SEPERTI DOMBA-DOMBA YANG TIDAK MEMPUNYAI GEMBALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Sabtu, 4 Februari 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: S. Yosef dari Leonissa, Imam Biarawan

 152

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mreka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk 6:30-34) 

Bacaan Pertama: Ibr 13:15-17,20-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Pernahkah anda bayangkan bagaimana jadinya dengan beribu-ribu ekor domba, apabila secara mendadak tidak ada seorang pun gembala untuk menjaga mereka? Domba-domba itu tidak lagi terlindungi dari kemungkinan bahaya, tidak lagi mempunyai seseorang yang menggiring mereka di jalan yang aman dan yang akan membawa mereka ke arah yang benar. Belarasa Yesus terhadap orang-orang yang mengikuti-Nya mengingatkan kita akan pentingnya memiliki Dia sebagai sang “Gembala Sejati” dalam perjalanan iman kita sehari-hari.

Setelah kedua belas murid Yesus kembali dari tugas pelayanan pewartaan, pengajaran, penyembuhan dan membawa orang kepada pertobatan dan iman, maka Yesus dan para murid-Nya memutuskan untuk menyendiri ke tempat terpencil. Namun, karena terdorong oleh rasa rindu mendalam untuk bersama Yesus dan mendengarkan sabda-Nya, maka beribu-ribu orang dari segala penjuru bergegas-gegas mengikuti Yesus dan para murid-Nya dengan menggunakan rute darat. Orang banyak itu ingin bertemu dengan Yesus, dan keadaan mereka membuat hati-Nya tergerak. Seperti kawanan domba yang baru kehilangan gembala, mereka mengikuti satu Gembala yang sungguh dapat memimpin mereka. Dengan demikian apa yang pada awalnya dimaksudkan sebagai waktu untuk istirahat Yesus dan para murid-Nya menjadi kesempatan baru lagi bagi orang banyak itu untuk bertemu Yesus yang memperhatikan orang-orang yang hilang-tersesat dan mempunyai berbagai kebutuhan. Setiap orang, baik orang banyak maupun kedua belas murid, dilayani oleh sang Gembala.

Yesus memanggil setiap kita untuk “keluar” dari rutinitas kita sehari-hari dan beristirahat di hadapan hadirat-Nya, di mana kita dapat mengalami kebaikan-Nya dan berkat-Nya. Dia ingin mengajar kita dan memenuhi diri kita dengan kuat-kuasa Allah yang ajaib dan memberi hidup. Dia adalah Gembala yang lemah lembut dari jiwa-jiwa kita, Guru dari mereka yang hilang-tersesat, Tuhan yang senang sekali memberi makanan kepada semua orang yang memiliki hasrat untuk berkumpul di sekeliling-Nya.

Sebagai “Gembala Baik”, Yesus ingin mengajar kita bagaimana membuat jiwa kita tenang sehingga kita dapat beristirahat dalam Dia setiap hari. Dalam hati kita yang terdalam, kita semua rindu akan kehadiran Yesus, namun kita masih saja menghadapi kesulitan menyediakan waktu untuk bersama dengan Dia. Dalam doa kita, baiklah kita mohon agar menanamkan dalam diri kita masing-masing suatu hasrat lebih mendalam lagi akan kehadiran-Nya. Kita mohon kepada-Nya guna menolong kita mendapat waktu untuk duduk bersama-Nya dan hanya menerima apa saja yang hendak diberikan-Nya kepada kita. Selagi kita melakukan semua ini, semoga Roh-Nya membuat kita serupa dengan Yesus. Bersama sang pemazmur, baiklah kita memanjatkan doa singkat ini kepada-Nya: “Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu” (Mzm 119:10).

DOA: Tuhan Yesus, aku datang kepada-Mu sebagai apa adanya diriku, sangat berhasrat untuk mendengarkan sabda-Mu. Ajarlah aku hal-ikhwal yang menyangkut Allah. Sabda-Mu adalah roti bagi jiwaku. Sinarilah terang-cahaya-Mu atas jalanku hari ini, dan perkenankanlah aku berjalan dalam jalan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA SETELAH IA MENGENYANGKAN HATI DAN PIKIRAN KITA DENGAN PESAN INJIL” (bacaan tanggal 4-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 76-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-2-16 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements