Archive for April, 2017

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 1 Mei 2017)

Peringatan S. Yusuf Pekerja

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Sejak masa kecil saya sangat menyenangi apa yang dinamakan “roti kismis”, sederhana dan enak. Akan tetapi, biasanya beberapa jam kemudian perut saya sudah mulai merasa lapar lagi, jadi mau makan roti itu lagi. Ini adalah jenis roti yang hanya dapat mengenyangkan kita untuk jangka waktu yang relatif singkat. Sebaliknya, Yesus menawarkan kepada kita sejenis roti “yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh 6:27).

Nah, sekarang kita berhadapan dengan sebuah teka-teki: Roti ini – hidup yang kekal – adalah sebuah pemberian gratis dari Allah (suatu karunia atau anugerah), namun pada saat yang sama Yesus mengatakan bahwa kita harus bekerja/berupaya untuk memperoleh roti ini. Bagaimana mungkin? Terasa kontradiktif. Pada dasarnya kerja/upaya yang dimaksudkan oleh Yesus adalah “percaya kepada-Nya”, namun percaya seperti ini tidak sama dengan santai-santai menganggur tanpa usaha. Sebaliknya, percaya kepada Yesus secara alamiah membimbing kita untuk berbuat sesuatu, untuk bertindak, untuk bekerja mewujudkan iman-kepercayaan kita di tengah dunia.

Kelihatannya terdapat suatu prinsip spiritual, bahwa hanya selagi kita bekerja mewujudkan iman kita kepada Kristus, maka iman itu bertumbuh menjadi subur. Allah pernah bersabda kepada Santa Katarina dari Siena [1347-1380]: “Aku telah berkehendak bahwa seorang pribadi akan membutuhkan pribadi yang lain, dan semuanya harus menjadi para pelayan-Ku dalam membagi-bagikan segala rahmat dan karunia yang telah mereka terima dari-Ku.” Ya, memang dengan melayani orang lain, kita sendiri diberkati – seringkali jauh melampaui ekspektasi kita sendiri – karena inilah cara bagaimana Allah ingin kita terikat satu dengan lainnya dalam kasih.

Memperhatikan dan melayani orang sakit, memberi makan-minum dan juga pakaian kepada orang miskin, dan melayani keluarga kita sendiri, semua ini menuntut “biaya” dari pihak kita dalam bentuk waktu, uang dan energi emosional. Namun sekali lagi, hanya apabila kita telah sampai pada batas-batas kemampuan manusiawi kita, maka hanya pada saat itulah diri kita menjadi terbuka bagi campur tangan atau intervensi surgawi. Rahmat, mukjizat, hikmat dan ketekunan dapat mengalir selagi kita belajar menggantungkan diri tidak pada segala sumber daya kita sendiri, melainkan pada Bapa surgawi. Kasih-Nya akan menghibur dan menopang kita dan memori akan karya-Nya dalam hidup kita selama ini dapat menjadi dasar yang kokoh bagi rasa percaya kita-Nya di masa depan.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku bagaimana menggunakan berbagai karunia yang telah Kauanugerahkan kepadaku guna melayani keluargaku, Gereja dan dunia. Aku ingin mengalami sukacita karena bekerja dengan/bersama Engkau, sehingga dengan demikian aku dapat mencicipi roti yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]” (bacaan tanggal 1-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YESUS JUGA INGIN BERJALAN DENGAN KITA PADA HARI INI

YESUS JUGA INGIN BERJALAN DENGAN KITA PADA HARI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III [Tahun A], 30 April 2017)

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35)

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:17-21

Seperti pada waktu Dia menggabungkan diri dengan dua orang murid di jalan menuju Emaus, Yesus juga ingin berjalan bersama kita pada hari ini. Sebagaimana Dia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci sehingga hati mereka berkobar-kobar, Yesus juga ingin agar Injil-Nya – kebenaran sabda-Nya dan kuat-kuasa kasih-Nya bagi kita – membakar hati kita sehingga berkobar-kobar dengan api kasih-Nya. Dua orang murid itu mendesak Yesus untuk tinggal dan makan bersama mereka, dan Yesus mengikuti permintaan mereka itu. Hal yang serupa akan terjadi apabila kita meminta kepada-Nya, maka Yesus akan berdiam bersama dengan kita juga. Mata mereka terbuka ketika Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan memecah-mecahkannya. Dalam Ekaristi, Yesus ingin membuka mata batin kita agar dapat melihat Dia juga. O, betapa sederhana sebenarnya rencana ilahi itu.

Allah tidak meminta atau menuntut kita untuk hidup sempurna sebelum kita dapat memohon kepada-Nya agar dapat bersama kita.  Dua orang murid yang ditemui Yesus di tengah jalan menuju Emaus itu sebenarnya sedang dalam keadaan bingung, hampir putus-asa dan mereka sedang meninggalkan komunitas murid-murid Yesus di Yerusalem – segelintir pengikut-Nya yang masih percaya, meski dengan iman yang belum sempurna. Namun demikian, Yesus menemui dua orang itu, berjalan bersama mereka, dan berbicara kepada mereka tentang rencana Bapa surgawi. Yesus tidak menunggu mereka kembali ke Yerusalem, Ia mencari mereka seperti mencari domba yang hilang, dan mulai menarik mereka kembali.

Selagi dua murid ini mendengarkan kata-kata Yesus, kepada mereka diberikan suatu visi yang baru bagi hidup mereka. Kesedihan yang dirasakan beberapa hari terakhir itu digantikan dengan suatu pengharapan bahwa rencana Allah sedang berjalan dan hal itu saja menunjukkan bahwa kematian Yesus di kayu salib bukanlah sesuatu yang sia-sia. Ketika pada akhirnya mereka mengenali siapa tamu mereka itu, dua orang murid itu dipenuhi dengan sukacita sejati. Mereka bergegas kembali ke Yerusalem pada malam itu juga – tanpa takut dirampok orang jahat – untuk bergabung kembali dengan komunitas mereka dan menceritakan apa yang baru mereka alami.

Allah menginginkan agar kita semua mengalami sukacita-Nya dan pengharapan-Nya setiap saat kita berpartisipasi dalam Misa Kudus, berdoa, atau membaca serta merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Yesus ingin “menangkap” hati kita setiap saat kita merayakan kebangkitan-Nya. Marilah kita menerima jaminan akan kehadiran-Nya selagi kita berpegang teguh pada kuat-kuasa-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Marilah kita berjalan maju dari gereja-gereja kita dengan hati dan pikiran yang telah ditransformasikan. Dengan melakukannya, kita pun akan diperbaharui dalam sabda-Nya dan penuh harapan dalam iman kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenal-Mu dengan lebih mendalam lagi. Aku ingin mendengar suara-Mu dalam Kitab Suci. Aku ingin memandang wajah-Mu dalam roti dan anggur Ekaristi. Datanglah, ya Tuhan, dan tunjukkanlah kepadaku jalan-jalan-Mu sehingga aku dapat mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah (Yoh 10:10). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS(bacaan tanggal 30-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 April 2017    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAJARKAN DAN MEWARTAKAN SABDA ALLAH

MENGAJARKAN DAN MEWARTAKAN SABDA ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Katarina dari Siena, Perawan Pujangga Gereja – Sabtu, 29 April 2017)

Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang orang-orang Ibrani, karena pembagian keperluan sehari-hari. Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata, “Tidak baik jika kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan  pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan menumpangkan tangan di atas mereka.

Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.  (Kis 6:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Injil: Yoh 6:16-21 

“Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak, juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya” (Kis 6:7).

Bacaan dari “Kisah para Rasul” hari ini adalah teristimewa tentang pengangkatan 7 (tujuh) orang diakon. Namun pada kesempatan ini saya mau menyoroti ayat terakhir seperti dipetik di awal tulisan ini.

Yesus memanggil kita agar kita sebagai murid-murid-Nya tetap tinggal di dalam sabda-Nya (Yoh 8:31). Kita merenungkan hukum dan sabda (firman)-Nya siang dan malam (lihat Mzm 1:2). Selayaknya kita merenungkannya siang dan malam (Yos 1:8). Sabda Allah sepatutnya “menjadi kegirangan dan kesukaan” hati kita (lihat Yer 15:16).

Bagaimana pun juga, dunia, kedagingan dan Iblis terus berupaya menyeret kita ke luar dari kehidupan kita dalam/seturut sabda Allah. Dengan demikian kita dapat terseret dari sabda Allah yang hidup, digoda untuk mengalihkan hidup kita agar ikut campur ke dalam berbagai masalah, dan tidak lagi melayani sabda Allah (Kis 6:2). Seperti halnya dengan para rasul, kita seyogianya memanggil orang-orang lain untuk ikut memecahkan berbagai masalah agar perhatian kita akan sabda Allah  tidak terpecah belah (lihat Kis 6:4).

Sebagai contoh, ketika Paulus berkhotbah, Eutikhus mengantuk dan jatuh dari jendela di tingkat tiga dan meninggal dunia (Kis 20:9). Akan tetapi tidak ada catatan bahwa Paulus langsung menghentikan khotbahnya (Kis 20:11). Paulus kemudian turun ke bawah dan dengan kuasa Tuhan menghidupkan orang itu kembali. Setelah kembali di ruang atas pertemuan dilanjutkan dengan memecah-mecahkan roti lalu makan sampai fajar menyingsing. Pemuda yang dihidupkan kembali itu pun kemudian dihantar pulang ke rumahnya (Kis 20:12).

Paulus juga menyuruh Timotius untuk berkhotbah kapan saja, pada waktu baik ataupun waktu yang kurang kondusif (lihat 2 Tim 4:2). Kisah para Rasul pun ditutup dengan kata-kata yang menegaskan: “Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus (Kis 28:30-31).

Kita harus mengingat selalu bahwa Yesus sendiri tidak membiarkan kematian-Nya menghentikan karya pewartaan sabda. Yesus bangkit dari mati dan menafsirkan “apa yang tertulis tentang Dia di dalam seluruh Kitab Suci kepada semua murid yang sedang berkumpul di Yerusalem (lihat Luk 24:45).

Saudari dan Saudaraku, janganlah membiarkan diri kita (anda dan saya) terlena sehingga tidak “mengajarkan dan mewartakan sabda Allah”.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Maharahim, aku mohon agar di dalam mewartakan sabda Allah aku dapat bebas dan tidak terbelenggu (2 Tim 2:9). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 29-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 28 April 2017)  

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Bab 6 dalam Injil Yohanes memusatkan perhatiannya pada kebenaran sentral bahwa Yesus adalah “Roti Kehidupan”. Penggandaan roti dan ikan (satu-satunya cerita mukjizat yang tercatat dalam keempat kitab Injil) menolong para pembaca untuk memahami selebihnya dari Bab 6 ini.

Hari Raya Paskah sudah dekat (Yoh 6:4), dengan demikian di sini kita diingatkan akan pekerjaan besar Allah di masa lalu dan roti tak beragi yang dimakan oleh orang Yahudi pada hari raya sangat istimewa ini. Yesus sedang akan menyatakan sesuatu tentang karya-karya baru Allah dan roti Paskah baru yang diberikan-Nya kepada kita. Orang banyak mengikuti Yesus ke sebuah tempat yang terisolasi, ke atas gunung yang hijau menyegarkan. Sebuah tempat kehidupan, bukan tempat kematian, karena ada banyak rumput di mana orang-orang itu dapat duduk (lihat Yoh 6:10). Dalam suatu situasi yang serupa dengan situasi yang dialami Musa di padang gurun, timbullah keprihatinan bagaimana memberi makan kepada begitu banyak orang. Allah memberi makan manna kepada bani Israel yang mengembara di padang gurun; Yesus menggandakan roti dan ikan.

Hal ini memimpin kita kepada isu sentralnya – penggandaan. Seluruh kisah ini disajikan dalam suatu kerangka liturgis atau kerangka rituale. Sebagaimana dilakukan oleh para imam tertahbis dalam perayaan Ekaristi berabad-abad lamanya, Yesus “mengambil” roti, “mengucap syukur” (Yunani: eucharistesas), dan “membagi-bagikannya” kepada mereka yang duduk di situ (lihat Yoh 6:11). Penggandaan roti dilakukan dalam konteks doa syukur kepada Allah untuk segala anugerah, namun teristimewa untuk karunia kehidupan (yang dilambangkan oleh roti) yang datang hanya dari Dia.

Tanggapan orang banyak memiliki signifikansi di sini: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 6:14), suatu alusi pada nabi yang akan dibangkitkan oleh Allah dari antara umat (Ul 18,15,18). Sebagaimana Musa – melalui karya Allah) telah memberikan bani Israel dengan manna  di padang gurun, demikian pula Yesus (sang nabi) memberikan anugerah kehidupan yang bahkan lebih besar.

Anugerah yang lebih besar ini adalah Yesus sendiri. Alusi-alusi ke masa lampau ditambah dengan mukjizat hari ini membuat praandaian tentang sesuatu lebih besar yang akan datang: Yesus sebagai “roti kehidupan”.  “Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:50-51). Penggandaan ini menunjuk kepada kehidupan kekal. Setelah selesai makan, sisa-sisa makanan yang terkumpul berjumlah dua belas bakul, jauh lebih besar daripada jumlah “modal” pertama sejumlah lima roti jelai dan dua ekor ikan (Yoh 6:13). Yesus memberikan kepada kita hidup-Nya secara berlimpah.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau memberikan kepada kami anugerah Yesus – roti kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN” (bacaan tanggal 28-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEMATIAN YESUS PADA KAYU SALIB ADALAH CONTOH MURKA ALLAH DAN SEKALIGUS KERAHIMAN-NYA

KEMATIAN YESUS PADA KAYU SALIB ADALAH CONTOH MURKA ALLAH DAN SEKALIGUS KERAHIMAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 27 April 2017)

Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia bersaksi tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya.” (Yoh 3:31-36) 

Bacaan Pertama: Kis 5:27-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9,17-20 

Terang dikontraskan dengan kegelapan, siapa yang percaya kepada sang Putera dikontraskan dengan mereka yang tidak taat kepada-Nya, yang  berasal dari atas dikontraskan dengan mereka yang berasal dari bumi. Yohanes Penginjil menggunakan kata-kata ini untuk memberikan kepada kita suatu pemahaman yang jelas mengenai apa yang dimaksudkan dengan dosa dan hidup sesuai dengan cara-cara atau jalan Allah. Yesus datang dari atas/surga (Yoh 3:31) dan Ia adalah utusan Allah (Yoh 3:34). Jikalau kita menerima Yesus sebagai sang Juruselamat, maka hal ini akan membawa kita kepada Bapa surgawi. Sebaliknya, meninggalkan atau menjauhkan diri dari Yesus akan membawa kita kepada kegelapan dan keterpisahan dari Allah – suatu hidup kegelapan yang bertentangan dengan apa yang Allah inginkan bagi kita sebagai anak-anak-Nya. Apabila kemarin, hari ini, dan hari esok kita tetap memilih untuk hidup dalam kegelapan, maka hal tersebut akan mendatangkan murka Allah.

Apakah yang dimaksudkan dengan murka Allah itu? Murka Allah sering digambarkan dalam Perjanjian Lama sebagai kemarahan ilahi terhadap ketidaktaatan manusia. Para nabi menggunakan imaji-imaji (gambaran) yang sangat deskriptif seperti api yang berkobar-kobar untuk murka Allah itu. Kitab Suci memberikan kepada kita banyak contoh pribadi-pribadi, komunitas-komunitas, dan bahkan seluruh bangsa yang berada di bawah murka Allah. Namun demikian, tetap masih ada pengharapan. Kitab Suci senantiasa “melengkapi” murka Allah dengan janji-janji belas kasih. Allah sangat mengasihi umat-Nya. Murka-Nya diperlembut dengan kerahiman-Nya karena Dia sungguh rindu untuk menarik anak-anak-Nya dari dosa agar dapat datang kembali kepada-Nya.

Kematian Yesus di kayu salib adalah contoh yang baik sekali dari murka Allah dan sekaligus belas kasih-Nya (kerahiman-Nya). Ketidaktaatan manusia harus dihukum, namun dalam kasih dan kerahiman-Nya, Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk membayar suatu harga yang kita tidak pernah akan mampu membayarnya. Jadi, Allah membuat ketentuan bagi semua orang agar diselamatkan. Jalannya dibuka bagi Roh Kudus untuk dikaruniakan kepada kita tanpa takaran, artinya secara tidak terbatas (Yoh 3:34), dengan demikian memampukan kita untuk taat kepada Allah dan mengalami kepenuhan hidup (Yoh 3:36).

Memang akan ada suatu penghakiman apabila kita semua diperhadapkan dengan dosa-dosa kita. Akan tetapi, kita memegang janji-Nya yang terdapat dalam ayat mazmur berikut ini: “TUHAN (YHWH) membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman” (Mzm 34:23). Oleh karena itu, marilah kita menempatkan diri kita dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih dan menyelaraskan kehidupan kita dengan pesan Injil berkenan dengan kasih dan ketaatan. Setiap hari, marilah kita mohon agar Roh Kudus selalu bersama kita dalam segala hal yang kita lakukan.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kerahiman-Mu kepada kami. Dengan mengutus Yesus, Engkau telah menyelamatkan kami. Kirimkanlah terang Roh Kudus-Mu agar hati kami masing-masing dapat dilunakkan, sehingga kami dapat mengikuti jalan-Mu yang dipenuhi kasih, dan kami dapat hidup setiap hari dalam kemenangan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?” (bacaan tanggal 27-4-17) dalam situs/blog SANG SADA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 April 2016 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BAPA SURGAWI SANGAT MENGASIHI KITA

BAPA SURGAWI SANGAT MENGASIHI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Rabu, 26 April 2017) 

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada  di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:16-21) 

Bacaan Pertama: Kis 5:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9 

“… Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16).

Sudah layak dan sepantasnya jika kita berterima kasih penuh syukur kepada Bapa di surga, karena Dia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke tengah dunia. Melalui Anak-Nya itulah, Allah Bapa telah memberikan kepada kita akses untuk masuk ke surga dan menyambut kita ke dalam kehidupan kekal-Nya bersama kita – semua ini tanpa memperhitungkan dosa dan pemberontakan kita kepada-Nya. Sebenarnya apakah artinya kita di mata Bapa surgawi sehingga Dia begitu berbelas kasih kepada kita?

Biarlah Allah mengobarkan kerinduan kita untuk hidup dalam hadirat-Nya. Semoga kita juga tidak pernah memandang kasih Allah sebagai sesuatu yang taken for granted, tidak melupakan Dia, atau mempertimbangkan diri kita cukup baik untuk mengandalkan diri kita sendiri dalam memecahkan segala masalah kehidupan ini. Untuk itu semua, marilah kita memohon kepada-Nya untuk menanamkan kesan mendalam di hati kita “kebenaran” untuk mana kita menggantungkan diri kepada-Nya setiap saat. Bahkan udara yang kita hirup adalah karunia dari Allah. Bagaimana pun sibuknya hidup kita sehari-hari, hidup kita tetap kosong tanpa Dia.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, marilah kita memohon kepada Bapa di surga agar supaya mengajar kita bagaimana berbicara dengan-Nya di dalam hati dan mendengarkan suara-Nya sepanjang hari. Kita memohon agar Ia membuang semua keragu-raguan dan kebingungan yang memisahkan orang-orang dari Allah. Kita juga memohon agar kita dapat mendengar sabda Putera-Nya dan Ia mengundang kita ke dalam hidup kekal.

Di lain pihak Iblis ingin agar kita tetap terikat pada dosa, sehingga dengan demikian kita tidak mampu melihat kebebasan sejati yang ditawarkan oleh Yesus.  Namun kegelapan ini hanyalah seperti jaringan laba-laba yang dengan mudah dapat dibersihkan setiap saat kita berbalik kepada Allah. Baiklah kita juga memohon kepada Allah agar orang-orang dari segala penjuru dunia mengenal dan mengalami kebebasan yang telah dimenangkan oleh Yesus bagi mereka. Kita juga pantas berdoa agar Bapa surgawi menaburkan benih-benih kasih-Nya di mana saja dalam dunia, sehingga dengan demikian Yesus dapat lahir dalam semua hati manusia.

Layak dan pantaslah bagi kita untuk berterima kasih penuh syukur kepada Bapa surgawi untuk kerahiman (belas kasih)-Nya. Kita semua pantas untuk mati, namun Allah memilih untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib demi menebus segala dosa dan kesalahan kita. Maka marilah kita dengan penuh rasa terima kasih akan kasih-Nya menghadap hadirat Bapa dan membenamkan diri kita dalam kebaikan hati dan bela rasa-Nya, karena kita tahu bahwa Dia tidak akan membuang siapa saja yang menyerahkan hati mereka kepada-Nya. Biarlah Ia memandang dalam-dalam hati kita masing-masing dan kemudian membebaskan kita dari segala hasrat jahat. Biarlah Ia memperkuat apa saja yang lemah dalam diri kita. Biarlah Ia memancarkan sinar terang atas apa saja yang baik dalam diri kita. Biarlah Ia memenuhi diri kita dengan damai-sejahtera dan membawa kita ke dalam hubungan yang penuh keakraban dengan diri-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Maharahim, keagungan-Mu tak dapat kami gambarkan dengan kata-kata. Kami sungguh berterima kasih penuh syukur karena Engkau sudi memberikan Putera-Mu terkasih untuk menjadi Penebus kami. Penuhilah diri kami masing-masing dengan kasih-Mu dan buatlah kami sebagai instrumen-instrumen rahmat-Mu dalam dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), bacalah tulisan yang  berjudul “ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA” (bacaan tanggal 26-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 April 2017 [HARI SABTU DALAM OFTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANG PENULIS INJIL KEDUA

SANG PENULIS INJIL KEDUA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO MARKUS – Selasa, 25 April 2017)

 

Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.” Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Dialah yang punya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Dengan perantaraan Silwanus yang kuanggap sebagai seorang saudara seiman yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu bahwa ini adalah anugerah yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!

Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon dan juga dari Markus, anakku. Berilah salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin. (1Ptr 5:5b-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,6-7,16-17; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20 

Pada hari istimewa yang didedikasikan kepada Santo Markus, kita dapat tergoda untuk bertanya apa yang kiranya dapat kita pelajari dari seorang “tokoh” zaman kuno. Apabila kita melihat “Kisah para Rasul”, khususnya bab 13 dan 15, kita dapat merasa sedikit terhibur karena mengetahui bahwa ternyata Santo Markus adalah seorang manusia seperti kita juga; bahwa dia juga rentan terhadap kelemahan dan kesalahan-kesalahan. Dan semua itu bukanlah sekadar kesalahan-kesalahan kecil: Di Pamfilia dia melakukan “desersi”, melarikan diri dari tugasnya membantu Paulus dan Barnabas, dan kembali ke Yerusalem, …… semua ini terjadi di tengah sebuah perjalanan misioner untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 13:13).

“Desersi” Markus begitu serius sehingga menyebabkan timbulnya selisih pendapat apakah masih mau mengambilnya kembali seturut usulan Barnabas atau tidak (Kis 15:35-41). Walaupun Paulus merasa ragu, Markus sungguh pergi melakukan hal-hal besar untuk Kerajaan-Nya, diantaranya menulis sebuah kitab Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.

Sekarang, apakah yang kita pelajari dari seorang Santo Markus? Bahwa Allah tidak pernah menyerah, lalu membuang kita. Dalam Mazmur secara tetap kita mendengar bagaimana Allah menegakkan orang benar, dan dalam “Surat kepada jemaat di Roma”, Paulus menulis bahwa “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm 8:1). Markus mengalami kebenaran-kebenaran tangan pertama selagi dia bergumul dengan rasa takut yang menimpa dirinya dan juga dosa-dosanya. Dengan rasa percaya yang semakin bertumbuh berkaitan dengan belas kasih Allah dan kuat-kuasa-Nya untuk mentransformir diri setiap pribadi, maka Markus belajar untuk tidak memperkenankan masa lalunya mendikte masa depannya. Sebagai akibatnya, Markus mampu menjadi salah seorang tokoh Kristiani awal yang paling penting.

Cerita tentang Markus seharusnya memacu kita untuk terus mengasihi Allah dan sesama serta melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Ketika kita menyadari bahwa Allah telah mengampuni kita dan bahwa Dia akan terus menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita, kita pun harus melakukan yang sama. Ketika kita mulai memahami bahwa Allah telah melimpahkan ke atas diri kita rahmat-Nya yang sebenarnya tak pantas kita terima, pandangan kita tentang orang lain akan menjadi seperti pandangan Barnabas tentang Markus:  sangat ingin memberikan kesempatan kedua dan mengisinya dengan harapan akan masa depan. Kita semua – dengan cara kita masing-masing – sebenarnya telah melakukan “desersi” – kita meninggalkan Allah, namun Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan selalu memberikan kepada kita kesempatan lagi, karena rencana-rencana-Nya dan pengharapan-pengharapan-Nya kepada kita sangatlah besar. Semoga kita tidak berputus-asa pada saat kita jatuh atau dengan cepat menyalahkan orang lain. Rahmat Allah cukup bagi kita semua!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu melihat seperti Engkau melihat, agar aku tidak menghakimi orang-orang lain atau diriku sendiri. Semoga hatiku dapat menjadi hati-Mu, ya Yesus, hati yang mau mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Amin.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 22 April 2017 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS