PILIHAN-PILIHAN DAPAT MENYAKITKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Sabtu, 19 November 2016)

Keluarga Besar Fransiskan: S. Agnes dr Assisi, Perawan (Ordo II)

1-1-jesandsadducees_1179-48Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40) 

Bacaan Pertama: Why 11:4-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10

Pilihan-pilihan dapat menyakitkan. Dalam kondisi kita sebagai manusia, setiap pilihan yang kita buat atau keputusan yang kita ambil akan membatasi kita. Apabila saya melakukan “ini”, maka saya tidak dapat melakukan “itu”. Apakah konsekuensinya apabila saya mengambil pekerjaan lain? Apakah saya harus mengatakan “tidak” terhadap godaan yang begitu menggiurkan? Apakah saya harus mengupayakan “rekonsiliasi” dengan pasangan hidupku sebelum terlambat?

Orang-orang Saduki yang kali ini mencobai Yesus tidak percaya adanya kebangkitan, artinya kehidupan setelah kematian fisik. Jika mereka membayangkan kehidupan sedemikian (agar dapat mengejeknya atau menertawakannya), maka mereka mencampur-adukkannya dengan batasan-batasan kehidupan ini. Seturut ketentuan Hukum Levirat yang sebenarnya bertujuan mengabadikan nama seorang laki-laki yang sudah mati, tujuh orang bersaudara secara berturut-turut mengawini seorang perempuan yang sama. Pada saat kebangkitan, status perempuan itu sebagai istri dari laki-laki yang mana? Tidak bisa sebagai istri dari semuanya, bukan?

Menanggapi pertanyaan orang-orang Saduki ini, Yesus dapat saja menjawab, “Mengapa tidak? Mengapa semua manusia yang dibangkitkan tidak dapat menikmati keintiman yang setara? Kemiskinan imajinasimu  tentunya tidak sampai berpikir ke situ!”

Yesus memang seorang pribadi yang penuh dengan hikmat Allah sendiri. Dia menerima visi orang Saduki tentang perkawinan yang akurat namun terbatas itu dan mengupayakan agar konsepsi mereka tentang surga dapat diperluas. Bagaimana kiranya relasi dalam surga? Yesus menunjuk kepada relasi intim Allah dengan para pahlawan besar dalam Kitab Kejadian, salah satu dari sedikit kitab-kitab Perjanjian Lama yang diterima oleh orang-orang Saduki konservatif. Allah menyatakan diri-Nya kepada Yakub sebagai “Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak” (lihat Kej 28:13). Allah tidak mengatakan bahwa Dia pernah menjadi Allah Abraham sampai bapa bangsa itu wafat, atau Dia akan menjadi Allah Yakub hanya setelah Ishak meninggal dunia. Tidak, Allah mampu untuk menjalin relasi dengan setiap pribadi yang mencari-Nya, dan relasi itu “diubah, bukan diakhiri” pada saat eksistensi kita di atas bumi berakhir.

Di dalam surga, tidak akan ada penyesalan-penyesalan, batasan-batasan, pilihan-pilihan yang buruk. Sebaliknya, di sana akan ada kesempatan-kesempatan untuk eksplorasi yang tanpa akhir, keintiman yang tanpa batas dengan Allah dan masing-masing anak-Nya yang teramat dikasihi-Nya. Pilihan-pilihan tanpa batas ini telah dibuka bagi kita karena pilihan yang paling esensial. Sebelum pilihan penuh kesadaran yang kita buat, Allah memilih masing-masing kita sebagai milik-Nya sendiri. Setelah banyak pilihan penuh kedosaan yang kita buat, Allah memilih untuk membuat batasan atas diri-Nya sendiri lewat misteri inkarnasi sampai kematian di atas kayu salib. Untuk itu sudah sepantasnyalah kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah Tritunggal Maha Kudus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah mengikat diri-Mu kepada kami masing dalam kasih. Persatukanlah kami dengan Engkau dan transformasikanlah semua pilihan kami menjadi tanggapan-tanggapan terhadap kasih-Mu yang besar dan agung. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA TIDAK BERANI LAGI MENANYAKAN APA-APA KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 19-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 17 November 2016 [Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, Ratu]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS