NILAI TERTINGGI DALAM KEHIDUPAN SEORANG MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Jumat, 17 Februari 2017) 

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKULalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama dengan malaikat-malaikat kudus.

Kata-Nya lagi kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah  telah datang dengan kuasa.” (Mrk 8:34-9:1) 

Bacaan Pertama:  Kej 11:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:10-15

“Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mrk 8:36-37).

Memang mungkinlah bagi seseorang untuk sukses dalam hidupnya namun di sisi lain dia menghayati suatu kehidupan yang tidak pantas untuk dijalaninya (not worth living). Pertanyaan riil yang ditanyakan oleh Yesus adalah: “Di mana anda menempatkan nilai-nilai anda dalam kehidupan?” Adalah mungkin bagi seseorang untuk menaruh nilai-nilai yang dianutnya pada hal-hal yang salah dan kemudian menyadarinya, namun sudah terlambat.

Pertama, seseorang dapat mengorbankan kehormatannya demi uang. Orang itu bisa saja memiliki hasrat akan hal-hal materiil dan tidak begitu peduli bagaimana cara dia akan memperoleh hal-hal materiil tersebut. Sudah ada banyak contohnya bagi kita di Indonesia, dari yang kecil sampai yang besar, dari seorang pemilik warung kecil sampai mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang sekarang sedang menjalani hukumannya. Pertanyaan senyata-nyatanya yang cepat atau lambat harus dijawab oleh orang bersangkutan (termasuk kita juga) adalah: “Bagaimana neraca kehidupanku di mata Allah?” Allah adalah sang Auditor yang harus dihadapi semua orang.

Kedua, seseorang dapat mengorbankan prinsip demi popularitas. Dapat terjadi seseorang yang selalu haha-hihi, kelihatan bersahabat dengan semua orang akan “menyelamatkan” orang itu dari banyak kesulitan. Dapat terjadi seseorang yang sangat memegang prinsip (sering  terasa tidak fleksibel) akan mendapatkan dirinya tidak disukai oleh orang-orang. Pertanyaan senyata-nyatanya yang pada akhirnya harus dihadapi dan dijawab oleh setiap orang bukanlah “Apakah pandangan orang-orang tentang hal ini?”, melainkan “Apakah pandangan Allah tentang hal ini?” Jadi, bukan opini publik, melainkan pandangan Allah dan keputusan-Nyalah yang menentukan “nasib” orang.

Ketiga, seseorang dapat mengorbankan hal-hal yang tahan lama demi hal-hal kecil dan sepele. Memang selalu lebih mudah untuk meraih sukses yang murahan. Misalnya, seorang dapat memilih suatu pekerjaan yang akan menghasilkan lebih banyak uang dan lebih banyak kenikmatan, dan dia menolak suatu pekerjaan dengan mana dia dapat menolong orang-orang yang sungguh membutuhkan pertolongan. Seseorang dapat hidup dengan hal-hal kecil dan membiarkan hal-hal besar pergi. Seorang perempuan bisa lebih menyukai kehidupan penuh kenikmatan dan “kebebasan” ketimbang urusan rumah tangga dan mendidik anak-anaknya sejak kecil sampai beranjak dewasa. Namun, dengan berjalannya waktu kehidupan mempunyai suatu cara untuk mengungkapkan nilai-nilai sejati dan menghukum hal-hal yang buruk. Hal-hal murahan tidak bertahan lama.

Keempat, kita dapat meringkas semua yang disebutkan di atas dengan mengatakan bahwa seseorang dapat mengorbankan kehidupan kekal demi kehidupan hari ini. Kita dapat diselamatkan dari segala jenis kesalahan jika kita senantiasa memandang segala sesuatu dalam terang “keabadian” atau “kekekalan”. Banyak hal memang menyenangkan untuk waktu yang singkat namun dapat menghancurkan dalam jangka panjang.

Seseorang yang melihat segala sesuatu seperti Allah melihat semua itu, tidak akan melibatkan dirinya dengan hal-hal yang dapat merugikan jiwanya.

DOA: Bapa surgawi, lewat bimbingan Roh Kudus-Mu buatlah aku agar dapat melihat segala sesuatu seperti Engkau melihatnya. Jadikanlah hatiku seperti hati Yesus Kristus. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:34-9:1), bacalah tulisan yang berjudul “SALIB SEBAGAI TOLOK UKUR” (bacaan tanggal 17-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 15 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements