SECARA BERTAHAP

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Rabu, 15 Februari 2017) 

Healing of a Blind Man in Bethsaida Mark 8:22-25

Healing of a Blind Man in Bethsaida Mark 8:22-26

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Lalu orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menyentuh dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya kepadanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?”  Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang-orang seperti pohon-pohon, namun aku melihat mereka berjalan-jalan.”  Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Lalu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata, “Jangan masuk ke desa itu!” (Mrk 8:22-26) 

Bacaan Pertama: Kej 8:6-13,20-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-15,18-19 

Markus adalah satu-satunya penulis Injil yang bercerita tentang penyembuhan seorang buta di Betsaida. Mukjizat ini serupa dengan mukjizat yang diceritakan oleh Markus dalam bab sebelumnya, yaitu penyembuhan seorang tulis dan gagap (Mrk 7:31-37). Dalam kedua cerita penyembuhan itu Yesus menggunakan hal-hal materi seperti ludah /air liur sebagai sarana penyembuhan. Hal seperti ini merupakan gambaran awal dari penggunaan hal-hal materi dalam sakramen-sakramen gerejawi; memberikan sakramen-sakramen itu suatu kuat-kuasa yang bahkan melampaui hal-hal materi tersebut.

Namun, mukjizat penyembuhan orang buta dalam bacaan Injil hari ini mempunyai sesuatu yang sangat istimewa. Apa maksudnya? Karena inilah satu-satunya penyembuhan yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil di mana penyembuhan itu terjadi dalam dua tahap. Di kasus-kasus lainnya, mukjizat penyembuhan terjadi secara instan. Kiranya di sini Yesus bermaksud agar restorasi penglihatan si buta sebagai suatu lambang/symbol dari pencerahan yang datang kepada para murid-Nya berkenan dengan ajaran-Nya.

Demikian pula halnya dengan kehidupan rohani kita, dengan iman-kepercayaan kita. Seringkali kita hampir tidak melihat samasekali. Kita tidak mengerti. Kita hanya memiliki iman – terang yang masih samar-samar, dengan mana kita masih berada dalam “kegelapan” bagaikan seseorang yang melihat dengan menggunakan kacamata yang “tertutup” dengan asap. Namun apabila kita bertekun, jikalau kita tidak cepat merasa ciut karena ketiadaan pemahaman, maka kita pun dapat melihat dengan lebih jelas lagi. Apabila kita terbuka bagi berbagai karunia Roh Kudus, teristimewa karunia-karunia sabda pengetahuan, hikmat dan pengertian, maka secara bertahap kita akan memperoleh penglihatan rohani atau wawasan rohani yang lebih baik.

Keterbukaan bagi karunia-karunia Roh datang dari doa yang dilakukan secara teratur, dari memberi tanggapan terhadap sabda dan panggilan Allah selagi kita mendengarnya dari Kitab Suci, dan selagi sabda dan panggilan Allah itu datang kepada kita lewat peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita.

Tidak seorang pun perlu menderita kebutaan spiritual. Penyembuhan kebutuhan rohani tersebut harus kita upayakan juga di bawah bimbingan Roh Kudus.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau sungguh sabar menghadapi kelemahan-kelemahanku sebagai seorang manusia. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:22-26), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BUTA BELAJAR UNTUK MELIHAT” (bacaan tanggal 15-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 13 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements