TUBUH DAN DARAH-NYA YANG MAHAKUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS [TAHUN A] – Minggu, 18  Juni 2017)

 

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58) 

Bacaan Pertama: Ul 8:2-3,14b-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Kedua: 1 Kor 10:16-17

“… dengan mata badaniah kita yang kita lihat adalah roti dan anggur; tetapi hendaklah kita melihat dan percaya dengan teguh, bahwa itu adalah tubuh dan darah-Nya yang mahakudus, yang hidup dan benar.” (S. Fransiskus dr Assisi, “Petuah-Petuah” 1:21)

Satu dari alasan-alasan yang paling menyenangkan dan paling natural bagi keluarga-keluarga dan/atau sahabat-sahabat untuk berkumpul bersama adalah untuk berbagi makanan/minuman dalam sebuah perjamuan. Ini adalah suatu kebiasaan yang bersifat universal sejak awal mula sejarah manusia.

Orang-orang Ibrani kuno, dengan adat kebiasaan keluarga dan praktek-praktek keagamaan mereka mempunyai banyak peristiwa/peringatan untuk dijadikan alasan berkumpul di sekeliling meja perjamuan kudus mereka. Satu perjamuan yang sangat signifikan adalah yang dimaksudkan untuk merayakan Paskah, yang memperingati pembebasan bangsa mereka dari perbudakan Mesir.

Yesus dan para murid-Nya (catatan: Yohanes Penginjil tidak menyebut mereka “rasul-rasul”, melainkan “murid-murid”) sungguh setia dalam melaksanakan rituale Paskah setiap tahunnya. Berkaitan dengan Perayaan Paskah ini, Yesus menginisiasi suatu perjamuan kudus lainnya, yaitu Perjamuan Terakhir. Dalam perjamuan malam itu, Yesus bersabda: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! … perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24,25). “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” adalah kata-kata suci yang selalu digunakan oleh umat Kristiani dalam dalam menghormati dan memenuhi perintah dari Sang Juruselamat, yang diberikan pada malam sebelum kematian-Nya di kayu salib. Ketika kita berkumpul dalam Misa Kudus, kita merayakan dan meneruskan serta melanggengkan arahan yang diberikan oleh Yesus ini, yang diucapkan-Nya pada Perjamuan Terakhir.

Hari Raya Corpus Christi (resminya dalam Bahasa Indonesia: “Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus”) yang kita rayakan pada hari ini mengingatkan kita akan martabat dari Perjamuan Terakhir dan warisan berharga berupa kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita manakala kita berkumpul dalam iman di sekeliling meja-Nya. Yang kita terima adalah tubuh dari Tuhan yang sudah bangkit, dan dalam hal ini kita juga diingatkan akan kasih-Nya yang kekal-abadi bagi kita masing-masing. Kuat-kuasa-Nya, hikmat-Nya dan persahabatan-Nya datang kepada kita ketika kita menerima sang Roti Kehidupan.

Ekaristi Kudus kiranya serupa dengan syering minum anggur dalam sebuah perjamuan keluarga sambil mengenang kepala keluarga yang sudah almarhum, yaitu sang pembuat air anggur yang tinggi kualitasnya. Ekaristi Kudus serupa, tetapi tidak sama – malah mengandung makna yang lebih lagi – ketimbang apa yang digambarkan tadi. Ekaristi Kudus adalah kehadiran riil dari Tuhan yang telah bangkit yang tinggal dengan umat-Nya dalam tubuh-Nya yang dipermuliakan. Ini adalah cara-Nya yang unik untuk bersama kita selalu.

Hari Raya Corpus Christi menimbulkan memori-memori dari Ruang Atas tempat diselenggarakannya Perjamuan Terakhir, penggandaan roti, manna di padang gurun dll. Hari raya ini adalah sebuah kenangan akan masa lalu.

Hari Raya Corpus Christi berbicara kepada kita hari ini. Yesus bersabda: “Akulah roti kehidupan” (Yoh 6:48,51). Artinya sekarang juga, hari ini, karena diucapkan dengan menggunakan present tense.  Melalui penerimaan kita akan Roti Kehidupan, diri kita diperkuat pada saat ini juga.

Hari Raya Corpus Christi juga sebuah janji masa depan, janji kekal: Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:58).

DOA: Tuhan Yesus, dalam Ekaristi Kudus yang luhur Kauwariskan kepada kami peringatan akan wafat dan kebangkitan-Mu. Semoga kami menghormati misteri kudus tubuh dan darah-Mu dengan pantas, sehingga kami selalu dapat menikmati hasil penebusan-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:51-58), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH ROTI KEHIDUPAN YANG TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 18-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

Cilandak, 16 Juni 2017 [Peringatan B. Anisetus Koplin, Imam dkk. Martir Polandia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements