Archive for July, 2017

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus de Liguori, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 1 Agustus 2017)

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Menurut Dr. William Barclay (THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Matthew – Volume 2 – Chapters 11-28, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 [Revised Edition], hal. 74), dalam hal pelajaran-pelajaran yang diberikan maka ini adalah salah satu perumpamaan yang paling praktis yang pernah diajarkan oleh Yesus. Berikut ini adalah saduran bebas saya dari pemikiran Dr. William Barclay yang tertuang dalam buku termaksud, hal. 74-75.

  1. Perumpamaan ini mengajar kita bahwa selalu akan ada suatu kekuasaan jahat di dalam dunia, yang berupaya dan menantikan saatnya untuk menghancurkan benih yang baik. Dari pengalaman dapat dilihat adanya dua jenis pengaruh yang bekerja dalam kehidupan kita. Yang pertama adalah pengaruh yang menolong benih-benih dunia menjadi subur dan bertumbuh, dan yang kedua adalah pengaruh yang berupaya untuk menghancurkan benih yang baik, bahkan sebelum benih itu dapat menghasilkan buah.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita betapa sulit untuk membedakan antara mereka yang ada dalam Kerajaan dan mereka yang tidak. Seorang pribadi manusia dapat kelihatan baik namun faktanya dia buruk. Sebaliknya, seseorang dapat kelihatan jelek/buruk namun pada kenyataannya dia baik. Kita terlalu cepat mengklasifikasikan orang-orang dan memberi mereka “label” baik atau buruk tanpa mengetahui semua fakta.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita untuk tidak cepat-cepat menilai/menghakimi orang. Apabila para penuai bekerja menurut kehendak mereka sendiri, maka mereka akan langsung saja mencoba untuk mencabut lalang, dengan demikian mereka akan mencabut juga gandum yang ada. Penghakiman harus menanti saat tuaian. Seorang pribadi manusia pada akhirnya akan dihakimi, tidak oleh satu-dua tindakannya semasa hidupnya, melainkan oleh keseluruhan hidupnya. Penghakiman baru dapat terlaksana pada titik akhir. Seseorang dapat saja membuat suatu kesalahan besar, kemudian menyesali perbuatannya itu, dan oleh rahmat Allah dia melakukan pertobatan yang membuat sisa hidupnya menjadi sebuah persembahan yang indah bagi Allah. Sebaliknya, seseorang dapat saja menjalani hidup saleh, namun kemudian mengalami kehancuran hidup disebaban keruntuhan akhlak serta kejatuhannya ke dalam jurang dosa. Tidak ada seorang pun yang hanya melihat sebagian saja dari satu keseluruhan dapat memberi penilaian atas keseluruhan tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hanya sebagian saja dari kehidupan seseorang dapat memberi penilaian atas keseluruhan pribadi orang tersebut.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa penghakiman datang pada titik akhir. Penghakiman tidak datang dengan tergesa-gesa, tetapi pasti datang. Berbicara secara manusiawi, seseorang dapat saja seorang pendosa menghindari konsekuensi-konsekuensi dosanya, namun ada kehidupan yang akan datang. Berbicara secara manusiawi, kebaikan tidak pernah kelihatan akan memperoleh ganjarannya, tetapi ada sebuah dunia baru untuk memperbaiki ketidakseimbangan di masa lampau.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa satu-satunya Pribadi yang berhak untuk menghakimi adalah Allah. Allah saja-lah yang dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya Allah-lah yang melihat semua aspek/bagian dari seorang manusia dan seluruh kehidupannya. Hanya Allah-lah yang dapat menghakimi.

Dengan demikian, pada akhirnya dapat dikatakan bahwa perumpamaan ini mempunyai dwifungsi: (1) sebagai peringatan agar kita tidak menghakimi orang lain; dan (2) sebagai peringatan bahwa pada akhirnya datanglah penghakiman dari Allah sendiri.

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengingatkan lagi kepada kami ajaran-Mu yang menekankan bahwa kami tidak boleh menghakimi orang lain. Penghakiman adalah hak Bapa surgawi semata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]” (bacaan tanggal 1-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Juli 2017 [Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam – Pendiri Tarekat SJ] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ADONAN RAHMAT

ADONAN RAHMAT

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Loyola, Imam – Senin, 31 Juli 2017)

Serikat Yesus [SJ]: Hari Raya Ignasius dr Loyola, Imam, Pendiri Tarekat

 

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

Tentu sebagian besar dari kita mempunyai wéker (Inggris: alarm clock) dalam salah satu bentuknya, apalagi dengan tersedianya berbagai peralatan yang semakin modern ini (smart phones dlsb.). Kita memang membutuhkan peralatan seperti itu, karena pada waktu yang ditetapkan oleh kita, alat itu akan berbunyi dan membuat kita “keluar” dari tidur kita. Namun alat itu tidak akan mampu membangkitkan kita dari tempat tidur kita. Banyak dari kita tentunya dikagetkan oleh bunyi wéker pada jam 4 pagi, namun langsung tidur lagi setelah mematikannya.

Semoga contoh wéker ini dapat menggambarkan “ragi” yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, “adonan” Kerajaan Allah yang adalah “rahmat”, adonan sesungguhnya dalam hidup seorang Kristiani. Rahmat sesungguhnya dapat menyentuh kita setiap saat dalam satu hari kehidupan kita, seperti tiupan angin sepoi-sepoi basa di musim panas, atau seperti hujan badai yang disertai sambaran kilat yang sambung menyambung. Atau, rahmat itu datang kepada kita melalui kata-kata penuh hikmat yang diucapkan oleh seorang sahabat, atau sebuah gambar, dlsb.

Jadi, apakah yang dimaksudkan dengan “adonan indah” atau rahmat ini? Rahmat sesungguhnya adalah pertolongan dari Allah untuk kita agar dapat hidup sebagai orang-orang Kristiani yang sejati. Kita menerima rahmat ini banyak kali dalam sehari. Ini adalah bantuan batiniah yang diberikan Allah untuk memperkuat diri kita ketika kekuatan memang dibutuhkan oleh kita, untuk memberikan sukacita, keberanian, pengharapan kepada kita yang melampaui kemampuan manusiawi kita. Jadi, seperti bunyi wéker yang bordering-dering di dalam diri kita, Tetapi lebih dari wéker biasa, karena rahmat tidak saja mengingatkan kita untuk bangun dari tidur, melainkan juga memberikan dorongan kepada kita, rahmat menolong kita untuk bangkit ke luar dari kedosaan kita, untuk bangkit dari hal-hal yang sekadar natural.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, “…… Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Inilah rahmat yang sesungguhnya. Rahmat tidak hanya menginspirasikan kita akan hal yang baik, melainkan juga menolong kita untuk mewujudkannya. Kita hanya akan menghasrati hal-hal yang baik apabila pikiran kita dicerahkan. Kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan “baik”. Jadi kita tidak dapat menutup diri terhadap rahmat pengetahuan. Kita harus membuka diri terhadap sang Terang, berkemauan untuk melakukan pembacaan bacaan yang baik (Kitab Suci dlsb.), untuk berpikir dan memikirkan hal-hal yang baik, untuk berdoa. Kita harus senantiasa memohon kepada Allah untuk menerangi kegelapan hati kita.

Namun demikian, walaupun kita telah dicerahkan untuk mengenal mana yang benar ketimbang mana yang salah, kita membutuhkan “adonan rahmat” guna membangkitkan kita agar melakukan hal-hal yang baik. Allah memberikan pertolongan ini, kekuatan ini, dorongan dan hasrat untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kita semua pasti pernah mengalami desakan-desakan dalam batin kita untuk memikirkan, mengambil sikap dan/atau melakukan hal-hal tertentu yang baik, namun seringkali kita tidak mempedulikan desakan-desakan batiniah tersebut.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah Yang Mahatahu. Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku (Mzm 139:8-10). Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “BIJI YANG PALING KECIL DAN KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JALA BESAR YANG MENGUMPULKAN BERBAGAI JENIS IKAN

JALA BESAR YANG MENGUMPULKAN BERBAGAI JENIS IKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI  MINGGU BIASA XVII [TAHUN A], 30 Juli 2017)

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” (Mat 13:44-52) 

Bacaan Pertama: 1Raj 3:5,7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:57,72,76-77,127-130; Bacaan Kedua: Rm 8:28-30 

Hanya Allah sajalah yang merupakan harta yang dapat memuaskan kerinduan hati yang terdalam dari seorang manusia. Berbahagialah mereka yang menemukan harta ini dan mau membayar harga penuh yang diminta.

Dalam Bab 13 Injilnya, Matius menyusun serangkaian pengajaran Yesus dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan untuk mencerahkan kita tentang misteri oposisi terhadap Yesus yang semakin gencar dari hari ke hari. Dalam bab ini Matius mempunyai pesan yang kuat bagi Gereja pada zamannya. Dengan mengundang para pembaca Injilnya untuk merenungkan sikap dan perlakuan permusuhan yang telah dialami Yesus, maka mereka akan dapat memahami permusuhan serta campuran antara yang baik dan buruk yang merupakan pengalaman harian mereka.

Alangkah baiknya jika kita mencoba untuk memahami segala peristiwa yang kini sedang dialami oleh saudari-saudara kita di Irak – yang disebabkan oleh sikap dan perilaku bermusuhan yang ditunjukkan oleh ISIS – dalam terang perumpamaan-perumpamaan Yesus hari ini. Demikian pula kritik-kritik terhadap Gereja yang datang dari berbagai pihak! Perumpamaan-perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga seharusnya mengangkat hati  kita dalam sukacita jika kita memikirkan segala hal yang telah diberikan kepada kita dalam iman: dukungan-dukungan berbagai sakramen, contoh hidup orang-orang lain dan banyak lagi hal yang mengingatkan kita akan kasih dan pemeliharaan Allah bagi kita.

Di lain pihak, perumpamaan tentang jala besar mengingatkan kita pada keberadaan bermacam-macam orang yang melayani Kerajaan Allah di dunia ini. Kata lain untuk menggambarkan sebuah jala besar yang dapat menampung segala macam ikan dan binatang laut adalah “katolik”. Waktu untuk memisahkan  ikan yang baik dan yang jahat belum dilakukan karena perahu masih berada di tengah laut. Sementara badai kritik sedang bertiup kencang dan perahu kita penuh dengan segala macam ikan, apa yang paling dibutuhkan sekarang adalah keseimbangan. Keseimbangan inilah yang didoakan oleh Salomo (lihat bacaan pertama) … hati  yang faham menimbang perkara … yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Hikmat ini digambarkan oleh seorang Saudara Dina (Richard Rohr OFM) sebagai kemampuan untuk memegang bersama hal-hal yang bertentangan satu sama lain dalam keseimbangan.

Dalam Gereja Katolik terdapat hikmat besar yang selama ini telah mampu menjaga keseimbangan antara “sayap kiri” dan “sayap kanan”, “progresif” dan “konservatif”, dunia pertama, dunia kedua dan dunia ketiga. Dalam artian tertentu Gereja bukanlah dari dunia ini dan jiwa-jiwa besar telah diinspirasikan untuk menarik diri dari hiruk pikuk kota besar untuk kemudian masuk ke dalam padang gurun dan biara-biara. Namun Gereja yang sama adalah garam masyarat dan terang dari pikiran-pikiran yang mendidik, memajukan ilmu pengetahuan dan kesenian, merintis rumah-rumah sakit dan segala macam pelayanan terhadap sesame manusia.

Gereja yang tidak duniawi ini penuh dengan pengertian dan bela rasa terhadap orang-orang berdosa yang hidup di dunia. Misalnya, ideal monogami dan cinta kasih penuh kesetiaan dijunjung tinggi, namun Gereja akan sangat terlibat dalam upayanya mendukung pasangan suami-istri yang sudah bercerai, dan menolong mereka yang menjadi korban penyakit HIV-AIDS. Bahkan mereka yang menderita karena tidak mengikuti peraturan Gereja akan melihat bahwa Gereja yang sama mendukung mereka dalam hal pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka. Seperti seorang ibu yang memperingatkan anaknya akan bahaya dari langkahnya yang keliru, sang ibu itu pula yang pertama-tama menolong anaknya yang tidak mengacuhkan peringatan akan bahaya tersebut. Gereja mengkhotbahkan kesempurnaan, namun senantiasa terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bersumber pada ketidaksempurnaan para anggotanya.

Gereja tidak mempunyai opsi untuk menjadi konservatif atau progresif. Gereja memelihara vitalitasnya hanya dengan menanggapi secara progresif berbagai kebutuhan baru yang timbul dari situasi-situasi yang berubah dari waktu ke waktu. Namun Gereja hanya membuat langkah maju apabila memelihara apa yang benar dan baik dan indah dalam tradisinya. Jadi dalam khasanah Gereja tersimpanlah hal-hal yang baru dan lama.

Dalam Gereja kita menemukan ruangan yang dapat mengakomodir semua ketegangan yang disebabkan berbagai kontradiksi yang kita hadapi. Dalam Gereja kita dapat merasa nyaman dengan berbagai unsur tubuh dan jiwa, keutamaan dan kejahatan, gelak-tawa dan air mata, istirahat dan kegiatan, bertumbuh dan mengalami proses kematian. Gereja adalah sebutir mutiara yang tak ternilai harganya, namun pada saat yang sama merupakan jala besar yang menampung berbagai jenis ikan di dalamnya.

(Tulisan ini merupakan saduran bebas dari tulisan P. Silvester O’Flynn OFMCap., The Good News of Matthew’s Year, Dublin, Ireland: Cathedral Books-The Columbia Press, hal. 193-195)

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena hanya kasih-Mu saja kami Kaupilih untuk menjadi anggota Gereja, yang adalah Tubuh-Mu sendiri. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-52), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK PERLU TAKUT” (bacaan tanggal 30-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARTA DARI BETANIA PERCAYA

MARTA DARI BETANIA PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Marta – Sabtu, 29 Juli 2017)

Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.”  Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepada, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akah hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 11:19-27) 

Bacaan Pertama: Kel 24:3-8 atau 1Yoh 4:7-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15 atau Mzm 34:2-9; Bacaan Injil Alternatif: Luk 10:38-42.

Tentu kita masih ingat bacaan Injil Misa Kudus alternatif (Luk 10:38-42) yang menggambarkan betapa sibuk Marta dengan pekerjaan dapur, melayani dst., ketika Yesus dan beberapa murid-Nya mengunjungi rumah-Nya, sampai-sampai dia seakan ‘lepas kendali’ dengan ‘menegur’ Yesus: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku (Maria) membiarkan aku melayani seorang diri?” (Luk 10:40). Lepas dari masalah tersebut, kita tidak dapat pungkiri bahwa Marta memang seorang nyonya rumah yang baik.

Namun kalau kita hanya mengingat-ingat Marta seperti ini, maka pandangan kita belumlah lengkap tentang sosok perempuan ini. Lebih dari apa pun yang lain, kita harus mengenang Marta untuk pengakuan imannya yang berani: “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27) yang terdengar sangat memiliki kemiripan dengan pengakuan Simon Petrus di daerah Kaisarea Filipi: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Bayangkanlah betapa beraninya Marta membuat proklamasi sedemikian. Ingatlah bahwa dia melakukannya bukan di tempat sunyi atau semacam ‘kamar pengakuan’. Tentu ada orang lain juga yang mendengarnya. Lazarus telah mati empat hari lamanya, dan jenazahnya tentu sudah mulai rusak. Namun tanpa memahami apa yang akan diperbuat oleh Yesus, Marta tokh percaya. Meski secara alami kondisi dari jenazah Lazarus mengatakan lain, Marta mengalami peningkatan iman. Ternyata pemahamannya tidak berhenti pada tingkat natural/alamiah, melainkan meningkat kepada suatu tataran supernatural. Jadi, walaupun sekali-kali dia menunjukkan “kelemahan” sebagai seorang pribadi (ingat episode ‘kunjungan Yesus dalam Injil Lukas yang disebutkan tadi), Marta adalah seorang pribadi yang memiliki iman-kepercayaan sejati.

Kasus Marta kali ini membuktikan bahwa, bahkan orang-orang yang kurang memiliki saat-saat gemilang sekali pun, mampu untuk memiliki iman yang besar. Kasus Marta ini mengajar kita untuk tidak memandang remeh iman dan rahmat yang diberikan kepada kita pada waktu baptisan. Semoga kita tidak pernah memasang batas atas diri kita sendiri, dan berpikir, “Ah, aku mungkin tidak memiliki iman seperti Simon Petrus atau Maria. Kiranya bagianku hanyalah membersihkan kursi, bangku dan apa saja di dalam gedung gereja yang perlu dibersihkan.” Memang ada banyak sekali ‘batas’ yang dapat kita pasang atas diri kita sendiri.

Kita masing-masing dapat dan mampu untuk mengungkapkan iman-kepercayaan kita dengan berani. Kadang-kadang iman ini mencuat keluar dari suatu krisis, seperti kematian seseorang yang kita cintai, yang menjadikan fokus apa yang sesungguhnya kita percayai. Akan tetapi, bisa juga bertumbuh pada berbagai saat dan kesempatan yang biasa-biasa saja. Meskipun dalam tugas sehari-hari yang rutin kita dapat mencoba menemukan cara-cara kecil untuk melangkah dalam iman dan ketaatan. Yang paling kecil pun dari langkah-langkah iman dan ketaatan kita sangat berharga di mata Tuhan.

Sebenarnya tidak ada batas kemungkinan bagi mereka yang berniat mengekspresikan imannya dengan berani. Yang perlu kita lakukan adalah membuka diri kita untuk ‘bereksperimen’ dengan rahmat Allah. Berilah kesempatan kepada-Nya untuk menyatakan kebaikan-Nya. Jangan merendahkan harapan kita sendiri sehubungan dengan apa yang dapat dilakukan oleh Allah atas/dalam diri kita. Perkenankanlah Dia untuk membuat diri kita masing-masing menjadi sebuah pilar iman, a pillar of faith. Ayo, Saudari dan Saudaraku Kristiani, bangkitlah dari tidurmu!

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya Engkau dan janji-janji-Mu. Hari ini aku akan hidup untuk-Mu saja. Anugerahkanlah rahmat-Mu kepadaku agar mampu berjalan dalam terang-Mu dan mengalami banyak saat iman yang terang-benderang pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Alternatif hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “MENGENAL MARTA, SAUDARI DARI MARIA DAN LAZARUS DARI BETANIA” (bacaan tanggal 29-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017.   

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Juli 2017 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERSIAPKAN DIRI KITA MENJADI TANAH YANG BAIK

MEMPERSIAPKAN DIRI KITA MENJADI TANAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI –  Jumat, 28 Juli 2017)

Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di  tanah yang berbatu-batu ialah orang yang  mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang ini pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat 13:18-23)

Bacaan Pertama: Kel 20:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Marilah kita membayangkan perumpamaan tentang seorang penabur yang diajarkan Yesus (Mat 13:1-9). Ada sejumlah imaji yang langsung bermunculan dalam pikiran kita: benih-benih yang tersebar di beberapa tempat sepanjang jalan yang dilalui sang penabur, ada benih-benih yang jatuh di tanah di pinggir jalan, ada benih-benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, ada benih-benih yang jatuh di tengah semak duri, dan ada pula benih-benih yang jatuh di tanah yang baik. Kita bahkan dapat membayangkan diri kita mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda bahwa kita memahami apa yang dijelaskan tentang makna perumpamaan ini: “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (Mat 13:23).

Ini adalah sebuah kesaksian tentang keterampilan atau katakanlah kepiawaian Yesus sebagai seorang pengkhotbah, sehingga berbagai imaji ini tetap begitu hidup dan mengesankan bagi kita. Namun demikian, dapatkah kita “memindahkan” berbagai simbol familiar dari perumpamaan ini ke dalam hidup kita? Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri kita menjadi “tanah yang baik” bagi sabda Allah? Bagaimana kita dapat menjadi bagian dari mereka yang mendengar sabda Allah dan menghasilkan buah?

Sebuah petunjuk terdapat dalam bacaan pertama (Kel 20:1-17). Dalam mengumumkan “Sepuluh Perintah”-Nya, Allah menetapkan bagi kita masing-masing suatu panggilan untuk menjadi kudus: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. …… Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri.” Hukum-hukum ini membentuk suatu garis pembatas yang tak dapat kita langgar. Apabila kita melanggarnya, kita tahu bahwa kita telah berdosa dan tidak memenuhi panggilan kita untuk menjadi kudus tersebut. Atau, menggunakan penggambaran dari perumpamaan Yesus, kita dapat mengidentifikasikan berbagai rintangan yang menghalangi pertumbuhan sabda (firman) Allah dalam diri kita.

Namun ada satu hal lagi sehubungan dengan pesan Yesus tentang pentingnya tanah yang baik. Tanah yang paling subur pun butuh dipelihara dan dikelola dengan seksama oleh petani. Tanah yang baik butuh dibajak dlsb. Batu-batu yang ada di sana-sini harus dibuang. Untuk mendalami perumpamaan ini lebih lanjut, kita dapat bertanya, Peralatan apakah yang  harus kita gunakan untuk mengerjakan “tanah” yang menjadi dasar hati kita? Bagaimana kita dapat menyuburkan dan memperkaya “dasar batiniah” kita? Tentu saja, kita menyuburkan hati kita melalui doa dan bacaan Kitab Suci, namun kita juga harus melakukan pemeriksaan batin dan pertobatan guna membuang berbagai rintangan dan mengerjakan tanah dasar hati kita itu agar dapat ditanami secara baru.

Semakin kita melakukan pertobatan, kita pun menjadi semakin menjadi reseptif terhadap sabda Allah dan semakin berlimpah pula tuaian dari kebaikan-Nya dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita tidak mengabaikan atau menghindari upaya untuk melihat dosa-dosa kita, melainkan menerima pertobatan sebagai suatu karunia. Allah kita penuh belas kasih. Jika kita membuka hati kita bagi-Nya, maka kita akan melihat buah-buah-Nya dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, sejak sediakala Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Dan, belas kasih-Mu ini tanpa batas. Anugerahkanlah kepadaku rahmat agar mau dan mampu membuka hatiku lebih lebar lagi bagi sabda-Mu, hari demi hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:18-23), bacalah tulisan yang berjudul “KARYA TRANSFORMASI DARI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA” (bacaan tanggal 28-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juli 2017 [Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KRISTUS TERUS SAJA MENGETUK PINTU HATI KITA

KRISTUS TERUS SAJA MENGETUK PINTU HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Kamis, 27 Juli 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Perawan (Ordo II – Ordo Santa Klara) 

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus, “kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia  berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Jadi, pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak memahami. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. (Mat 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Kel 19:1-2,9-11,16-20b; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-54,56 

Sejak awal mula, Allah sudah berhasrat untuk memenuhi diri kita (manusia) dengan kehidupan ilahi dan menarik kita ke dalam pelukan-Nya. Allah memiliki hasrat agar kita mempunyai suatu relasi dengan diri-Nya di mana kita belajar daripada-Nya, menerima berkat-berkat-Nya yang tak terbilang banyaknya, dan membuat dunia ini menjadi suatu pencerminan yang lebih sempurna dari kemuliaan-Nya dan kasih-Nya.

Ingatkah anda akan lukisan Kristus yang berdiri di depan sebuah rumah dan mengetuk pintu rumah itu, dan pintu bagian depannya tidak mempunyai tombol pembuka? Pelukis aslinya adalah William Holman Hunt dan lukisannya diberi nama Light of the World. Maksud lukisan itu adalah, bahwa Kristus Yesus hanya dapat masuk ke dalam rumah itu apabila orang yang berada dalam rumah tersebut membukakan pintu dari dalam. Ya, Kristus memang selalu ingin masuk ke dalam hati kita, tetapi sungguh tergantung kepada kita sendiri apakah kita mau membuka pintu hati kita, membuka diri kita? Satu petikan dari Kitab Wahyu: “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why 3:20). Jadi, orang yang berdiam di dalam rumahlah yang harus mengambil keputusan: membuka atau tidak membuka pintu rumahnya.

Banyak dari kita telah mendengar Tuhan Yesus Kristus mengetuk-ngetuk pintu hati kita dan pintu pun kita buka. Barangkali kita membukanya tidak lebar-lebar, namun sempat juga mencicipi kebaikan-Nya. Pintu kebanyakan kita memang masih belum terbuka lebar-lebar, padahal Kristus ingin agar kita membukanya semakin dan semakin lebar lagi, agar dengan demikian kita dapat menerima lebih banyak berkat dari diri-Nya. Kita tidak boleh sungkan-sungkan atau bahkan “pelit” dalam membuka pintu hati kita bagi Kristus Yesus, padahal Ia yang penuh belas kasihan dan bela rasa itu ingin memberikan begitu banyak kebaikan bagi kita.

Saudari dan Saudaraku, Allah kita itu tanpa batas dalam hal rahmat yang hendak dicurahkan-Nya ke atas diri kita masing-masing. Dia juga tanpa batas dalam hal hikmat-kebijaksanaan, dalam hal belas kasihan, atau dalam hal berkat-berkat-Nya yang serba melimpah itu. Tidak ada ujung atau batasnya, apabila kita berbicara mengenai kehidupan ilahi yang tersedia bagi kita, apabila kita tetap rendah hati dan terbuka untuk menerimanya. Bahkan pada hari ini pun Kristus masih terus mengetuk pintu hati kita. Bahkan pada hari ini pun Ia masih bertanya kepada kita masing-masing: “Apakah anda masih merasa haus dan lapar? Apakah anda percaya bahwa masih ada banyak lagi yang dapat anda terima?”

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku ingin membuat tanggapan terhadap rahmat yang Dikau tawarkan kepadaku sekarang. Ampunilah aku karena terkadang aku tidak membuka pintu hatiku dan mencoba untuk menjauh dari diri-Mu.  Ya Tuhan dan Allahku, aku telah berketetapan hati untuk selalu terbuka bagi kehendak-Mu atas kehidupanku, sekarang dan selamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “HUKUM KEHIDUPAN YANG KERAS” (bacaan tanggal 27-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini  bersumberlam sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 25 Juli 2017 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Selasa,  26 Juli 2017)

 

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17

Oleh karena Yoakim dan Anna adalah kakek dan nenek dari Yesus, maka peringatan hari ini menjadi peringatan istimewa bagi para kakek dan nenek juga. Banyak kakek-nenek kita yang merasa prihatin melihat anak-anak dan cucu-cucu mereka tidak mengenal Allah dan tidak pergi ke Gereja. Hal ini merupakan hal serius kalau kita berbicara teristimewa mengenai negara-negara Eropa Barat dan negara-negara lain yang tergolong maju yang selama berabad-abad dikenal sebagai negara-negara Kristiani. Namun hal ini terjadi di mana-mana, bahkan juga di negeri kita.

Sesungguhnya Allah ingin mendukung para kakek-nenek yang merasa prihatin tersebut. Lewat nabi Yesaya TUHAN (YHWH) berjanji: “Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN” (Yes 59:21).

Allah juga tidak ingin mempermalukan para kakek-nenek mempermalukan diri mereka sendiri karena anak-anak dan cucu-cucu mereka kurang beriman. Adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa karena diciptakan dengan kehendak bebas, maka dapat saja terjadi bahwa orangtua yang baik pun mempunyai anak yang buruk. Walaupun demikian, mereka hendaknya mengakui bahwa  mereka telah membuat masalah-masalah menjadi lebih buruk karena dosa-dosa mereka sendiri. Para kakek-nenek perlu bertobat dan dengan demikian mereka mengeluarkan balok dari mata mereka sendiri (lihat Mat 7:5). Dengan begitu mereka akan mampu melihat untuk dapat mengeluarkan serpihan kayu dari mata anak-anak mereka.

Para kakek-nenek hendaknya memusatkan perhatian mereka untuk mengarahkan anak-anak mereka menuju pertobatan daripada kebanyakan lalu lebih memperhatikan cucu-cucu mereka, karena cucu-cucu itu lebih terbuka menerima kakek-nenek mereka. Hal terbaik yang dapat dilakukan para kakek-nenek bagi cucu-cucu mereka adalah bukannya dengan mengurangi tanggungjawab orangtua mereka, melainkan dengan dukungan doa memberi tantangan terhadap para orangtua cucu-cucu mereka agar mereka berbalik kepada Yesus Kristus dan memberi tanggungjawab mereka untuk mendidik anak-anak mereka (artinya cucu-cucu kakek-nenek tersebut). Yesus Kristus adalah Harapan kita.

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan S. Yoakim dan S. Anna ini, kami mendoakan agar para kakek-nenek menjadi kakek-nenek yang agung dengan menerima rahmat-Mu guna menjadi para orangtua yang agung. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan berjudul “KEDUA ORANGTUA SP MARIA” (bacaan tanggal 26-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS