclay, The Daily Study Bible – The Gospel of Matthew, Volume 2, Edinburgh: The Saint Press, hal. 109).[1]

Penerapan “hukum” mengenai ketahiran dan kenajisan meluas, misalnya menentukan apa saja yang dapat dimakan atau tidak dapat dimakan oleh seorang. Pada umumnya semua buah dan sayur-mayur dapat dimakan. Namun berkenan dengan makhluk-makhluk hidup hukumnya ketat seperti termuat dalam Im 11:1-47 dan Ul 14:3-21). Dalam hal ini William Barclay mengemukakan beberapa hal:

  1. Penolakan untuk menyentuh mayat, atau makan daging dari bangkai hewan yang sudah mati (bukan karena disembelih untuk kepentingan manusia), mungkin karena kaitannya dengan kepercayaan dalam hal roh-roh jahat. Lebih mudahlah bagi orang-orang untuk berpikir bahwa roh jahat mendiami tubuh binatang atau orang mati, dengan demikian mudah masuk ke dalam tubuh orang yang memakannya atau menyentuhnya.
  2. Hewan-hewan tertentu dipandang suci dalam agama-agama lain, misalnya kucing dan buaya adalah suci di mata orang Mesir, dengan demikian wajarlah bagi orang-orang Yahudi untuk memandang hewan-hewan yang disembah bangsa lain tersebut sebagai najis (haram). Hewan-hewan itu dicap sebagai berhala dan karenanya sangat najis.
  3. Menurut pengamatan Dr. Rendle Short (The Bible and Modern Medicine), peraturan-peraturan tertentu berkaitan dengan hewan-hewan tertentu yang dipandang najis dapat dinilai bijak dari sudut kesehatan dan higiene, dan hanya aman apabila dimasak sampai matang. Bahaya tersebut bersifat minimal di dunia modern, namun sungguh berbahaya pada zaman Palestina kuno, dan memang lebih baik untuk dihindari.
  4. Tetap ada sejumlah besar kasus di mana ada hal-hal (hewan dll.) yang dipandang najis tanpa alasan yang jelas. Takhyul dapat menyebabkan hewan-hewan tertentu dipandang berhubungan dengan nasib baik atau nasib buruk, dengan ketahiran atau kenajisan.

Hal-hal seperti diuraikan di atas menjadi kesulitan dan bahkan “tragedi” karena bagi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi hal-hal tersebut menjadi masalah hidup atau mati. Dalam pikiran seorang Farisi, larangan untuk makan daging kelinci atau babi merupakan perintah Allah yang kiranya sama beratnya dengan larangan untuk berzinah. Agama menjadi semacam ember atau koper yang dipenuhi dengan berbagai aturan yang bersifat eksternal. Karena lebih mudah untuk melaksanakan peraturan dan memeriksa orang lain yang tidak melakukannya, maka segala aturan ini menjadi agama itu sendiri bagi orang-orang Farisi dkk.

Pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus adalah: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan” (Mat 15:2). Di sini mereka berbicara mengenai “adat istiadat nenek moyang” mereka. Bagi orang Yahudi, Hukum terbagi menjadi dua bagian. Ada “hukum tertulis” yang termuat dalam Kitab Suci dan ada pula “hukum lisan” seperti yang mengatur soal membasuh tangan yang terus dikembangkan oleh para ahli Taurat dari generasi ke generasi, dan semua itu dipandang sebagai tradisi atau adat-istiadat nenek moyang, yang sayangnya seringkali dipandang lebih mengikat daripada “hukum tertulis”. Semua upacara rituale ini bagi orang Yahudi ortodoks adalah “agama”. 

Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut. Dalam Mat 15:3-9 yang tidak menjadi bagian bacaan Injil hari ini, Yesus sebenarnya tidak mengedepankan kebenaran yang belum/tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi. Yesus mengingatkan para pemuka agama itu tentang hal-hal yang telah Allah telah sabdakan kepada umat Yahudi namun telah mereka lupakan, karena mereka lebih menyukai aturan-aturan ciptaan manusia ketimbang Hukum Allah yang sangat sederhana. Di sinilah letak clash atau tabrakan antara dua jenis agama dan dua jenis penyembahan kepada Allah. Bagi para ahli Kitab dan orang-orang Farisi agama adalah pelaksanaan aturan-aturan yang bersifat eksternal dan rituale, misalnya cara yang benar bagaimana membasuh tangan sebelum makan dlsb. Sebaliknya, bagi Yesus agama adalah sesuatu yang bertempat kedudukan dalam hati; sesuatu yang diungkapkan dengan penuh belarasa dan kebaikan hati, yang semuanya berada di atas dan bahkan melampaui hukum. Bagi orang Yahudi ortodoks penyembahan itu berarti rituale, hukum yang menyangkut upacara lahiriah, sedangkan bagi Yesus penyembahan adalah hati yang bersih dan kehidupan yang penuh kasih. Di sinilah letaknya clash termaksud.

“Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11). Bagi orang Yahudi ortodoks tersebut, ucapan Yesus itu terdengar sebagai sesuatu yang lebih parah daripada “kurang ajar”. Telinga mereka menjadi panas! Mengapa? Karena dengan mengatakan demikian, Yesus tidak hanya “melanggar” praktek “agama” rituale dan seremonial para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, melainkan juga Dia menghapus banyak bagian dalam bacaan Kitab Imamat. Jadi, Yesus tidak hanya menimbulkan kontradiksi dengan tradisi nenek-moyang, melainkan juga berkontradiksi dengan apa yang disabdakan dalam Kitab Suci. Sabda Yesus ini membatalkan hukum tentang apa yang halal dan haram untuk dimakan dalam Perjanjian Lama. Mungkin saja hukum ini masih diindahkan jika menyangkut kesehatan, hygiene, akal sehat dan kebijakan medis; namun tidak pernah boleh diyakini oleh kita sebagai agama. Yesus mau menekankan bahwa yang penting bagi kita bukanlah pelaksanaan rituale yang bersifat eksternal, melainkan disposisi hati kita. Tidak mengherankanlah apabila para ahli Kitab dan orang-orang Farisi menjadi kaget dan geram mendengar sabda Yesus yang revolusioner ini, karena dengan lugas dan gamblang Yesus menyatakan bahwa teori dan praktek agama mereka adalah salah besar.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk pengajaran-Mu bahwa praktek keagamaan sesungguhnya adalah masalah hati, bukan tata-cara atau rituale yang bersifat eksternal. Kami tahu bahwa bagi-Mu dan juga bagi Gereja Perdana, masalah ini adalah masalah hidup atau mati. Teristimewa bagi kami yang hidup sebagai minoritas dalam masyarakat yang sangat plural, anugerahkanlah kepada kami keberanian untuk menyatakan kebenaran yang kami yakini lewat kata-kata dan perbuatan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 12:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH” (bacaan tanggal 8-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

[1] Banyak dari uraian berikut ini diinspirasikan buku William Barclay, hal. 109-120; juga dari buku P.  George T. Montague SM, Companion God – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, New York and New Jersey: Paulist Press, 1989, hal. 170-173.