BERDOA, BEKERJA DAN BEREKREASI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VIII (Tahun A), 26 Februari 2017) 

jesus_christ_picture_013“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

“Karena itu, aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34) 

Bacaan Pertama: Yes 49:14-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:2-3,6-9; Bacaan Kedua: 1Kor 4:1-5 

Ada sebuah pepatah Latin kuno yang berbunyi: “Age quod agis”. Secara harfiah kalimat ini berarti, “Lakukanlah apa yang anda lakukan”. Ada beberapa contoh untuk menunjukkan bagaimana pepatah itu harus diterapkan.

Misalnya ketika kita datang ke gereja, kita harus datang dengan niat untuk berdoa kepada Allah dan memperdalam iman-kepercayaan kita. Datang ke gereja berarti waktu untuk menyanyikan berbagai madah, mendengarkan bacaan dari Kitab Suci, menerapkan apa yang dipesankan dalam homili, mengulurkan tangan penuh damai dan menerima Komuni Kudus. Ini adalah waktu bagi kita untuk sungguh-sungguh melakukan segala sesuatu apa yang kita niati untuk melakukannya di gereja. Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan kita. Kita harus melakukan pekerjaan satu hari kerja penuh untuk upah/gaji untuk satu hari kerja. Ketika kerja harian kita selesai, maka kita harus melibatkan diri kita secara lengkap dalam kegiatan-kegiatan lainnya.

Apabila kita pergi menonton film di bioskop, maka kita harus melibatkan diri kita dalam “plot” yang sedang kita tonton, lalu menimbang-nimbang apa yang ingin dilakukan oleh sang sutradara – ke mana dia ingin membawa kita, juga baik-tidaknya para aktor dan aktris dalam memainkan peranan mereka masing-masing dalam film tersebut. Ada seorang ibu yang merasa kesal dengan suaminya yang selalu mengeluh selama film diputar dan selalu mau pulang sebelum film selesai dengan alasan agar tidak terjebak dalam kemacetan ketika berusaha keluar dari tempat parkir. Inilah satu contoh lagi seseorang yang tidak melakukan apa yang (harus) dilakukannya.

Sejak lama orang-orang mengakui, bahwa (1) berdoa, (2) bekerja dan (3) berekreasi adalah tiga unsur hakiki dari ritme kehidupan. Inilah yang dengan jelas dikhotbahkan oleh Santo Benediktus [480-547] dan dimasukkan olehnya ke dalam peraturan hidup ordo yang didirikannya. Kita tidak diharapkan untuk melakukan secara berlebihan atau dalam takaran yang kurang, salah satu dari ketiga unsur ini, namun jika sedang melakukan salah satu dari tiga kegiatan tadi, maka kita harus melakukannya dengan perhatian penuh.

Yesus mengatakan sesuatu yang menyemangati hati kita, kira-kira begini: “janganlah khawatir tentang hari esok, kita harus harus hidup untuk hari ini”. Singkatnya, Yesus mengatakan, “Age quod agis”.

Dalam bacaan Injil hari, Yesus menjelaskan bahwa burung-burung di udara menunjukkan akal sehat (common sense) yang lebih baik daripada sementara orang. Burung-burung itu melakukan pekerjaan harian mereka dengan baik, memperbaiki sangkar mereka, memberi makan anak-anak mereka, mengusir para predator dan kemudian tidur dengan penuh damai. Yesus mengatakan, bahwa burung-burung itu bersikap “don’t worry – be happy!”, dan Ia menasihati kita untuk mencontoh burung-burung tersebut.

Demikian pula dengan bunga-bunga bakung yang menghias lembah-lembah dan lereng-lereng gunung dan tidak pernah menggerutu satu sama lain tentang siapa yang paling indah. Oleh karena itu, bukankah ini saatnya bagi kita untuk membebaskan pikiran kita dari kompetisi terus-menerus dan tidak sehat dalam berupaya mencari uang, meningkatkan status-sosial kita dalam masyarakat, dlsb.? Bukankah ini saatnya untuk menikmati keindahan alam di sekeliling kita? Bukankah kita perlu menyediakan waktu untuk melihat burung-burung yang berterbangan di udara dan hinggap di dahan pohon yang terletak di pekarangan kita? Bukankah ini saatnya bagi kita untuk menikmati indah dan harumnya bunga-bunga di depan mata kita? Dengan demikian kita tetap tidak lari dari realitas dan tetap hidup harmonis dengan Allah dan sesama. Janganlah kita pernah berpikir bahwa hanya para penyair saja, para seniman saja dan para invcntor saja yang membutuhkan waktu rileks – kita semua memerlukannya.

Bacaan Injil hari ini adalah salah satu teks yang paling indah dalam “Khotbah di Bukit”, malah dalam Kitab Suci secara keseluruhan. Pesan Yesus ini mengalir dengan gaya yang bebas dan terbuka, yang menasihati kita untuk rileks, berhenti “worrying” dan menikmati damai-sejahtera-Nya. Inilah cara Yesus untuk mengatakan, “Have a good day!” kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, kasih dan perhatian-Mu terhadap kami sungguh tak terhingga; sungguh total-lengkap, intim dan mempribadi bagi kami masing-masing – anak-anak-Mu dalam Yesus Kristus. Dosa-dosa kami telah Kaubersihkan, dan Engkau telah melakukan semua dengan kasih-sayang yang hanya dapat diberikan oleh seorang ayah yang sejati. Oleh karena itu, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, jauhkanlah kami dari kekhawatiran akan hari esok, dan perkenankanlah kami agar memiliki kebijaksanaan dalam memakai waktu kami untuk berdoa, bekerja dan rekreasi dengan seimbang. Kami sungguh membutuhkan tangan-Mu yang kuat untuk menuntun kami berjalan setiap hari. Amin.    

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 26-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Februari 201 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements