PERISTIWA TRAGIS PADA HARI ULANG TAHUN PENGUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Sabtu, 5 Agustus 2017)

Peringatan Pemberkatan Gereja Basilik SP Maria

HARI SABTU IMAM

 

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubungan dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12) 

Bacaan Pertama: Im 25:1,8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,7-8 

Peristiwa itu sedemikian tragis-mengerikan sehingga seorang penulis drama pun tidak akan mampu melukiskannya dengan lebih dahsyat lagi. Di bagian atas bangunan istana: raja sedang merayakan pesta ultahnya dengan meriah. Di bagian bawah yang gelap sedang meringkuk sang nabi seorang diri. Pesuruh yang datang ruang pesta tidak membawa kabar pembebasan melainkan datang dengan algojo untuk memancung kepala sang nabi untuk dihadiahkan kepada puteri tiri sang raja lalim karena tarian-tariannya telah membuat sang raja lupa daratan.

Dalam hal ini, siapakah yang bertanggung jawab? Pertama-tama adalah raja yang bermulut besar itu, yang dalam kondisi setengah mabuk (atau mabuk kepayang?) memberikan janji yang muluk-muluk dan kemudian sebab takut kehilangan prestise di hadapan para tamu, tega melupakan segala perasaan dan nilai-nilai susila, memerintahkan hukuman mati atas diri sang nabi. Herodes merupakan contoh pribadi yang lemah. Yang kedua adalah pemudi yang menurut tradisi bernama Salome, yang lewat tarian-tariannya telah mengobarkan nafsu para tamu dan memikat hati mereka dan yang juga ingin terasa menawan, baik bagi raja maupun hati ibunya. Yang ketiga adalah Herodias, seorang pezinah seperti raja juga, yang berniat melindungi perzinahan serta rencana ambisiusnya dan karenanya tidak segan-segan membunuh orang yang berani menegurnya, supaya dia disingkirkan. Tidak diceritakan reaksi dari para tamu yang hadir. Logis, karena mereka adalah para undangan sang raja untuk turut merayakan ulang tahunnya di istana.

Di sisi lain ada Yohanes Pembaptis, sebagai kontras dari ke tiga orang yang disebutkan di atas. Tanpa gentar serta tanpa kompromi sedikit pun sang nabi berpegang teguh pada suara hatinya dan juga tuntutan Allah, walaupun di sekap dalam ruang tahanan gelap, rasa lapar dan harus, siksaan, kesunyian dan kematian yang mengincar terus. Pada akhirnya saat kematian itu pun datang.

Mengapa orang yang jahat hampir selalu menang atas orang yang baik? Bahkan Kristus sendiri telah dikalahkan oleh para lawan-Nya. Baru sesudah kematian – dan tidak sebelumnya – datanglah perubahan.

Pembalikan semuanya baru akan terjadi dalam dunia akhirat. Pada saat itu, yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama menjadi yang terakhir. Dan tampak pula kejayaan Kerajaan Allah dengan Roh-Nya beserta segala pengikut-Nya. Barulah pada hari itu Gereja dan para beriman akan mengalami keadilan yang sejati. Oleh karena itu, barangsiapa mengharapkan sesuatu yang lain, maka dia akan mengalami kekecewaan. Memeluk agama Kristiani berarti mengikuti jejak Kristus yang memikul salib dan menaruh suatu pengharapan yang baru akan dipenuhi dalam dunia-baru nanti. Perhitungan tidak diadakan dalam dunia ini, melainkan nanti.

Pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis pada hari ulang tahun raja Herodes Antipas merupakan kekecewaan bagi semua orang yang mengharapkan kejayaan agama Kristiani dalam dunia ini. Sikap sedemikian itu terlalu picik dan sempit. Di sisi lain, ketekunan sang nabi dalam ruang tahanan yang sunyi adalah sikap iman yang sejati. Kemenangan mudah Herodias – sang ratu pezinah – adalah semangat dunia ini. Antara kedua hal itu tidak ada jalan tengah/kompromistis. Yang ada hanyalah pilihan (mutually exclusive) ini atau itu !!!

(Catatan: Uraian di atas adalah adaptasi dari tulisan Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, hal. 128-221)

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar memilih Engkau dalam segala keputusanku hari ini dan selamanya. Aku ingin Engkau menjadi pusat kehidupanku. Selamatkanlah aku dari berbagai godaan kenikmatan duniawi yang menghalangi aku untuk memilih-Mu. Bimbinglah aku dalam kebenaran-Mu dan pimpinlah aku di jalan-Mu selamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 5-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

Cilandak, 3 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS