Archive for June 16th, 2017

YA ATAU TIDAK

YA ATAU TIDAK

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 17 Juni 2017

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12

Bagian dari “Khotbah di Bukit” ini diperkenalkan, seperti juga bagian-bagian lainnya, seperti berikut: “Kamu telah mendengar ……, tetapi Aku berkata kepadamu ……” Yesus berkata bahwa Dia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17). Dalam begitu banyak kasus, hukum telah dibuat encer (dibuat ringan) atau ditafsirkan secara kaku, jika tindakan itu menolong mereka yang memegang kekuasaan.

Dalam bacaan yang diambil dari “Khotbah di Bukit” ini Yesus mengatakan bahwa hukum lama ditafsirkan sebagai “Jangan bersumpah palsu”. Sebenarnya kita tidak diperkenankan bersumpah sama sekali, walaupun ketika bersumpah kita menggunakan segala macam pengganti/substitut dari Nama Ilahi. Bersumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem dlsb. tetap merupakan suatu tanda bahwa kita (anda dan saya) menilai diri kita sendiri sebagai orang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya.

Sebuah sumpah adalah suatu cerminan dari keadaan kedosaan seseorang. Sumpah menunjukkan kecenderungannya untuk berbohong, ketidakjujurannya. Dalam upaya untuk mengatasi ini dan memperkuat “kebenaran”, digunakanlah sumpah. Apabila kita mempunyai kecenderungan untuk menaruh kepercayaan, untuk percaya kepada orang-orang lain, untuk menerima apa yang dikatakan oleh mereka, maka sumpah tidak memiliki tempat sama sekali.

Jadi, sumpah adalah sebuah tanda bahwa kita menerima hal-hal yang buruk ini (kebohongan dlsb.) sebagai hal-hal yang normal-normal saja. Kita tidak memiliki ekspektasi adanya kebenaran atau rasa percaya antara orang-orang. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia berkata bahwa apa pun yang lebih atau kurang daripada YA atau TIDAK berasal dari Iblis.

Yesus membawakan kepada kita Dispensasi Baru. Dia telah menjanjikan kepada kita Roh-Nya dengan segala buah-buah, segala anugerah, segala karunia-Nya. Dalam Kehidupan Kristiani yang sejati haruslah ada kasih, rasa percaya, kebenaran dlsb. Dalam sebuah masyarakat atau komunitas sedemikian tidak ada tempat untuk sumpah. Memperkenalkan sumpah ke dalam hidup kita sebagai umat Kristiani hanya akan mengembalikan kejahatan-kejahatan berupa ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar hidup dalam Kerajaan-Mu dengan kasih dan rasa percaya satu sama lain. Jagalah agar kata-kata yang kami ucapkan senantiasa dapat dipercaya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 17-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2017 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT

VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 16 Juni 2017)

 

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-18

Injil Matius dirancang dengan sangat hati-hati guna menggambarkan Yesus sebagai sang Mesias yang menginaugurasikan Kerajaan Allah yang sudah lama ditunggu-tunggu. Dalam pengajaran “Khotbah di Bukit” kali ini, Matius mengedepankan undangan Yesus kepada mereka yang berkeinginan untuk masuk ke dalam Kerajaan ini. Pertama-tama Yesus menggambarkan berkat-berkat unik yang dinamakan “Sabda-sabda Bahagia”. Kemudian, seperti seorang Musa baru, Yesus memperkenalkan serangkaian prinsip-prinsip yang intrinsik tentang pemerintahan mesianis.

Dalam terang Kerajaan yang akan datang, Yesus mengajar para pengikut-Nya bagaimana menghayati hidup sehingga dengan demikian hidup Allah sendiri dapat berakar dan bertumbuh dalam kehidupan mereka. Yesus berbicara mengenai banyak tantangan yang kita harus hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya kemarahan, bersumpah, balas-dendam, dan mengasihi musuh-musuh. Rumusannya mengikuti suatu pola tertentu: “Kamu telah mendengar yang difirmankan, … Tetapi Aku berkata kepadamu …” Etika baru ini melampaui hukum-hukum Musa dan orang-orang Farisi. Sebagai sang Mesias yang dijanjikan, Yesus “menggenapi Taurat dan kitab para nabi, bukan meniadakan semua itu” (Mat 5:17).

Visi Yesus mentransenden huruf-huruf hukum Taurat: “Jangan berzina”, menjadi: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:27-28). Jadi, Yesus memindahkan fokus kepada “hati”. Dengan menggunakan gaya para rabi Yahudi yang khas, Yesus mengatakan bahwa lebih baik mengorbankan mata atau bagian tubuh lainnya – jikalau memang perlu – supaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat 5:29-30). Hal ini menggarisbawahi/menekankan perlunya untuk mencabut sampai ke akar-akarnya segala dorongan terdalam kita untuk berdosa.

Catatan Matius dalam Injilnya mengenai posisi Yesus terkait dengan perceraian menghancurkan prakonsepsi-prakonsepsi natural/alamiah yang ada dalam pikiran mereka yang mendengar pengajaran-Nya. Ada tercatat bahwa para murid-Nya berkata kepada Yesus: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin” (Mat 19:10). Kata-kata keras Yesus sehubungan dengan “perceraian” bukanlah dimaksudkan untuk menghukum orang-orang supaya tetap hidup selamanya dalam relasi yang bersifat destruktif, melainkan untuk menunjuk pada rahmat yang diberikan Allah kepada pasutri untuk hidup dengan cara yang memajukan Kerajaan Allah. Seperti juga “Sabda-Sabda Bahagia” dan perintah untuk mengasihi musuh-musuh kita, “kata-kata keras” tadi menyatakan “way of life” yang berbeda secara radikal, yang diaugurasikan oleh Yesus.

Untuk hidup dengan cara baru ini dibutuhkan karya Roh Kudus dalam batin kita. Melalui iman, kita dapat mengalami kuat-kuasa untuk mengasihi orang-orang lain seperti Kristus mengasihi kita. Oleh karena itu marilah kita memohon Tuhan untuk memberikan rahmat kepada kita semua.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Berdayakanlah kami oleh rahmat-Mu agar dapat saling mengasihi dan untuk menjadi murni dalam hati kami masing-masing. Kami mengakui bahwa kami tidak dapat sungguh mengasihi kecuali Engkau sendiri mentransformasikan kami dari dalam. Utuslah Roh-Mu sehingga dengan demikian kami dapat merangkul undangan-Mu yang indah untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “KATA-KATA KERAS YESUS SEKITAR ZINA” (bacaan tanggal 16-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2016 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS