KAMI HAMBA-HAMBA YANG TAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Selasa, 8 November 2016)

OP/KFS: Peringatan Arwah Semua Anggota Tarekat 

1-0-jesus-christ-super-star“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10) 

Bacaan Pertama: Tit 2:1-8,11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18,23,27,29

Adalah suatu fakta yang menyedihkan tentang kodrat kita yang cenderung berdosa, bahwa kebanyakan dari kita dapat dengan mudah membayangkan diri kita sebagai sang “tuan” dalam perumpamaan Yesus ini, akan tetapi ide tentang kita sebagai si hamba membuat kita merasa tidak nyaman. Kita sudah terbiasa memegang kendali atas kehidupan orang lain, tidak secara tetap “tersedia” bagi tujuan/kepentingan orang lain. Sifat masyarakat di mana kita hidup membuat kata-kata Yesus di atas terdengar sangat radikal.

Namun, di lain pihak penyerahan diri dengan penuh kemauan kepada kehendak Allah adalah kualitas pribadi yang sangat kita kagumi dari para kudus. Maria dan Yusuf, para martir Kristiani yang awal, para misionaris besar dan para pengkhotbah/pewarta Injil di masa lalu: mereka semua melepaskan hak atas hidup mereka sendiri dan dengan penuh pasrah menyerahkan diri pada kehendak Allah atas pekerjaan apa yang harus mereka lakukan dan juga hidup mereka sendiri. Mereka menjadi para pelayan/hamba, memberikan hidup mereka kepada Allah dengan cara-cara yang sangat praktis. Sebagai milik Yesus mereka tidak hanya menemukan sukacita, melainkan juga energi, kasih dan pemusatan perhatian dan tindakan seperti dicerminkan dalam kehidupan mereka.

5111d23e0ca49a040ccb3a1387dd913bBagi saya, seorang pribadi di abad ke-20 lalu yang memperlihatkan kualitas-kualitas pribadi seperti disebutkan di atas adalah Santa Bunda Teresa dari Kalkuta. Semangat kemiskinan yang dirangkul oleh Bunda Teresa dan para pengikutnya mencakup juga kemiskinan dalam/demi ketaatan, artinya menolak pilihan-pilihan pribadi agar dapat melayani Allah. Bunda Teresa menulis:

“Jika sesuatu merupakan milik saya, maka saya memiliki kekuasaan penuh untuk menggunakannya seturut kehendak saya. Saya ini milik Yesus, artinya Dia dapat melakukan apa saja terhadap diri saya sesuai dengan kehendak-Nya. Karya atau pekerjaan bukanlah panggilan kami. Saya dapat melakukan pekerjaan ini tanpa harus menjadi seorang religius/biarawati. Panggilan kami adalah untuk menjadi milik-Nya. Profesi kami adalah bahwa kami ini milik-Nya. Dengan demikian, saya siap untuk melakukan apa saja, mencuci, menyikat, membersihkan. Saya ini seperti seorang ibu yang mempunyai seorang anak. Anak itu adalah miliknya. Ibu itu melakukan semua pekerjaan cuci-mencuci, tidak tidur di malam hari, dll. untuk membuktikan bahwa anak itu adalah sungguh miliknya. Dia tidak akan melakukan hal ini untuk anak-anak lain, akan tetapi dia akan melakukan apa saja untuk anaknya sendiri. Jadi, jika saya adalah milik Yesus, maka saya akan melakukan apa saja untuk Yesus” (Penyerahan Total – Total Surrender, 123).

Saudari dan Saudaraku, kita semua adalah milik Allah. Kita adalah orang-orang berhutang (para debitur) kepada Allah untuk keberadaan kita. Tidak ada pekerjaan-pekerjaan baik (sebanyak apa pun) yang kita lakukan yang dapat membuat kita menjadi kreditur dan Allah menjadi debitur kita. Apabila tahun-tahun pelayanan kita yang dilakukan dengan penuh kerendahan hati selesai, maka ganjaran yang akan kita terima akan besar seturut belas kasih-Nya. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Yesus ketika mengajar dengan sebuah perumpamaan: “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang” (Luk 12:37). Oleh karena, marilah kita bergabung dalam barisan orang-orang yang menemukan sukacita sejati dalam melayani Tuan mereka, yaitu Yesus Kristus.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami adalah hamba-hamba-Mu yang tak berguna. Yang kami telah lakukan tidaklah lebih daripada tugas yang Kauberikan kepada kami. Namun, kami menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk meningkatkan iman dan kasih kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:1-10), bacalah tulisan berjudul “SIAPAKAH KITA INI, TUAN ATAU HAMBA?” (bacaan untuk tanggal 8-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 November 2016 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS