HARTA TERPENDAM ATAU MUTIARA INDAH ADALAH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 2 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiunkula 

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46) 

Bacaan Pertama: Kel 34:29-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-7,9

Dapatkah anda membayangkan menjual segalanya yang anda miliki? Pertukaran macam apa yang mungkin memotivasi  anda untuk membuat transaksi yang begitu drastis dan radikal? Yesus menggambarkan adanya harta terpendam di sebuah ladang, dan sebutir mutiara yang indah. Akan tetapi, apa sebenarnya semua ini? Bagi seorang ahli geologi tentunya nilai sepotong batu permata lain sekali dengan apa yang dilihat oleh seorang arkeolog, atau seorang isteri boss konglomerat yang senang bersolek dan berpesta-pora. Bagaimana pun juga “beauty is in the eye of the beholder, kata orang yang berbahasa Inggris, artinya “keindahan atau kecantikan itu tergantung mata siapa yang memandangnya”. Nah, ngomong-ngomong soal “eye of the beholder” ini, maka di mata para rabi Yahudi, Yesus hanyalah seorang guru agama keliling Yahudi yang menyebabkan kepala para penguasa Romawi di tanah Palestina sedikit pusing.

Akan tetapi tentunya sekarang kita lebih mengetahui daripada para pemuka agama Yahudi itu. Dari abad ke abad banyak sekali orang  meninggalkan segalanya yang mereka miliki untuk dan demi mengikuti Yesus, seperti halnya dengan orang-orang yang diceritakan dalam perumpamaan-perumpamaan singkat di atas, dan mereka pun telah memperoleh ganjaran dari Yang Ilahi, jauh melampaui mimpi mereka yang paling ‘gila’ sekali pun. Kita masing-masing pun tentunya sudah sedikit banyak sempat memandang “batu permata atau mutiara yang sangat indah” yang bernama Yesus ini. Ingat-ingatlah lagi di mana saja, kapan saja, dengan cara yang bagaimana saja hati anda pernah merasa tersentuh dan mata anda pun terbuka bagi hal-hal yang sebelumnya tak terlihat, misalnya ketika menyanyikan doa BAPA KAMI dalam perayaan Ekaristi. Kalau tak bisa mengingatnya, maka renungkanlah betapa jauh langkah yang telah dibuat Yesus untuk menebus anda. Renungkanlah sengsara yang sedemikian dahsyat yang harus diderita-Nya agar supaya dosa-dosa kita dapat diampuni. Biarlah kebenaran-kebenaran ini meyakinkan anda bahwa anda dapat mendengar hikmat yang diucapkan-Nya bagi kehidupan anda. Biarlah semuanya itu membuktikan kepada anda bahwa meskipun dalam kemuliaan-Nya, Yesus ingin merendahkan diri-Nya agar dapat berbicara dengan anda. Dia bahkan ingin memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri sebagai asupan makanan bergizi-tinggi bagi kehidupan spiritual anda!

Bagi orang-orang tertentu, Yesus adalah sumber pembebasan/pelepasan dari pola-pola dosa yang telah mereka gumuli bertahun-tahun lamanya. Bagi orang-orang lain, Ia mungkin adalah seorang penyembuh dan penyelamat sebuah perkawinan yang sudah berada di ambang kehancuran, atau pemulih suatu relasi orangtua dan anak yang sudah genting serta berbahaya. Mungkin Ia juga telah menyembuhkan secara fisik seseorang dari penyakit tertentu, atau dari depresi dan lain-lain.

Adakah yang lain lagi, yang lebih menarik daripada Yesus, Juruselamat, Penebus, dan Pembebas kita ini? Cintakasih tanpa syarat yang dilimpah-limpahkan-Nya ke atas diri kita, kebebasan dari dosa, persekutuan dengan Roh-Nya di dalam diri kita, janji akan kehidupan kekal di surga bersama-Nya. Semua hal ini dapat menggerakkan kita setiap hari agar kita dapat memberikan sedikit lebih lagi bagian kehidupan kita, sehingga dengan demikian pada suatu hari kita sudah sepenuhnya menyerahkan diri kepada-Nya. Yesus memang harus menjadi pusat kehidupan kita!

Pengalaman pribadi akan sentuhan-Nya dalam kehidupan seseorang tidak dapat diperdebatkan. Pengalaman akan Yesus itu melampaui segala kemampuan untuk menulisnya sebagai sebuah kisah. Para penulis riwayat hidup Orang Kudus, misalnya Santo Fransiskus dari Assisi, tidak dapat menceritakan bagaimana detilnya pengalaman pribadi orang kudus ini akan Allah/Yesus. Yang jelas, setelah perjumpaan pribadi dengan-Nya, hidupnya pun diubah secara drastis, dan dia pun menghayati hidup Injili secara radikal.

DOA: Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu! Engkau adalah harta paling berharga yang aku dapat miliki, dan Engkau dengan bebas-merdeka telah memberikan diri-Mu sendiri bagiku. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu sambil melepas segalanya yang lain, sehingga dengan demikian Engkau dapat hidup di dalam diriku, dan aku dalam Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “DI MATA BAPA SURGAWI KITA ADALAH ANAK-ANAK-NYA YANG SANGAT DIKASIHI-NYA” (bacaan tanggal 2-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Agustus 2017 [Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS