YANG MELEBIHI BAIT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 21 Juli 2017

 

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8) 

Bacaan Pertama: Kel 11:10-12:14; Mazmur Tanggapan: Yes 116:12-13,15-18 

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat dan Tuhan dari Bait Allah. Orang-orang Farisi telah mengembangkan peraturan-peraturan yang ekstensif berkaitan dengan hari Sabat dan upacaya penyembahan di Bait Allah. Semua ini berasal dari hasrat yang tulus untuk melindungi apa saja yang kudus …… apa saja yang suci. Dengan memperkenankan para murid-Nya untuk melanggar peraturan-peraturan itu, sebenarnya Yesus menantang orang-orang Farisi dan semua orang untuk memandang diri-Nya sebagai Pribadi yang memegang otoritas tertinggi/final atas hari Sabat dan Bait Allah. Injil Matius mengajak kita untuk memandang Yesus, dan melihat bahwa Dia adalah pencerminan Allah sendiri, bahkan ketika Dia ditolak oleh para pemimpin agama pada zaman itu.

Yesus melihat bagaimana orang-orang Farisi melihat hukum. Bagi mereka Hukum Taurat adalah pemberian dari Allah sendiri, lalu mereka membangun di atasnya suatu sistem yang terdiri dari peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi yang digunakan untuk mengukur orang-orang lain dan memisahkan diri mereka dari para “pendosa”. Dengan cara begini mereka tidak akan “terpolusi” oleh dosa orang-orang lain. Ini adalah cara yang samasekali berlawanan dengan cara Yesus. Ia mengasosiasikan diri-Nya dengan para pendosa dan pelanggar hukum, bahkan makan bersama dengan mereka (Mat 9:9-10). Yesus, yang adalah manisfestasi kasih dan kerahiman Allah, selalu menunjukkan kasih dan belas-kasihan kepada mereka yang berada di sekeliling-Nya. Yesus tidak akan membiarkan huruf-huruf hukum membenarkan pengabaian kebutuhan manusia dan menghalang-halangi aliran cintakasih-Nya.

Dengan memperkenankan para murid untuk memetik bulir gandum pada hari Sabat dan dalam mempermaklumkan bahwa “Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat 12:6), Yesus bertindak sebagai penafsir final dari hukum yang dikirim oleh Allah. Ia menyatakan identitas-Nya sebagai Tuhan dan Mesias yang mengajar dan menghayati jalan cintakasih yang bersifat sentral bagi Kerajaan Allah.

Teladan yang diberikan Yesus dapat menolong kita memandang hidup kita sendiri untuk melihat apakah kita berjalan dalam jalan cintakasih-Nya? Apakah kita cepat mencari kesalahan  dalam diri orang-orang yang tidak memenuhi standar-standar kita sendiri? Apakah kita menarik garis perbedaan antara diri kita dan orang-orang lain berdasarkan sikap-sikap kita yang mencerminkan superioritas? Apakah kita sungguh berupaya untuk mencerminkan kasih Allah dalam kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan?

DOA: Tuhan Yesus, bahkan sekarang pun Engkau hadir di tengah-tengah kami, ya Tuhan, sebagai Pribadi yang adalah Tuhan atas hari Sabat dan lebih besar dari Bait Allah. Semoga kami mau dan mampu menaruh kepercayaan pada-Mu dan mengikuti Engkau dalam jalan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA” (bacaan tanggal 21-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangssabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements