AKU MENANTIKAN KEBANGKITAN ORANG MATI DAN HIDUP DI AKHIRAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [Tahun C] – 6 November 2016) 

1-1-jesandsadducees_1179-48Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut Tuhan sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” (Luk 20:27-38) 

Bacaan Pertama; 2Mak &:1-2,9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8,15; Bacaan Kedua: 2Tes 2:16-3:5

“Ingatlah juga saudara-saudari kami yang telah berpulang dalam damai Kristus dan semua orang yang meninggal; hanya Engkaulah yang mengenal iman mereka” (Doa Syukur Agung IV).

Sepanjang bulan November ini, secara istimewa kita mendoakan semua orang yang telah meninggal dunia, khususnya para anggota keluarga kita, para sanak saudara, para sahabat dll. Kita percaya bahwa banyak dari mereka sudah berada bersama Allah, dan yang lainnya tetap hidup karena Allah mengingat mereka – Dia menopang mereka dengan kehidupan selagi Dia menjaga mereka tetap dalam pikiran-Nya. Pada akhirnya mereka pun akan berada bersama Allah di surga. Dalam hal ini kembali kita harus menggaris-bawahi pentingnya peran doa-doa kita.

Dari sejak awal Allah memberi indikasi (secara sedikit terselubung), bahwa kita diciptakan untuk suatu kehidupan kekal-abadi (Kej 2:17). Setelah Adam dan Hawa menyeleweng dari rencana Allah bagi kita-manusia dengan memakan buah dari pohon pengetahuan, Allah bersabda: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya” (Kej 3:22). Sesungguhnya Allah tidak ingin kita memisahkan diri kita secara permanen dari diri-Nya, untuk terus berada dalam posisi sebagai para “pemberontak” melawan-Nya.

Allah menyatakan kebenaran tentang kebangkitan secara bertahap – bahwa Dia mempunyai kuat-kuasa untuk memanggil orang mati dari Sheol (dunia orang mati) dan membangkitkan mereka kembali ke dalam kehidupan (1Raj 17:17-23; 2Raj 4:32-35); bahwa Dia  akan membangkitkan mereka, memulihkan tulang-tulang kering dan mati (Yeh 37:1-14); bahwa Dia tidak akan meninggalkan jiwa-jiwa setia sehingga jatuh ke dalam Sheol atau membiarkan mereka mengalami kerusakan (Mzm 16:10-11; 103:4).

Selama pengejaran dan penganiayaan yang dilakukan oleh raja Antiokhus Epifanes sejumlah orang (tidak semuanya) sampai kepada kepercayaan yang lebih mendalam perihal kebangkitan: Mereka sudah memahami bahwa Allah yang telah menciptakan kehidupan dapat juga memulihkan kehidupan itu – dapat membuat umat-Nya yang setia untuk hidup lagi untuk selama-lamanya (lihat 2Mak 7:9).

Yesus membangun kepercayaan ini ketika Dia mengajar sebagai berikut: “Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup” (Luk 20:38). Melalui dosa Adam dan Hawa kita telah kehilangan kehidupan kekal. Sebagai penebus kita, Kristus dapat memulihkan kita kepada rencana Allah dan menawarkan kembali kepada kita kehidupan kekal tersebut. Yesus bersabda: “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:25-26).

Kristus telah bangkit dari antara orang mati dan mengalahkan maut. Ia mati untuk membangkitkan kita dari kematian dan memberikan kehidupan kepada kita, dan melalui diri-Nya kita mengalami kebangkitan dari antara orang mati. Bersama seluruh Gereja, kita mengungkapkan iman-kepercayaan kita akan kehidupan kekal: “Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat” (Pengakuan Iman hasil Konsili Nikea Konstantinopel).

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Mu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Mu, tidak akan mati selama-lamanya. Terpujilah nama-Mu yang kudus selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “MASALAH KEBANGKITAN DAN ORANG-ORANG SADUKI” (bacaan tanggal 6-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS