TENTANG PERCERAIAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa – Jumat, 24 Februari 2017) 

jesus_christ_picture_013Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi. Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berzina.” (Mrk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Sir 6:5-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:12,16,18,27,34-35 

Pertanyaan orang-orang Farisi tentang perkawinan itu sesungguhnya untuk menjebak Yesus dengan kata-kata yang diucapkan-Nya sendiri. Kaum Farisi tidak melakukan hal seperti ini sekali saja. Hal-hal seperti ini bukanlah fenomena zaman Yesus saja karena pertanyaan-pertanyaan menjebak (halusnya: untuk men-tes) dapat ditemui di mana saja dan kapan saja dalam sejarah umat manusia, bahkan tidak jarang misalnya diajukan oleh peserta-peserta tertentu dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci. Kalau tidak ditangani secara arif, maka pertemuan Kitab Suci dapat menjadi ajang debat-kusir yang melenceng jauh dari cita-cita kerasulan Kitab Suci.

Walaupun pertanyaan orang-orang Farisi di atas dapat dijawab secara sederhana oleh Yesus dengan kata ‘ya’ atau ‘tidak’, pertanyaan-pertanyaan tersebut menyangkut berbagai tafsir yang cukup kompleks atas Hukum Yahudi. Kalau seandainya Yesus membenarkan perceraian, maka Dia dapat dituduh menyalahkan Yohanes Pembaptis yang menolak keras tindakan Herodes Antipas yang menceraikan istrinya yang sah, kemudian mengawini iparnya sendiri (istri Filipus, saudara laki-lakinya). Sebaliknya kalau Yesus setuju dengan pandangan Yohanes Pembaptis, maka Dia pasti akan menjadi sasaran kemarahan Raja Herodes.

Yesus tidak mau mati-terjebak. Sebaliknya, Yesus mencari jalan untuk membawa diskusi ‘perceraian’ ini ke suatu tingkat yang lebih tinggi, di mana Dia dapat menggunakan kesempatan yang ada agar dapat berbicara lagi tentang hasrat Bapa untuk mempersatukan kita dalam cintakasih. Dengan mencoba menjebak Yesus melalui pertanyaan-pertanyaan berbau hukum yang penuh dengan duri-tajam, orang-orang Farisi itu luput melihat rencana Allah sehubungan dengan perkawinan anak-anak manusia. Dipenuhi dengan hikmat Allah sendiri, Yesus membawa orang-orang Farisi itu ke belakang, yaitu kepada titik awal ketika Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya sendiri (Kej 1:26.27) dan menentukan bahwa dalam perkawinan dua manusia menjadi satu daging (Kej 2:24). Ajaran Yesus mengungkapkan bahwa perkawinan merupakan suatu karunia yang indah dari Allah yang dimaksudkan untuk mencerminkan kebersatuan yang dirindukan oleh-Nya dengan umat-Nya. Kedua jenis kebersatuan – antara dua orang pribadi, atau antara Allah dan umat-Nya – dimaksudkan untuk terwujud begitu intim sehingga tidak boleh sekali-kali dipatahkan. Sungguh merupakan suatu privilese untuk secara intim dibersatukan dengan Allah dan seorang pribadi yang lain!

Selagi kita merenungkan arti perkawinan manusia secara umum, barangkali mungkin juga perkawinan kita sendiri, kita mungkin tergoda untuk hanya melihat segala kesusahan yang kita alami dan melupakan (samasekali) campur tangan Allah lewat kuasa dan cintakasih-Nya. Marilah kita mendoakan semua perkawinan dewasa ini, agar dilindungi dan diangkat menjadi tanda-tanda indah dari cintakasih Allah kepada umat-Nya di mana saja manusia berada.

DOA: Bapa surgawi, betapa besar rasa syukurku untuk cintakasih-Mu kepadaku, teristimewa dalam hidup perkawinanku. Penuhilah hatiku dengan cintakasih lebih mendalam lagi kepada-Mu, kepada pasangan hidupku serta seluruh anggota keluargaku. Semoga cintakasih-Mu bagi segenap anggota keluargaku mengalir juga – melalui diriku dan para anggota keluargaku – untuk membawa kesembuhan dan damai-sejahtera kepada orang-orang lain di luar keluargaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PENCERMINAN KASIH ALLAH DAN KOMITMEN-NYA KEPADA UMAT-NYA” (bacaan  tanggal 24-2-17) dalam situs/ blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Jakarta, 21 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements