KASIH PERSAUDARAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Senin, 7 November 2016)

FMM: Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara

 Yesus-7

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6) 

Bacaan Pertama: Tit 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Bayangkanlah sebuah keluarga yang rukun dalam artian sebenarnya. Dorongan dari anggota keluarga yang satu kepada anggota keluarga yang lain diberikan secara bebas dan keluar dari suatu hasrat tulus untuk melihat adanya keberhasilan dalam diri anggota keluarga yang diberi dorongan tersebut. Koreksi pun ditawarkan demi kebaikan seorang anggota keluarga yang dikoreksi, bukan untuk membuatnya kelihatan bersalah. Dan, ada pengampunan! Ini adalah contoh keluarga gereja, Gereja yang dirindukan oleh Yesus.

Dari awal mula, Allah menempatkan suatu  semangat persaudaraan dalam hati kita. Akan tetapi, dosa asal kemudian merusak secara serius potensi dari jenis relasi yang indah seperti digambarkan secara singkat di atas. Apa yang perlu kita lakukan adalah mengingat kembali cerita tetang Kain dan Habel untuk melihat kenyataan yang menyedihkan tersebut (Kej 4:1-16). Namun sepanjang sejarah Israel, Allah melanjutkan kasih-Nya yang penuh kesetiaan dan terus mengajar umat-Nya bagaimana memperlakukan satu sama lain dengan keadilan, belas kasih, dan kerendahan hati. Kemudian, Yesus, Saudara kita, datang ke tengah umat manusia dan menunjukkan kepada kita-manusia jalan menuju persatuan dengan diri-Nya dan satu dengan lainnya.

Alkisah ada seorang eksekutif muda yang masih bujangan ditugaskan oleh perusahaannya ke sebuah kota lain. Ia sungguh menghadapi kesulitan. Ia meninggalkan sebuah keluarga gereja di mana dia telah mengembangkan suatu sense of belonging yang mendalam. Dia kehilangan para sahabat dan teman dekatnya. Lalu apa yang diperbuatnya? Eksekutif muda itu memohon kepada Bapa di surga agar diberikan seorang saja teman dengan siapa dia dapat syering imannya.

Allah memang baik, karena tidak lama kemudian, pada suatu hari Minggu pagi, eksekutif muda tersebut berjumpa dengan seorang perempuan muda di tangga gereja. Mereka berdua bertumbuh semakin dekat sebagai saudari dan saudara. Mereka saling mendoakan untuk berbagai kebutuhan yang ada. Yang satu bersukacita untuk berkat-berkat atas diri yang lain. Mereka saling mengingatkan akan kenyataan kasih Allah selagi mereka berjuang menghadapi masalah sehari-hari. Mereka bahkan secara bebas saling menegur tanpa mengancam tali persahabatan mereka.

Yesus tidak menginginkan kita menjalani hidup ini sendiri saja. Dia telah memberkati kita dengan keluarga gereja dan dengan Roh Kudus, ikatan dari setiap relasi perjanjian. Jika para saudari dan saudara dalam Kristus syering hidup mereka satu sama lain, maka kuat-kuasa itu begitu menakjubkan, sehingga kita tidak perlu terkejut ketika menyaksikan berbagai mukjizat yang terjadi, seperti halnya pohon ara dalam bacaan Injil di atas (Luk 17:6).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih persaudaraan dalam relasi antar-pribadi yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Ajarlah aku dan sahabatku untuk saling mengasihi secara lebih mendalam selagi aku dan sahabatku itu bertumbuh dalam kasih kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari (Luk 17:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI BERBELAS KASIH SEPERTI YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 7-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS