IMAN ABRAHAM DAN YUSUF

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA – Senin, 20 Maret 2017)

Sebab janji kepada Abraham dan keturunannya bahwa ia akan memiliki dunia tidak berdasarkan hukum Taurat tetapi berdasarkan pembenaran melalui iman.

Karena itu, janji tersebut berdasarkan iman supaya sesuai dengan anugerah, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapak kita semua, [1] – seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapak banyak bangsa” – di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. [2] Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya bahwa ia akan menjadi bapak banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” [3]

Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. (Rm 4:13,16-18,22) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 7:4-5a.12-14a.16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29; Bacaan Injil: Mat 1:16,18-21.24a 

Catatan: [1] Gal 3:7; [2]Kej 17:5; [3] Kej 15:5

“Sebab janji kepada Abraham dan keturunannya bahwa ia akan memiliki dunia, tidak berdasarkan hukum Taurat tetapi berdasarkan pembenaran melalui iman” (Rm 4:13).

Apakah iman yang besar dari Abraham yang telah memimpin generasi lepas generasi – termasuk Santo Yusuf – ke dalam suatu warisan yang bersifat kekal-abadi? Ada apa dalam iman Abraham yang menggiring Gereja untuk mengkaitkannya dengan sang tukang kayu dari Nazaret? Di atas segalanya, yang ditunjukkan oleh Abraham dan Santo Yusuf adalah “kesederhanaan iman” mereka.

Abraham memegang dan mematuhi sabda Allah apa adanya tanpa tanya-tanya, bahkan ketika Allah menjanjikan dirinya bahwa dia akan mempunyai anak dalam usianya yang sudah tua. Demikian pula dengan Yusuf yang menerima tanpa tanya-tanya ketika seorang malaikat mengatakan bahwa anak yang ada dalam rahim Maria dikandung oleh Roh Kudus (Mat 1:20). Baik Abraham maupun Yusuf menerima janji Allah dengan iman dan berpegang teguh pada janji tersebut, walaupun muncul bahaya. Nah, hal ini berbeda sekali dengan apa yang dialami oleh Adam dan Hawa. Segala sesuatu yang baik disediakan bagi mereka, namun sayang mereka tidak percaya pada kebaikan sempurna dari Pencipta mereka.

Ketika Allah memerintahkan Abraham untuk meninggalkan negerinya dan melakukan perjalanan ke suatu negeri yang baru, Abraham pun pergilah (Kel 12:1-4). Ketika Allah memberitahukan Yusuf untuk membawa Maria dan Yesus ke tempat persembunyian di Mesir, maka Yusuf pun pergilah tanpa tanya-tanya ini dan/atau itu (Mat 2:13-14). Ketika Allah meminta kepada Abraham untuk mengorbankan Ishak, dia mengikuti permintaan Allah tersebut. Abraham menyadari bahwa Allah itu Mahasetia dan sungguh dapat dipercaya. Pada saat Allah meminta kepada Yusuf untuk memelihara seorang anak yang bukan anaknya sendiri dan mendedikasikan-Nya sepenuhnya kepada TUHAN, ia melakukannya dengan penuh ketaatan. Apakah iman kedua orang ini – Abraham dan Yusuf – buta atau naive (kekanak-kanakan)? Tentu saja tidak! Pemikiran-pemikiran dan rasa takut mereka sungguh riil seperti kita juga. Namun mereka memilih untuk menyerahkan rasa takut mereka, pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat mereka kepada Allah Yang Mahapengasih.

Seperti juga Abraham dan Yusuf, hidup kita pun adalah milik Allah. Kita diciptakan untuk suatu tujuan penuh kemuliaan. Allah ingin berbicara kepada kita, memberikan hikmat-kebijaksanaan, arahan serta pemahaman kepada kita. Jadi, bagaimana caranya agar kita dapat memiliki iman seperti Abraham dan Yusuf? Jika kita mencari Allah dengan tulus dan bersungguh-sungguh, maka kita dimampukan untuk belajar mendengar suara Allah. Kemudian, karena percaya bahwa Allah adalah Mahasetia pada janji-janji-Nya, maka kita pun dapat memilih untuk taat kepada-Nya, bukan bersikap dan bertindak “mbalelo” (semau gue). Setiap kali kita mendengarkan suara Allah, kita akan menjadi lebih percaya lagi bahwa Dia sedang memimpin (membimbing, menuntun) kita, seperti yang telah dilakukan-Nya dengan Abraham dan Yusuf.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk contoh yang telah diberikan oleh S. Yusuf. Hidupnya mengungkapkan jalan iman dan penuh kepercayaan kepada-Mu. Tolonglah diriku dalam jalan-imanku pada hari ini, agar dipenuhi kerendahan hati dan tanggap terhadap suara-Mu. Amin.

Catatan: Tulisan ini dipersembahkan kepada Sdr. Yosef Sunarwinto, temanku sejak di SMA Kanisius (1959-1962) dan sekarang sama-sama menjadi warga Lingkungan S. Yudas Tadeus, Gereja S. Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 1:16.18-21.24a), bacalah tulisan yang berjudul “YUSUF PUTERA DAUD” (bacaan tanggal 20 Maret 2017), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-3-16 daam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements