YESUS ADALAH YANG PERTAMA DAN UTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 17 Juli 2017

FSGM: Peringatan wafat Pendiri Kongregasi

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Kel 1:8-14,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8  

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37).

Bagi banyak dari kita yang mendengar sabda Yesus ini tentunya mudah sekali membayangkan seakan-akan kata ini diucapkan oleh pemimpin yang sangat egoistis, “mau menang sendiri” dst. Bukankah hubungan kekeluargaan – teristimewa relasi antara orangtua dan anak mereka – hampir selalu merupakan hubungan yang paling penting dalam hidup kita? Bukankah salah satu dari “Sepuluh Perintah Allah” berbunyi: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN (YHWH), Allahmu kepadamu” (Kel 20:12; bdk. Ul 5:16, Mat 15:4, Mrk 7:10, Ef 6:2-3)? Apalagi pada masa kehidupan Yesus di bumi, hubungan kekeluargaan bagi umat Israel sangat dijunjung tinggi ketimbang pada masa modern ini.

Maka sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini secara istimewa memberi kesan bahwa pesan yang disampaikan-Nya sungguh keras dan tajam, namun tidak boleh dibaca dan ditafsirkan secara harfiah. Di sini Yesus menggunakan hiperbola klasik orang Yahudi – yaitu  suatu pengungkapan berlebihan secara luarbiasa, dengan tujuan menyampaikan sebuah pokok pemikiran yang penting. Demi Injil, hubungan keluarga harus ditempatkan bukan sebagai prioritas utama. Relasi kita dengan diri-Nya seharusnya merupakan relasi yang paling penting dalam kehidupan kita. Tidak ada relasi apa pun (mana pun) – bahkan juga relasi dengan anggota keluarga yang terdekat –  yang harus menjadi lebih penting daripada relasi  kita dengan Yesus. Tentu saja Yesus tidak memaksudkan agar kita  berhenti mencintai/mengasihi para anggota keluarga kita atau pun orang-orang lain, melainkan menantang prioritas-prioritas yang kita tetapkan, dan Ia minta kepada kita untuk menempatkan diri-Nya dalam hati kita sebagai yang pertama dan utama.

Banyak orang mempunyai keprihatinan yang besar terhadap keluarga mereka masing-masing. Hal ini memang baik dan terpuji! Akan tetapi, kadang-kadang terjadi bahwa keprihatinan ini sangatlah menyita segala waktu, pikiran, tenaga dll. yang ada pada kita sehingga relasi kita dengan Yesus menjadi menyusut, bahkan sampai tingkat yang seminum-minimumnya. Masalah-masalah keluarga dapat mendominansi diri kita sampai begitu dalamnya, sehingga praktis kita memakai hampir seluruh waktu kita dalam mencoba menyelesaikan masalah-masalah keluarga itu dan luput menyediakan waktu bagi kehadiran Yesus. Apabila hal ini terjadi, ada risiko bahwa sesungguhnya kita mencari sumber kepenuhan dan kebahagiaan yang salah.

Menempatkan diri Yesus sebagai yang pertama dan utama dalam skala prioritas kita adalah tindakan yang sangat bijaksana dalam menjalin relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada kenyataannya, suatu hubungan yang penuh kasih dan kuat dengan Yesus sesungguhnya akan meningkatkan segala hubungan kita yang lain. Mengapa sampai begitu? Karena dengan semakin dekatnya diri kita dengan Yesus, kita pun menjadi semakin mengalami damai-sejahtera, memiliki bela rasa dan kemurahan hati. Damai-sejahtera, bela rasa dan kemurahan hati sesungguhnya adalah unsur-unsur utama yang harus senantiasa ada dalam suatu relasi yang sehat dan penuh kasih.

Bahkan dalam kasus-kasus di mana suatu komitmen radikal kepada Yesus terlihat akan menghalangi relasi-relasi yang lain – hal ini memang biasa, teristimewa bagi orang-orang dewasa yang baru menjadi murid Kristus – maka Yesus pada akhirnya akan membuat segala hal menjadi yang terbaik bagi mereka yang pertama-tama mencari diri-Nya dan terus berjuang untuk mengikuti jejak-Nya dengan lebih baik setiap hari.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Ampunilah aku untuk saat-saat di mana aku gagal menempatkan diri-Mu sebagai yang pertama dan utama di antara sekian banyak relasiku dengan berbagai pihak. Pada hari ini, sekali lagi aku membuat komitmen untuk mengasihi-Mu dan mengikuti jejak-Mu sebagai seorang murid yang setia, sebelum segalanya yang lain. Amin. 

Catatan:  Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU” (bacaan tanggal 17-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Juli 2017 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

Advertisements