MENDENGAR PERKATAAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Kamis, 1 Desember 2016) 

jesus_christ_picture_013Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. 

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. (Mat 7:21,24-27) 

Bacaan Pertama: Yes 26:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27

Santo Hieronimus [347-419/420] adalah seorang rahib dan pujangga Gereja yang terkenal. Dia lahir di Dalmatia dan meninggal dunia di Betlehem dalam keadaan buta dan ditinggalkan. Jasanya dalam bidang Alkitab sudah kita ketahui.  Dia menggeluti sepotong bacaan Kitab Suci yang sulit dipahami untuk berminggu-minggu lamanya – mengumpulkan sedikit demi sedikit hikmat rohani dari bacaan tersebut. Bacaan yang digelutinya tersebut adalah dari “Surat Paulus kepada Jemaat di Roma”. Pada suatu hari Hieronimus yang temperamental itu sudah tidak tahan lagi, seakan dia berkata “Enough is enough!” Dalam kejengkelannya dia melemparkan bahan-bahan bacaan yang sedang dipelajarinya sambil berseru: “Paulus, engkau (memang) tidak ingin dimengerti!”

Bukankah selama mencoba mendengar sabda Tuhan dari pembacaan dan permenungan Kitab Suci kita pun merasa seperti apa yang dirasakan oleh Hieronimus? Tentu saja Hieronimus mengetahui bahwa masalahnya bukanlah dengan hasrat Allah atau kemampuan-Nya untuk berbicara, melainkan dengan kelemahan kita dalam mendengarkan. Allah sungguh ingin untuk dimengerti/dipahami. Dia ingin agar suara-Nya didengar dengan jelas oleh kita semua. Kalau tidak demikian halnya, mengapa Dia harus menciptakan kita dengan hati yang berisi kerinduan kepada-Nya? Dari sediakala, pada awal waktu, kita “ditakdirkan” untuk menjadi pendengar-pendengar sabda Allah.

Sepintas lalu, kelihatannya mendengar suara Allah harus terjadi secara “alami”, tanpa banyak upaya di pihak kita-manusia. Apabila hal ini tidak terjadi, maka kita dapat tergoda untuk berpikir bahwa penyebabnya adalah Allah tidak menyatakan diri-Nya dengan sangat jelas. Sebenarnya, walaupun kita diciptakan untuk mendengar Allah, kita tetap berkewajiban untuk menyediakan waktu dan mengeluarkan energi untuk mengembangkan kepekaan kita terhadap suara-Nya. Berbicara praktisnya, jika kita ingin membeli seperangkat sound system yang baru, kita tentunya berasumsi bahwa semakin banyak uang yang kita investasikan, semakin jelas-jernih pula suara musiknya nanti. Yang masuk akal adalah bahwa semakin banyak kita investasikan waktu dan energi dalam relasi dengan Bapa surgawi, maka semakin baik pula kita mendengar suara-Nya.

Marilah kita menyediakan waktu untuk mendengarkan suara-Nya dengan penuh perhatian. Kita mulai dengan hal-hal kecil yang ditaruh-Nya dalam hati kita masing-masing – hal-hal yang telah kita mengerti – dan mempraktekkannya. Mungkin sepotong bacaan dari Kitab Suci “muncul” dalam pikiran kita atau barangkali kita diingatkan bahwa Allah mendesak kita untuk berdoa bagi seseorang yang membutuhkan. Apa pun kasusnya, kita tidak boleh mengabaikannya. Kita harus mengikuti pimpinan serta bimbingan Allah. Kemudian baiklah kita melanjutkan dengan menyediakan waktu guna mendengarkan suara-Nya dalam Kitab Suci, dalam Misa dan dalam doa kita. Allah juga dapat saja berbicara kepada kita dengan cara-cara yang kita tidak harap-harapkan. Marilah kita mendengarkan suara Allah dengan penuh perhatian. Biarlah masa Adven tahun ini menjadi masa upaya yang tulus guna mendengar suara Allah dan membangun hidup kita di atas fondasi kokoh  sabda-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, hancurkanlah perlawanan-perlawanan dalam diriku yang ingin mencegah aku mendengar Engkau. Datanglah, ya Yesus, Raja segala raja, dan berdiamlah dalam hidupku. Aku sungguh ingin mendengar suara-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21,24-27), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG BIJAKSANA MENDIRIKAN RUMAH DI ATAS BATU” (bacaan tanggal 1-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 November 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS