JANJI TRANSFIGURASI: KITA SEMUA DAPAT MENYAKSIKAN KEMULIAAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Sabtu, 18 Februari 2017) 

transfigurasi-10Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu. Lalu tampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Rabi, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.” Tiba-tiba sewaktu memandang sekeliling, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan itu sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati”. Lalu mereka bertanya kepada-Nya, “Mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihina? Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia.” (Mrk 9:2-13) 

Bacaan Pertama:  Ibr 11:1-7; Mazmur Tanggapan: 145:2-5,10-11 

Di atas sebuah gunung yang tinggi, Petrus, Yakobus dan Yohanes diberikan kesempatan untuk menyaksikan secara sekilas lintas kemuliaan Guru mereka dan mendengar permakluman Bapa dari surga tinggi: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7). Mengapa Bapa surgawi minta kepada ketiga murid “lingkaran dalam” itu untuk mendengarkan Yesus? Di sini, dalam pernyataan keagungan dan kuasa-Nya, bukankah lebih cocok Bapa meminta tiga orang murid itu untuk menyembah Yesus, atau untuk memproklamasikan kepada setiap orang kemuliaan yang baru mereka saksikan?

Para murid itu harus mendengarkan Yesus karena mereka belum memahami kata-kata/sabda Yesus. Buktinya? Marilah kita ingat-ingat satu peristiwa yang terjadi  “pas” sebelum peristiwa transfigurasi di atas gunung tinggi ini. TKP: kawasan Kaisarea Filipi. Petrus baru saja memproklamasikan Yesus sebagai Mesias (Mrk 8:29), namun beberapa saat kemudian, setelah mendengar Yesus berbicara mengenai penderitaan sengsara dan kematian-Nya di Yerusalem, murid ini menegur Yesus dengan keras (Mrk 8:30-33). Setelah mengoreksi Petrus dengan tidak kalah keras, Yesus melanjutkan pembicaraan/pengajaran-Nya tentang “biaya kemuridan” (cost of discipleship) yang harus ditanggung seseorang kalau benar-benar ingin mengikuti diri-Nya: “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mrk 8:34-35).

Inilah kata-kata Yesus yang harus didengarkan oleh ketiga murid di atas gunung (dan juga para murid-Nya yang lain), karena kata-kata tersebut begitu akrab terkait dengan kemuliaan Yesus. Mendengarkan sabda Yesus yang keras seperti itu tanpa melihat Ia tampil dalam kemuliaan-Nya adalah terlalu sulit. Sebaliknya, menyaksikan kemuliaan Tuhan tanpa pemahaman tentang sifat dan peranan salib akan menggiring seseorang kepada suatu “kesombongan rohani” sebagaimana ditunjukkan oleh hasrat Petrus untuk mendirikan kemah di atas gunung tinggi itu, masing-masing bagi Yesus, Musa dan Elia. Jadi, memisahkan diri Yesus dari orang banyak yang dengan kedatangan-Nya justru ingin diselamatkan-Nya.

Di antara dua ekstrim inilah Yesus berdiri, Anak Manusia yang merendahkan diri-Nya untuk menyelamatkan kita dari dosa dan yang sekarang bangkit dalam kemuliaan. Roh Kudus ingin memberikan kepada kita pandangan sekilas terhadap kemuliaan ini, sehingga dengan demikian mendesak kita “kehilangan” nyawa dalam Dia, dan memilih hidup untuk Dia. Janji transfigurasi adalah kita semua dapat menyaksikan kemuliaan Yesus. Kita semua dapat mendengar suara Bapa surgawi yang menyatakan bahwa Yesus adalah Putera-Nya terkasih. Dan visi ini akan menggerakkan kita untuk memberikan nyawa/kehidupan kita kepada-Nya. Oleh karena itu, marilah kita mendengarkan Yesus selagi kita membuka hati kita agar dapat mengalami kemuliaan surgawi-Nya.

DOA: Roh Kudus, nyatakanlah kemuliaan Yesus kepada kami pada hari ini. Tunjukkanlah kepada kami keagungan, keindahan, kemurniaan dan kebaikan Allah kami! Buatlah hati kami tergetar dan penuhi hati kami dengan sukacita sejati, agar kami dengan penuh ketulusan hati mau kehilangan nyawa kami untuk mengikuti jejak Kristus di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:2-13) bacalah tulisan yang berjudul “KELOMPOK TIGA” (bacaan tanggal 18-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02  BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 16 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements