PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 1 Mei 2017)

Peringatan S. Yusuf Pekerja

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Sejak masa kecil saya sangat menyenangi apa yang dinamakan “roti kismis”, sederhana dan enak. Akan tetapi, biasanya beberapa jam kemudian perut saya sudah mulai merasa lapar lagi, jadi mau makan roti itu lagi. Ini adalah jenis roti yang hanya dapat mengenyangkan kita untuk jangka waktu yang relatif singkat. Sebaliknya, Yesus menawarkan kepada kita sejenis roti “yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh 6:27).

Nah, sekarang kita berhadapan dengan sebuah teka-teki: Roti ini – hidup yang kekal – adalah sebuah pemberian gratis dari Allah (suatu karunia atau anugerah), namun pada saat yang sama Yesus mengatakan bahwa kita harus bekerja/berupaya untuk memperoleh roti ini. Bagaimana mungkin? Terasa kontradiktif. Pada dasarnya kerja/upaya yang dimaksudkan oleh Yesus adalah “percaya kepada-Nya”, namun percaya seperti ini tidak sama dengan santai-santai menganggur tanpa usaha. Sebaliknya, percaya kepada Yesus secara alamiah membimbing kita untuk berbuat sesuatu, untuk bertindak, untuk bekerja mewujudkan iman-kepercayaan kita di tengah dunia.

Kelihatannya terdapat suatu prinsip spiritual, bahwa hanya selagi kita bekerja mewujudkan iman kita kepada Kristus, maka iman itu bertumbuh menjadi subur. Allah pernah bersabda kepada Santa Katarina dari Siena [1347-1380]: “Aku telah berkehendak bahwa seorang pribadi akan membutuhkan pribadi yang lain, dan semuanya harus menjadi para pelayan-Ku dalam membagi-bagikan segala rahmat dan karunia yang telah mereka terima dari-Ku.” Ya, memang dengan melayani orang lain, kita sendiri diberkati – seringkali jauh melampaui ekspektasi kita sendiri – karena inilah cara bagaimana Allah ingin kita terikat satu dengan lainnya dalam kasih.

Memperhatikan dan melayani orang sakit, memberi makan-minum dan juga pakaian kepada orang miskin, dan melayani keluarga kita sendiri, semua ini menuntut “biaya” dari pihak kita dalam bentuk waktu, uang dan energi emosional. Namun sekali lagi, hanya apabila kita telah sampai pada batas-batas kemampuan manusiawi kita, maka hanya pada saat itulah diri kita menjadi terbuka bagi campur tangan atau intervensi surgawi. Rahmat, mukjizat, hikmat dan ketekunan dapat mengalir selagi kita belajar menggantungkan diri tidak pada segala sumber daya kita sendiri, melainkan pada Bapa surgawi. Kasih-Nya akan menghibur dan menopang kita dan memori akan karya-Nya dalam hidup kita selama ini dapat menjadi dasar yang kokoh bagi rasa percaya kita-Nya di masa depan.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku bagaimana menggunakan berbagai karunia yang telah Kauanugerahkan kepadaku guna melayani keluargaku, Gereja dan dunia. Aku ingin mengalami sukacita karena bekerja dengan/bersama Engkau, sehingga dengan demikian aku dapat mencicipi roti yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]” (bacaan tanggal 1-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements