KRISTUS SANG RAJA

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM [TAHUN C] – Minggu, 20 November 2016 

KRISTUS RAJA - 55… dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.

Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu menyatu di dalam Dia. Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu. Kareana seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia, dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan darah salib Kristus. (Kol 1:12-20) 

Bacaan Pertama: 2Sam 5:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5; Bacaan Injil: Luk 23:35-43 

Sejarah dipenuhi dengan raja-raja yang jatuh dari takhta mereka. Pemerintahan mereka dicirikan dengan keserakahan dan curahan darah para korban  ketidakadilan. Mereka  membangun istana-istana yang mewah, sementara rakyat mereka hidup dalam kemiskinan. Mereka mengisolasi diri dari rakyat mereka sendiri dengan mendirikan tembok-tembok yang kokoh-tinggi dan menyewa tukang-tukang pukul atau pasukan bayaran khusus demi keamanan diri mereka (Ingat raja Louis XVI [+1793] dari Perancis dan ratunya yang bernama Marie Antoinette menjelang meletusnya Revolusi Perancis tahun 1789-1799). Raja-raja seperti ini juga menghadapi negara-negara tetangga yang tidak bersahabat dengan sikap dan perilaku yang brutal.

Apabila hal seperti ini yang kita harapkan dari seorang raja, maka janganlah terkejut apabila sulit bagi kita untuk bersembah sujud di hadapan takhta Yesus Kristus. Yesus tidak memegang jabatan politis. Ia juga bukan seorang panglima tertinggi dari sepasukan besar tentara. Namun demikian, Ia adalah Raja segala raja! Dia tidak menampilkan diri sebagai seorang diktator yang menginjak-injak kebebas-merdekaan kita serta menuntut ketaatan buta dari kita. Dia tidak menggunakan kekuatan atau memanfaatkan rasa-bersalah kita guna mempertahankan pemerintahan-Nya ….., karena semua itu tidaklah perlu dilakukan-Nya.

Pada Perjamuan Terakhir, Yesus menyatakan rencana-Nya untuk “mengambil alih” dunia ini. Senjata pemusnah massal manakah yang dimiliki-Nya untuk melaksanakan rencana-Nya tersebut? Berbeda dengan Hannibal, berbeda dengan Alexander Agung, berbeda dengan Hitler, Stalin dlsb., senjata yang dimiliki Yesus adalah “kasih”. Semuanya kelihatan tidak signifikan dan tanpa daya-kekuatan, namun lihatlah sejarah Gereja. Kasih ilahi telah mengalahkan berjuta-juta orang, merestorasikan jutaan orang, dan memberikan inspirasi kepada  jutaan orang pula. Gereja telah menopang orang-orang kudus yang tidak terhitung jumlahnya dan telah mempertobatkan para pendosa yang juga tak terbilang banyaknya. Kasih mengubah sejarah!

Apabila dibandingkan dengan para raja yang jatuh dan telah menodai landskap sejarah, maka martabat Kristus sebagai Raja berbeda, bukan dalam intensitasnya melainkan dalam jenisnya. Yesus adalah seorang Raja yang bersenjata kasih dan keutamaan, bukan bedil, meriam atau pedang. Yesus tidak memakai mahkota yang dipenuhi dengan intan-permata, melainkan mahkota dari duri. Dia memberkati orang-orang yang menganiaya diri-Nya dan berdoa untuk mereka yang memperlakukan diri-Nya dengan tidak adil dan kejam. Seperti diajarkan-Nya sendiri (Mat 5:39), Yesus memberi pipi yang satu lagi ketika satu pipinya ditampar.

Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah aku seorang pengikut setia dari Kristus sang Raja? Apakah aku mengikuti jejak-Nya dengan menaburkan benih cintakasih kepada orang-orang di sekelilingku? Pekan depan kita akan mulai tahun liturgi yang baru. Oleh karena itu, hari ini adalah hari yang sangat baik untuk memulai segalanya secara baru. Apa pun yang telah kita lakukan dan pengalaman macam apa pun yang telah kita lalui, Kristus akan menyambut kita masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Marilah kita memandang dan memperlakukan Dia sebagai sang Raja.

DOA: Yesus Kristus, Raja langit dan bumi, aku mengasihi Engkau, dan aku ingin lebih mengasihi Engkau lagi setiap hari. Engkau adalah hasrat hatiku yang terdalam. Aku mempersembahkan diriku kepada-Mu hari ini. Datanglah, ya Rajaku, dan buatlah aku menjadi seorang pribadi seturut rencana-Mu sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 23:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “DUA ORANG PENJAHAT DI HADAPAN SANG RAJA” (bacaan tanggal 20-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 November 2016 [Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, Ratu] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS