DOA YESUS DAN PERWAHYUAN DIRI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu,  19 Juli 2017)

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mat 11:25-27) 

Bacaan Pertama: Kel 3:1-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-7 

Bacaan Injil hari ini hanya terdiri dari tiga ayat namun sarat makna. Marilah kita soroti ketiga ayat tersebut dan membaginya menjadi dua pokok, yaitu (1) Doa Tuhan Yesus kepada Bapa surgawi, dan (2) perwahyuan/pernyataan diri Yesus.

Pokok yang pertama: Doa Tuhan Yesus. Doa ini merupakan pujian kepada Bapa surgawi, yang mewahyukan rahasia-Nya kepada orang-orang kecil dan menyembunyikannya bagi orang bijak dan orang pandai.

Orang-orang bijak memandang diri mereka bijaksana. Mereka mengira bahwa diri mereka mengetahui segala-galanya dan dalam kegelapan perkiraan mereka inilah mereka menjadi tidak sanggup menerima sabda Allah. Di lain pihak, orang-orang pandai (berilmu) mengira diri mereka mampu mengerjakan segala sesuatu, sehingga sampai pada keyakinan bahwa mereka tidak membutuhkan bantuan Allah. Sebaliknya orang-orang kecil sangat menyadari bahwa dalam hal-hal yang penting mereka tidak mengetahui apa-apa. Mereka berhadapan dengan kebesaran Allah dan justru karena itu insyaf sedalam-dalamnya akan kekecilan dan kelemahan mereka sendiri, dengan demikian siap menerima kuat-kuasa yang datang dari atas dengan penuh syukur.

Kebanggaan palsu serta kecongkakan menyebabkan orang menutup diri terhadap rahmat. Maka syarat mutlak bagi iman ialah kerendahan hati. Hanya orang-orang yang sadar akan keterbatasan pengetahuan dan kemampuannya, mampu menerima sabda dan karya Allah. Di lain pihak, mereka yang mengira dapat menolong diri sendiri tanpa bantuan dari pihak Allah ujung-ujungnya akan mengalami kebinasaan, ketiadaan.

Pokok yang kedua: perwahyuan/pernyataan diri Yesus. Kata-kata Yesus: “… tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak” (Mat 11:27) menyatakan kesamaan hakekat-Nya dengan Bapa surgawi. Hanya “seorang” Pribadi saja yang mengenal Anak dengan sepenuh-penuhnya: Dia, yang karena pengenalan akan kesempurnaan-Nya sendiri melahirkan gambar-Nya, Sang Anak (Sang Putera). Dan hanya seorang pula yang mengenal Bapa surgawi sepenuh-penuhnya: Dia, citra/gambaran Bapa dan karenanya memiliki segala sesuatu yang dimiliki Bapa surgawi. Maka Anaklah yang bersabda: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku” (Mat 11:27).

Inilah kesamaan dan kesatuan mutlak antara Bapa dan Anak (Putera), sedangkan semua yang lain hanya mengenal Bapa sekadar karena diwahyukan kepadanya oleh Anak: “… dan orang yang kepada-Nya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27). Sabda Kristus ini laksana halilintar yang membelah awan-awan karena menyatakan Kristus pada bidang yang berbeda, yang berlainan sama sekali dengan manusia. Walau pun demikian, Kristus bersabda dengan kata-kata insani. Inilah perwahyuan/pernyataan diri Allah Putera sendiri, Allah-manusia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena pada saat membaca dan merenungkan Injil-Mu hari ini, Roh Kudus mengingatkan diriku bahwa Engkau adalah Putera Allah yang tunggal. Engkau lahir  dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Engkau dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAK DAPAT DIPAHAMI BERDASARKAN UKURAN-UKURAN MANUSIA” (bacaan tanggal 19-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

Advertisements