MELIHAT KE DEPAN

(Bacaan Injil Misa,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 25 November 2016) 

1-0-jesus-christ-super-starLalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Why 20:1-4,11-21:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:33)

Yesus seringkali berbicara tentang “akhir zaman”, artinya kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Kedatangan kembali “Anak Manusia” adalah suatu suatu saat yang bersifat pribadi dalam kehidupan kita masing-masing, suatu saat di masa mendatang yang menginspirasikan baik pengharapan maupun rasa takut. Kita berupaya untuk melupakan masa depan tersebut, walaupun saat itu merupakan keniscayaan.

Raja Louis IX atau Ludovikus IX [1214-1270] dari Perancis adalah seorang kudus dan seorang raja yang dicintai rakyatnya. Raja ini adalah seorang anggota Ordo Fransiskan Sekular, dan bersama St. Elisabet dari Hungaria [1207-1231] mereka menjadi orang-orang kudus pelindung OFS. Raja ini pernah mengungkapkan rahasia keberhasilannya sebagai seorang penguasa negeri dan pada saat sama seorang Kristiani. Di tengah-tengah taman istananya, yang terlihat nyata dari dalam kamar tidurnya dan ruangan-ruangan kenegaraan lainnya, raja Louis IX membangun sebuah kapel, di dalam kapel tersebut dia menguburkan jenazah para nenek moyangnya. Jadi, setiap saat dalam satu hari, raja dapat mencari tempat di mana jenazahnya kelak dapat dikuburkan. Jadi, setiap hari dia dapat melihat wajah kematiannya sendiri.

saint_louis_ix_by_el_grecoSalah satu turunannya, Louis XIV, bertanya mengapa hal untuk mengingat-ingat yang tidak mengenakkan itu dibangun begitu dekat dengan istana. Para penasihatnya menjawab, “Ayahanda paduka raja dan buyut baginda menggunakannya untuk bermeditasi di tempat itu, tempat mereka dikuburkan. Pada suatu hari, baginda juga akan berada di sana!” Raja Louis XIV menjawab: “Hancurkanlah tempat itu. Aku tidak ingin mati! Jauhkanlah semua itu dari pandanganku!”

Akan tetapi semua pekerja menolak; mereka sangat terganggu dengan pemikiran untuk memindahkan kapel yang berisikan kuburan tersebut. Tempat itu kudus bagi seorang kudus (Louis IX) dan ia dikuburkan di kapel tersebut. Menurut mereka memindahkan kuburannya sungguh merupakan suatu sakrilegi.

Pembangkangan terhadap perintah raja ini malah semakin menakutkan raja Louis XIV. Ia kemudian memerintahkan para pembantunya untuk membangun sebuah istana baru di lokasi berbeda untuk melarikan diri dari pemikiran tentang kematian. Sejalan dengan itu, hidupnya pun dipenuhi keserakahan, ketamakan, menyedihkan, dan juga sangat berisi dengan segala hal yang menyangkut kenikmatan duniawi.

Sebaliknyalah dengan buyutnya – raja Louis IX – tempat pengingat kematian ini juga membuat sang raja menjadi seorang kudus yang dicintai oleh semua orang, seorang pendoa, seorang kepala negara yang penuh hikmat dan penderma yang baik. Santo Ignatius dari Loyala pernah memberi nasihat, “Pilihlah panggilanmu dari sudut pandang kematianmu.” Saudari dan Saudaraku yang terkasih, marilah kita hidup untuk dunia yang akan datang, dan kita pun akan lebih berbahagia dalam dunia ini.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah kami agar menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kali dengan penuh iman, pengharapan dan kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU, TETAPI PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU” (bacaan untuk tanggal 25-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS