SIAPA YANG BERBAHAGIA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 8 Oktober 2016) 

jesus_christ_picture_013Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28) 

Bacaan Pertama: Gal 3:22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Pada suatu hari, ketika Yesus sedang mengajar, seorang perempuan dari antara orang banyak berseru: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27). Kata-kata yang dilontarkan oleh perempuan ini adalah cara orang Semit (antara lain Yahudi) untuk mengatakan sesuatu seperti ini: “O, menjadi ibu dari seorang anak yang sedemikian besar!”  Perempuan itu jelas terkesan dengan Yesus dan dia mengucapkan kata-kata itu sebagai suatu penghargaan yang tulus terhadap Yesus (dan ibu-Nya). Namun demikian Yesus menggunakan kata-kata yang diucapkan perempuan itu sebagai suatu kesempatan  menantang siapa saja agar supaya mau mendengarkan fiman Allah dan mematuhinya (Luk 11:28).

Kita semua tahu bahwa peristiwa ini terjadi dalam perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Satu pelajaran yang diinginkan Yesus untuk kita pelajari dalam perjalanan ke Yerusalem ini adalah apa artinya menjadi seorang murid Yesus. Tanggapan Yesus terhadap seruan-pujian perempuan itu merupakan inti makna kemuridan (pemuridan): Seorang murid adalah seseorang yang mendengar firman Allah dan memeliharanya. Sebelumnya Yesus telah mengindikasikan bahwa kebundaan-biologis harus diletakkan di bawah relasi yang terbuka terhadap semua orang yang mendengar dan mematuhi firman-Nya (lihat Luk 8:19-21).

Kita harus menyadari bahwa Yesus samasekali tidak bermaksud untuk menyepelekan ibu-Nya dengan kata-kata yang diucapkan-Nya tentang mendengarkan dan melaksanakan firman Allah itu. Pada kenyataannya Maria adalah seorang murid par excellence, ‘model’ seorang murid Yesus. Lukas mengindikasikan hal ini dalam lebih dari satu peristiwa. Dalam peristiwa-peristiwa itu Lukas menggambarkan bagaimana Maria menyimpan segala sesuatu dalam hatinya dan merenungkannya (lihat Luk 2:19.51) – sikap dan perilaku yang harus ditunjukkan oleh setiap murid Yesus yang sejati. Kita juga diingatkan kepada sebuah peristiwa yang digambarkan dalam Injil Yohanes, yaitu ‘Perkawinan di Kana’ (Yoh 2:1-11), di mana Maria mohon pertolongan bagi keluarga yang mempunyai hajat, karena ada urgensi kehabisan anggur. Tanggapan Yesus terhadap permintaan tolong Maria terkesan keras dan menolak, “Mau apakah engkau dari Aku, perempuan? Saat-Ku belum tiba” (Yoh 2:4), namun dengan penuh keyakinan Maria berkata kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” (Yoh 2:5). Ini adalah sikap dan perilaku seorang murid sejati!

DOA: Tuhan Yesus,  tolonglah aku agar dapat menjadi seorang murid-Mu yang sejati. Kutahu bahwa hal ini berarti bahwa aku harus mendengarkan apa yang Kauperintahkan dan mematuhinya dengan hati yang terbuka dan penuh kemauan. Aku mau melakukan apa saja yang Kauminta dari diriku, dengan cara seturut permintaan-Mu, untuk kurun waktu seturut permintaan-Mu juga, justru karena Dikaulah yang meminta. Aku berdoa agar Roh Kudus-Mu memampukanku untuk meneladan Bunda Maria, ibu-Mu dan ibuku: menyimpan dalam hatiku segala hal yang Kaukatakan dan Kaulakukan, apa pun yang Kauperintahkan untuk aku lakukan. Tuhan Yesus, terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:27-28), silahkan membaca juga tulisan yang berjudul “TINDAKAN-TINDAKAN KETAATAN” (bacaan tanggal 8-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 5 Oktober 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS