YESUS MEMILIH SEORANG NELAYAN BIASA-BIASA SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – Rabu, 22 Februari 2017) 

jesus_asking_peterSetelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (Mat 16:18).

Pesta Takhta Santa Petrus telah dirayakan sejak masa-masa awal Gereja di Roma. Mula-mula digunakan tanggal 18 Januari sebagai peringatan penuh-syukur akan hari ketika rasul ini memulai pelayanan pertamanya di tengah-tengah umat beriman di Roma. Sejak abad pertengahan ditentukanlah tanggal 22 Februari, yang secara tradisional dilihat sebagai peringatan proklamasi Petrus tentang Yesus sebagai Mesias (Mat 16:16). Dinamakan Pesta Takhta Santo Petrus, karena yang dirayakan adalah kursi (takhtanya) sebagai Uskup Roma, dan sebagai pemimpin pertama Gereja universal.

Yesus memilih Petrus. Mengapa? Rasul ini memang membuat pernyataan iman yang berani, namun dia seringkali juga mengkontradiksikan dirinya seperti yang terjadi beberapa saat saja setelah pernyataan imannya. Baru saja Yesus untuk pertama kalinya memberitahukan kepada para murid-Nya tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya, Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau” (Mat 16:21-22). Jawaban Yesus berupa sebuah teguran keras: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat 16:23). Lalu pada perjamuan terakhir, Petrus mencoba meyakinkan Yesus dengan pernyataannya, bahwa lebih baik dia mati daripada menyangkal Yesus, namun pada kenyataannya dia menyangkal Yesus juga, malah sampai tiga kali! (lihat Mat 26:30-35,69-75; Mrk 14:26-31,66-72).  Memang Petrus bukanlah seorang pribadi yang sempurna!

Apakah kepemimpinan Gereja Kristus diberikan kepada Petrus karena prestasinya yang luarbiasa? Jelas tidak! Apa yang dilihat Yesus dalam diri Petrus adalah imannya. Memang, keterikatan penuh gairah Petrus kepada Yesus memimpinnya sedemikian rupa sampai pada suatu titik di mana dia membuat janji-janji yang tak mampu dipenuhinya, namun sebenarnya tanpa perlu diragukan lagi Petrus memiliki ketetapan hati untuk percaya. Setiap kali setelah ‘kejatuhannya’, Petrus selalu kembali kepada Yesus untuk pengampunan dan pemulihan dari-Nya. Keterikatan kepada Yesus seperti inilah – ketergantungan kepada-Nya at all costs – yang membuat Simon bin Yunus menjadi “batu karang” (Bahasa Aram: Kepha (Kefas); Yunani: Petrus) di atas mana Yesus mendirikan Gereja-Nya.

Keterikatan penuh gairah kepada Yesus – meskipun kita sendiri penuh dengan kelemahan – adalah yang paling disukai oleh Bapa surgawi. Apakah kita melakukan tindakan salah atau benar, hal sedemikian itu tidak sebegitu penting ketimbang sikap dan kemauan kita untuk selalu kembali datang kepada Allah untuk pengampunan setiap kali kita berdosa. Kita mungkin saja semata-mata melihat ketidakpercayaan dan kejatuhan kita, namun Yesus melihat hasrat-hasrat yang ada dalam hati kita. Baiklah kita meneladan Petrus sebagai contoh iman. Yesus dapat menggunakan bahkan orang-orang yang paling lemah sekali pun, selama mereka menanggapi rahmat iman yang diberikan oleh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami berdoa untuk mereka yang sedang goyah imannya. Bawalah mereka agar sampai kepada keakraban yang lebih besar dengan-Mu. Janganlah semangat mereka menjadi menyusut karena kegagalan atau kejatuhan dalam dosa, namun selalu mau kembali kepada Allah untuk pengampunan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS YANG DIPILIH OLEH YESUS” (bacaan tanggal 22-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 20 Februari 201

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

Advertisements